Share

Bab 10

Author: Ke Ke
last update publish date: 2025-12-01 19:50:07

"Enak, betul kan?" Suara itu berasal dari belakangnya membuat Gennie berpaling.

Seorang pria berkemeja satin hitam polos, matanya tajam berbentuk seperti mata rubah, rambut yang bergaya undercut comb over, bibir berwarna pink pucat, ditambah kulit putih yang hampir mengarah kuning Langsat. Untuk tingginya Gennie menebak pria ini pasti disekitaran 190 cm.

Penampilan ini membuatnya terpana, sesaat melupakan untuk menyapa. "Tuan Darrel."

"Duduklah, tak perlu se- formal itu."

Kembali duduk tatapannya tertuju pada Darrel Wang, "Tuan Darrel, kamu membawaku ke sini. Mohon, untuk apa?"

"Tak perlu terburu-buru, kuenya sesuai selera mu kan?" Darrel Wang bertanya, senyum tipis tersungging dibibirnya, terlihat menggoda.

"Koki dari keluarga Wang tentu hebat. Ini enak, saya suka terimakasih."

Kata-katanya membuat Darrel Wang agak terdiam, tapi senyum tipis itu tak luntur. "Jika kamu suka itu bagus, bagaimanapun kamu tamuku di sini." Lalu melanjutkan, "mau dibawa pulang?"

"Tak perlu repot-repot, Tuan Darrel terimakasih." Menolak dengan sopan, tapi kini Gennie sangat ingin pulang. "Tuan Darrel, ada apa?"

Mendengar Gennie tak ingin berbasa-basi dengannya, Darrel Wang berkata dengan sinis. "Kudengar kamu baru putus dengan adikku, melepaskan keluarga Wang semudah itu bukanlah seperti memandang rendah kami?"

"Salah paham, Tuan salah memahaminya. Saya bukan bermaksud begitu, hanya saja jika saya bukan satu-satunya, saya tidak mau. Dan juga banyak keluarga yang tingkatannya lebih dari saya, Tuan Muda Kedua bisa memilih Nona-nona cantik dan muda di sana."

Tertawa sarkas, "kamu menyuruhku?" Matanya berkilat berbahaya.

"Bukan seperti itu juga, tapi memang ada banyak Nona Muda yang di atasku. Tuan Muda Kedua bisa sesuka hati memilih, yang penurut, lembut dan tidak sepertiku."

"Kamu terlalu merendahkan diri," dengan tangan terkepal menopang kepala dengan malas, Darrel Wang memejamkan mata menghela napas.

"Begini saja, Saya punya penawaran menarik, mau dengar dulu?" Tatapan matanya menatap dengan penuh minat pada Gennie.

"Apa itu?" Jawab Gennie tanpa sadar.

Darrel Wang berkata dengan muka datar, "Keluarga Wang dan keluargamu pada dasarnya akan tetap menikah, tapi salah satu pihak selingkuh, mau menunda atau bersembunyi tidak ada gunanya, tapi mengganti pengantin pria tidak bermasalah."

Perkataannya membuat pihak lain terdiam, tapi ia tidak tersinggung. "Kamu bisa memikirkannya secara perlahan." Lalu melanjutkan lagi dengan nada mengancam, "tapi kamu pikirkan baik-baik, ini keluarga Wang yang tak bisa kamu singgung."

Gennie memang sedang memikirkannya, takut jika ia salah langkah akan berakibat fatal bagi karir dan keluarga.

Keluarganya jelas termasuk orang kaya di Ibukota tapi jika dibandingkan dengan keluarga Wang yang tersohor itu, mereka bagaikan kaisar dan rakyatnya. Mereka memang kaya tapi tidak memiliki pengaruh yang begitu kuat seperti keluarga Wang.

"Sudahlah, saya beri kamu waktu 3 hari untuk berpikir. Jav antarkan Nona Gennie kembali."

"Nona, silakan." Sekretaris Jav membuat gestur mempersilakan.

