MasukTiga hari berlalu sejak malam makan malam itu, dan Mecca sudah menyiapkan segalanya. Di meja belajar apartemennya, tiga halaman catatan rapi tersusun di samping laptop.
Poin-poin argumen ditulis dengan spidol hitam, diberi nomor, diberi highlight kuning di bagian yang paling kuat. Dia bahkan sudah latihan bicara di depan cermin dua kali seperti mau presentasi di depan dosen penguji. "Pertama, perbedaan usia dua belas tahun secara statistik meningkatkan risiko ketidakcocokan nilai dan gaya hidup." Mecca membaca ulang catatannya, mengangguk puas. "Kedua, aku masih semester tiga dan belum memiliki kemandirian finansial. Menikah sekarang berarti menghentikan proses pertumbuhanku sebagai individu." Argumen ketiga yang menurutnya paling mematikan digaris bawahi dua kali: "Pernikahan berbasis perjodohan bisnis berpotensi menjadikan hubungan sebagai transaksi, bukan kemitraan." Sempurna. Logis. Tidak emosional. Papa tidak akan bisa menangkis ini. Ponselnya bergetar. Chat dari Mama: "Mec, sore ini Papa minta kamu datang ke rumah. Jam 4. Om Farhan dan keluarganya juga datang. Pakai baju yang sopan." Jantung Mecca berhenti sedetik. Dia sudah menduga ini akan datang pertemuan formal, lebih terstruktur dari makan malam kemarin. Tapi membaca pesan itu tetap membuat perutnya bergejolak, seperti ada lift yang tiba-tiba turun terlalu cepat. "Aku datang," balasnya. Dua kata. Tidak ada emoji, tidak ada basa-basi. Lalu dia menambahkan: "Tapi aku punya hal yang mau disampaikan ke Papa." Mama hanya membalas dengan stiker jempol. Mecca menatap stiker itu lama, mencoba membaca apakah ada ancaman tersembunyi di balik jempol digital itu. Tidak ada. Tapi Mecca tetap tidak percaya. • • • Rumah keluarga Ardani di Menteng selalu punya cara untuk membuat Mecca merasa seperti tamu di rumahnya sendiri. Halaman depan yang terlalu hijau. Pagar besi yang terlalu tinggi. Lampu taman yang terlalu banyak. Semua terasa seperti panggung bukan tempat tinggal, melainkan tempat pertunjukan bagi keluarga yang ingin terlihat sempurna. Mecca turun dari taksi online di depan gerbang. Dia mengenakan kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai siku dan celana kulot hitam sopan tapi tidak tunduk. Rambutnya diikat ekor kuda tinggi, wajahnya hanya sentuhan bedak tipis. Ini bukan fashion show. Ini medan perang. Di tangan kirinya, tiga lembar catatan dilipat rapi. Pembantu rumah membuka pintu dengan senyum ramah yang terlalu lebar. "Mbak Mecca, semuanya sudah di ruang keluarga." "Semuanya" ternyata bukan hiperbola. Di ruang keluarga yang luas itu, dua keluarga duduk berhadapan seperti negosiator di meja perundingan. Sofa kulit berwarna krem ditata membentuk formasi U. Di satu sisi: Papa, Mama, dan seorang paman yang Mecca tidak ingat namanya. Di sisi lain: Om Farhan, Tante Shinta, dan satu kursi yang masih kosong. Kursi itu lagi. Mecca menelan ludah. "Mecca!" Mama berdiri, senyumnya terlalu ceria untuk situasi yang sedang terjadi. "Kamu sudah datang. Ayo duduk, Nak." "Sore, Ma." Mecca mengangguk sopan ke seluruh ruangan. "Sore, Papa. Om Farhan, Tante Shinta." Om Farhan pria besar dengan senyum politisi mengangguk hangat. "Wah, Mecca. Cantik sekali sore ini." "Terima kasih, Om." Mecca duduk di kursi yang disiapkan untuknya, tepat di tengah formasi U, seperti terdakwa di pengadilan. Lembaran catatan di tangannya terasa seperti tameng. Lalu pintu ruang keluarga terbuka. Dan udara di ruangan itu