Home / Male Adult / Ah! Mantap Sekali Mbak / Bab 3. Tubuh Yang Telanjang

Share

Bab 3. Tubuh Yang Telanjang

last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-17 16:49:11

"Bang akhrinya kau datang juga,"Sapa bayu ketika melihat roni datang juga dari tadi dia menunggunya.

"Ada apa bayu, sepertinya ada hal penting?" Tanya roni.

Ini saya mau mengajak abang pergi ke warung kopi, anggap saja sebagai tanda terimakasih tadi malam membantu memperbaiki atap saya, saya gak mungkin dong minta bantuan secara cuma-cuma"Ucap bayu.

"Astaga kamu ini, itu hal biasa saling membantu mah, kirain ada hal penting, memangnya disini warung kopi dimana?" Kata roni.

"Bang walaupun ini kota gak kalah kok sama di kampung, ayo ikut saya kita pakai motor saya,ucap bayu sambil berjalan mengajak roni untuk menaiki motor vario miliknya.

Baiklah ayo, roni tidak menolak sebab dia juga ingin menghangatkan tubuh dengan minum kopi hangat.

Setelah beberapa saat dengan mengendarai motor, bayu dan roni sampai juga di warung kopi.

"Nah ini tempat nya, disini memang biasa tempat para anak kos seperti kita nongkrong, sebentar lagi pasti rame, maaf saya mengajak abang siang-siang begini takutnya nanti malam hujan lagi, di jakarta sering sekali hujan kalo awal bulan begini," ucap bayu.

Mbak kopinya dua ya ... "Pesan bayu.

"Begitu ya, oya bayu saya mau nanya nih saya lagi cari kerjaan siapa tau kau ada kenalan gitu, saya orang kampung gak banyak uang jadi kalo gak kerja saya gak bisa dong melanjutkan hidup," kata roni sambil bercanda.

Walah nanti ya bang saya tanyakan ke bos saya, tenang aja untung aja Abang bertanya ke orang yang tepat kayak saya nanti saya kabarin ya kalo ada, kata bayu sambil memuji dirinya yang memang mudah mencari pekerjaan karena dia sudah sangat mengenal kota jakarta.

"Terimakasih kalo begitu, seperti kau memang sudah lama di kota, asli mu orang mana?" Tanya roni kepada bayu sebab bayu memang belum memberitahu dia asalnya.

"Saya dari medan bang, disini saya bekerja sambilan kuliah lah gitu," jelas bayu memberitahu roni.

"Hai abng-abang...ayo yang mau dua ratus ribu semalam full servis kok"Tiba-tiba seorang wanita seksi menghampiri mereka dan menawarkan sebuah jasa.

"Servis? Servis apa ya?" Tanya roni dengan polosnya sebab dia tidak mengerti maksud wanita seksi itu.

"Maksudnya gini loh bang, abang memberi mereka uang maka abang akan di layani sepanjang malam di atas tepat tidur," kata bayu menjelaskan kepada roni.

"Walah ogah ah, daripada uang saya yang sedikit ini di pergunakan seperti itu mending buat jajan tiap harinya, lagian uang segitu bisa cukup saya pake seminggu," kata roni langsung menolak saat sudah mengerti maksud wanita itu.

"Yakin bang uang segitu bisa di pake dua minggu ini kota loh, mana kenyang,"balas wanita itu menyindir roni.

"Bagi saya segitu sudah cukup mbak, anda cari di tempat lain saja saya meolak,"kata roni menolak tawaran wanita itu dan wanita itupun dengan kesal sambil menyindir meninggalkan mereka, "dasar miskin.."katanya.

Tapi roni yang sadar diri hanya bisa diam.

"Jangan di taruh di hati bang di sekitaran sini memang banyak yang seperti itu, mereka menjual tubuh ya demi uang segitu." Kata bayu menyabarkan roni agar tidak terkena omongan wanita tadi.

