MasukReyhan tidak langsung pulang setelah pertemuan itu.
Mobil Mercedes hitamnya yang tampak terlalu bersih untuk jalanan Jakarta meluncur pelan di Jalan Diponegoro, sementara Pak Budi, sopirnya, mengurai kemacetan dengan kesabaran yang sudah teruji delapan tahun lamanya. Di jok belakang, Reyhan melonggarkan satu kancing teratas kemejanya lalu menyandarkan kepala ke sandaran kulit. Matanya terpejam, tapi pikirannya tidak bisa tenang. "Due diligence." Dua kata itu terus berputar di kepalanya, seperti lagu yang tak bisa dihentikan. Gadis itu Mecca, yang dua puluh satu tahun lebih muda darinya, mahasiswi semester tiga yang bahkan belum pernah menandatangani kontrak sungguhan baru saja menyebut apa yang dilakukannya itu sebagai due diligence. Bukan kepo. Bukan mengintai. Due diligence. Langkah yang memang biasa dilakukan sebelum memutuskan sesuatu. Sudut bibir Reyhan sedikit terangkat. Dia sudah bertemu begitu banyak wanita. Di dunia properti, urusan bisnis sering kali bercampur dengan ajakan bertemu di luar kantor, dan Reyhan tidak bodoh. Dia tahu persis kapan senyum seseorang berubah dari sekadar sopan santun menjadi sesuatu yang lebih pribadi. Dia tahu cara mereka menyentuh lengannya sedikit lebih lama saat bersalaman, atau sengaja duduk di sebelahnya saat makan malam resmi, atau mengirim pesan selamat atas proyek barunya tepat dua jam setelah namanya dimuat di majalah. Semuanya bisa ditebak. Tanpa terkecuali. Tapi gadis yang baru saja berdiri di ruang tamu keluarganya, menyampaikan alasan penolakan di atas kertas tertulis, yang memanggilnya "Paman" saat pertama kali bertemu, yang menatapnya seolah tidak takut padanya meski tubuhnya tegang gadis itu tidak masuk ke dalam kategori mana pun yang pernah dia kenal. Dan hal itu mengganggunya. Bukan mengganggu dalam arti buruk. Melainkan seperti menemukan celah di dinding yang selama ini dia yakini kokoh sempurna. Celah kecil yang membuatnya penasaran: apa sebenarnya yang ada di baliknya? Ponselnya bergetar. Pesan dari ayahnya: Bagaimana menurutmu? Reyhan menatap layar sejenak, lalu mengetik: Dia menarik. Dihapus. Diketik ulang: Prosesnya masih berjalan. Tidak perlu terburu-buru. Dikirim. Sopan. Terukur. Persis seperti yang selalu ia tunjukkan kepada siapa pun. Tapi kata yang tadi dihapus menarik tetap membekas di benaknya, tak bisa hilang begitu saja. Kantor pusat Grup Pradipta menempati tiga lantai tertinggi di Gedung Sudirman Tower, dirancang sepresisi cara Reyhan menjalani hidup: sederhana, bermanfaat, tanpa hiasan yang tak berguna. Pukul tujuh malam, sebagian besar karyawan sudah pulang. Namun lampu di ruang kerja paling ujung lantai tiga puluh masih menyala, seperti biasa. Reyhan duduk di meja besarnya, laporan keuangan terbuka di layar. Angka-angka itu seharusnya menyita seluruh perhatiannya ada rencana pendapatan yang harus disesuaikan, penawaran proyek yang batas waktunya minggu depan, pertemuan dengan investor yang harus dipersiapkan. Namun tangannya diam di atas papan ketik. Pikirannya kembali ke ruang tamu rumah keluarga Ardani. Bayangan Mecca berdiri tegak sambil memegang kertas, bicara dengan tenang lalu suaranya bergetar saat perasaannya tak lagi bisa ditahan. Kalimat yang diucapkannya: "Kami dipasangkan, bukan