Home / Male Adult / Ah! Mantap Sekali Mbak / Bab 2. Godaan Ibu Kos

Share

Bab 2. Godaan Ibu Kos

last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-17 16:47:57

Keesokan Pagi

Roni bangun dari tidur lelapnya yang panjang, dia langsung pergi mandi. Setelah selesai, ia bersiap untuk pergi ke kampus barunya, tempat ia diterima melalui program beasiswa.

tepat Saat mengambil air minum di meja makan, ia mendapati sarapan yang sudah disiapkan oleh Maya. Sambil tersenyum, Roni merasa sangat berterima kasih atas kebaikan wanita itu. Ia menikmati makanannya dengan lahap sebelum berangkat.

Di Kampus Baru

Sementara itu, Maya yang berada di meja kerjanya di rumah sakit termenung, mengingat kejadian semalam. Senyuman kecil terlukis di wajahnya. Ia tidak menyangka dirinya langsung tertarik begitu saja dengan pria yang baru saja ia kenal, bahkan membuatnya sekarang tidak berhenti memikirkannya.

“Ah, kenapa aku gak bisa berhenti memikirkannya ya, sebelumnya aku gak pernah seperti ini…” gumam mbak maya, senyuman menghiasi wajahnya.

Di sisi lain, Roni tiba di kampus barunya dengan penuh semangat. Ia tersenyum, meski pakaian yang ia kenakan sedikit lusuh. Namun, wajah tampannya berhasil menutupi kesan sederhana itu.

“Permisi, Sobat. Apa saya boleh bertanya di mana ruang pendaftaran?” tanya Roni dengan sopan pada seorang mahasiswa.

Setelah diberi arahan, Roni segera menuju ruang pendaftaran, menyerahkan formulir, dan resmi menjadi mahasiswa di kampus tersebut. Ia memutuskan untuk berkeliling, mencoba mengenal lingkungan barunya.

Sikap ramahnya menarik perhatian banyak orang. Beberapa mahasiswa wanita memperhatikan Roni dari kejauhan, membicarakan penampilan dan gaya santainya.

“Siapa dia? Sepertinya dia siswa baru. Tapi, kenapa bajunya lusuh begitu?” bisik salah satu dari mereka.

Namun, wajah Roni tetap berseri-seri, tidak peduli pada penilaian orang. Saat melewati sebuah tangga, Roni tanpa sengaja menabrak seorang gadis cantik yang sedang membawa buku.

“Maaf, Kak! Saya nggak sengaja,” kata Roni sambil segera memunguti buku yang jatuh.

Gadis itu hanya terdiam, memandangi Roni dengan tatapan terpukau. Ia tidak memperhatikan pakaian sederhana Roni, tapi lebih tertarik pada senyum manisnya.

“Tunggu…” ucap gadis itu pelan. Namun, Roni sudah berlalu, tidak mendengar panggilannya.

Di Lapangan Kampus

Roni melihat sekelompok mahasiswa bermain sepak bola di lapangan. Dengan ramah, ia menyapa mereka.

“Hai, Sobat! Apa saya boleh ikut bermain?” tanyanya sopan.

Awalnya, mereka ragu, tapi salah satu pemain yang lelah mempersilakan Roni menggantikannya.

“Baiklah, kamu gantikan aku,” kata seorang pemuda bernama Ben.

Setelah bergabung, Roni menunjukkan keahliannya dalam bermain bola. Gaya dan kelincahannya membuat semua orang terpesona.

“Hebat sekali! Siapa dia? Giringannya luar biasa,” seru para penonton.

Namun, tidak semua terkesan. Jack, salah satu pemain dari tim lawan, terlihat tidak menyukai Roni.

“Lihat, Jack. Dia lebih hebat darimu,” ujar Ari, teman Jack, sambil tersenyum mengejek.

“Diam kamu!” balas Jack kesal, menatap tajam ke arah Roni.

Itulah awal kisah Roni di kampus barunya, di mana ia mulai menarik perhatian banyak orang, baik teman maupun musuh. Namun, ia tetap menjalani semuanya dengan senyuman dan sikap ramah yang menjadi ciri khasnya.