"Kamu tenang saja saya bisa memaklumi kok, ini juga kota saya sudah menyiapkan diri jauh-jauh hari sebelum meutuskan datang kekota." Balas roni sambil tersenyum.

Beberapa saat kemudian para pemuda dengan masing-masing membawa pacarnya datang ke warung itu untuk membeli makanan, memang warung tempat meraka itu memang sangat di gemari oleh para anak muda bukan karena murah tapi tempatnya lengkap dan juga nyaman.

"Udah mulai rame ni bayu, gimana kalo kita balik saja, saya belum mandi soalnya, saya juga mau siap-siap untuk kuliah saya besok, kita kembali besok saja lagi kesini"Ajak roni.

"Baik bang tunggu sebentar yaa saya mau bayar dulu,"pinta bayu dan pergi membayar pesanan mereka.

Tiba-tiba datang sekelompok preman kesana, tujuan mereka tidak lain dan tidak bukan hanya untuk memalak uang mereka.

"Ayo seperti biasa lima ribu untuk satu orang, kata ketua mereka yang berambut merah.

"Bang ayo cepat kita pergi preman sudah datang kebiasaan emang memalak orang-orang," kata bayu dengan cepat mengajak roni untuk pergi.

Tapi semua terlambat motor bayu di tahan oleh mereka. "Kamu mau kemana hah ayo bayar dulu lima ribu cepat, oya buat kamu karena mau kabur sepulu ribu sini," kata salah satu dari preman itu yang menahan motor bayu.

"Baik ini bang dua pulu sepulunya buat teman saya,"ucap bayu karena gak mau berurusan dia langsung saja memberikan uangnya kepada preman itu, tapi belum saja di ambil oleh preman itu, roni dari belakang bayu lebih dulu mengbilnya.

"Kalo kalian mau uang ya harus kerja, apa gak malu meminta hak orang lain seperti ini,"kata roni, kali ini dia tidak takut lagi sebab dia memang tidak menyukai gaya preman itu yang meminta dengan mengancam.

"Bro..lihat ada pahlawan disini ternyata dia berani mengatai kita,"ujar preman itu memanggil temannya kedua temannya, termasuk ketua mereka yang berabut merah itu datang menghampiri bayu dan roni.

"Yang mana?,dia..?" Katanya sambil menunjuk bayu. "Bukan bang alek ini salah paham teman saya masih baru belum mengerti aturan abang ini saya ganti lima puluh tapi lepasin dia,"ujar bayu tidak mau preman-preman itu memukuli roni.

"Saya..kenapa?,kalian tidak suka kalo tidak suka sini lawan saya," kata roni, dia lagsung menendang salah satu preman itu, melihat temannya di pukul oleh roni alek yang sebagai jetua langsung geram dan menyerang roni di ikuti oleh satu temannya, untungnya roni yang sudah pandai bela diri mampu mengahadapi mereka, karena para preman itu hanya modalkan tampang seram dan mental sok keras mereka tentu saja bukan tandingan roni yang pandai bela diri. Dengan mudah roni menjatuhkan mereka bertiga.

"Ayo berdiri lagi, kalo bisa mengalahkan saya saya kasih semua uang saya ayo, masa kalah sama satu orang," ucap roni memancing emosi mereka, mereka pun kembali menyerang tapi terjatuh lagi, sampai akhirnya menyerah dan melarikan diri.

Bayu yang menyaksikan itu tapak terkejut sebab roni begitu berani melawan mereka.

"Bang abang pandai bertarung ternyata, astaga aku baru sadar kalo abang jago beladiri"

"Hai lihat kita punya pahlawan sekarang,"kata bayu memuji roni.

"Kamu berlebihan bayu saya hanya membela diri saja lagian kamu kenapa penakut sekali sama mereka mereka cuma modal tampang saja, kata roni sambil menepuk pundak roni dan mengembalikan uang roni yang hampir di serahkan bayu kepada preman-preman tadi.

