LOGINPerusahaan keluarganya bergerak dibidang kosmetik, mereka sudah berdiri sejak 20 tahun. Awalnya hanyalah berdagang dalam jumlah kecil dan dipasarkan dengan berkeliling. Namun, berkat sang kakek yang menikah dengan keluarga kaya, bisnis berkembang dengan pesat.
Produk sudah dengan berani di produksi secara massal, memiliki pabrik sendiri dan kantor pusat yang hanya memiliki 3 lantai. Meski begitu, dalam persaingan yang ketat perusahaan perlu sebuah tindakan dalam menaikkan brand mereka. Divisi marketing dan sales ditekan habis-habisan oleh perusahaan, jika penjualan bulan sebelum ada kenaikan signifikan, mereka menaikkan target untuk bulan berikutnya. Hal inilah, membuat karyawan baru tidak bertahan lama. Sedangkan Gennie harus berusaha mati-matian menahan karyawannya. Setiap bulan diadakan evaluasi, berpendapat bagaimana promosi untuk bulan kedepannya. "Bulan kemarin, kita tidak mencapai target. Jadi, seharusnya kita mengubah cara promosi kita." Ucap Gennie pada para karyawan. Para karyawan yang hadir mencatat setiap hasil penjualan yang ada, mulai memberikan asumsi mereka. Yaya, si anak baru mendengarkan dengan seksama. Ia baru saja memasuki perusahaan dalam 2 bulan terakhir, Yaya masih berada dalam masa percobaan. Dalam 2 bulan terakhir, ia berusaha mengikuti arus perusahaan. "Baik, karena belum ada titik temu, kita akhiri rapatnya." Gennie mengecek jam tangannya, sudah waktunya pulang bekerja. "Jika ada yang lembur jangan lupa mengambil uang kendaraan." Ingatnya. "Baik." Memberi senyuman sopan pada resepsionis ia keluar dari gedung tapi begitu sampai diparkiran ia dibuat dongkol oleh seorang pengemis yang berjongkok di samping mobilnya. 'Dia lagi,' batinnya lelah. Gennie segera berputar balik, lebih baik ia lembur! Di sisi Dorn Wang, begitu melihat Gennie matanya berbinar, "tunggu Gennie." Berhasil menangkap tangannya, ia meraih bahu Gennie memutar menghadapnya. "Gennie..." Dengan wajah memar Dorn Wang berharap Gennie bisa memaafkannya. "Minggir!" Ia menepis tangan kotor di bahunya. Dengan gerakan gesit Gennie menaiki mobilnya, mengisolasi suara yang tidak menyenangkan itu. Ia langsung saja menancap gas, menyerempet Dorn Wang. Suara deru mesin mobil menjadi menutupi suara kesakitan Dorn Wang. Dorn Wang dengan palsu membuat suara menyakitkan, berharap Gennie akan berhenti. Namun, sayangnya Gennie tidak peduli. Karena malas tinggal di apartemennya, Gennie menginap di hotel terdekat perusahaan. Ia baru saja makan malam ketika ponselnya berdering. Begitu mengetahui itu ayahnya, suasana hatinya semakin memburuk. "Gennie, hubunganmu dengan Dorn kenapa? Dia bilang kamu blokir dia." Begitu terhubung Hassan langsung saja menunjukkan tujuannya tanpa menanyakan kabar putrinya dulu. "Kami putus, kenapa? Gak senang?" Ucapnya menantang. "Kenapa?!" Begitu mendengar kata putus Hassan merasakan kemarahan yang meluap pada putrinya ini. "Dia selingkuh, jadi aku memutuskannya." Gennie berkata dengan terus-terang, seakan ingin memancing kemarahan sang ayah. "Hanya itu yang membuatmu memutuskannya?! Bagaimana dengan status pertunangan, lalu kontrak kerjasamanya gimana? Kamu mau menghancurkan perusahaan hah?!" Hanya itu katanya?! Setelah 23 tahun hidup Gennie masih tak habis pikir dengan pola pikir ayahnya. "Kelakuannya tak bisa ditoleransi." "Kamu bisa gak sih tahan aja? Demi keluarga oke?" Hassan mencoba membujuk Gennie. "Tahan? Papa minta aku tahan sama orang yang kaya dia? Oh, Gennie lupa Papa kan juga satu spesies sama dia." Terhadap ayah yang suka