Roni merasa cukup berkeliling kampus, lalu memutuskan untuk beristirahat sejenak guna menghilangkan keringat setelah bermain bola. Setelah beristirahat, ia kembali melanjutkan langkah, menjelajahi setiap sudut kampus dengan penuh semangat.

Ketika mahasiswa mulai pulang, Roni pun memutuskan untuk pulang. Namun, saat tiba di gerbang keluar, sebuah mobil berhenti di sampingnya. Seorang pemuda menyapanya.

"Hai, sobat. Mau ikut?" tanya pemuda itu yang ternyata Bobi, teman setim Roni saat bermain bola tadi.

Roni dengan sopan menolak, "Tidak usah, saya jalan saja. Dekat kok."

Namun, Bobi mendesaknya dengan ramah, "Ayolah, anggap saja sebagai perkenalan. Kami juga nggak langsung pulang, ini mau keliling sebentar. Ayo, ikut saja, nanti aku ajak keliling kota."

Akhirnya, Roni setuju. Dengan sedikit canggung, ia membuka pintu belakang mobil, tetapi terlihat bingung karena tidak tahu cara membukanya. Gadis di dalam mobil membukakan pintu untuknya.

"Terima kasih, Kak," ujar Roni dengan senyum. Ia menatap gadis itu, yang ternyata adalah Miya, adik Bobi sekaligus gadis yang ia tabrak sebelumnya.

"Kenalin, ini Seli pacarku, dan ini Miya, adik perempuanku," kata Bobi memperkenalkan kedua gadis di mobil itu.

"Halo, Miya. Halo, Seli. Kenalin, saya Roni, anak baru," ujar Roni ramah. Miya yang duduk di sebelah Roni hanya tersenyum malu-malu, merasa canggung berada begitu dekat dengannya.

Sepanjang perjalanan, Bobi dan Roni terlibat dalam obrolan hangat, sementara Miya lebih banyak diam, hanya sesekali tersenyum. Seli pun lebih memilih mengamati percakapan tanpa banyak ikut campur.

"Oya, Roni. Besok hari Minggu kami mau camping di pantai. Kamu mau ikut? Kita mau nginap beberapa malam di sana," ajak Bobi dengan antusias.

"Boleh, tapi saya nggak ngerepotin kan? Soalnya, saya nggak biasa yang seperti ini," jawab Roni polos.

"Udahlah, nggak usah mikir soal itu. Semua biaya aku yang urus. Anggap saja sebagai acara bareng sahabat. Mulai sekarang, kamu sahabatku. Kalau ada yang ganggu kamu, kasih tahu aku," kata Bobi tegas.

Mendengar itu, Roni merasa semakin sungkan. Dia tidak menyangka Bobi bukan hanya kaya, tetapi juga sangat baik hati.

"By the way, kamu tinggal di mana, Ron?" tanya Bobi.

"Saya ngekos di sekitar sini," jawab Roni.

"Kalau gitu, mau nggak tinggal bareng aku? Kebetulan di rumah ada kamar kosong," tawar Bobi.

Roni langsung menolak, "Tidak usah, Bob. Jadi sahabat kamu saja itu sudah lebih dari cukup. Kalau sampai tinggal bareng, saya malah makin malu."

Bobi tersenyum. "Baiklah, tapi ingat, kalau ada apa-apa, bilang ke aku. Jangan sungkan, ya."

Percakapan mereka terus mengalir. Roni sempat menoleh ke Miya yang masih diam. "Miya, kok diam saja dari tadi?" tanyanya.

"Miya memang pemalu, Ron. Tapi nanti kalau sudah akrab, dia nggak akan begitu lagi," jawab Bobi sambil tersenyum.

"Hehe, jangan malu-malu, Miya. Yang seharusnya malu tuh saya," gurau Roni. Miya hanya tersenyum kecil, menundukkan wajahnya.

Bobi benar-benar meluangkan waktu untuk mengajak Roni berkeliling kota, bahkan mengorbankan waktu romantisnya bersama Seli. Mereka mengunjungi berbagai sudut kota hingga akhirnya berhenti di sebuah restoran. Di restoran itu, Roni terlihat begitu kikuk—tidak tahu makanan apa yang harus dipesan atau cara duduk yang benar. Tingkah lugu dan kampungannya sempat menarik perhatian orang-orang sekitar. Beberapa bahkan mencibir, tetapi Bobi membela Roni.