"Saya gak sepandai abang buat bertarung, gila sih abang bisa ngalahin mereka, salut saya" ungkap bayu kembali memuji roni.

Mereka lalu kembali ke kosan, untungnya mereka sudah sampai kosan baru hujan turun.

"Walah hujan bang untuk kita cepat sampainya kalo tidak basah kuyup deh,"kata bayu senang mereka cepat sampai kosan.

"Bayu saya masuk dulu ya, saya mau mandi badan saya terasa lengket" Ucap roni.

"Baiklah bang ntar malam saya mampir dah kesitu kita ngobrol-ngobrol lagi kalo ada waktu" Balas bayu.

"Mas tunggu sebentar," baru saja roni melangkahkan kakinya untuk kembali ke rumah mbak maya seseorang memanggil sepertinya penghuni kos.

"Ya ada apa bang?"Tanya roni.

"Ini saya titip bayar bulanan saya tolong kasi mbak maya ya, bilang itu sisa yang kemarin kurang,"ucap orang itu ternyata mau nitip setoran kepada roni, sebab dia mengira kalo roni adalah keluarga mbak maya karena roni tinggal dirumah mbak maya,

"Baik bang nanti saya sampaikan,"kata roni sambil menerima uang tersebut.

"Terima kasih bang, baik lah saya permisi dulu,"

"Baik bang."

Roni pun melanjutkan langkahnya, dia membuka pintu rumah dan langsung memanggil mbak maya.

"Mbak, ini ada titipan setoran bayar kos katanya yang kurang kemarin, saya letakkan di meja ya," panggil roni memanggil mbak maya, tapi gak ada jawaban dari mbak maya, roni pun meletakkan uang itu dan pergi mengambil baju ganti lalu masuk ke kamar mandi untuk mandi.

Beberapa saat kemudian roni keluar dari kamar mandi dia melihat uang itu masih disana.

"Kemana mbak maya ya?" Katanya bertanya-tanya, dia pun mengambil kembali uang itu dan mengetuk pintu kamar mbak maya, tapi gak ada jawaban.

"Masa iya mbak maya keluar, tapi kan di luar hujan, kemana ya biasanya? Gumam roni, dia pun jadi khawatir dan membuka pintu kamar mbak maya, di saat dia membuka pintu dia langsung terkejut melihat mbak maya tertidur di atas tempat tidur dengan telanjang, astaga ternyata dia tidur.

"Mbak..mbak ini ada setoran," tapi mbak maya tidak juga menyahut karena memang benar-benar tertidur pulas.

"Apa terjadi sesuatu?" Pikir roni.

Dia pun melangkah mendekati mbak maya, dan mencoba membangunkannya dengan menyentuh pundak mbak maya tapi mbak maya tidak juga bangun.

Karena mbak maya gak juga bangun, Roni tidak berani lagi membangunkan mbak maya, dia duduk di tepi ranjang dan meletakkan uang itu di samping mbak maya yang tidur, lalu dia memutuskan untuk keluar, tapi gairahnya tiba-tiba datang di saat dia tidak sengaja menatap bokong mbak maya membuatnya membayangkan malam itu.

Aku malah menginginkannya sekarang, apa mbak maya gak bakalan marah ya?"gumam roni di dalam hati, rasa takut dan rasa ingin menyentuhnya terus gelut di dalam otaknya, dia pun mengingat kelembutan mbak maya membuatnya berpikir kalo mbak maya gak mungkin marah kalo dia melakukannya lagi.

Tanpa berpikir lagi roni melepaskan pakaiannya dan ikut telanjang lalu bergabung ke atas ranjang dia memeluk tubuh mbak maya dari belakang yang sudah telanjang dari awal.

Roni menelusuri leher mbak maya dengan kecupan halusnya lalu berbisik.