dengan kesenangan luar Gennie tak bisa bersikap sopan. "Kamu!" Hassan baru saja akan memaki Gennie kembali, ketika ia mendengar suara 'bip'. Wajahnya langsung berubah menjadi muram. Sang istri yang sudah berada di samping sejak menelepon bertanya dengan cemas, "gimana?" Hassan yang tak tahan melampiaskan amarah pada istrinya, "gimana apanya?! Lihat putri yang sudah kamu besarkan, tak bisa diatur." Dari amarahnya saja Lily mengetahui bahwa bujukan suaminya gagal. Dengan amarah sang suami ia hanya bisa menunduk, menerima. Menatap istri yang sudah kehilangan masa jayanya, Hassan pergi dengan marah. "Tak berguna!" Namun, hanya beberapa langkah ia langsung berbalik, memegang kuat pundak istrinya. "Kamu pasti bisa membujuknya kan? Kamu pasti bisa!" Di bawah tekanan suaminya Lily hanya bisa mengangguk pasrah, "i-iya." Puas, barulah Hassan pergi. Memangnya kenapa jika putrinya bertentangan dengannya, ia masih punya istrinya untuk mengendalikan Gennie. Lalu, adapula adik yang kelihatan tak dipedulikan tapi diam-diam mempedulikannya.Keluar dari kantor sipil, Gennie dengan linglung mengikuti Darrel Wang. Bahkan saat dalam perjalanan pulang pun ia masih kehilangan jiwanya."Silakan, buku nikahmu." Darrel Wang menyerahkan buku itu pada Gennie."Ah, oke, terimakasih." Gennie dengan linglung mengambil.Menatap buku nikah ditangannya ia sungguh tak percaya di umurnya yang baru menginjak 23 tahun ia sudah menikah, dengan orang yang tak terduga pula.Menatap gadis di sampingnya, walaupun wajahnya datar matanya tak bisa menyembunyikan kasih sayang yang meluap."Mulai hari ini, kamu tinggal di kediamanku saja.""Ah? Kenapa?" Tanyanya heran."Kita sudah menikah, jadi wajar tinggal bersama. Jika, tinggal berpisah apa yang akan dipikirkan oleh orang tua itu, dia pasti mengira kita tak akur." Ucapnya dengan sempurna."Betul juga, tapi-""Tenang, kita pisah kamar. Saya tidak akan mengganggu kehidupan pribadimu." "Oke, lalu saya akan kasih tahu keluargaku dulu.""Tidak perlu, saya sudah memberi tahu mereka."Astaga, Darrel Wan
"Dia gay!" Serunya dengan antusias. "Menurutmu, dia sudah berusia 25 tahun tapi tidak pernah terlibat romantis. Dan juga ada beberapa keluarga yang menawarkan putrinya tapi dia menolak! Kalau bukan gay apalagi coba!""Richy kamu terlalu mengada-ada ya? Dia cuman nolak cewek tapi kamu mencapnya begitu?" Hati-hati loh terkena karma lanjutnya dalam hati."Gennie! Kamu tahu gak siapa salah satu cewek itu? Dia Diana, Nona Muda dari keluarga Mandey!" Katanya dengan menggebu-gebu."Ah... jadi gitu ya." Ucap Gennie helaan napas panjang. Sayangnya, wajah se-tampan itu sungguh sayang desahnya dalam hati.Meminum secangkir teh lagi, "kalo ceweknya bukan Diana, akupun gak bakal nyangka gini tapi ini Diana! Si cantik kalangan atas."Bergosip adalah kesenangan Richy, "mau gosip yang lainnya?" "Gak perlu," jawab Gennie canggung."Bener gak mau dengar yang lain?" Bujuknya."Benar-benar gak perlu, terimakasih ya." Buru-buru ia mematikan ponsel, barulah Gennie tenang, aura gosip Richy benar-benar besa
