Home / Romansa / Ah! Mantap, Sayang / 8. DUGAAN LIAR

Share

8. DUGAAN LIAR

Author: NONA_DELANIE
last update publish date: 2026-02-19 21:57:27
“Kekalahan dan kehancuranmu telah dimulai, Jenna. Kau telah merebut kebahagiaanku. Dan sekarang giliranku membalas semua itu Satu persatu kebahagiaan yang kau miliki akan kurebut, seperti apa yang kau dan ibumu lakukan pada kehidupanku.”

Hazel melangkah keluar dari restoran di seberang rumah sakit dengan ritme kaki yang santai. Ia berjalan pelan, membiarkan angin menyapu wajahnya sementara matanya menatap gedung putih yang menjulang di depannya.

“Mulai dari Hexa dan kedua orang tuanya, lalu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ah! Mantap, Sayang   118. TEKA TEKI RUMIT

    “Apa selama belasan tahun ini, ibu Hazel sengaja dicekoki obat-obatan tertentu secara konstan bukan untuk menyembuhkan, melainkan justru untuk mengikis, merusak, dan memanipulasi memorinya?”Enrico mengangguk, menduga sama seperti bosnya. “Mungkin iya. Tapi, kita belum tahu pasti. Aku sedang menyelidiki, siapa pemasok obat itu.”Hexa hanya mengangguk tanpa repot-repot menimpali. Ia tahu—terlalu tahu jika obat penekan saraf atau psikotropika dosis tertentu bisa dengan mudah membuat seseorang kebingungan, kehilangan orientasi waktu, bahkan melupakan jati diri mereka yang sebenarnya.Itulah alasan mengapa wanita itu tidak pernah mencoba melarikan diri atau mencari jalan pulang. Dia tidak tahu siapa dirinya, dan dia terus dibuat bergantung pada obat-obatan yang diklaim ‘menyembuhkannya’, padahal benda itulah yang menjadi penjara tak kasat mata bagi otaknya.Hexa melepas satu earphone-nya, menatap Enrico dengan pandangan yang mendadak sedingin es.“Kalau pria itu ditugaskan menjaga ibunya

  • Ah! Mantap, Sayang   117. KECURIGAAN YANG SALING TEHUBUNG

    “Menemukan benang merah?” Hazel menggigit bibir bawahnya. Ia agak sangsi melakukan hal itu mengingat hubungannya dengan sang ayah tidak pernah cukup dekat. Terlebih lagi, jika ia tiba-tiba datang mendekat dan sang ayah menaruh curiga lalu bertanya ada apa, situasinya pasti akan menjadi sangat rumit. Rencana mereka bisa gagal total sebelum dimulai. Melihat Hazel terdiam cukup lama dengan guratan ragu di wajahnya, Hexa melangkah mendekat. Ia menangkup kedua bahu istrinya, mencoba memberikan keyakinan seraya memaparkan analisisnya. “Ada hal yang janggal dari sikap papamu selama puluhan tahun ini. Bagaimana bisa dia begitu mudah percaya bahwa ibumu telah tewas di jurang tanpa adanya jasad yang jelas?” papar Hexa dipenuhi logika. Jemarinya yang kokoh menggenggam telapak tangan sang istri lebih erat, seolah sedang menyalurkan keyakinan dan kekuatan melalui gestur singkat itu. “Kita harus tahu apakah dia sekadar korban manipulasi Emma, atau justru dia tahu sesuatu yang selama ini disemb

  • Ah! Mantap, Sayang   116. TEMUKAN BENANG MERAH

    “Jika Denzel tidak pernah berniat mencari atau mempertanyakan kematian istrinya yang janggal ... apakah itu artinya dia terlibat dalam tragedi pembunuhan itu itu?”Mata Hexa menatap kosong ke arah dinding. Spekulasi itu terasa mengerikan. Apakah Denzel sengaja membiarkan istrinya dikurung oleh Emma? Ataukah pria itu adalah bagian dari rencana besar untuk melenyapkan sosok ibu Hazel dari silsilah keluarga demi kepentingan tertentu?Hexa mengeratkan pelukannya pada Hazel. Ia tidak berani menyuarakan kecurigaannya sekarang. Hazel sudah cukup hancur mengetahui ibunya disekap; mengetahui bahwa ayahnya sendiri mungkin adalah dalangnya bisa membuat kewarasan istrinya benar-benar hilang.Ia harus menyelidikinya sendiri. Sebelum mereka melancarkan operasi penyelamatan, ia harus memastikan siapa lawan dan siapa kawan, termasuk pria yang selama ini dipanggil Hazel sebagai Ayah.Setelah tangisnya sedikit mereda, Hazel tiba-tiba melepaskan diri dari dekapan Hexa dengan gerakan menyentak. Napasnya

