MasukMecca sama sekali tak bisa tidur.
Bukan karena tak bisa tidur tubuhnya lelah, matanya pun berat. Tapi setiap kali ia memejam, yang muncul bukan kegelapan. Yang muncul justru tatapan tenang pria itu, saat duduk di kursi ruang tamu. Cara ia mendengarkan tiga halaman penjelasan Mecca tanpa mengubah ekspresi sedikit pun. Cara ia berkata pada Papa: "Saya justru lebih lega kalau dia tidak langsung setuju"—seolah penolakan Mecca bukan penghinaan, melainkan sesuatu yang justru menguatkan keyakinannya. Menguatkan apa, Mecca tak mau memikirkannya. Pukul dua dini hari, ia duduk di tepi ranjang, menyalakan lampu nakas, lalu mengambil buku catatan biru dari laci. Buku yang sama yang biasa ia pakai untuk menyusun rencana presentasi, menulis draf tugas, dan sesekali menumpahkan apa yang tak bisa ia sampaikan kepada siapa pun. Di halaman baru, ia menulis dengan huruf besar semua: MISI: BUAT DIA MUNDUR SENDIRI Digarisbawahi. Dua kali. "Baiklah," gumamnya, sambil mengetukkan ujung pulpen ke dagu. "Kalau logika tak mempan, kita pakai cara lain." Rencananya sederhana: orang tua bisa menyuruhnya datang, tapi tak bisa menyuruhnya disukai. Kalau Reyhan melihat sendiri betapa menyebalkannya dirinya betapa cerewet, betapa tak sopan, betapa tak cocok mereka pasti ia akan mundur sendiri. Pria seperti dia tentu menginginkan sosok yang anggun, tenang, tahu tata krama. Mecca bukan orang seperti itu. Dan ia akan memastikan Reyhan tahu. Ia mulai menulis: Panggil dia "Om" terus. Di depan siapa saja. Tegaskan perbedaan usia. Bicara soal hal-hal yang bikin orang ilfeel: tren T****k, bahasa anak muda, gosip kampus. Ajukan pertanyaan tak nyaman di depan keluarga. Jangan berdandan rapi. Tampil seadanya saja. Bersikap seolah tak paham soal urusan bisnis. Biar dia pikir aku tak pantas mendampinginya. Mecca membaca ulang daftarnya. Lalu menambahkan poin terakhir dengan tinta yang lebih tebal: JANGAN SAMPAI TERPAKSA TERSENYUM ATAU TERKESAN OLEH TATAPANNYA. Ia menatap kalimat itu agak lama. Lalu menutup buku catatannya dengan bunyi yang agak keras. "Kamu gila." Naya menatapnya sambil memegang gelas kopi, tatapan antara takjub dan ngeri. Mereka duduk di sudut kantin, meja andalan setiap Selasa dan Kamis di sela-sela jam kuliah. "Ini bukan gila, ini strategi," tegur Mecca sambil menyodorkan buku catatan itu. "Lihat, ada enam poin. Terencana. Bukan asal-asalan." Naya membaca pelan, bibirnya bergerak mengikuti tulisan Mecca. Sampai di poin terakhir, alisnya terangkat. "'Jangan sampai terkesan sama tatapannya'? Mec... ini lebih kayak jaga diri dari perasaanmu sendiri, bukan buat mengusir dia. Kamu nulis ini buat dia, atau buat kamu?" "Buat jaga-jaga," jawab Mecca agak cepat. "Aku cuma mau bilang, orang tenang kayak dia biasanya pandai bikin orang luluh. Aku takut terpedaya." "Atau justru tertarik." "Naya..." "Iya, iya, oke." Naya mengangkat kedua tangan. "Jadi rencananya: kamu pura-pura jadi versi paling menyebalkan dari dirimu, sampai dia sendiri yang pergi?" "Tepat sekali." "Kalau dia nggak pergi gimana?" Mecca menarik kembali bukunya. "Setiap orang punya batas kesabarannya, Nay. Tinggal ketahuan di mana batas si 'Om' itu." "Kamu sudah panggil dia 'Om'?" "Itu fakta. Dia empat belas tahun lebih tua. Bisa saja dia sudah punya anak seusiaku." "Bisa juga dia orang yang tak berhenti kamu ceritakan sejak kemarin." Mecca hendak membantah, tapi kata-kata itu tertahan. Hening sejenak. "Aku bahas dia karena kesal," katanya akhirnya. "Bukan karena alasan lain." "Ya, ya..." "Naya, aku serius." "Aku juga serius, Mec." Naya menatapnya lembut. "Tapi boleh aku tanya satu hal jujur? Bukan mau mencela." "Tanya saja." "Kalau kamu memang tak peduli, kenapa butuh rencana rumit begini? Orang yang