LOGIN"Bang akhrinya kau datang juga,"Sapa bayu ketika melihat roni datang juga dari tadi dia menunggunya.
"Ada apa bayu, sepertinya ada hal penting?" Tanya roni. Ini saya mau mengajak abang pergi ke warung kopi, anggap saja sebagai tanda terimakasih tadi malam membantu memperbaiki atap saya, saya gak mungkin dong minta bantuan secara cuma-cuma"Ucap bayu. "Astaga kamu ini, itu hal biasa saling membantu mah, kirain ada hal penting, memangnya disini warung kopi dimana?" Kata roni. "Bang walaupun ini kota gak kalah kok sama di kampung, ayo ikut saya kita pakai motor saya,ucap bayu sambil berjalan mengajak roni untuk menaiki motor vario miliknya. Baiklah ayo, roni tidak menolak sebab dia juga ingin menghangatkan tubuh dengan minum kopi hangat. Setelah beberapa saat dengan mengendarai motor, bayu dan roni sampai juga di warung kopi. "Nah ini tempat nya, disini memang biasa tempat para anak kos seperti kita nongkrong, sebentar lagi pasti rame, maaf saya mengajak abang siang-siang begini takutnya nanti malam hujan lagi, di jakarta sering sekali hujan kalo awal bulan begini," ucap bayu. Mbak kopinya dua ya ... "Pesan bayu. "Begitu ya, oya bayu saya mau nanya nih saya lagi cari kerjaan siapa tau kau ada kenalan gitu, saya orang kampung gak banyak uang jadi kalo gak kerja saya gak bisa dong melanjutkan hidup," kata roni sambil bercanda. Walah nanti ya bang saya tanyakan ke bos saya, tenang aja untung aja Abang bertanya ke orang yang tepat kayak saya nanti saya kabarin ya kalo ada, kata bayu sambil memuji dirinya yang memang mudah mencari pekerjaan karena dia sudah sangat mengenal kota jakarta. "Terimakasih kalo begitu, seperti kau memang sudah lama di kota, asli mu orang mana?" Tanya roni kepada bayu sebab bayu memang belum memberitahu dia asalnya. "Saya dari medan bang, disini saya bekerja sambilan kuliah lah gitu," jelas bayu memberitahu roni. "Hai abng-abang...ayo yang mau dua ratus ribu semalam full servis kok"Tiba-tiba seorang wanita seksi menghampiri mereka dan menawarkan sebuah jasa. "Servis? Servis apa ya?" Tanya roni dengan polosnya sebab dia tidak mengerti maksud wanita seksi itu. "Maksudnya gini loh bang, abang memberi mereka uang maka abang akan di layani sepanjang malam di atas tepat tidur," kata bayu menjelaskan kepada roni. "Walah ogah ah, daripada uang saya yang sedikit ini di pergunakan seperti itu mending buat jajan tiap harinya, lagian uang segitu bisa cukup saya pake seminggu," kata roni langsung menolak saat sudah mengerti maksud wanita itu. "Yakin bang uang segitu bisa di pake dua minggu ini kota loh, mana kenyang,"balas wanita itu menyindir roni. "Bagi saya segitu sudah cukup mbak, anda cari di tempat lain saja saya meolak,"kata roni menolak tawaran wanita itu dan wanita itupun dengan kesal sambil menyindir meninggalkan mereka, "dasar miskin.."katanya. Tapi roni yang sadar diri hanya bisa diam. "Jangan di taruh di hati bang di sekitaran sini memang banyak yang seperti itu, mereka menjual tubuh ya demi uang segitu." Kata bayu menyabarkan roni agar tidak terkena omongan wanita tadi. "Kamu tenang saja saya bisa memaklumi kok, ini juga kota saya sudah menyiapkan diri jauh-jauh hari sebelum meutuskan datang kekota." Balas roni sambil tersenyum. Beberapa saat kemudian para pemuda dengan masing-masing membawa pacarnya datang ke warung itu untuk membeli makanan, memang warung tempat meraka itu memang sangat di gemari oleh para anak muda bukan karena murah tapi tempatnya lengkap dan juga nyaman. "Udah mulai rame ni bayu, gimana