berubah. Reyhan masuk dengan langkah yang tidak terburu-buru, seolah gravitasi bekerja berbeda untuk orang seperti dia. Kemeja abu-abu gelap, lengan digulung sekali di pergelangan, celana hitam yang jatuhnya presisi. Tidak ada jas, tidak ada dasi tapi ada sesuatu dalam caranya bergerak yang membuat ruangan terasa lebih kecil. Aroma kolonya sampai lebih dulu dari suaranya kayu, kulit, dan sesuatu yang samar-samar pedas. "Maaf terlambat," ucapnya. Suaranya rendah, tenang, seperti orang yang tidak pernah perlu berteriak untuk didengar. "Ada meeting yang tidak bisa ditinggal." Om Farhan tertawa. "Kamu ini. Sudah kubilang, keluarga dulu, bisnis belakangan." Reyhan hanya tersenyum tipis senyum yang sama seperti malam itu di ruang makan. Senyum yang tidak meminta izin untuk ada, tapi juga tidak memaksa perhatian. Matanya menyapu ruangan dengan efisiensi militer: Papa, Mama, paman, ibunya, ayahnya dan kemudian berhenti. Di Mecca. Tatapannya bertahan satu detik lebih lama dari yang wajar. Bukan tatapan menilai. Bukan tatapan mengagumi. Lebih seperti seseorang yang sedang membaca halaman pertama dari buku yang belum dia putuskan untuk dibaca sampai habis. Mecca membalas tatapan itu tanpa berkedip. "Sore," kata Reyhan, mengangguk ke arahnya. Hanya satu kata. Tidak "Mecca" — terlalu akrab. Tidak "Dek" terlalu merendahkan. Hanya "sore," yang netral dan terukur. "Sore," balas Mecca. Suaranya datar. Tangannya mencengkeram kertas catatan lebih erat. Reyhan duduk di kursi kosong itu tentu saja kursi itu untuknya dan menyilangkan kaki dengan gerakan yang terlihat terlalu alami untuk situasi seformal ini. Seperti dia sedang duduk di ruang kerjanya sendiri, bukan di ruang tamu orang yang putrinya baru saja menyebutnya "Om-Om" tiga hari lalu. Papa berdeham. "Baik. Karena semuanya sudah hadir, kita mulai saja." "Papa." Mecca mengangkat tangannya, jemari masih memegang kertas. "Sebelum pembicaraan dimulai, aku mau menyampaikan sesuatu." Mama melirik Papa dengan tatapan was-was. Papa mengangguk pelan. "Silakan." Mecca berdiri. Dia membuka lipatan kertas pertama, menarik napas, dan memulai persis seperti yang sudah dia latih di cermin. "Pertama, aku menghormati semua yang hadir di sini dan aku menghargai niat baik kedua keluarga. Tapi aku punya beberapa pertimbangan yang perlu didengar." Nada bicaranya profesional, terkendali. Matanya menatap Papa target utama. "Perbedaan usia dua belas tahun secara statistik meningkatkan—" "Risiko ketidakcocokan nilai dan gaya hidup." Sebuah suara menyelesaikan kalimatnya. Mecca berhenti. Seluruh ruangan menoleh. Reyhan menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca. Tenang. Hampir datar. Tapi di sudut matanya ada sesuatu bukan senyum, bukan olok-olok, lebih seperti... pengakuan. "Kamu mengutip studi Atkinson dan Wheeler, 2019," lanjut Reyhan, nada bicaranya akademis. "Tapi studi itu juga menunjukkan bahwa faktor utama ketidakcocokan bukan usia, melainkan perbedaan tahap kehidupan dan ekspektasi peran. Kesimpulannya tidak sepenuhnya mendukung argumenmu." Hening. Mecca menatap Reyhan, mulutnya setengah terbuka. Lembaran kedua di tangannya tiba-tiba terasa seperti kertas bekas. "Kamu... baca studinya?" Suaranya lebih pelan dari yang dia rencanakan. "Aku membaca banyak hal." Reyhan memiringkan kepalanya sedikit. "Tapi lanjutkan. Aku ingin dengar argumen kedua dan ketigamu." Om Farhan tertawa kecil. Mama terlihat antara bangga dan bingung. Papa untuk