"Dia ini sahabatku. Siapa pun yang menghina dia, sama saja menghina aku," ucap Bobi tegas, membuat orang-orang terdiam.

Bobi benar-benar menghargai Roni, karena sudah mencari tahu latar belakangnya. Ia tahu bahwa Roni bukan orang sembarangan. Dengan kecerdasan dan bakatnya, Roni berhasil masuk kampus bergengsi lewat jalur beasiswa.

Di tengah makan, Bobi berbicara kepada Miya, "Miya, banyak-banyaklah bergaul sama Roni. Dia pasti bisa menjagamu. Aku nggak suka kamu terlalu dekat sama Jack atau orang-orang yang nggak benar."

Roni yang mendengar itu bingung. "Kenapa, Bob? Bukannya banyak teman itu lebih seru?" tanyanya polos.

"Jack itu bukan orang baik, Ron. Aku nggak mau Miya salah langkah. Dia satu-satunya adik perempuanku. Sepertinya kalian akan satu kelas nanti. Jadi, tolong jaga dia, ya," pinta Bobi.

Roni mengangguk setuju walaupun masih belum sepenuhnya paham situasinya.

Setelah selesai makan, Bobi mengantar Roni kembali ke tempat tinggalnya. Namun, ketika Roni memintanya masuk, Bobi menolak karena harus menyelesaikan urusan mendesak.

"Baiklah, Bob. Hati-hati, ya," ucap Roni sebelum Bobi pergi.

Saat masuk ke rumah, Roni melihat Mbak Maya sedang asyik bekerja dengan laptop di sofa. lagi-lagi roni mendapati Mbak Maya mengenakan pakaian seksi, tentunya membuat pria itu kembali menelan ludah.

"Mbak, saya pulang," sapa Roni.

"Saya sudah siapkan makanan. Kamu tinggal ke dapur saja," kata Mbak Maya tanpa menoleh.

"Astaga, Mbak. Kenapa repot-repot? Saya jadi nggak enak. Lagi pula, tadi saya sudah makan bareng teman baru," jawab Roni.

Mbak Maya tersenyum kecil. "Kan Mbak sudah bilang, anggap saja rumah ini rumah sendiri. Jangan banyak alasan."

"Baiklah, Mbak. Maaf, tapi saya masih kenyang. Nanti saja kalau lapar, ya," kata Roni, mencoba menolak dengan sopan.

"Baik. Oya, tadi Bayu mencarimu. Dia pikir kamu di rumah. Nanti temui dia, ya. Katanya mau ngobrol," ujar Mbak Maya.

"Siap, Mbak. Saya akan temui dia sekarang," balas Roni, lalu segera pergi menemui Bayu tapi sebelum itu, roni diam-diam melirik ke arah selah buah dada besar mbak maya yang sepetinya sengaja di tutup setengah.

disini mbak maya tentu saja menyadari roni sedang memperhatikan dadanya, dengan sengaja dia mengibas bajunya membuat buah dadanya kelihatan hampir semua oleh andi tersisa hanya ceri merah mudanya saja yang ketutupan..

"Hek..."andi seketika langsung tersedak, dan berbalik pergi menuju kamar.

"Haha.." tawa mbak maya langsung melihat tingkah roni.

"Rasanya seperti aku di goda gak sih?, hemm.. lihat saja nanti..." geram roni karena di buat tersiksa sekarang oleh hasrat dan nafsu.

Bersambung...

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 249

    Di pagi harinya, di sebuah taman anak-anak terlihat Roni sedang menemani anaknya Arga dan cucunya Eren. kedua anak yang baru tumbuh itu begitu ceria bermain dengan Roni. Bukan hanya mereka saja di sana, tetapi banyak juga anak-anak lainnya yang ditemani oleh orang tua mereka. Ya, hari-hari Roni terus dihabiskan bersama anak dan cucunya. Awalnya tadi dia juga mengajak Alia, sayangnya Alia susah sekali pisah dengan mamanya sehingga tak bisa ikut dibawa oleh Roni.Sementara itu di rumah, Mbak Maya yang sedang menonton televisi ditemani oleh Lola langsung menanyakan soal Bara yang beberapa hari ini tidak pernah ia lihat.“Suamimu gimana? Baik kan? Apa dia terlalu sibuk akhir-akhir ini hingga tak pernah ikut denganmu pulang?” tanya Mbak Maya kepada menantunya.“Ah… iya, Ma. Bara memang sangat sibuk akhir-akhir ini. Urusan di Surabaya juga membuatnya sangat sibuk, saat ini bara sedang di surabaya mengurus bisnis disana” jawab Lola berbohong, tidak memberitahu bahwa suaminya sekarang sedang