"Mbak izin melakukannya ya, mbak cukup tidur, aku melihat mbak tidak mengunci pintu kamar dan tidur telanjang membuat aku berpikir kalo mbak menunggu aku melakukannya," bisik roni

Roni meraih benda pusakanya lalu mengarahkannya ke selangkangan mbak maya setelah merasa pas roni menarik bokong mbak maya dengan perlahan.

saking sempitnya tempat itu, di tambah lagi batang andi yang memang sangat besar, membuat roni susah mrnembusnya.

"bentar, kok masih perawan sih, bukankah dia bilang kalo dia janda ya, ah bodo amat, mumpu dia tidur, ini kesempatanku.."gumam roni tidak peduli.

Roni pun terus berusaha menjebolnya hingga akhirnya setelah beberapa saat roni pun berhasil, sementara mbak maya masih tertidur pulas walaupun tadi sempat bergerak dan mengeluarkan suara jeritan saat roni menembusnya.

agar mbak maya tidak bangun, Roni melakukannya sangat hati-hati, dia mulai bergerak pelan, dimana dia merasakan kenikmatan dan kehangatan yang susah sekali di gambarkan olehnya.

semakin lama Roni di buat tidak tahan lagi dengan kehangatan di dalam tubuh mbak maya dia pun menaikkan tempo gerakannya mebuat mbak maya mendesah pelan dan akhirnya terbangun dan terkejut melihat roni dan yang lebih parahnya lagi dia mendapati dirinya sedang di tiduri oleh roni dengan batang roni yang amat sangat besar.

"Roni apa yang kamu lakukan aku sedang tidur, kamu..owwwhhh..," terkejut mbak maya, berusaha mendorong perut Roni.

akan ttapi roni bukannya berhebti justru mempercepatnya.

"Maaf mbak roni gak tahan lagi, tubuh mbak bukan hanya indah tapi juga nikmat," kata roni, sambil terus mempercepat gerakannya.

"hentikan roni, apa yang kamu lakukan, ohh.. roni punyamu...punyamu...besar sekali, perihnya...," rintih mbak maya meminta roni untuk menyudahinya, tapi roni gak mau berhenti dia semakin cepat membuat mbak maya mengigit bibir bawahnya.

"Sebentar lagi ya mbak, aku benar-benar tidak bisa berhenti sekarang..." kata roni.

Mbak maya akhirnya hanya bisa pasrah dan mengikuti gerakan roni karena dia juga sudah masuk ke dalamnya permainan roni.

Bersambung ...

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 249

    Di pagi harinya, di sebuah taman anak-anak terlihat Roni sedang menemani anaknya Arga dan cucunya Eren. kedua anak yang baru tumbuh itu begitu ceria bermain dengan Roni. Bukan hanya mereka saja di sana, tetapi banyak juga anak-anak lainnya yang ditemani oleh orang tua mereka. Ya, hari-hari Roni terus dihabiskan bersama anak dan cucunya. Awalnya tadi dia juga mengajak Alia, sayangnya Alia susah sekali pisah dengan mamanya sehingga tak bisa ikut dibawa oleh Roni.Sementara itu di rumah, Mbak Maya yang sedang menonton televisi ditemani oleh Lola langsung menanyakan soal Bara yang beberapa hari ini tidak pernah ia lihat.“Suamimu gimana? Baik kan? Apa dia terlalu sibuk akhir-akhir ini hingga tak pernah ikut denganmu pulang?” tanya Mbak Maya kepada menantunya.“Ah… iya, Ma. Bara memang sangat sibuk akhir-akhir ini. Urusan di Surabaya juga membuatnya sangat sibuk, saat ini bara sedang di surabaya mengurus bisnis disana” jawab Lola berbohong, tidak memberitahu bahwa suaminya sekarang sedang