memilih." Reyhan sudah biasa menghadapi kemarahan di rapat, dengan rekan kerja, dengan saingan bisnis. Tapi kemarahan Mecca beda. Di balik ketegasan kata-katanya, ada rasa takut. Takut hidupnya diatur orang lain, takut tak punya pilihan. Dan dia memilih melawan daripada diam saja. Itulah yang membuat Reyhan tak bisa berhenti memikirkannya. Bukan wajahnya meski Reyhan tak akan berbohong, sorot matanya itu sulit dilupakan. Bukan penampilannya meski pakaian sederhananya membuatnya tampak teguh dan berwibawa. Yang membuatnya terkesan adalah kenyataan bahwa Mecca sama sekali tidak berusaha menyenangkannya. Semua orang selalu berusaha tampil baik di hadapannya. Sejak namanya dikenal luas, senyum orang-orang seolah punya maksud tersendiri. Tangan yang menjabat pun terasa ada kepentingannya. Tapi Mecca datang justru untuk menjelaskan mengapa dia tidak mau. "Menarik," gumam Reyhan sendirian di ruangan itu. Kata itu lagi. Terdengar ketukan di pintu. "Mas Rey?" Suara Dinda, asistennya, terdengar dari balik pintu yang sedikit terbuka. "Saya pamit pulang. Ada yang perlu disiapkan untuk besok?" "Tidak, terima kasih, Din." Dinda tidak langsung pergi. Dia sudah empat tahun bekerja bersama Reyhan, dan dia cukup peka melihat perubahan kecil saja. "Mas Rey... sepertinya ada yang dipikirkan malam ini?" tanyanya hati-hati. "Memangnya kenapa?" "Biasanya jam segini sudah sibuk mengurus laporan. Tadi saya lewat setengah jam lalu, layarnya masih di halaman yang sama." Reyhan melirik layar. Benar, belum beranjak dari halaman keempat. "Saya sedang berpikir." "Tentang apa?" "Tentang kenapa asisten saya belum pulang padahal sudah pamit." Dinda tersenyum tipis. "Baik, selamat malam, Mas." Dia melangkah pergi, lalu berhenti sejenak. "Mas Rey?" "Ya?" "Apa pun yang dipikirkan... sepertinya hal yang penting. Jarang sekali melihat Mas Rey seperti ini." "Seperti bagaimana?" "Seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu selain pekerjaan." Pintu tertutup sebelum Reyhan sempat menjawab. Dia bersandar ke kursi, menatap ke luar jendela. Jakarta tampak berkilauan di bawah jutaan lampu, jutaan kehidupan yang tak pernah ia pedulikan, karena selama ini urusannya sendiri sudah cukup mengisi waktunya. Namun malam ini, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Reyhan Pradipta merasa keteraturan hidupnya baru saja diganggu oleh sesuatu yang tak bisa dihitung dalam angka maupun laporan keuangan. Seorang gadis muda dengan tiga lembar kertas dan keberanian yang jauh melampaui usianya. Reyhan membuka laci meja, mengambil kotak kayu kecil berisi jam tangan peninggalan kakeknya satu-satunya benda pribadi yang ada di ruangan ini. Jam itu sudah tidak berjalan. Kakeknya dulu pernah berkata: "Kamu akan tahu siapa yang pantas mendapat waktumu. Bukan dari apa yang dikatakannya, tapi dari bagaimana dia membuatmu berhenti sejenak." Reyhan menutup kotak itu. "Aku tidak berhenti," katanya pelan pada diri sendiri. "Aku hanya... teralihkan." Tapi dia tahu bedanya. Sebagai pemimpin perusahaan, dia terlatih membaca situasi, mengenali pola, memperkirakan hasil. Dan semua yang terjadi hari ini menunjukkan satu hal yang tak bisa dihindari: Mecca Ardani bukan sekadar gangguan sesaat. Dia adalah hal baru yang mengubah semua