pertama kalinya dalam pertemuan ini tersenyum samar. Mecca merasakan wajahnya memanas. Bukan karena malu setidaknya dia tidak mau menyebutnya malu. Dia marah. Pria ini baru saja membajak presentasinya. "Baik." Mecca melipat kertasnya dan memasukkannya ke saku celana. Kalau argumen tertulis tidak berhasil, dia akan kembali ke senjata utamanya: kejujuran brutal. "Argumen keduaku sederhana." Ucapnya, kali ini tanpa catatan. Matanya terkunci pada Reyhan. "Aku tidak mengenalmu. Kamu tidak mengenalku. Kita bukan dua orang yang memilih satu sama lain kita dipilihkan. Dan aku tidak mau menjalani hidup yang dipilihkan orang lain untukku." Kalimat itu menggantung di udara, lebih tajam dari apa pun yang tertulis di kertas. Reyhan tidak langsung menjawab. Dia menatap Mecca lama, tanpa berkedip, seperti sedang menimbang setiap kata yang baru saja diucapkan. "Kamu benar," katanya akhirnya. Suaranya pelan tapi jelas. "Kita tidak saling mengenal." Mecca berkedip. Dia tidak mengira Reyhan akan setuju. "Tapi ketidaktahuan bukan alasan untuk menolak," lanjut Reyhan. "Ketidaktahuan adalah alasan untuk mencari tahu." "Aku sudah mencari tahu," sahut Mecca cepat. "Aku sudah baca profilmu, CEO-mu, Forbesmu semua itu. Dan kesimpulanku tetap sama." Satu alis Reyhan terangkat gerakan kecil yang hampir tidak terlihat, tapi cukup untuk membuat Mecca sadar bahwa dia baru saja mengakui sudah stalking pria ini secara menyeluruh. "Jadi kamu sudah riset tentang aku." Bukan pertanyaan. Mecca ingin menggali lubang dan menghilang. "Bukan riset," ralatnya, suaranya terlalu tinggi. "Itu namanya due diligence. Aku anak bisnis. Itu prosedur standar sebelum menolak proposal." "Due diligence." Reyhan mengulangi kata itu seolah sedang mencicipinya. Dan untuk pertama kalinya sejak dia masuk ruangan, senyumnya melebar bukan senyum lebar yang ramah, tapi senyum yang mengatakan bahwa dia baru saja menemukan sesuatu yang menarik. Papa berdeham lagi. "Mecca, Reyhan ini bukan debat kampus. Kami ingin membicarakan ini secara kekeluargaan." "Dengan segala hormat, Pa," Mecca menatap ayahnya, "perjodohan itu sendiri sudah bukan pembicaraan kekeluargaan. Itu keputusan sepihak yang dibuat tanpa persetujuanku." Mama menghela napas. "Mecca..." "Biarkan dia bicara, Bu Ardani," kata Reyhan. Semua orang menoleh ke Reyhan. Termasuk Mecca. Reyhan menatap Mama dengan hormat yang tulus. "Mecca punya hak untuk menyampaikan pendapatnya. Dan sejujurnya, ini pertama kalinya dalam hidup saya seseorang mempresentasikan alasan penolakan dengan slide deck." Dia melirik kertas yang menyembul dari saku celana Mecca. "Itu bukan slide deck," koreksi Mecca, giginya sedikit terkatup. "Itu catatan terstruktur." "Tentu," jawab Reyhan, dan ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat Mecca yakin pria ini sedang menikmati setiap detik dari percakapan ini. Mecca mengepalkan tangan di samping tubuhnya. Dia datang ke sini dengan senjata logika, dan pria ini baru saja melucutinya dengan ketenangan yang memuakkan. "Jadi apa," kata Mecca, suaranya tajam, "kamu mau bilang bahwa kamu setuju dijodohkan dengan gadis dua puluh satu tahun yang bahkan belum lulus kuliah?" Reyhan menopang dagunya dengan satu tangan gerakan yang terlihat kasual tapi penuh perhitungan. "Aku tidak akan menjawab pertanyaan itu." "Kenapa?" "Karena pertanyaanmu sudah mengandung jawabannya. Kamu mendefinisikan dirimu sebagai 'gadis sembilan belas tahun yang belum lulus