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 248

    Tidak lama kemudian Bara dan Liona pun tiba di rumahnya Riki. Tak disangka, ternyata rumah Riki begitu besar sesuai dengan perkataan Tuan Folio kalau Riki adalah putra seorang pengusaha sukses.“Inilah rumahnya, Kak. Tunggu sebentar ya,” kata Liona lalu turun dari mobil untuk menghampiri dua orang penjaga yang berjaga di depan gerbang rumah itu.“Maaf, apa Riki ada?” tanya Liona kepada kedua penjaga itu.“Oh iya nona, ada di dalam. Apa perlu saya panggilkan?” jawab penjaga itu dengan ramah, sebab setahu dia Liona adalah pacarnya Riki yang sering datang berkunjung ke sini waktu itu.“Kalau bisa gerbangnya dibuka biar saya bisa masuk,” ucap Liona. Penjaga itu pun mengangguk dan langsung membukakan gerbang agar mobil Bara bisa masuk.Liona kembali ke dalam mobil dan meminta Bara untuk masuk. Bara pun mengarahkan mobilnya masuk ke halaman rumah. Setelah itu mereka berdua turun dari mobil.Dengan sopan Liona mengetuk pintu rumah hingga salah satu pelayan membuka pintu.“Bisa bertemu dengan

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 247

    Tidak lama setelah Ali tergeletak tidak sadarkan diri di jalan yang sepi itu, sebuah mobil putih melewati jalan tersebut. Untungnya, si pengemudi menyadari keberadaan Ali di sana. Ia melihat motor Ali di samping jalan dengan Ali yang tergeletak tak sadarkan diri di atas aspal. Segera orang itu turun dari mobilnya dan mengecek keadaan Ali.Dia terkejut melihat adanya bekas tembakan di bagian tubuh Ali. Dengan panik, orang itu langsung menelpon ambulans.Sementara di tempat lain, terlihat Bara sedang sibuk dengan dokumen-dokumennya di kantor yang sebentar lagi akan selesai ia tanda tangani. Tiba-tiba suara ponselnya berdering, membuatnya menoleh dan melihat nama Ali di layar ponselnya.“Ali? Tumben sekali,” kata Bara lalu mengangkat panggilan itu.“Iya Ali, ada apa? Tumben menelpon abang seginiannya?” tanya Bara, mengira Ali yang menelpon.Orang yang menemukan Ali tadi tidak tahu harus menghubungi keluarga Ali dengan cara apa karena ia tidak mengenalnya. Orang itu mencari ponsel Ali dan

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 246

    Keesokan harinya, terlihat di suatu restoran Roni sedang melakukan pertemuan dengan salah satu klain bisnisnya yang berasal dari luar kota. Iya beginilah kesibukan Roni di tiap harinya melakukan pertemuan dengan klain untuk membicarakan rencana-rencana bisnis.Dan di saat Roni sedang fokus-fokusnya menjelaskan rencananya kepada klainnya itu, tiba-tiba ponselnya berdering. Dia langsung menghentikan pembicaraan yang dia bicarakan untuk menerima panggilan telepon, karena yang menelpon adalah Miya istrinya. Dan sesibuk apa pun Roni jika yang menelpon atau mengganggunya adalah salah satu istrinya, Roni langsung menanggapi mereka dan menunda kesibukannya.“Sebentar ya, saya mau menerima panggilan telpon,” ujar Roni, dan klain bisnisnya itu hanya bisa mengangguk walaupun sedikit terlihat di raut wajahnya kalau dia tidak menyukai adanya hal lain yang mengganggu saat membicarakan hal penting seperti saat ini.“Halo sayang, iya ada apa?” tanya Roni ke Miya yang menelponnya.“Begini Roni, kamu p