benar-benar tak tertarik tak perlu strategi. Cukup... biarkan saja." Suasana di kantin tiba-tiba terasa sunyi. Mecca menatap sahabatnya, mencari jawaban yang bisa menutupi perasaannya. Tapi Naya bukan orang lain ia sudah tiga tahun mendengar apa yang Mecca sembunyikan dari dirinya sendiri, dan selalu tahu kapan kata-katanya tak jujur. "Aku butuh rencana ini," kata Mecca pelan, "supaya aku tak memberi kesempatan pada diriku sendiri untuk berubah pikiran." Naya tak menjawab. Ia hanya menatap Mecca dengan senyum yang sedih, seolah sudah mengerti. Mecca memalingkan wajah. "Pertemuan besok jadi awal," katanya sambil memasukkan buku ke tas. "Mama bilang ada makan siang keluarga. Aku datang, tapi dengan caraku sendiri." "Maksudnya?" "Aku akan jadi diriku yang paling tidak menyenangkan. Dan dia akan menyesal pernah setuju dengan gagasan ini." Naya menggeleng pelan. "Atau..." "Atau apa?" "Atau justru karena kamu jadi diri sendiri, dia malah makin melihat betapa berharganya kamu. Dan itulah yang paling kamu takutkan, kan?" Mecca diam. Tangannya mencengkeram tali tas sedikit lebih erat saat berdiri dan berjalan pergi. Pertanyaan Naya tertinggal di udara, tak terjawab. Di dalam tas, buku catatan biru itu terasa lebih berat dari biasanya. Enam poin. Enam benteng pertahanan. Melindungi dirinya dari sesuatu yang belum berani ia beri nama. Sesuatu yang bermula dari tatapan tenang pria itu di ruang tamu dan tak kunjung hilang sejak saat itu.Mecca sama sekali tak bisa tidur.Bukan karena tak bisa tidur tubuhnya lelah, matanya pun berat. Tapi setiap kali ia memejam, yang muncul bukan kegelapan. Yang muncul justru tatapan tenang pria itu, saat duduk di kursi ruang tamu. Cara ia mendengarkan tiga halaman penjelasan Mecca tanpa mengubah ekspresi sedikit pun. Cara ia berkata pada Papa: "Saya justru lebih lega kalau dia tidak langsung setuju"—seolah penolakan Mecca bukan penghinaan, melainkan sesuatu yang justru menguatkan keyakinannya.Menguatkan apa, Mecca tak mau memikirkannya.Pukul dua dini hari, ia duduk di tepi ranjang, menyalakan lampu nakas, lalu mengambil buku catatan biru dari laci. Buku yang sama yang biasa ia pakai untuk menyusun rencana presentasi, menulis draf tugas, dan sesekali menumpahkan apa yang tak bisa ia sampaikan kepada siapa pun.Di halaman baru, ia menulis dengan huruf besar semua:MISI: BUAT DIA MUNDUR SENDIRIDigarisbawahi. Dua kali."Baiklah," gumamnya, sambil mengetukkan ujung pulpen ke dagu. "Kala
Reyhan tidak langsung pulang setelah pertemuan itu.Mobil Mercedes hitamnya yang tampak terlalu bersih untuk jalanan Jakarta meluncur pelan di Jalan Diponegoro, sementara Pak Budi, sopirnya, mengurai kemacetan dengan kesabaran yang sudah teruji delapan tahun lamanya.Di jok belakang, Reyhan melonggarkan satu kancing teratas kemejanya lalu menyandarkan kepala ke sandaran kulit. Matanya terpejam, tapi pikirannya tidak bisa tenang."Due diligence."Dua kata itu terus berputar di kepalanya, seperti lagu yang tak bisa dihentikan.Gadis itu Mecca, yang dua puluh satu tahun lebih muda darinya, mahasiswi semester tiga yang bahkan belum pernah menandatangani kontrak sungguhan baru saja menyebut apa yang dilakukannya itu sebagai due diligence.Bukan kepo. Bukan mengintai. Due diligence. Langkah yang memang biasa dilakukan sebelum memutuskan sesuatu.Sudut bibir Reyhan sedikit terangkat.Dia sudah bertemu begitu banyak wanita. Di dunia properti, urusan bisnis sering kali bercampur dengan ajakan
