Share

Bab 8

Penulis: Ke Ke
last update Tanggal publikasi: 2025-12-01 12:31:03

Di akhir pekan Gennie memanfaatkan waktunya dengan bermalas-malasan, ia diam tidak bergerak di tempat tidur.

Tidak ada rasa jenuh dari dirinya saat ia melakukan hal ini.

Sore harinya, Gennie bergerak mempersiapkan diri untuk makan malam bersama ibunya.

Mengenakan pakaian kasual yang nyaman, ia mengendarai mobilnya, Gennie berangkat menuju restoran yang telah disepakati ibunya.

Setibanya di sana Gennie langsung disambut oleh seorang pelayan, mengantarkannya pada ruang VIP. Mengamati sekitar, Gennie menahan perasaan aneh, dan benar saja saat pintu ruang VIP terbuka yang terlihat ialah Dorn Wang bukan ibunya.

Menahan rasa kesal yang akan memuncak Gennie ingin berbalik tapi segera ditahan oleh Dorn Wang.

"Gennie... Mamamu gak kasih tahu?" Tanyanya dengan ragu.

"Mamaku?" Kata Gennie dengan heran, lalu mengecek ponsel yang ternyata ada pesan baru dari ibunya.

Mama : [Gennie maaf bukannya mama mau berbohong tapi setiap hubungan pasti ada saja masalah, jadi kamu selesaikan baik-baik dengan Dorn ya.]

Gennie menatap tak percaya pada pesan yang baru dikirim 2 menit lalu. Pantas sejak awal ia sudah merasa aneh, dimulai dari dekorasi restoran, pelanggan yang semuanya berpasangan, lalu musik jazz yang mengalun merdu memberikan kesan romantis. Ternyata restoran ini memang diperuntukkan untuk berkencan.

Menghela napas kasar, Gennie duduk dan tak segan untuk menyantap hidangan di depannya.

Rasa steak Au Poivre entah kenapa terasa hambar dimulut, dan juga alunan musik jazz terdengar menyebalkan ditelinganya.

Menatap dingin ke arah Dorn Wang, Gennie berkata. "Ada yang mau dibicarakan? Menurutku akhir hubungan kita sudah jelas."

Dorn Wang sejak tadi ingin memulai pembicaraan tapi ia bingung, begitu Gennie membuka mulut matanya langsung berbinar.

"Gennie kamu bicara denganku? Ah, maksudku kita tak bisa putus."

Gennie berkata dengan kejam, "apa aku perlu pendapatmu? Jika aku bilang putus ya putus, Dorn selama 3 tahun bersama kamu bahkan tak mengenalku ya."

Bukannya Dorn Wang tidak mengenalnya, ia bahkan tahu betul sifat angkuhnya. "Tapi bukankah aku hanya selingkuh satu kali? Bisakah kamu memaafkanku?"

"Heh, hanya satu kali? Jika seseorang selingkuh itu tak menutup kemungkinan ia akan selingkuh kembali." Cibirnya dengan kasar.

"Tapi-"

"Gak ada tapi," sela Gennie seraya bangkit dari duduknya.

"Kamu tak memikirkan keluarga? Perusahaan ayahmu?" Ucapan Dorn Wang berhasil menghentikan langkah Gennie, ia berkata lagi dengan sinis. "Ayahmu tak mungkin meninggalkan kerjasama yang menjanjikan ini."

Gennie mengepalkan tangannya berusaha untuk tidak memukul pria itu, dengan acuh tak acuh ia berkata, "aku gak peduli!" Lalu pergi tanpa mempedulikan Dorn Wang.

"Kamu!" Tunjuknya dengan marah.

Berusaha mengejar tapi baru saja keluar dari balik pintu Dorn Wang dihalangi oleh seorang pelayan, dengan marah ia berkata, "minggir!"

Namun, pelayan itu tetap diam di tempatnya.

"Tuan Muda, Tuan Muda Tertua mengundang anda ke ruangannya."

"Apa katamu?!"

•••

Di depan ruang VVIP lantai atas, seorang pria mengetuk pintu memberitahu orang di dalam. "Tuan, Tuan Muda Kedua ada di sini."

"Masuklah," suara berat dan magnetis terdengar dari dalam berasal dari 'Tuan' yang dimaksud.

"Kak," begitu masuk Dorn Wang disuguhi pemandangan punggung tegap kakaknya.

"Jauhi dia," katanya tanpa berbalik badan.