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 248

    Tidak lama kemudian Bara dan Liona pun tiba di rumahnya Riki. Tak disangka, ternyata rumah Riki begitu besar sesuai dengan perkataan Tuan Folio kalau Riki adalah putra seorang pengusaha sukses.“Inilah rumahnya, Kak. Tunggu sebentar ya,” kata Liona lalu turun dari mobil untuk menghampiri dua orang penjaga yang berjaga di depan gerbang rumah itu.“Maaf, apa Riki ada?” tanya Liona kepada kedua penjaga itu.“Oh iya nona, ada di dalam. Apa perlu saya panggilkan?” jawab penjaga itu dengan ramah, sebab setahu dia Liona adalah pacarnya Riki yang sering datang berkunjung ke sini waktu itu.“Kalau bisa gerbangnya dibuka biar saya bisa masuk,” ucap Liona. Penjaga itu pun mengangguk dan langsung membukakan gerbang agar mobil Bara bisa masuk.Liona kembali ke dalam mobil dan meminta Bara untuk masuk. Bara pun mengarahkan mobilnya masuk ke halaman rumah. Setelah itu mereka berdua turun dari mobil.Dengan sopan Liona mengetuk pintu rumah hingga salah satu pelayan membuka pintu.“Bisa bertemu dengan

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 247

    Tidak lama setelah Ali tergeletak tidak sadarkan diri di jalan yang sepi itu, sebuah mobil putih melewati jalan tersebut. Untungnya, si pengemudi menyadari keberadaan Ali di sana. Ia melihat motor Ali di samping jalan dengan Ali yang tergeletak tak sadarkan diri di atas aspal. Segera orang itu turun dari mobilnya dan mengecek keadaan Ali.Dia terkejut melihat adanya bekas tembakan di bagian tubuh Ali. Dengan panik, orang itu langsung menelpon ambulans.Sementara di tempat lain, terlihat Bara sedang sibuk dengan dokumen-dokumennya di kantor yang sebentar lagi akan selesai ia tanda tangani. Tiba-tiba suara ponselnya berdering, membuatnya menoleh dan melihat nama Ali di layar ponselnya.“Ali? Tumben sekali,” kata Bara lalu mengangkat panggilan itu.“Iya Ali, ada apa? Tumben menelpon abang seginiannya?” tanya Bara, mengira Ali yang menelpon.Orang yang menemukan Ali tadi tidak tahu harus menghubungi keluarga Ali dengan cara apa karena ia tidak mengenalnya. Orang itu mencari ponsel Ali dan

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 246

    Keesokan harinya, terlihat di suatu restoran Roni sedang melakukan pertemuan dengan salah satu klain bisnisnya yang berasal dari luar kota. Iya beginilah kesibukan Roni di tiap harinya melakukan pertemuan dengan klain untuk membicarakan rencana-rencana bisnis.Dan di saat Roni sedang fokus-fokusnya menjelaskan rencananya kepada klainnya itu, tiba-tiba ponselnya berdering. Dia langsung menghentikan pembicaraan yang dia bicarakan untuk menerima panggilan telepon, karena yang menelpon adalah Miya istrinya. Dan sesibuk apa pun Roni jika yang menelpon atau mengganggunya adalah salah satu istrinya, Roni langsung menanggapi mereka dan menunda kesibukannya.“Sebentar ya, saya mau menerima panggilan telpon,” ujar Roni, dan klain bisnisnya itu hanya bisa mengangguk walaupun sedikit terlihat di raut wajahnya kalau dia tidak menyukai adanya hal lain yang mengganggu saat membicarakan hal penting seperti saat ini.“Halo sayang, iya ada apa?” tanya Roni ke Miya yang menelponnya.“Begini Roni, kamu p

