Share

Bab 207

last update publish date: 2026-04-06 19:47:03

“Siapa juga yang malu, aku... ee... aku sibuk aja, iya aku sibuk aja makanya belum ada waktu buat bertemu,” ucap Maria mencoba beralasan.

“Oh, begitu ya? Saking sibuknya sampai gak nyisain waktu buat ngenalin diri ke mertua sendiri, haha. Iya-iya, itu ide bagus buat beralasan,” kata Roni.

“Ayolah, Paman lagian apa lagi yang perlu di perkenalkan paman kan sudah mengenalku."

"Iya tapi kan saya gak tahu kalo kamu yang menjadi menantu saya, nama maria kan banyak," kata roni.

" Aku tahu Paman juga t
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 207

    “Siapa juga yang malu, aku... ee... aku sibuk aja, iya aku sibuk aja makanya belum ada waktu buat bertemu,” ucap Maria mencoba beralasan.“Oh, begitu ya? Saking sibuknya sampai gak nyisain waktu buat ngenalin diri ke mertua sendiri, haha. Iya-iya, itu ide bagus buat beralasan,” kata Roni.“Ayolah, Paman lagian apa lagi yang perlu di perkenalkan paman kan sudah mengenalku.""Iya tapi kan saya gak tahu kalo kamu yang menjadi menantu saya, nama maria kan banyak," kata roni." Aku tahu Paman juga tahu alasanku. Ah, sial, kalau tahu masa depan bakalan begini, nyesel banget aku dulu,” akhirnya Maria pun mengakui kalau dirinya memang malu bertemu, mengingat dia yang dulu sangat bersikeras sekali untuk dinikahi oleh Roni.“Haha... tapi gak apa-apa kan, gak dapet papanya, anaknya pun jadi, haha. Lagian, suami orang disukai, jadi begini kan,” canda Roni sambil tertawa mengejeknya, membuat wajah Maria jadi memerah.“Sudah ya, Paman, jangan mengejekku. Awas saja nanti kalau Paman nyesel gak jadii

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 206

    Diperlihatkan di mana Roni tiba di perusahaan milik Marjuki. Ya, Roni tahu sekali tempatnya karena memang mereka pernah bekerja sama dulu sebelum Marjuki memutus kontrak kerja sama saat mengira Roni telah meninggal dalam kecelakaan pesawat. Jadi dia adalah salah satu pebisnis yang meninggalkan perusahaan Roni saat perusahaan jatuh karena tidak ada pemimpin tegas dan cerdas seperti Roni.Saat melihat kedatangan Roni, security di sana sangat terkejut. dia mengira bahwa yang datang adalah bukan Roni."Hai, lihat! Bukankah itu Tuan Roni? Serius itu dia, bukankah dia dikabarkan sudah meninggal?" katanya sambil menyenggol pundak temannya."Sepertinya bukan, mungkin mirip saja, gak mungkin orang mati hidup lagi," ucap temannya."Iya juga ya, tapi kok dari paras dan karismanya mirip sekali ya?""Alah, mirip saja itu," kata temannya tidak percaya.Roni melewati mereka dan langsung masuk. Dia langsung menuju lift untuk naik ke lantai atas di mana kantor Marjuki berada. Tepat saat Roni melewati

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 205

    Mbak Maya dengan menggendong Arga keluar dari kamar untuk segera membuat sarapan. Tapi saat ia ke dapur, dia terkejut ketika melihat ibunya sudah di sana.“Mama… kok mama di sini? Mama kan belum sembuh, ayo cepat kembali ke kamar,” kata Mbak Maya dengan nada khawatir.“Ndak kok sayang, mama sudah baikan sekarang. Ini mama tadi buatkan sarapan buat kita,” ujar mamanya.“Tapi ma, wajah mama masih kelihatan pucat itu. Pokoknya mama nggak boleh ngapa-ngapain dulu sebelum sembuh.”“Sayang… mama baik-baik saja kok, ini mama karena kurang tidur aja. Semalam nggak bisa tidur karena ada suara berisik,” kata mamanya.Seketika wajah Mbak Maya merah merona, karena pasti yang dimaksud mamanya adalah suaranya sendiri yang mengerang semalam begitu berisik.“Maaf ma, semalam…”“Sudah nggak apa-apa, mama mengerti kok. Itu juga sudah wajar setelah sekian lama kalian tidak bertemu,” kata mamanya memaklumi, membuat wajah imut Mbak Maya semakin memerah karena malu.“Ooaaawwmmm…” terdengar suara Roni mengu