kalo kita balik saja, saya belum mandi soalnya, saya juga mau siap-siap untuk kuliah saya besok, kita kembali besok saja lagi kesini"Ajak roni. "Baik bang tunggu sebentar yaa saya mau bayar dulu,"pinta bayu dan pergi membayar pesanan mereka. Tiba-tiba datang sekelompok preman kesana, tujuan mereka tidak lain dan tidak bukan hanya untuk memalak uang mereka. "Ayo seperti biasa lima ribu untuk satu orang, kata ketua mereka yang berambut merah. "Bang ayo cepat kita pergi preman sudah datang kebiasaan emang memalak orang-orang," kata bayu dengan cepat mengajak roni untuk pergi. Tapi semua terlambat motor bayu di tahan oleh mereka. "Kamu mau kemana hah ayo bayar dulu lima ribu cepat, oya buat kamu karena mau kabur sepulu ribu sini," kata salah satu dari preman itu yang menahan motor bayu. "Baik ini bang dua pulu sepulunya buat teman saya,"ucap bayu karena gak mau berurusan dia langsung saja memberikan uangnya kepada preman itu, tapi belum saja di ambil oleh preman itu, roni dari belakang bayu lebih dulu mengbilnya. "Kalo kalian mau uang ya harus kerja, apa gak malu meminta hak orang lain seperti ini,"kata roni, kali ini dia tidak takut lagi sebab dia memang tidak menyukai gaya preman itu yang meminta dengan mengancam. "Bro..lihat ada pahlawan disini ternyata dia berani mengatai kita,"ujar preman itu memanggil temannya kedua temannya, termasuk ketua mereka yang berabut merah itu datang menghampiri bayu dan roni. "Yang mana?,dia..?" Katanya sambil menunjuk bayu. "Bukan bang alek ini salah paham teman saya masih baru belum mengerti aturan abang ini saya ganti lima puluh tapi lepasin dia,"ujar bayu tidak mau preman-preman itu memukuli roni. "Saya..kenapa?,kalian tidak suka kalo tidak suka sini lawan saya," kata roni, dia lagsung menendang salah satu preman itu, melihat temannya di pukul oleh roni alek yang sebagai jetua langsung geram dan menyerang roni di ikuti oleh satu temannya, untungnya roni yang sudah pandai bela diri mampu mengahadapi mereka, karena para preman itu hanya modalkan tampang seram dan mental sok keras mereka tentu saja bukan tandingan roni yang pandai bela diri. Dengan mudah roni menjatuhkan mereka bertiga. "Ayo berdiri lagi, kalo bisa mengalahkan saya saya kasih semua uang saya ayo, masa kalah sama satu orang," ucap roni memancing emosi mereka, mereka pun kembali menyerang tapi terjatuh lagi, sampai akhirnya menyerah dan melarikan diri. Bayu yang menyaksikan itu tapak terkejut sebab roni begitu berani melawan mereka. "Bang abang pandai bertarung ternyata, astaga aku baru sadar kalo abang jago beladiri" "Hai lihat kita punya pahlawan sekarang,"kata bayu memuji roni. "Kamu berlebihan bayu saya hanya membela diri saja lagian kamu kenapa penakut sekali sama mereka mereka cuma modal tampang saja, kata roni sambil menepuk pundak roni dan mengembalikan uang roni yang hampir di serahkan bayu kepada preman-preman tadi. "Saya gak sepandai abang buat bertarung, gila sih abang bisa ngalahin mereka, salut saya" ungkap bayu kembali memuji roni. Mereka lalu kembali ke kosan, untungnya mereka sudah sampai kosan baru hujan turun. "Walah hujan bang untuk kita cepat sampainya kalo tidak basah kuyup deh,"kata bayu senang mereka cepat sampai kosan. "Bayu saya masuk dulu ya, saya mau mandi badan saya terasa lengket" Ucap roni. "Baiklah bang ntar malam saya mampir dah kesitu kita ngobrol-ngobrol lagi kalo ada waktu" Balas bayu. "Mas tunggu sebentar," baru saja roni melangkahkan kakinya untuk kembali ke rumah mbak maya seseorang memanggil