•••

Menatap bagian belakang mobil yang melaju, lalu pada bingkisan ditangan. Gennie rasa pria itu cukup sopan dengan memberikan kue dan mengantarnya kembali dengan selamat ke perusahaan.

Berbeda dari rumor yang beredar dikalangan atas, yang mengatakan bahwa Darrel Wang itu angkuh, tak punya sopan santun pada orang tua dan kasar.

Rumor tetaplah rumor, dengan penampilan seperti itu dia bisa saja dengan mudah menjadi seorang selebriti tingkat atas, monolog Gennie dalam hati.

Mendecakkan lidahnya, Gennie memikirkan rasa kue yang tidak terlupakan. Ia dengan tak sabar memasuki perusahaan untuk memakan kuenya di sana.

Gennie yang naif mengira pria itu adalah pria baik karena sudah menyenangkan perutnya.

•••

"Kau sudah mengantarnya?" Begitu kembali sekretaris Jav melihat Tuannya tetap di posisi yang sama, hanya saja ia sudah berganti pakaian menjadi piyama satin hitam dengan bordiran mawar merah disakunya.

"Iya sudah, Tuan."

"Bagaimana dengan kuenya?"

"Nona Gennie menerimanya."

Darrel memainkan mawar ditangannya, "menurutmu saya terlihat seperti tak bisa memanggang kue?"

"Bukan begitu, hanya saja penampilan Tuan seperti hal yang tak mungkin untuk melakukan itu." Meskipun wajah sekretaris Jav terlihat tenang, tapi diam-diam setetes keringat turun dari dahi.

Alisnya terangkat satu, "bukankah Saya sudah cukup lembut?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 50

    "Aku sudah menjelaskan semuanya, seharusnya kamu mengerti." Darrel Wang mencondongkan tubuhnya ke depan, tangannya memainkan gelas anggur dengan santai, "jadi... aku ingin mengejar mu."Ia menatapnya lekat, "aku menyukaimu, aku ingin memulai hubungan yang jelas, bukan hanya sekedar pasangan kontrak."Gennie diam, benar-benar tak tahu harus menjawab apa.Jadi sebenarnya perasaan sukanya bukan sebelah pihak saja? Seharusnya itu hal bagus, tapi Gennie malah takut dan bingung.Ia tak percaya akan disukai oleh pria seperti Darrel Wang, pria itu jelas terlihat memiliki semuanya. Dan apa yang disukai dia darinya?Gennie benar-benar tak paham."Karena kamu sudah tahu aku menyukaimu, kalau gitu aku gak perlu basa-basi lagi." Ia memotong steak nya dan menukar dengan gadisnya, menopang dagunya dan menatap minat, "ini bisa dibilang kencan pertama kita, aku mau kita mulai dari awal. Jadi... kamu tanya saja.""Tanya apa?" Tanya Gennie refleks."Misalnya... minat dan hobi?" Ucapnya riang."Hah?"

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 49

    "Jav yang kasih tahu," ia melempar masalah pada sekretarisnya.Jav? Dia memang bisa melakukan itu, tapi... tanpa perintah Tuannya ia pasti tidak akan melakukannya kan?Gennie menyipitkan matanya, semakin curiga.Tepat pada saat waktu itu, pelayan menyajikan makanan.Darrel Wang langsung memutus pembicaraan, ia menyesap anggurnya, "anggur ini tidak buruk."Ia mengangkat gelasnya, "kamu coba."Gennie menatap gelas anggur itu, ia tidak langsung menerimanya.Memalingkan mukanya dengan perasaan bersalah, "maaf, aku tidak bisa minum."Darrel Wang mengangkat alisnya, "oh? Tapi seingat saya kamu pernah minum sampai mabuk sama rekan kerja sebelumnya."Sial, ketahuan. Gennie semakin merasa bersalah, ia berusaha berdalih, "ini... berbeda.""Apa bedanya? Kamu minum sama teman lain tapi... aku gimana? Aku kan suamimu." Keluh Darrel Wang.Gennie langsung tersedak."Su-suami?" ulangnya refleks, wajahnya memerah seketika.Ia menatap Darrel Wang dengan mata membesar, jelas tidak siap dengan cara pria