Tiga hari berlalu sejak malam makan malam itu, dan Mecca sudah menyiapkan segalanya. Di meja belajar apartemennya, tiga halaman catatan rapi tersusun di samping laptop. Poin-poin argumen ditulis dengan spidol hitam, diberi nomor, diberi highlight kuning di bagian yang paling kuat. Dia bahkan sudah latihan bicara di depan cermin dua kali seperti mau presentasi di depan dosen penguji. "Pertama, perbedaan usia dua belas tahun secara statistik meningkatkan risiko ketidakcocokan nilai dan gaya hidup." Mecca membaca ulang catatannya, mengangguk puas. "Kedua, aku masih semester tiga dan belum memiliki kemandirian finansial. Menikah sekarang berarti menghentikan proses pertumbuhanku sebagai individu." Argumen ketiga yang menurutnya paling mematikan digaris bawahi dua kali: "Pernikahan berbasis perjodohan bisnis berpotensi menjadikan hubungan sebagai transaksi, bukan kemitraan." Sempurna. Logis. Tidak emosional. Papa tidak akan bisa menangkis ini. Ponselnya bergetar. Chat dari Ma
Mecca tak tidur semalam. Bukan karena kasur di kamar lamanya tak nyaman justru sebaliknya. Kasur itu terlalu empuk, terlalu akrab, terlalu berbau masa kecil yang dulu terasa begitu aman. Dan keamanan itulah yang kini membuat pertahanannya runtuh.Dia menangis sampai bantal basah, marah sampai seluruh tubuhnya terasa pegal, lalu akhirnya diam saja, menatap langit-langit kamar yang masih ditempeli stiker bintang bercahaya yang dipasang Papa saat dia berumur delapan tahun.Bintang-bintang itu kini sudah tak menyala lagi.Pukul empat pagi, dia menyelinap keluar rumah tanpa pamit. Memesan taksi online di depan gerbang yang belum terkunci rapat; penjaga yang masih setengah mengantuk hanya mengangguk pelan saat dia lewat. Di dalam mobil, Jakarta yang masih gelap terasa seperti sekutunya kota ini pun tak pernah benar-benar tidur.Ponselnya menyala. Dua puluh tiga pesan dari Naya yang dikirim semalam, belum sempat dibaca semuanya. Tiga panggilan tak terjawab dari Mama. Satu dari Papa.Tak ada
Pria itu masuk tanpa suara. Bukan karena langkahnya ringan justru sebaliknya. Ada sesuatu yang berat dan kokoh dalam cara dia melangkah, seolah gravitasi di ruangan ini ikut bergeser ke arahnya, tanpa perlu minta izin.Tinggi, kulitnya sawo matang, rahangnya tegas, rambut hitam tersisir rapi ke belakang, tak sehelai pun berantakan. Kemeja putih lengannya digulung sampai siku, memperlihatkan arloji perak di pergelangan tangan kirinya sederhana, tapi jelas bukan barang murahan.Hal pertama yang disadari Mecca bukan wajahnya.Melainkan matanya.Gelap. Tenang. Dan dingin jenis dingin yang bukan karena tak peduli, melainkan karena sudah terlalu lama menahan segalanya sendirian."Maaf terlambat," ucapnya. Suaranya rendah, datar, tak ada penyesalan yang tulus. Dia mengangguk ke arah Om Farhan dan Tante Shinta, lalu ke Papa dan Mama Mecca sopan, terukur, persis seperti orang yang sudah menghitung setiap gerakan sebelum melakukannya."Nah, ini dia!" Om Farhan berdiri dengan antusias, sangat ko
Mecca baru mengangkat telepon ibunya menjelang sore, saat langit Jakarta mulai memerah jingga di balik deretan gedung pencakar langit. Bukan karena ia sudah siap, tapi karena panggilan itu sudah sampai tujuh kali, dan bahkan Mecca Ardani punya batas kesabaran untuk mengabaikannya.“Halo, Ma.”“Mecca Ardani.” Suara ibunya tegas bukan marah, melainkan jenis nada yang lebih berat: nada yang sudah memutuskan sesuatu. “Kamu pulang malam ini. Makan malam keluarga.”“Ma, aku ada tugas—”“Bukan permintaan, Mecca. Ini perintah.”Kalimat itu menggantung di udara sebentar. Mecca tahu betul sifat ibunya biasanya kehendaknya selalu dibungkus kelembutan, disampaikan dengan ajakan halus. Tapi sore ini? Tak ada pembungkus. Tak ada tawar-menawar.“Papa juga memintanya,” tambah ibunya, nadanya melembut seketika, seolah sadar nama itu punya bobot tersendiri bagi Mecca.Mecca menelan ludah. Papa. Ayahnya nyaris tak pernah ikut campur urusan begini. Kalau sampai Papa yang meminta…“Jam berapa?” tanyanya a