kuliah.' Tapi bukan itu yang aku lihat di ruangan ini." Jeda. "Apa yang kamu lihat?" Mecca bertanya sebelum otaknya sempat menahan mulutnya. Reyhan menatapnya lurus. "Seseorang yang menyiapkan presentasi tiga halaman untuk menolak sesuatu yang tidak dia pahami sepenuhnya. Itu bukan tindakan anak kecil. Itu tindakan orang yang terbiasa bertarung tapi belum tahu bahwa tidak semua lawan datang untuk berperang." Udara di ruangan itu terasa lebih tipis. Mecca membuka mulut. Menutupnya. Membuka lagi. Tidak ada kata yang keluar. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh menit sejak dia masuk rumah ini, Mecca Ardani si pembicara tajam, si penantang dosen, si pejuang anti-perjodohan tidak punya jawaban. Dan itu, lebih dari argumen apa pun yang pernah dia siapkan, adalah momen yang membuatnya sadar bahwa Reyhan Pradipta bukan lawan yang bisa dia kalahkan dengan catatan tiga halaman. .Mecca sama sekali tak bisa tidur.Bukan karena tak bisa tidur tubuhnya lelah, matanya pun berat. Tapi setiap kali ia memejam, yang muncul bukan kegelapan. Yang muncul justru tatapan tenang pria itu, saat duduk di kursi ruang tamu. Cara ia mendengarkan tiga halaman penjelasan Mecca tanpa mengubah ekspresi sedikit pun. Cara ia berkata pada Papa: "Saya justru lebih lega kalau dia tidak langsung setuju"—seolah penolakan Mecca bukan penghinaan, melainkan sesuatu yang justru menguatkan keyakinannya.Menguatkan apa, Mecca tak mau memikirkannya.Pukul dua dini hari, ia duduk di tepi ranjang, menyalakan lampu nakas, lalu mengambil buku catatan biru dari laci. Buku yang sama yang biasa ia pakai untuk menyusun rencana presentasi, menulis draf tugas, dan sesekali menumpahkan apa yang tak bisa ia sampaikan kepada siapa pun.Di halaman baru, ia menulis dengan huruf besar semua:MISI: BUAT DIA MUNDUR SENDIRIDigarisbawahi. Dua kali."Baiklah," gumamnya, sambil mengetukkan ujung pulpen ke dagu. "Kala
Reyhan tidak langsung pulang setelah pertemuan itu.Mobil Mercedes hitamnya yang tampak terlalu bersih untuk jalanan Jakarta meluncur pelan di Jalan Diponegoro, sementara Pak Budi, sopirnya, mengurai kemacetan dengan kesabaran yang sudah teruji delapan tahun lamanya.Di jok belakang, Reyhan melonggarkan satu kancing teratas kemejanya lalu menyandarkan kepala ke sandaran kulit. Matanya terpejam, tapi pikirannya tidak bisa tenang."Due diligence."Dua kata itu terus berputar di kepalanya, seperti lagu yang tak bisa dihentikan.Gadis itu Mecca, yang dua puluh satu tahun lebih muda darinya, mahasiswi semester tiga yang bahkan belum pernah menandatangani kontrak sungguhan baru saja menyebut apa yang dilakukannya itu sebagai due diligence.Bukan kepo. Bukan mengintai. Due diligence. Langkah yang memang biasa dilakukan sebelum memutuskan sesuatu.Sudut bibir Reyhan sedikit terangkat.Dia sudah bertemu begitu banyak wanita. Di dunia properti, urusan bisnis sering kali bercampur dengan ajakan
Tiga hari berlalu sejak malam makan malam itu, dan Mecca sudah menyiapkan segalanya. Di meja belajar apartemennya, tiga halaman catatan rapi tersusun di samping laptop. Poin-poin argumen ditulis dengan spidol hitam, diberi nomor, diberi highlight kuning di bagian yang paling kuat. Dia bahkan sudah latihan bicara di depan cermin dua kali seperti mau presentasi di depan dosen penguji. "Pertama, perbedaan usia dua belas tahun secara statistik meningkatkan risiko ketidakcocokan nilai dan gaya hidup." Mecca membaca ulang catatannya, mengangguk puas. "Kedua, aku masih semester tiga dan belum memiliki kemandirian finansial. Menikah sekarang berarti menghentikan proses pertumbuhanku sebagai individu." Argumen ketiga yang menurutnya paling mematikan digaris bawahi dua kali: "Pernikahan berbasis perjodohan bisnis berpotensi menjadikan hubungan sebagai transaksi, bukan kemitraan." Sempurna. Logis. Tidak emosional. Papa tidak akan bisa menangkis ini. Ponselnya bergetar. Chat dari Ma