rencana yang sudah disusun rapi. Dan Reyhan pria yang biasanya sudah tahu jawabannya sebelum pertanyaan selesai diucapkan kali ini benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukan. Dia menutup laptop, mematikan lampu meja. Di lantai tiga puluh gedung tertinggi itu, dia berdiri sendiri, menyadari satu hal sederhana: dia yang mengelola bisnis bernilai ribuan miliar rupiah, ternyata tak bisa mengendalikan satu hal saja pikirannya yang terus kembali kepada gadis yang memanggilnya "Om."Mecca sama sekali tak bisa tidur.Bukan karena tak bisa tidur tubuhnya lelah, matanya pun berat. Tapi setiap kali ia memejam, yang muncul bukan kegelapan. Yang muncul justru tatapan tenang pria itu, saat duduk di kursi ruang tamu. Cara ia mendengarkan tiga halaman penjelasan Mecca tanpa mengubah ekspresi sedikit pun. Cara ia berkata pada Papa: "Saya justru lebih lega kalau dia tidak langsung setuju"—seolah penolakan Mecca bukan penghinaan, melainkan sesuatu yang justru menguatkan keyakinannya.Menguatkan apa, Mecca tak mau memikirkannya.Pukul dua dini hari, ia duduk di tepi ranjang, menyalakan lampu nakas, lalu mengambil buku catatan biru dari laci. Buku yang sama yang biasa ia pakai untuk menyusun rencana presentasi, menulis draf tugas, dan sesekali menumpahkan apa yang tak bisa ia sampaikan kepada siapa pun.Di halaman baru, ia menulis dengan huruf besar semua:MISI: BUAT DIA MUNDUR SENDIRIDigarisbawahi. Dua kali."Baiklah," gumamnya, sambil mengetukkan ujung pulpen ke dagu. "Kala
Reyhan tidak langsung pulang setelah pertemuan itu.Mobil Mercedes hitamnya yang tampak terlalu bersih untuk jalanan Jakarta meluncur pelan di Jalan Diponegoro, sementara Pak Budi, sopirnya, mengurai kemacetan dengan kesabaran yang sudah teruji delapan tahun lamanya.Di jok belakang, Reyhan melonggarkan satu kancing teratas kemejanya lalu menyandarkan kepala ke sandaran kulit. Matanya terpejam, tapi pikirannya tidak bisa tenang."Due diligence."Dua kata itu terus berputar di kepalanya, seperti lagu yang tak bisa dihentikan.Gadis itu Mecca, yang dua puluh satu tahun lebih muda darinya, mahasiswi semester tiga yang bahkan belum pernah menandatangani kontrak sungguhan baru saja menyebut apa yang dilakukannya itu sebagai due diligence.Bukan kepo. Bukan mengintai. Due diligence. Langkah yang memang biasa dilakukan sebelum memutuskan sesuatu.Sudut bibir Reyhan sedikit terangkat.Dia sudah bertemu begitu banyak wanita. Di dunia properti, urusan bisnis sering kali bercampur dengan ajakan
Tiga hari berlalu sejak malam makan malam itu, dan Mecca sudah menyiapkan segalanya. Di meja belajar apartemennya, tiga halaman catatan rapi tersusun di samping laptop. Poin-poin argumen ditulis dengan spidol hitam, diberi nomor, diberi highlight kuning di bagian yang paling kuat. Dia bahkan sudah latihan bicara di depan cermin dua kali seperti mau presentasi di depan dosen penguji. "Pertama, perbedaan usia dua belas tahun secara statistik meningkatkan risiko ketidakcocokan nilai dan gaya hidup." Mecca membaca ulang catatannya, mengangguk puas. "Kedua, aku masih semester tiga dan belum memiliki kemandirian finansial. Menikah sekarang berarti menghentikan proses pertumbuhanku sebagai individu." Argumen ketiga yang menurutnya paling mematikan digaris bawahi dua kali: "Pernikahan berbasis perjodohan bisnis berpotensi menjadikan hubungan sebagai transaksi, bukan kemitraan." Sempurna. Logis. Tidak emosional. Papa tidak akan bisa menangkis ini. Ponselnya bergetar. Chat dari Ma