"Dia siapa yang dimaksud kak?" Tanya Dorn Wang dengan heran.

"Gennie."

"Apa? Kenapa?!" Begitu mendengar namanya Dorn Wang tanpa sadar meninggikan suara, setelahnya ia diam-diam merasa bersalah.

"Aku hanya tidak suka kau dekat dengannya," ucapnya seraya membalikkan badan.

"Ah? Kak kamu gak suka Gennie? Tapi kenapa saat kami bertunangan tidak menentang?"

Darrel Wang akhirnya menatap pada adiknya yang bodoh, ia dengan kesal berkata. "Jika aku bilang tak usah dekati, jangan dekati."

"Ah, baik." Di depan kakak superiornya, Dorn Wang hanya bisa mengangguk patuh.

"Pergilah," dengan kasar ia mengusir adiknya.

Begitu keluar dari ruangan menyesakkan, pikirannya masih terpaku pada topik barusan, kakaknya memanggil ia hanya untuk itu? Tanyanya dalam hati.

•••

Melihat si benalu sudah pergi, Darrel Wang kembali berdiri di tempat semula. Di balik kaca itu sekitar 30 menit yang lalu pujaan hatinya berdiri di sana, dan sampai saat ini pikirannya masih terpaku pada tempat Gennie berdiam diri.

"Ck, si bodoh itu, aku sudah mendambakannya selama sepuluh tahun, tapi malah dia duluan yang dapat. Sialan!" Namun, mengingat keadaan sekarang, suasana hatinya kembali tenang.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 50

    "Aku sudah menjelaskan semuanya, seharusnya kamu mengerti." Darrel Wang mencondongkan tubuhnya ke depan, tangannya memainkan gelas anggur dengan santai, "jadi... aku ingin mengejar mu."Ia menatapnya lekat, "aku menyukaimu, aku ingin memulai hubungan yang jelas, bukan hanya sekedar pasangan kontrak."Gennie diam, benar-benar tak tahu harus menjawab apa.Jadi sebenarnya perasaan sukanya bukan sebelah pihak saja? Seharusnya itu hal bagus, tapi Gennie malah takut dan bingung.Ia tak percaya akan disukai oleh pria seperti Darrel Wang, pria itu jelas terlihat memiliki semuanya. Dan apa yang disukai dia darinya?Gennie benar-benar tak paham."Karena kamu sudah tahu aku menyukaimu, kalau gitu aku gak perlu basa-basi lagi." Ia memotong steak nya dan menukar dengan gadisnya, menopang dagunya dan menatap minat, "ini bisa dibilang kencan pertama kita, aku mau kita mulai dari awal. Jadi... kamu tanya saja.""Tanya apa?" Tanya Gennie refleks."Misalnya... minat dan hobi?" Ucapnya riang."Hah?"

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 49

    "Jav yang kasih tahu," ia melempar masalah pada sekretarisnya.Jav? Dia memang bisa melakukan itu, tapi... tanpa perintah Tuannya ia pasti tidak akan melakukannya kan?Gennie menyipitkan matanya, semakin curiga.Tepat pada saat waktu itu, pelayan menyajikan makanan.Darrel Wang langsung memutus pembicaraan, ia menyesap anggurnya, "anggur ini tidak buruk."Ia mengangkat gelasnya, "kamu coba."Gennie menatap gelas anggur itu, ia tidak langsung menerimanya.Memalingkan mukanya dengan perasaan bersalah, "maaf, aku tidak bisa minum."Darrel Wang mengangkat alisnya, "oh? Tapi seingat saya kamu pernah minum sampai mabuk sama rekan kerja sebelumnya."Sial, ketahuan. Gennie semakin merasa bersalah, ia berusaha berdalih, "ini... berbeda.""Apa bedanya? Kamu minum sama teman lain tapi... aku gimana? Aku kan suamimu." Keluh Darrel Wang.Gennie langsung tersedak."Su-suami?" ulangnya refleks, wajahnya memerah seketika.Ia menatap Darrel Wang dengan mata membesar, jelas tidak siap dengan cara pria

