LOGINTepat di saat Bara sudah menyiapkan semuanya untuk ikut berangkat bersama papanya, Mbak Maya melihatnya."Hai Bara, kamu mau ke mana?" tanya Mbak Maya."Ini, Ma, aku mau ikut sama Papa menjemput anak-anak," jawab Bara."Tidak usah, kamu nggak usah ikut. Kalau kamu pergi siapa laki-laki di rumah ini? Kalau ada apa-apa gimana?" kata mamanya langsung melarangnya buat ikut."Tapi, Ma, kan cuma sebentar. Lagian kan Ali bakalan pulang," kata Bara."Bara, sudah berapa kali Mama harus nasehatin kamu, kamu belum juga mengerti. Mau sampai kapan kamu seperti ini? Iya, Mama tahu Ali bakalan pulang, tapi masa kamu mengharapkan adik kamu. Ali pulang itu buat istirahat. Kamu lupa tugas kamu apa? Mama sudah katakan berapa kali, kalau Papa kamu nggak ada, kamulah yang menggantikan Papa kamu di keluarga ini. Kalau kamu ikut pergi siapa yang ngurus perusahaan sementara Papa kamu pergi? Harapin Maria? Ingat, Maria menantu di keluarga kita. Pokoknya kamu nggak usah ikut, tetap di sini. Kalau ada apa-apa b
Roni pun memulainya kembali, dan kali ini dia tak lagi menahan diri. Seketika suara-suara di kamar mandi itu menjadi sangat berisik, terutama erangan Ayu yang tak terkendali. Tubuhnya bergetar hebat karena Roni benar-benar bersemangat sekali."Bang, kaki Ayu terasa pegal," kata Ayu karena dia merasa lemas, membuat kakinya tak tahan buat berdiri lagi.Roni berhenti sebentar, dia menoleh ke arah bak mandi. Di sana dia pun menggendong Ayu ke sana dan mereka lanjut di sana. Ayu benar-benar tak menyangka dengan stamina Roni yang begitu kuat, tak seperti biasanya. Iya, mungkin ini terjadi karena kebiasaan Roni yang hidup di hutan yang keras, di mana setiap hari harus pergi berburu dan sebagainya.Bukan hanya Ayu, Mbak Maya pun juga merasakan kalau stamina Roni benar-benar jauh berbeda. Lihat saja wajah Ayu sampai-sampai dibuat merah muda dengan dirinya yang terus-terusan menggigit bibirnya sendiri disebabkan oleh apa yang dirasakannya.Sementara di kamar sebelah, terdengar suara jeritan Lol
Setelah berbicara dengan kedua putranya, Roni melangkah menuju kamar di mana Meli berada. Saat membuka pintu kamar, Roni melihat Meli sedang duduk merenung di atas tempat tidur. Melihat itu, Roni mendekatinya, lalu duduk di sampingnya."Sayang, ada apa lagi? Kenapa masih melamun?" tanya Roni.Meli langsung bersandar di dalam pelukan Roni. "Gak tahu kenapa, aku merasa kalau aku hanya beban di sini, Roni. Melihat keluargamu yang begitu bahagia membuatku menjadi tidak enak kalau terus berada di sini," ungkap Meli. Ya, memang itulah yang dia rasakan sekarang. Selain malu, dia juga merasa kalau dirinya tak pantas berada di dalam lingkungan seperti ini."Sayang, coba tatap mataku. Kamu mencintaiku, kan?" kata Roni sambil menyentuh dagu Meli agar menatapnya."Tentu saja aku sangat mencintaimu, hanya saja..." jawabnya sambil menundukkan kepala kembali."Dan aku juga sangat mencintaimu. Begini, sayang, aku tahu ini berat untukmu karena bagaimanapun lingkungan tempat kita berada sekarang berbed
"Bang... bangun bang..." panggil Ayu mengguncang badan Roni untuk membangunkannya."Ah iya sayang, ada apa?" tanya Roni sembari terbangun dari tidurnya."Itu makan malam sudah siap, Mbak Maya memintaku membangunkan abang," kata Ayu, sementara Alia masih tertidur di samping papanya sembari mengemut jari tangannya."Iya sayang, wah Alia kayaknya ketiduran juga. Abang tadi ketiduran saat menemaninya bermain, ternyata dia juga ikut tertidur," kata Roni saat melihat putri kecilnya sedang tidur di dekatnya. Ayu hanya tersenyum."Kamu keluar duluan ya, nanti aku susul, aku mandi sebentar," ucap Roni sembari melangkah menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar Ayu. Iya, setiap kamar istrinya masing-masing ada kamar mandinya, jadi gak perlu susah-susah ngantri kalau pengen mandi."Baiklah bang kalau begitu.""Kamu mau ikut gak?" kata Roni, sempat-sempatnya dia menggoda."Ayu udah mandi tadi, besok pagi aja sekalian keramas," balas Ayu sambil mengedipkan mata, sembari memberikan kode kepada Ron
“Siapa juga yang malu, aku... ee... aku sibuk aja, iya aku sibuk aja makanya belum ada waktu buat bertemu,” ucap Maria mencoba beralasan.“Oh, begitu ya? Saking sibuknya sampai gak nyisain waktu buat ngenalin diri ke mertua sendiri, haha. Iya-iya, itu ide bagus buat beralasan,” kata Roni.“Ayolah, Paman lagian apa lagi yang perlu di perkenalkan paman kan sudah mengenalku.""Iya tapi kan saya gak tahu kalo kamu yang menjadi menantu saya, nama maria kan banyak," kata roni." Aku tahu Paman juga tahu alasanku. Ah, sial, kalau tahu masa depan bakalan begini, nyesel banget aku dulu,” akhirnya Maria pun mengakui kalau dirinya memang malu bertemu, mengingat dia yang dulu sangat bersikeras sekali untuk dinikahi oleh Roni.“Haha... tapi gak apa-apa kan, gak dapet papanya, anaknya pun jadi, haha. Lagian, suami orang disukai, jadi begini kan,” canda Roni sambil tertawa mengejeknya, membuat wajah Maria jadi memerah.“Sudah ya, Paman, jangan mengejekku. Awas saja nanti kalau Paman nyesel gak jadii
Diperlihatkan di mana Roni tiba di perusahaan milik Marjuki. Ya, Roni tahu sekali tempatnya karena memang mereka pernah bekerja sama dulu sebelum Marjuki memutus kontrak kerja sama saat mengira Roni telah meninggal dalam kecelakaan pesawat. Jadi dia adalah salah satu pebisnis yang meninggalkan perusahaan Roni saat perusahaan jatuh karena tidak ada pemimpin tegas dan cerdas seperti Roni.Saat melihat kedatangan Roni, security di sana sangat terkejut. dia mengira bahwa yang datang adalah bukan Roni."Hai, lihat! Bukankah itu Tuan Roni? Serius itu dia, bukankah dia dikabarkan sudah meninggal?" katanya sambil menyenggol pundak temannya."Sepertinya bukan, mungkin mirip saja, gak mungkin orang mati hidup lagi," ucap temannya."Iya juga ya, tapi kok dari paras dan karismanya mirip sekali ya?""Alah, mirip saja itu," kata temannya tidak percaya.Roni melewati mereka dan langsung masuk. Dia langsung menuju lift untuk naik ke lantai atas di mana kantor Marjuki berada. Tepat saat Roni melewati