sepertinya penghuni kos. "Ya ada apa bang?"Tanya roni. "Ini saya titip bayar bulanan saya tolong kasi mbak maya ya, bilang itu sisa yang kemarin kurang,"ucap orang itu ternyata mau nitip setoran kepada roni, sebab dia mengira kalo roni adalah keluarga mbak maya karena roni tinggal dirumah mbak maya, "Baik bang nanti saya sampaikan,"kata roni sambil menerima uang tersebut. "Terima kasih bang, baik lah saya permisi dulu," "Baik bang." Roni pun melanjutkan langkahnya, dia membuka pintu rumah dan langsung memanggil mbak maya. "Mbak, ini ada titipan setoran bayar kos katanya yang kurang kemarin, saya letakkan di meja ya," panggil roni memanggil mbak maya, tapi gak ada jawaban dari mbak maya, roni pun meletakkan uang itu dan pergi mengambil baju ganti lalu masuk ke kamar mandi untuk mandi. Beberapa saat kemudian roni keluar dari kamar mandi dia melihat uang itu masih disana. "Kemana mbak maya ya?" Katanya bertanya-tanya, dia pun mengambil kembali uang itu dan mengetuk pintu kamar mbak maya, tapi gak ada jawaban. "Masa iya mbak maya keluar, tapi kan di luar hujan, kemana ya biasanya? Gumam roni, dia pun jadi khawatir dan membuka pintu kamar mbak maya, di saat dia membuka pintu dia langsung terkejut melihat mbak maya tertidur di atas tempat tidur dengan telanjang, astaga ternyata dia tidur. "Mbak..mbak ini ada setoran," tapi mbak maya tidak juga menyahut karena memang benar-benar tertidur pulas. "Apa terjadi sesuatu?" Pikir roni. Dia pun melangkah mendekati mbak maya, dan mencoba membangunkannya dengan menyentuh pundak mbak maya tapi mbak maya tidak juga bangun. Karena mbak maya gak juga bangun, Roni tidak berani lagi membangunkan mbak maya, dia duduk di tepi ranjang dan meletakkan uang itu di samping mbak maya yang tidur, lalu dia memutuskan untuk keluar, tapi gairahnya tiba-tiba datang di saat dia tidak sengaja menatap bokong mbak maya membuatnya membayangkan malam itu. Aku malah menginginkannya sekarang, apa mbak maya gak bakalan marah ya?"gumam roni di dalam hati, rasa takut dan rasa ingin menyentuhnya terus gelut di dalam otaknya, dia pun mengingat kelembutan mbak maya membuatnya berpikir kalo mbak maya gak mungkin marah kalo dia melakukannya lagi. Tanpa berpikir lagi roni melepaskan pakaiannya dan ikut telanjang lalu bergabung ke atas ranjang dia memeluk tubuh mbak maya dari belakang yang sudah telanjang dari awal. Roni menelusuri leher mbak maya dengan kecupan halusnya lalu berbisik. "Mbak izin melakukannya ya, mbak cukup tidur, aku melihat mbak tidak mengunci pintu kamar dan tidur telanjang membuat aku berpikir kalo mbak menunggu aku melakukannya," bisik roni Roni meraih benda pusakanya lalu mengarahkannya ke selangkangan mbak maya setelah merasa pas roni menarik bokong mbak maya dengan perlahan. saking sempitnya tempat itu, di tambah lagi batang andi yang memang sangat besar, membuat roni susah mrnembusnya. "bentar, kok masih perawan sih, bukankah dia bilang kalo dia janda ya, ah bodo amat, mumpu dia tidur, ini kesempatanku.."gumam roni tidak peduli. Roni pun terus berusaha menjebolnya hingga akhirnya setelah beberapa saat roni pun berhasil, sementara mbak maya masih tertidur pulas walaupun tadi sempat bergerak dan mengeluarkan suara jeritan saat roni menembusnya. agar mbak maya tidak bangun, Roni melakukannya sangat hati-hati, dia mulai bergerak pelan, dimana dia merasakan kenikmatan dan kehangatan yang susah sekali di gambarkan olehnya. semakin lama Roni di buat tidak tahan lagi dengan kehangatan di dalam tubuh mbak maya dia