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 245

    Di saat jam pulang terlihat Liona menunggu jemputan Ali. Tidak jauh dari tempat Liona menunggu, Riki di sana berdiri memantau. Sepertinya dia ingin tahu siapa suami Liona. Ya, dia dengar Liona diantar tadi pagi oleh suaminya. Pastinya dia akan dijemput juga, jadi Riki ikut menunggu ingin melihat seperti apa suami Liona.Sampai sekitar lima menitan menunggu, Ali akhirnya datang dengan mengendarai motor yang tadi pagi. Ali tiba di depan gerbang kampus, di sana Ali sudah melihat Liona yang sedang menunggu.Dengan wajah tersenyum, Liona bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Ali.“Maaf aku sedikit terlambat, tadi Elina rewel. Untung ada mama yang bantu nenangin dia,” kata Ali menjelaskan kenapa dia sedikit terlambat.“Gak apa-apa kok, aku juga gak lama nunggunya,” ujar Liona sambil menerima helm yang diberikan oleh Ali.Tiba-tiba, tanpa sepengetahuan Ali dan Liona, Riki mendekat lalu menarik jaket yang dikenakan oleh Ali dengan cukup keras, membuat Ali tertarik dan motor yang

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 244

    Di keesokan harinya, terlihat Liona bersiap-siap berangkat ke kampus, takutnya kalau ditunda lagi dia bisa ketinggalan banyak mata pelajaran pada kuliahnya.Dan kali ini bukan papanya atau sopir pribadi keluarga yang mengantarnya, tapi Ali yang sudah menjadi suaminya.“Cie yang diantar suami...” ledek mamanya saat Liona bersiap-siap.“Hehe, ya dong, Ma. Oh ya, Mama sendiri kenapa gak berangkat?” kata Liona sambil bertanya balik.Oh ya, Mama Liona juga adalah seorang kepala dosen di kampus tempat Liona kuliah sekaligus penerus kepemilikan kampus itu setelah kakek Liona meninggal.“Nanti Mama belakangan, sana cepat, Ali sudah menunggu di luar itu.”“Iya, Ma, sabar. Ini udah mau siap,” ucap Liona.Sementara di luar, Ali sudah menunggu di atas motor. Ya, walaupun banyak sekali mobil terparkir di sana yang bisa saja digunakan oleh Ali untuk mengantar Liona, malah motor yang dipilih oleh Ali. Seperti yang kita tahu, memang dari masih remaja Ali sangat menyukai motor.“Pa, pinjem motornya ya

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 233

    Tiba-tiba Ali meneteskan air mata di saat Liona sedang menatap wajahnya, sepertinya Ali sedang memimpikan sesuatu yang begitu menyedihkannya hingga membuatnya sampai meneteskan air mata. Liona yang sedari tadi menatapnya pun terkejut, ia menjulurkan tangannya hendak mengusap air mata itu. Dan, “Sa

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 4. Hilang Kendali

    Roni mulai merasakan ada balasan dari gerakan mbak maya, dimana mbak maya juga mulai menciumnya," roni aku mau keluar..."bisiknya mendesah,tangannya merenggut rambut roni di sebabkan oleh sensasi hebat yang dia rasakan."jadi gimana mbak, saya berhenti atau lanjutin?," kata roni sengaja bertanya se

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 3. Tubuh Yang Telanjang

    "Bang akhrinya kau datang juga,"Sapa bayu ketika melihat roni datang juga dari tadi dia menunggunya."Ada apa bayu, sepertinya ada hal penting?" Tanya roni.Ini saya mau mengajak abang pergi ke warung kopi, anggap saja sebagai tanda terimakasih tadi malam membantu memperbaiki atap saya, saya gak mu

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 1. Pertemuan Pertama

    "Hei, apa yang kamu lakukan di sini? Jangan-jangan kamu mau mencuri?" seru seorang wanita mengagetkan roni. Roni langsung menjelaskan. "Bukan, Mbak. Saya hanya berusaha menghindari preman yang mengejar saya. Kalau tidak percaya, saya akan pergi sekarang." Wanita itu mengamati Roni yang tampak k

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status