LOGIN“Hazel memang ada gila-gilanya sedikit. Baru saja dia marah, sekarang dia malah berkata konyol dan tidak merasa bersalah sama sekali. Apa dia sengaja menggodaku iman dan juga emosiku?”
Frustrasi yang tertahan sejak di kamar tadi akhirnya meluap dalam kesunyian ruang kerja. Hexa mengempaskan punggungnya ke kursi kebesaran, menyesap minuman keras dari gelas kristal di tangannya, berharap sensasi dingin alkohol bisa memadamkan api yang mulai merambat di pembuluh darahnya.“Vosco, granat!”Begitu instruksi keluar dari mulut Enrico, sebuah granat taktis berpindah ke tangannya dengan cepat. Tanpa ragu, Enrico mencabut pin pengaman, menahan tuas sejenak untuk menghitung detik, lalu melemparkannya dengan presisi tinggi ke arah Jeep hitam yang menjadi tameng terakhir musuh.BOOM!Ledakan hebat mengguncang Rute 56. Kobaran api membumbung tinggi, melalap kerangka baja Jeep tersebut hingga terpental beberapa meter.Serpihan logam panas beterbangan di udara, menciptakan kembang api maut di tengah kegelapan malam.Enrico segera merunduk, melindungi wajahnya dari hawa panas yang menyengat. Begitu debu dan asap mulai menipis, ia memberikan isyarat kepada anak buahnya untuk maju mendekat.“Periksa sisanya! Pastikan tidak ada yang bernapas!” perintahnya dingin.Anak buahnya segera mengecek dengan teliti. “Tuan, kemarilah!”Saat Enrico melangkah mendekati puing-puing yang masih membara, matanya menyipit tajam. Di aspal yang menghitam, ia tidak menemukan jasad yang ha
CIIIIIIIIIIIT!BRAKKK!Suara decitan ban yang bergesekan hebat dengan aspal memekakkan telinga, menciptakan kepulan asap hitam yang pekat dan bau karet terbakar yang menyengat. Pandangan Hexa seakan melambat saat moncong mobilnya menghantam bagian belakang sisi samping truk raksasa itu dengan telak.Tubuh Hexa terlempar keras ke depan. Beruntung, airbag langsung mengembang dengan ledakan kecil, menahan benturan kepalanya ke kemudi, sementara sabuk pengaman menyentak dadanya begitu kuat hingga ia merasa paru-parunya sesak seketika. Mobil mewah itu kehilangan kendali total, berputar dua kali sebelum akhirnya terbalik dengan posisi roda di atas.Truk pengangkut beton itu—yang entah sengaja atau tidak telah menutup jalan—hanya berkilat dingin di bawah lampu jalanan yang remang. Tanpa rasa bersalah, kendaraan berat itu kembali melaju pelan, meninggalkan kekacauan di belakangnya seolah-olah tidak ada nyawa yang baru saja di
“Fuck!” Hexa memukul setir kemudi dengan keras. Gerahamnya mengatup rapat, menciptakan garis rahang yang kaku dan berbahaya.Beberapa menit setelah meninggalkan base camp, suasana hati Hexa yang tadinya sempat membaik setelah mengejek Enrico, mendadak berubah keruh. Ia melirik spion tengah, lalu ke spion samping. Empat unit Jeep hitam dengan kaca gelap pekat menjaga jarak konstan di belakangnya.Ia sudah berusaha bergerak serapi mungkin, namun sepertinya musuh kali ini jauh lebih waspada dari dugaannya. Kejanggalan ini bukan tanpa alasan. Selama lebih dari setengah mil berkendara, Hexa mencoba melakukan tes kecil. Ia sengaja melambatkan laju mobilnya, dan keempat Jeep itu ikut melambat. Begitu ia memacu mesin lebih dalam, mereka pun menambah kecepatan.Hexa adalah seorang petarung yang handal, ia yakin bisa melumpuhkan beberapa orang dengan tangan kosong. Namun, menghadap empat mobil yang kemungkinan berisi enam belas orang bersenjata adalah tindakan bunuh diri yang konyol. Apalagi