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 204

    Sore harinya, Mbak Maya mengajak Lia pergi untuk berbelanja membeli bahan makanan buat nanti malam dan besok pagi. Sekalian dia membeli perlengkapan bayinya berupa popok dan sebagainya, sementara Roni diam di rumah untuk menjaga putra kecilnya, Arga.“Tapi kalau dia nangis minta susu gimana?” tanya Roni, ragu menjaga anaknya sendiri.“Tenang saja, dia baru saja selesai aku kasih. Aku gak lama kok. Kalau nangis berarti kamu yang gak pandai menjaga anakmu,” kata Mbak Maya, lalu pergi bersama Lia menggunakan mobil pribadinya.“Hai sayang, kamu harus bekerja sama ya sama Papa. Gak boleh nangis. Kalau kamu nangis, Mama pasti marah sama Papa. Jadi harus bekerja sama dengan Papa, ya. Oh iya, satu lagi, jangan dikit-dikit minta ASI dong, harus bisa berbagi sama Papamu ini. Harus adil ya, kamu kira Papa gak pengen juga, hehe…” ucap Roni seakan berbicara dengan anaknya yang masih bayi. Saat itu juga, Arga langsung menangis.“Eh… malah nangis. Jangan nangis dong,” Roni langsung panik. Iya, Roni

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 203

    Sementara di sebuah tempat yang tak jauh dari rumah Mbak Maya berada, terlihat sepasang remaja sedang bertengkar. Sepertinya mereka sepasang kekasih.“Apa maksudmu menyudahi hubungan kita? Bukankah semuanya baik-baik saja dan aku tidak pernah mengecewakanmu? Apa pun yang kamu mau, aku turuti,” ucap si pria.“Maaf ya, aku gak bisa lanjutin. Soalnya aku sudah gak cinta lagi sama kamu. Aku lebih memilih Arbil, dia lebih kaya, jadi aku lebih nyaman sama dia,” kata si cewek dengan mudahnya.“Kamu kok bilang gitu? Setelah semua yang aku lakukan untukmu, kamu berkata begitu. Ya, aku tahu aku tidak sesempurna dia, tapi aku tulus sekali sama kamu. Kamu tahu sendiri kan itu,” kata si pria begitu sangat kecewa setelah mendapatkan pengakuan yang menyakitkan dari si cewek.“Den, pokoknya aku mau putus, titik,” kata ceweknya lalu pergi ninggalin dia.“Sel… Sel… tunggu dulu, Sel…” panggil pria itu, tapi si cewek tak memperdulikannya.“Bisa-bisanya kamu memperlakukanku seperti ini, Sel. Aku telah mel

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 202

    Roni melangkah menuju pintu belakang untuk menemui Mbak Maya yang ada di belakang rumah. Saat membuka pintu belakang, dia langsung melihat Mbak Maya sedang menjemur pakaian di bawah terik matahari pagi. Roni berdiri di sana memperhatikannya yang sedang sibuk menjemur pakaian sambil sesekali mengusap keringat di keningnya dengan lengannya.Mbak Maya belum menyadari keberadaan Roni di sana. Ia terus sibuk dengan pakaian-pakaian yang dia jemur.“Kamu selalu kelihatan cantik, Maya. Sedikit pun wajahmu tidak termakan oleh usia. Kamu malah kelihatan tambah cantik dan manis. Tubuhmu juga sedikit berisi sekarang. Tidak dipungkiri, setiap aku menatapmu, perasaan ini selalu merasa nyaman,” gumam Roni sambil terus menatap Mbak Maya.Roni pun melangkah mendekatinya. Tepat saat di belakang Mbak Maya, Roni langsung memeluknya dari belakang membuat Mbak Maya kaget, dan respon Mbak Maya tanpa disangka-sangka langsung berbalik hendak menampar.“Astaga, Roni! Kamu membuatku kaget, aku kira bukan kamu,”

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status