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 48

    Begitu masuk, suasana langsung berubah. Hangat dan tenang, terlihat berbeda dari dunia luar yang baru saja mereka tinggalkan.Lampu gantung berwarna kuning lembut menerangi ruangan, memantulkan bayangan samar di lantai marmer. Musik pelan mengalun, cukup untuk terdengar, tapi tidak mengganggu percakapan.Gennie melangkah pelan di samping Darrel Wang.Tangannya masih digenggam, jemarinya sedikit menegang tapi tetap tidak ia lepas.Pelayan menyambut mereka dengan senyum profesional, lalu mengantar ke meja dekat jendela.Pemandangan kota malam terlihat jelas dari sana. Lampu-lampu berkelap-kelip seperti bintang yang jatuh ke bumi.Sangat cantik, Gennie sempat terpaku sedikit sebelum ia menatap tangan mereka yang terjalin, ia menatap lama hingga akhirnya mendongak dan mendapati Darrel Wang sedang menatapnya.Gennie langsung mengalihkan pandangannya.Gerakannya cepat dan terburu-buru seolah tertangkap melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.Pipinya perlahan memanas, ia menarik napas kecil

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 47

    Sore itu, tepat pada jam pulang kerja.Ketika para karyawan sudah mulai berkemas, Gennie masih duduk diam di mejanya.Suara kursi bergeser, tas ditutup, obrolan ringan mulai terdengar. Suasana kantor perlahan berubah dari formal menjadi santai.Gennie tahu jika ia berdiri sekarang sama saja dengan kabur, ia akan tak tahan untuk lari.Karena tak ingin terlihat sedang menunggu, ia menyibukkan dirinya dengan laptopnya.Namun sepuluh menit berlalu dan pria itu belum muncul, Gennie sudah jelas-jelas menajamkan telinganya tapi langkah kaki itu tetap tak terdengar.Gennie mulai berpikir, apakah pria itu lupa? Namun... bukankah itu hal bagus, dengan begitu ia bisa menghindar.Ia sempat terpikir untuk kabur, melirik jam, Gennie diam-diam meraih tasnya.Baru saja akan berdiri, suara pria di belakang mengejutkannya."Belum pulang?"Gennie terlonjak kecil, ia menoleh cepat dan mendapati Darrel Wang sudah berdiri di sana.Namun, sejak kapan? Ia bahkan tidak mendengar langkahnya!Kemejanya sedikit

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 46

    Gennie berdiri kaku di depan mejanya.Tangannya gemetar saat memegang ponsel, matanya membesar menatap angka yang tertera di layar.Nominal itu... terlalu tak masuk akal. Bahkan gajinya saat menjabat manajer pemasaran pun tak sampai, ini lima kali lipat dari gaji sebelumnya!"Ini... gak salah transfer kan?" Gumamnya pelan, hampir tak percaya.Ia mengusap matanya sekali, dua kali, lalu melihat lagi. Angkanya masih sama, tidak berubah sama sekali.Sangat besar untuk seseorang yang baru bekerja satu bulan seperti dirinya.Jantungnya yang tadi sudah tidak karuan kini semakin kacau.Kalimat dari Darrel Wang tadi langsung terngiang, "gajinya sudah ditransfer."Gennie menelan ludah, ia berbisik, "ini bukan gaji..."Lebih seperti... uang tutup mulut?Atau uang untuk… sesuatu yang lain?Pipinya kembali memanas mengingat apa yang baru saja terjadi di ruangan itu. Pengakuannya, tatapan matanya, dan cara pria itu berlutut.Gennie langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Apa-apaan ini?"Ia

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 45

    Gennie menyandarkan tubuhnya ke pintu, jantungnya berdetak kencang, napasnya terasa tidak teratur.Apa yang dilihatnya tadi benar-benar mengejutkan, Darrel Wang dan Jav sedang berpelukan, jadi... orang yang disukainya ternyata sekretarisnya sendiri?!"Beneran gay ya..." Gumamnya pelan, suaranya hampir tak terdengar. Ia tertawa kecil, tapi terdengar pahit.Ia bahkan belum sempat melangkah maju, belum sempat mencoba apa pun, tapi sudah kalah telak.Perasaannya terasa konyol, benar-benar konyol.Perlahan, pandangannya turun. Ia menatap dadanya sendiri, diam cukup lama.Pikiran aneh mulai muncul tanpa bisa ia tahan, "yang disukainya itu... yang kayak dia?"Datar dan tidak lembut seperti dirinya.Gennie mengerucutkan bibir, lalu menyentuh ringan dadanya sendiri, "padahal yang kaya gini lebih oke."Kemudian ia tiba-tiba mematung, pipinya sedikit memanas. Kenapa pula ia jadi memikirkan seperti itu?!Ia menggelengkan kepalanya kuat, berusaha mengusir pikiran tak jelas. Gennie menatap kosong

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status