Dalam kurung waktu 3 hari, Gennie mengalami hari-harinya menjadi lebih sulit. Dimulai tekanan keluarga, hasil kerja yang kurang memuaskan, lalu beberapa mitra yang tiba-tiba saja membatalkan kerjasama.Perusahaan tentu mengalami kerugian, apalagi mereka tidak mendapatkan kompensasi dari para mitra tersebut. Mereka dibodohi dengan dalih bahwa kerjasama belum sampai hingga kedua belah pihak tidak menjalin kontrak.Kegagalan yang terus-menerus ini disadari oleh ayahnya, Hassan mengira keluarga Wang mulai membalaskan dendam, dalam kecemasan ia memojokkan putrinya sendiri.Menuduhnya anak tak berbakti, tak tahu balas budi, dan menyebutnya tak berguna. Saat Hassan rasa sudah puas barulah ia berhenti, sebaliknya ia malah mulai menjilati keluarga Wang.Melihat keadaan yang kacau membuat Gennie tidak bisa berpikir jernih, saat waktu yang ditentukan akan datang ia dengan tergesa-gesa menghubungi Darrel Wang melalui sekertaris Jav.Begitu berhasil membuat janji temu, ia termenung. Hal yang di
"Enak, betul kan?" Suara itu berasal dari belakangnya membuat Gennie berpaling.Seorang pria berkemeja satin hitam polos, matanya tajam berbentuk seperti mata rubah, rambut yang bergaya undercut comb over, bibir berwarna pink pucat, ditambah kulit putih yang hampir mengarah kuning Langsat. Untuk tingginya Gennie menebak pria ini pasti disekitaran 190 cm.Penampilan ini membuatnya terpana, sesaat melupakan untuk menyapa. "Tuan Darrel.""Duduklah, tak perlu se- formal itu."Kembali duduk tatapannya tertuju pada Darrel Wang, "Tuan Darrel, kamu membawaku ke sini. Mohon, untuk apa?""Tak perlu terburu-buru, kuenya sesuai selera mu kan?" Darrel Wang bertanya, senyum tipis tersungging dibibirnya, terlihat menggoda."Koki dari keluarga Wang tentu hebat. Ini enak, saya suka terimakasih."Kata-katanya membuat Darrel Wang agak terdiam, tapi senyum tipis itu tak luntur. "Jika kamu suka itu bagus, bagaimanapun kamu tamuku di sini." Lalu melanjutkan, "mau dibawa pulang?""Tak perlu repot-repot, Tua
Dorn Wang mematuhi perintah adiknya, ia tak lagi merecoki Gennie hingga Gennie merasa salah satu masalah hidupnya hilang. Kecuali spam pesan dari ayahnya, untuk saat ini Gennie rasa kehidupannya menjadi lebih tenang. Malam hari selepas pulang kerja ia bertemu dengan seorang teman. Dari obrolan singkat, kedua teman lama itu sepakat untuk berbincang ria di Fun Bar. Meskipun masih satu kontak mereka sudah tak bertemu selama hampir setengah tahun. Mereka tidak memesan ruangan pribadi, melainkan duduk di tempat yang umum, ikut arus dalam kebisingan bar. "Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?" Tanya agak keras Tamma seraya meminum anggurnya. "Lumayan." "Apanya yang lumayan? Jangan-jangan kamu sudah putus dengannya?" Mengingat saat menyelidiki poto, Tamma bertanya dengan satu alis yang ia naikkan. "Kami sudah putus." Jawabannya seraya menyesap jus melon. Terkekeh, selera temannya benar-benar tidak berubah. "Jika hanya untuk minum jus melon, kenapa perlu ke Bar segala? Gak bisa ke coffee
Di akhir pekan Gennie memanfaatkan waktunya dengan bermalas-malasan, ia diam tidak bergerak di tempat tidur.Tidak ada rasa jenuh dari dirinya saat ia melakukan hal ini.Sore harinya, Gennie bergerak mempersiapkan diri untuk makan malam bersama ibunya.Mengenakan pakaian kasual yang nyaman, ia mengendarai mobilnya, Gennie berangkat menuju restoran yang telah disepakati ibunya.Setibanya di sana Gennie langsung disambut oleh seorang pelayan, mengantarkannya pada ruang VIP. Mengamati sekitar, Gennie menahan perasaan aneh, dan benar saja saat pintu ruang VIP terbuka yang terlihat ialah Dorn Wang bukan ibunya.Menahan rasa kesal yang akan memuncak Gennie ingin berbalik tapi segera ditahan oleh Dorn Wang."Gennie... Mamamu gak kasih tahu?" Tanyanya dengan ragu."Mamaku?" Kata Gennie dengan heran, lalu mengecek ponsel yang ternyata ada pesan baru dari ibunya.Mama : [Gennie maaf bukannya mama mau berbohong tapi setiap hubungan pasti ada saja masalah, jadi kamu selesaikan baik-baik dengan Do







