Masuk"Dokter Barta." Adrian menoleh ke arah mobil yang dikendarai Barta. Mobil itu melaju pergi begitu saja.
Namun, itulah yang diharapkan oleh mereka saat ini. Kalau Barta tidak menolong anak laki-laki tadi, kemungkinan anak itu akan tewas.Adrian melanjutkan langkah kakinya dengan cepat menuju bangunan terbengkalai.Ia membungkukkan tubuh, menghindari serangan peluru dari arah kiri dan kanan.Sesekali ia berhenti berlari dan bersembunyi di balik mobil, menghinDi ruang makan yang tenang, Dirga meletakkan ponselnya dengan helaan napas lega yang panjang.Febby, yang sejak tadi memperhatikan sambil menyusun piring, langsung mendekat dengan raut wajah penasaran."Gimana, Mas? Kamu dapat kabar dari Mas Andi? Jangan bilang mereka ribut lagi di rumah sakit," tanya Febby cemas.Dirga tersenyum, lalu menarik kursi untuk istrinya. "Kabar baik, Sayang. Hasil analisis sperma Mas Andi keluar, dan ternyata diagnosis delapan tahun lalu itu tidak sepenuhnya permanen. Dokter bilang Mas Andi mengalami pemulihan spontan. Singkatnya, janin yang dikandung Nila itu benar-benar anak biologis Mas Andi."Mata Febby membulat sempurna. Tangannya yang memegang serbet seketika lemas."Syukurlah. Jadi Mas Andi percaya sekarang? Dia udah minta maaf sama Nila belum?""Sudah. Tadi suaranya di telepon sampai serak, sepertinya habis menangis heb
Andi menarik napas panjang saat keluar dari ruang pengambilan sampel. Jantungnya berdegup kencang, lebih kencang daripada saat ia menghadapi anak buah Marco dulu.Nila, Sasa, dan Juan menunggu di ruang tunggu dengan perasaan yang sama tegangnya.Beberapa jam kemudian, nama Andi dipanggil kembali untuk masuk ke ruangan Dokter Roger.Kali ini, semua ikut masuk. Mereka semua terpaku, menatap Dokter muda di depan.Keheningan menyelimuti ruangan itu saat Dokter Roger membuka amplop hasil laboratorium yang masih berbau tinta printer."Baik, Pak Andi, Bu Nila. Mari kita lihat hasilnya bersama," ujar Dokter Roger dengan tenang.Ia meletakkan selembar kertas di atas meja. "Hasil analisis sperma Pak Andi menunjukkan angka yang cukup mengejutkan jika dibandingkan dengan riwayat medis delapan tahun lalu yang Anda ceritakan."Andi memajukan d
Andi melangkah gontai masuk ke rumah. Wajahnya yang kusut dan mata yang memerah menunjukkan bahwa pria itu pun tidak sedang baik-baik saja setelah badai tadi siang.Juan mengekor di belakang dengan raut wajah serba salah, sementara Sasa langsung berdiri tegak, memasang badan di depan Nila yang masih duduk di sofa dengan sisa-sisa air mata."Oh, udah pulang Mas?" Sasa menyapa dengan nada sarkasme yang kental. "Kiraian udah lupa jalan pulang karena sibuk menuduh istri sendiri yang nggak-nggak."Di sampingnya, Nila menyenggol kaki Sasa, meminta sahabatnya untuk diam dan duduk.Andi menghentikan langkah. Ia menatap Sasa dengan tajam, lalu beralih pada Nila yang tertunduk lesu."Sa, ini urusan rumah tangga kami. Aku nggak mau berdebat sama orang luar.""Orang luar?" Sasa berkacak pinggang. "Nila ini sahabat aku Mas. Kalau dia disakiti, apalagi dituduh selingkuh padahal dia menjaga kehormatannya mati-matian, itu jadi urusanku juga!"Jua
Deru mesin mobil Juan yang berhenti di depan rumah Nila terdengar seperti malaikat penolong.Tak lama, Sasa menghambur masuk dan langsung memeluk sahabatnya itu dengan erat."Nila .... ""Sa, makasih udah datang," isak Nila sambil menyeka air matanya.Sasa melepas pelukan, mengusap pipi sang sahabat. "Udah dong jangan dikuras terus air matanya. Kamu itu lagi bawa nyawa di dalam sini," ucapnya lembut sembari mengusap perut Nila yang masih rata.Nila kembali menyeka sisa air matanya, "Aku cuma takut, Sa. Mas Andi kayaknya udah nutup pintu maaf, padahal aku nggak salah apa-apa. Dia bawa-bawa masa lalu kita ... dia bilang wanita seperti aku mana mungkin setia."Sasa mendengus kesal, "Itu cuma ego laki-laki yang merasa kurang percaya diri aja. Dia merasa nggak mampu memberikan keturunan, lalu saat kamu hamil, pertahanannya runtuh dan dia menyerangmu supaya dia nggak terlihat lemah.""Tapi dia punya surat keterangan Dokter tentang kondisi dia yang mandul dari pernikahannya yang dulu, Sa.
Setelah Andi keluar dari rumah, Nila menangis pilu meratapi masalah yang kini datang menerpa rumah tangganya.Bukan bahagia yang ia lihat dari wajah Andi setelah mengetahui kehamilannya. Namun, wajah kesal, penuh amarah yang menakutkan.Nila terduduk lemas di atas lantai ruang tamu, masih menggenggam erat benda plastik kecil yang seharusnya menjadi kabar paling bahagia dalam hidup mereka.Duniaya terasa runtuh. Tuduhan Andi bukan sekadar keraguan, tapi serangan telak pada kesetiaan yang selama ini ia jaga dengan seluruh jiwa.Dengan tangan gemetar, Nila merogoh ponsel dan mencari satu nama yang selalu ada untuknya 'Sasa' sahabat sejati.Saat telepon terhubung, Nila langsung mengatakan, "Sa, aku sedih banget." Nila sesenggukan begitu mendengar suara napas Sasa di ujung telepon."Sedih? Kamu kenapa Nila? Cerita sama aku. Kok nangisnya sampai kayak gitu?
Febby baru saja datang mengantarkan kopi ke ruang tengah rumah mewah ayahnya. Ia seketika terdiam melihat raut wajah sah suami yang terlihat gelisah.Sadar ada sesuatu yang terjadi, buru-buru Febby meletakkan nampan ke atas meja dan duduk di sebelah Dirga."Ada apa Mas? Kenapa kamu keliatan gelisah? Apa ada yang terjadi sama Laila dan Edric? Atau Intan?" tanya Febby, mengingat, Dirga memang sedang membantu mempersiapkan pernikahan kedua pasangan itu.Kalau bukan tentang Laila, pastinya tentang Intan, pikir Febby. Akan tetapi, kedua tebakan itu salah, Dirga menggelengkan kepalanya berkali-kali.Kening Febby berkerut, "Bukan?" tanyanya memastikan. "Iya bukan," jawab Dirga, menatap istrinya lekat. "Kamu pasti kaget kalau dengar siapa yang nelepon aku tadi."Febby semakin bingung mendengar jawaban sang suami. "Memang siapa Mas? Apa ada masalah yang terjadi di klinik? Bukannya klinik kamu belum buka sampai sekarang? Atau rumah sakit?"Dirga menghela napas panjang, kemudian mengatakan, "In