  • Ah! Mantap, Sayang   115. TERASA JANGGAL

    “Bukalah!”“Apa ini?” Hazel menatap beberapa amplop dengan logo rumah sakit yang disodorkan Hexa ke atas bantal di pangkuannya. Fokusnya yang semula tertuju pada buku referensi tesis seketika buyar.“Aku sudah menyuruh anak buah Enrico mengambil hasil tes DNA dari beberapa rumah sakit. Semua hasilnya masih tersegel. Lihatlah sendiri,” jelas Hexa dengan suara rendah, mencoba memberikan ruang bagi istrinya untuk memproses keadaan.Hazel menatap Hexa cukup lama—terlalu lama hingga membuat suaminya itu kembali bertanya.“Apa yang membuatmu tidak langsung membukanya?”“Aku hanya takut hasilnya tidak sesuai ekspektasi,” bisik Hazel seraya menunduk.Ia menyingkirkan amplop-amplop itu dari pangkuannya dengan gerakan pelan, seolah benda-benda itu bisa meledak kapan saja. Tatapannya kini melayang jauh ke arah pemandangan di luar jendela kamar.Langit di luar tampak mendung, seirama dengan keresahan yang sedang berkecamuk di dalam dadanya. “Selama ini aku hidup dengan keyakinan bahwa Mama sudah

  • Ah! Mantap, Sayang   114. HUKUMAN TIDAK MAIN-MAIN

    “Kalau ibuku benar-benar masih hidup dan berhasil kita selamatkan, apa kau mau menerimanya—maksudku, menampungnya di rumahmu?”“Hah?” Hexa tertegun sejenak. Pertanyaan itu cukup mengejutkan. Ia belum memikirkan sejauh itu karena fokusnya masih pada hasil tes DNA yang belum pasti.Iya kalau hasilnya cocok, kalau tidak, lantas bagaimana? Ia pasti akan kelimpungan menenangkan Hazel yang bersedih.“Kenapa? Kau keberatan?” Hazel mencecar saat melihat keraguan di wajah suaminya. “Kalau kau keberatan dia tinggal di kediaman River, bisakah kau memberikan satu rumah lagi untukku?”Hexa mengernyit, masih diam karena otaknya sedang menimbang berbagai risiko keamanan dan birokrasi keluarga besar mereka.Melihat respons Hexa yang pasif, Hazel merasa dirinya terlalu menuntut. Ia pun sadar diri, lalu menundukkan wajahnya dengan gurat kecewa yang jelas.“Ya sudah kalau kau keberatan. Aku akan menyewa rumah sendiri untuk Mama nanti. Pasti beliau sangat senang jika bisa tinggal bersamaku lagi.”Hexa m

  • Ah! Mantap, Sayang   113. SAMPEL RAMBUT

    “Lalu, aku harus bagaimana?”Suara Hazel serak, isak tangis yang sejak tadi ditahannya mulai terdengar memilukan. Pertahanan kedokterannya runtuh seketika saat dihadapkan pada kemungkinan bahwa ibunya masih bernapas di suatu tempat.Hexa tak tega melihat kehancuran itu. Mengabaikan nyeri di perutnya, ia segera berdiri dan menarik kepala Hazel ke dalam dekapannya, menyandarkannya erat pada pinggangnya. Tangan Hexa mengusap rambut Hazel, mencoba menyalurkan kekuatan.“Tunggu satu minggu. Setelah hasil tes DNA keluar … maka kita lakukan operasi penyelamatan. Kau setuju?” bisik Hexa menenangkan.Hazel mengangguk di balik tangisnya, air matanya membasahi telapak tangan Hexa. Sambil mengusap wajahnya yang sembap, ia mendongak dengan tatapan menuntut. “Kalau begitu, apa kita bisa melakukan tes DNA sekarang juga?”Hexa tercengang. “Sekarang juga?”“Ya. Kalau Enrico sudah memegang sampel rambut wanita itu, bukankah tes

  • Ah! Mantap, Sayang   2. ONE NIGHT STAND

    “Sialan! Jadi, kau menjebakku, Hazel?!” Sebuah bantal berukuran besar melayang kasar, menghantam kepala Hazel sebelum jatuh tak berdaya ke atas pangkuannya. Hazel tidak bergeming. Ia tetap duduk bersandar dengan tenang, seolah kemarahan pria di sampingnya hanyalah angin lalu. Pria itu—Hexa Cas

  • Ah! Mantap, Sayang   1. MENJEBAK CALON ADIK IPAR

    Cahaya neon fuchsia dan biru kobalt berpendar liar mengikuti dentuman bass yang menggetarkan tulang rusuk. Aroma alkohol mahal, cerutu, dan parfum bercampur menjadi satu, menyengat memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang memabukkan sekaligus liar. Di tengah hiruk-pikuk manusia yang kehilangan

  • Ah! Mantap, Sayang   5. DISIDANG KELUARGA

    Pukul delapan pagi, lobi River Regional Hospital terasa lebih gerah dari biasanya. Hazel melangkah menuju selasar rumah sakit dengan dagu terangkat dan ekspresi yang sulit dibaca. Di sepanjang koridor, rungunya menangkap bisik-bisik dari para perawat yang menyebut nama Hexa. Jelas pembicaraan itu

  • Ah! Mantap, Sayang   4. BERSIAPLAH JADI AYAH

    “Kurasa... skandal kita semalam sudah menyebar, Pak Jaksa terhormat,” ucap Hazel santai. Hexa menahan napas, hanya sepersekian detik sebelum ia menyeru kencang, terbata-bata penuh keterkejutan, “What? Kau gila? Kau menyebarkan … video kita yang …” Hazel mengangguk tipis seolah mengonfirmasi ucap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status