pun menaikkan tempo gerakannya mebuat mbak maya mendesah pelan dan akhirnya terbangun dan terkejut melihat roni dan yang lebih parahnya lagi dia mendapati dirinya sedang di tiduri oleh roni dengan batang roni yang amat sangat besar. "Roni apa yang kamu lakukan aku sedang tidur, kamu..owwwhhh..," terkejut mbak maya, berusaha mendorong perut Roni. akan ttapi roni bukannya berhebti justru mempercepatnya. "Maaf mbak roni gak tahan lagi, tubuh mbak bukan hanya indah tapi juga nikmat," kata roni, sambil terus mempercepat gerakannya. "hentikan roni, apa yang kamu lakukan, ohh.. roni punyamu...punyamu...besar sekali, perihnya...," rintih mbak maya meminta roni untuk menyudahinya, tapi roni gak mau berhenti dia semakin cepat membuat mbak maya mengigit bibir bawahnya. "Sebentar lagi ya mbak, aku benar-benar tidak bisa berhenti sekarang..." kata roni. Mbak maya akhirnya hanya bisa pasrah dan mengikuti gerakan roni karena dia juga sudah masuk ke dalamnya permainan roni. Bersambung ...Keesokan paginya, saat Miya pulang, Roni melihat sebuah bingkisan di kursi depan kamarnya."Siapa yang menaruh ini di sini?" gumam Roni bertanya-tanya.Ia membuka bingkisan itu dan mendapati isinya adalah nasi kotak."Wah, makanan! Pasti Bayu yang menaruh ini," pikirnya.Roni berjalan menuju kamar Bayu dan mengetuk pintunya, namun tidak ada jawaban dari dalam. Ia melirik jam tangannya dan terkejut."Astaga, ternyata sudah jam 10 pagi! Mungkin Bayu sudah pergi bekerja," ujarnya sambil berbalik arah.Setelah mandi, Roni memutuskan pergi ke gudang. Karena kuliahnya baru dimulai sore nanti, ia memilih ke sana daripada hanya berdiam diri di kos tanpa pekerjaan.Saat Miya pulang ke rumah, ayahnya sudah menunggunya di sofa. Begitu ia masuk, ayahnya langsung bertanya, "Miya, kamu ke mana saja? Bapak sudah beberapa kali menghubungimu, tapi tidak ada jawaban."Miya tersenyum dan menjawab santai, "Semalam ada acara bersama teman, jadi aku tidak sempat melihat ponsel, Pak."Ayahnya menghela napas
Hari demi hari berlalu, tanpa terasa sudah satu tahun Roni berada di kota. Sekarang, banyak perubahan yang telah terjadi. Roni kini telah dipercaya oleh Bapak Bobi untuk membantunya dalam mengelola usaha. Bahkan, ia telah diberikan tanggung jawab besar untuk memegang kendali gudang besar milik keluarga Bob. Namun, semua itu tidak didapatkan dengan mudah. Sebelum memperoleh kepercayaan sebesar itu, Roni harus menghadapi berbagai rintangan dan cobaan, mulai dari pekerja yang iri hingga ancaman pembunuhan. Meski begitu, dengan ketabahan dan kejujurannya, Roni berhasil melewati semuanya.Sementara itu, di kampus, Jack semakin berani menunjukkan dominasinya. Ia berusaha untuk menguasai kampus dengan sering membuat keributan dan masalah. Geng motornya pun semakin menjadi-jadi di jalanan, terutama setelah Bobi dan kelompoknya telah lulus dari kampus tersebut.Namun, meskipun begitu, Roni tidak pernah takut kepada Jack dan gengnya. Bahkan, beberapa kali Jack mengirim anak buahnya untuk mengga
Tok... tok... suara pintu kamar Roni diketuk dari luar. Awalnya, Roni tidak menyahut sebab dia memang sudah terlalu lelah. Namun, karena suara ketukan itu semakin keras, akhirnya Roni bangun."Siapa ya yang mengetuk pintu tengah malam begini? Apa Bayu ya? Sepertinya dia sudah pulang bekerja, tapi kenapa malah membangunkanku pula..." pikir Roni. Dia mengira kalau itu adalah Bayu, lalu berjalan menuju pintu untuk membukanya.Saat pintu dibuka, bukan Bayu yang ia lihat, melainkan Mbak Maya yang berdiri sambil menatapnya. Sontak, Roni sedikit terkejut hingga mundur ke belakang. Wajahnya masih terlihat mengantuk karena tidurnya begitu pulas, sehingga ia benar-benar terganggu."Kenapa kau malah terkejut seperti itu, seolah-olah aku ini hantu?" ujar Mbak Maya dengan nada sedikit kesal."Bukan seperti itu, Mbak. Astaga, maaf. Tak kira tadi Bayu, eh pas aku buka ternyata Mbak, jadi aku terkejut dong," ucap Roni mencoba menjelaskan agar Mbak Maya tidak salah paham.Mbak Maya menoleh ke kiri dan