“Fuck! Kau mulai lagi, Hexa!” umpat Enrico jengkel, sementara anak buahnya hanya bisa menahan tawa melihat interaksi kedua pria itu.“Sudah, instruksikan orang-orangmu untuk mengamati pola keluar-masuk penghuni kastil,” potong Hexa kembali serius. “Akan jauh lebih mudah dan minim resiko kalau ada pelayan yang bisa kita jadikan ‘orang dalam’ untuk mengambil sampel rambut itu.”Enrico akhirnya mengangguk setuju. “Baik. Kalian dengar itu? Cari tahu siapa yang memasok bahan makanan atau siapa pelayan yang sering keluar dari gerbang belakang. Aku mau laporan lengkapnya besok pagi!”“Baik.”Anak buah Enrico segera bergerak meninggalkan basecamp itu untuk melakukan pengintaian. Saat mereka baru saja memacu kendaraan meninggalkan base camp, Enrico sudah bersiap menyusul dengan langkah terburu-buru. Namun, gerakannya langsung dicegah oleh lengan Hexa yang kokoh.“Kau mau ke mana?” tanya Hexa, alisnya terangkat sebelah menyentuh pundak Enrico.“Mengawasi anak buahku menjalankan misi, tentu saj
Pekerjaan Hexa sore ini sudah tuntas. Namun, ia tak langsung pulang untuk menemui sang istri lantaran Enrico meminta bertemu karena ada hal mendesak yang harus dibicarakan.Di sebuah ruang private, keduanya duduk bersisian pada sofa yang berbeda. Hexa sofa panjang sedangkan Enrico duduk di sofa tunggal. Sementara untuk mendinginkan suasana yang tegang, sebotol wine tersaji di hadapan mereka.“Anak buahmu sudah mencoba mendekati kastil itu?” selidik Hexa, matanya menatap tajam ke arah Enrico, menunggu jawaban pasti.Enrico mengangguk pelan. “Sudah, kau tenang saja. Tapi aku butuh waktu. Masuk ke sana bukan perkara mudah. Kastil kecil itu dijaga ketat layaknya benteng. Dijaga sangat ketat, dan siapa pun yang ingin masuk harus mendapatkan izin langsung dari pemiliknya.”“Siapa? Pria yang terlihat bersama wanita itu?” tanya Hexa lagi. “Yang kita intai itu?”“Ya,” jawab Enrico pendek. Ia memutar gelasnya, lalu menatap Hexa lurus. “Dan ... apa yang sebenarnya membuatmu begitu yakin kalau wa
“Apa pemandangan pagi ini membuatmu terangsang, hm?”Hazel segera memalingkan wajahnya yang panas. Ia tidak sudi meladeni ucapan Hexa yang mulai melantur. Dengan langkah terburu-buru, ia hanya berujar, “Terserah kau saja! Menyingkirlah, aku mau mandi.”Hexa membiarkan istrinya melarikan diri ke kamar mandi. Saat menatap punggung Hazel yang menjauh, senyum simpulnya perlahan memudar, digantikan tatapan yang lebih serius. Di kepalanya, ia mulai menyusun rangkaian pertanyaan untuk menggali informasi tentang ibu mertuanya, tentu dengan cara yang sangat halus agar tidak melukai perasaan Hazel.Usai bersiap, Hexa dan Hazel turun untuk sarapan bersama Elon dan Gracia. Suasana di meja makan terasa jauh lebih hangat pagi itu. Di sela-sela denting sendok, Gracia membuka suara. “Hexa, mulai minggu depan, Hazel harus menghadiri kelas senam ibu hamil. Kau harus mengantarkannya, dan kalau bisa, kau ikut mendampingi di dalam,” saran Gracia dengan nada yang tak bisa dibantah.Hexa meletakkan pisau