Mecca tak tidur semalam. Bukan karena kasur di kamar lamanya tak nyaman justru sebaliknya. Kasur itu terlalu empuk, terlalu akrab, terlalu berbau masa kecil yang dulu terasa begitu aman. Dan keamanan itulah yang kini membuat pertahanannya runtuh.Dia menangis sampai bantal basah, marah sampai seluruh tubuhnya terasa pegal, lalu akhirnya diam saja, menatap langit-langit kamar yang masih ditempeli stiker bintang bercahaya yang dipasang Papa saat dia berumur delapan tahun.Bintang-bintang itu kini sudah tak menyala lagi.Pukul empat pagi, dia menyelinap keluar rumah tanpa pamit. Memesan taksi online di depan gerbang yang belum terkunci rapat; penjaga yang masih setengah mengantuk hanya mengangguk pelan saat dia lewat. Di dalam mobil, Jakarta yang masih gelap terasa seperti sekutunya kota ini pun tak pernah benar-benar tidur.Ponselnya menyala. Dua puluh tiga pesan dari Naya yang dikirim semalam, belum sempat dibaca semuanya. Tiga panggilan tak terjawab dari Mama. Satu dari Papa.Tak ada
Pria itu masuk tanpa suara. Bukan karena langkahnya ringan justru sebaliknya. Ada sesuatu yang berat dan kokoh dalam cara dia melangkah, seolah gravitasi di ruangan ini ikut bergeser ke arahnya, tanpa perlu minta izin.Tinggi, kulitnya sawo matang, rahangnya tegas, rambut hitam tersisir rapi ke belakang, tak sehelai pun berantakan. Kemeja putih lengannya digulung sampai siku, memperlihatkan arloji perak di pergelangan tangan kirinya sederhana, tapi jelas bukan barang murahan.Hal pertama yang disadari Mecca bukan wajahnya.Melainkan matanya.Gelap. Tenang. Dan dingin jenis dingin yang bukan karena tak peduli, melainkan karena sudah terlalu lama menahan segalanya sendirian."Maaf terlambat," ucapnya. Suaranya rendah, datar, tak ada penyesalan yang tulus. Dia mengangguk ke arah Om Farhan dan Tante Shinta, lalu ke Papa dan Mama Mecca sopan, terukur, persis seperti orang yang sudah menghitung setiap gerakan sebelum melakukannya."Nah, ini dia!" Om Farhan berdiri dengan antusias, sangat ko
Mecca baru mengangkat telepon ibunya menjelang sore, saat langit Jakarta mulai memerah jingga di balik deretan gedung pencakar langit. Bukan karena ia sudah siap, tapi karena panggilan itu sudah sampai tujuh kali, dan bahkan Mecca Ardani punya batas kesabaran untuk mengabaikannya.“Halo, Ma.”“Mecca Ardani.” Suara ibunya tegas bukan marah, melainkan jenis nada yang lebih berat: nada yang sudah memutuskan sesuatu. “Kamu pulang malam ini. Makan malam keluarga.”“Ma, aku ada tugas—”“Bukan permintaan, Mecca. Ini perintah.”Kalimat itu menggantung di udara sebentar. Mecca tahu betul sifat ibunya biasanya kehendaknya selalu dibungkus kelembutan, disampaikan dengan ajakan halus. Tapi sore ini? Tak ada pembungkus. Tak ada tawar-menawar.“Papa juga memintanya,” tambah ibunya, nadanya melembut seketika, seolah sadar nama itu punya bobot tersendiri bagi Mecca.Mecca menelan ludah. Papa. Ayahnya nyaris tak pernah ikut campur urusan begini. Kalau sampai Papa yang meminta…“Jam berapa?” tanyanya a