Sesampainya di rumah, Roni langsung berjalan ke arah meja, menaruh tas selempangnya, dan menuju kamar mandi. Namun, saat baru saja membuka pintu kamar mandi, dia dikejutkan oleh Mbak Maya yang keluar dari sana hanya mengenakan handuk.Mbak Maya yang melihat pakaian Roni begitu kotor langsung bertanya, "Kenapa kamu begitu kotor, seperti anak sekolah dasar yang baru pulang main saja?" tanyanya, karena kondisi Roni memang benar-benar kotor dan bau telur busuk."Tadi ada sedikit kejutan saja," jawab Roni sambil tersenyum dan melewati Mbak Maya untuk masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Namun, Mbak Maya justru mengikutinya kembali ke dalam kamar mandi sambil melepas handuknya."Mbak, kenapa masuk lagi? Aku mau mandi, Mbak," tanya Roni, terkejut melihat Mbak Maya yang mengikutinya masuk."Sini, lepas semua pakaianmu. Aku akan mencucinya. Astaga baunya," kata Mbak Maya sambil meraih pakaian Roni yang dia pegang, menunggu Roni melepas celananya. Setelah itu, Mbak Maya mulai mencuci
Suara kicauan burung terdengar begitu indah di pagi hari, diikuti oleh suara siulan yang dimainkan oleh Roni yang sedang asyik di dalam kamar mandi. Pagi ini, dia mengawali hari dengan keceriaan karena sudah bertekad untuk terus semangat mengejar mimpinya.Setelah selesai mandi, dia sarapan, lalu berangkat ke kampusnya. Sementara itu, Mbak Maya masih tertidur pulas karena permainan panas yang dilakukan Roni tadi malam, membuatnya begitu kelelahan.Seperti biasanya, Roni berjalan kaki dengan tas selempang yang selalu ia bawa saat ke kampus. Dalam perjalanan, ia menyapa setiap orang yang ditemuinya, termasuk teman-temannya di jalan. Kadang, dengan keisengannya, Roni melempar batu kecil ke arah dahi salah satu temannya, lalu berlari dikejar. Bukannya panik, Roni justru tertawa sambil mengejek mereka. Mungkin itu salah satu alasan mengapa Roni selalu ngos-ngosan saat sampai di gerbang kampusnya. Di atas gapura kampus, tertulis: Universitas Bina Bangsa."Akhirnya sampai juga," gumamnya sam
"Ayu, setiap hari dan malam kamu selalu melamun. Sejak kepergian pria miskin itu, kamu terus seperti ini. Apa istimewanya dia sampai-sampai kamu seperti ini terus?" ujar Tuan Hasan, ayah Ayu, mencoba membuka pembicaraan dengan putrinya.Setelah kepergian Roni, Ayu memang selalu terlihat melamun, tenggelam dalam pikirannya. Apalagi, Roni sama sekali tidak pernah mengirim kabar sejak pertama kali pergi."Papa tidak mengerti apa yang aku rasakan. Papa hanya melihat Roni dari sisi buruknya saja," balas Ayu sambil menatap ayahnya dengan penuh penyesalan."Bagaimana bapakmu ini tidak berpikir seperti itu? Lihat saja, dia pergi begitu saja dan meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini. Pokoknya, besok kamu harus bersiap-siap. Reza dan ayahnya akan datang ke rumah untuk melamarmu," ungkap Tuan Hasan tegas, memberitahu bahwa Reza, anak seorang pengusaha kaya sekaligus juragan ternama di desa, akan melamar Ayu esok pagi."Papa, Ayu tidak mau menikah! Apa pun yang terjadi, Ayu akan tetap setia ke