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 245

    Di saat jam pulang terlihat Liona menunggu jemputan Ali. Tidak jauh dari tempat Liona menunggu, Riki di sana berdiri memantau. Sepertinya dia ingin tahu siapa suami Liona. Ya, dia dengar Liona diantar tadi pagi oleh suaminya. Pastinya dia akan dijemput juga, jadi Riki ikut menunggu ingin melihat seperti apa suami Liona.Sampai sekitar lima menitan menunggu, Ali akhirnya datang dengan mengendarai motor yang tadi pagi. Ali tiba di depan gerbang kampus, di sana Ali sudah melihat Liona yang sedang menunggu.Dengan wajah tersenyum, Liona bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Ali.“Maaf aku sedikit terlambat, tadi Elina rewel. Untung ada mama yang bantu nenangin dia,” kata Ali menjelaskan kenapa dia sedikit terlambat.“Gak apa-apa kok, aku juga gak lama nunggunya,” ujar Liona sambil menerima helm yang diberikan oleh Ali.Tiba-tiba, tanpa sepengetahuan Ali dan Liona, Riki mendekat lalu menarik jaket yang dikenakan oleh Ali dengan cukup keras, membuat Ali tertarik dan motor yang

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 244

    Di keesokan harinya, terlihat Liona bersiap-siap berangkat ke kampus, takutnya kalau ditunda lagi dia bisa ketinggalan banyak mata pelajaran pada kuliahnya.Dan kali ini bukan papanya atau sopir pribadi keluarga yang mengantarnya, tapi Ali yang sudah menjadi suaminya.“Cie yang diantar suami...” ledek mamanya saat Liona bersiap-siap.“Hehe, ya dong, Ma. Oh ya, Mama sendiri kenapa gak berangkat?” kata Liona sambil bertanya balik.Oh ya, Mama Liona juga adalah seorang kepala dosen di kampus tempat Liona kuliah sekaligus penerus kepemilikan kampus itu setelah kakek Liona meninggal.“Nanti Mama belakangan, sana cepat, Ali sudah menunggu di luar itu.”“Iya, Ma, sabar. Ini udah mau siap,” ucap Liona.Sementara di luar, Ali sudah menunggu di atas motor. Ya, walaupun banyak sekali mobil terparkir di sana yang bisa saja digunakan oleh Ali untuk mengantar Liona, malah motor yang dipilih oleh Ali. Seperti yang kita tahu, memang dari masih remaja Ali sangat menyukai motor.“Pa, pinjem motornya ya

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 5. Gadis Yang Diam-Diam Jatuh Cinta

    Malam semakin larut, dan suhu semakin dingin terasa karena hembusan angin malam di pantai itu. Namun, Roni dan Miya masih betah mengobrol di depan api unggun yang sudah hampir mati, menyisakan arang yang berpendar samar.Miya mulai bercerita tentang masa kecilnya yang ternyata pernah tinggal di kam

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 4. Hilang Kendali

    Roni mulai merasakan ada balasan dari gerakan mbak maya, dimana mbak maya juga mulai menciumnya," roni aku mau keluar..."bisiknya mendesah,tangannya merenggut rambut roni di sebabkan oleh sensasi hebat yang dia rasakan."jadi gimana mbak, saya berhenti atau lanjutin?," kata roni sengaja bertanya se

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 2. Godaan Ibu Kos

    Keesokan Pagi Roni bangun dari tidur lelapnya yang panjang, dia langsung pergi mandi. Setelah selesai, ia bersiap untuk pergi ke kampus barunya, tempat ia diterima melalui program beasiswa. tepat Saat mengambil air minum di meja makan, ia mendapati sarapan yang sudah disiapkan oleh Maya. Sambil t

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 1. Pertemuan Pertama

    "Hei, apa yang kamu lakukan di sini? Jangan-jangan kamu mau mencuri?" seru seorang wanita mengagetkan roni. Roni langsung menjelaskan. "Bukan, Mbak. Saya hanya berusaha menghindari preman yang mengejar saya. Kalau tidak percaya, saya akan pergi sekarang." Wanita itu mengamati Roni yang tampak k

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status