Mecca tak tidur semalam. Bukan karena kasur di kamar lamanya tak nyaman justru sebaliknya. Kasur itu terlalu empuk, terlalu akrab, terlalu berbau masa kecil yang dulu terasa begitu aman. Dan keamanan itulah yang kini membuat pertahanannya runtuh.Dia menangis sampai bantal basah, marah sampai seluruh tubuhnya terasa pegal, lalu akhirnya diam saja, menatap langit-langit kamar yang masih ditempeli stiker bintang bercahaya yang dipasang Papa saat dia berumur delapan tahun.Bintang-bintang itu kini sudah tak menyala lagi.Pukul empat pagi, dia menyelinap keluar rumah tanpa pamit. Memesan taksi online di depan gerbang yang belum terkunci rapat; penjaga yang masih setengah mengantuk hanya mengangguk pelan saat dia lewat. Di dalam mobil, Jakarta yang masih gelap terasa seperti sekutunya kota ini pun tak pernah benar-benar tidur.Ponselnya menyala. Dua puluh tiga pesan dari Naya yang dikirim semalam, belum sempat dibaca semuanya. Tiga panggilan tak terjawab dari Mama. Satu dari Papa.Tak ada
Pria itu masuk tanpa suara. Bukan karena langkahnya ringan justru sebaliknya. Ada sesuatu yang berat dan kokoh dalam cara dia melangkah, seolah gravitasi di ruangan ini ikut bergeser ke arahnya, tanpa perlu minta izin.Tinggi, kulitnya sawo matang, rahangnya tegas, rambut hitam tersisir rapi ke belakang, tak sehelai pun berantakan. Kemeja putih lengannya digulung sampai siku, memperlihatkan arloji perak di pergelangan tangan kirinya sederhana, tapi jelas bukan barang murahan.Hal pertama yang disadari Mecca bukan wajahnya.Melainkan matanya.Gelap. Tenang. Dan dingin jenis dingin yang bukan karena tak peduli, melainkan karena sudah terlalu lama menahan segalanya sendirian."Maaf terlambat," ucapnya. Suaranya rendah, datar, tak ada penyesalan yang tulus. Dia mengangguk ke arah Om Farhan dan Tante Shinta, lalu ke Papa dan Mama Mecca sopan, terukur, persis seperti orang yang sudah menghitung setiap gerakan sebelum melakukannya."Nah, ini dia!" Om Farhan berdiri dengan antusias, sangat ko
Mecca baru mengangkat telepon ibunya menjelang sore, saat langit Jakarta mulai memerah jingga di balik deretan gedung pencakar langit. Bukan karena ia sudah siap, tapi karena panggilan itu sudah sampai tujuh kali, dan bahkan Mecca Ardani punya batas kesabaran untuk mengabaikannya.“Halo, Ma.”“Mecca Ardani.” Suara ibunya tegas bukan marah, melainkan jenis nada yang lebih berat: nada yang sudah memutuskan sesuatu. “Kamu pulang malam ini. Makan malam keluarga.”“Ma, aku ada tugas—”“Bukan permintaan, Mecca. Ini perintah.”Kalimat itu menggantung di udara sebentar. Mecca tahu betul sifat ibunya biasanya kehendaknya selalu dibungkus kelembutan, disampaikan dengan ajakan halus. Tapi sore ini? Tak ada pembungkus. Tak ada tawar-menawar.“Papa juga memintanya,” tambah ibunya, nadanya melembut seketika, seolah sadar nama itu punya bobot tersendiri bagi Mecca.Mecca menelan ludah. Papa. Ayahnya nyaris tak pernah ikut campur urusan begini. Kalau sampai Papa yang meminta…“Jam berapa?” tanyanya a