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 48

    Begitu masuk, suasana langsung berubah. Hangat dan tenang, terlihat berbeda dari dunia luar yang baru saja mereka tinggalkan.Lampu gantung berwarna kuning lembut menerangi ruangan, memantulkan bayangan samar di lantai marmer. Musik pelan mengalun, cukup untuk terdengar, tapi tidak mengganggu percakapan.Gennie melangkah pelan di samping Darrel Wang.Tangannya masih digenggam, jemarinya sedikit menegang tapi tetap tidak ia lepas.Pelayan menyambut mereka dengan senyum profesional, lalu mengantar ke meja dekat jendela.Pemandangan kota malam terlihat jelas dari sana. Lampu-lampu berkelap-kelip seperti bintang yang jatuh ke bumi.Sangat cantik, Gennie sempat terpaku sedikit sebelum ia menatap tangan mereka yang terjalin, ia menatap lama hingga akhirnya mendongak dan mendapati Darrel Wang sedang menatapnya.Gennie langsung mengalihkan pandangannya.Gerakannya cepat dan terburu-buru seolah tertangkap melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.Pipinya perlahan memanas, ia menarik napas kecil

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 47

    Sore itu, tepat pada jam pulang kerja.Ketika para karyawan sudah mulai berkemas, Gennie masih duduk diam di mejanya.Suara kursi bergeser, tas ditutup, obrolan ringan mulai terdengar. Suasana kantor perlahan berubah dari formal menjadi santai.Gennie tahu jika ia berdiri sekarang sama saja dengan kabur, ia akan tak tahan untuk lari.Karena tak ingin terlihat sedang menunggu, ia menyibukkan dirinya dengan laptopnya.Namun sepuluh menit berlalu dan pria itu belum muncul, Gennie sudah jelas-jelas menajamkan telinganya tapi langkah kaki itu tetap tak terdengar.Gennie mulai berpikir, apakah pria itu lupa? Namun... bukankah itu hal bagus, dengan begitu ia bisa menghindar.Ia sempat terpikir untuk kabur, melirik jam, Gennie diam-diam meraih tasnya.Baru saja akan berdiri, suara pria di belakang mengejutkannya."Belum pulang?"Gennie terlonjak kecil, ia menoleh cepat dan mendapati Darrel Wang sudah berdiri di sana.Namun, sejak kapan? Ia bahkan tidak mendengar langkahnya!Kemejanya sedikit

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 46

    Gennie berdiri kaku di depan mejanya.Tangannya gemetar saat memegang ponsel, matanya membesar menatap angka yang tertera di layar.Nominal itu... terlalu tak masuk akal. Bahkan gajinya saat menjabat manajer pemasaran pun tak sampai, ini lima kali lipat dari gaji sebelumnya!"Ini... gak salah transfer kan?" Gumamnya pelan, hampir tak percaya.Ia mengusap matanya sekali, dua kali, lalu melihat lagi. Angkanya masih sama, tidak berubah sama sekali.Sangat besar untuk seseorang yang baru bekerja satu bulan seperti dirinya.Jantungnya yang tadi sudah tidak karuan kini semakin kacau.Kalimat dari Darrel Wang tadi langsung terngiang, "gajinya sudah ditransfer."Gennie menelan ludah, ia berbisik, "ini bukan gaji..."Lebih seperti... uang tutup mulut?Atau uang untuk… sesuatu yang lain?Pipinya kembali memanas mengingat apa yang baru saja terjadi di ruangan itu. Pengakuannya, tatapan matanya, dan cara pria itu berlutut.Gennie langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Apa-apaan ini?"Ia

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 45

    Gennie menyandarkan tubuhnya ke pintu, jantungnya berdetak kencang, napasnya terasa tidak teratur.Apa yang dilihatnya tadi benar-benar mengejutkan, Darrel Wang dan Jav sedang berpelukan, jadi... orang yang disukainya ternyata sekretarisnya sendiri?!"Beneran gay ya..." Gumamnya pelan, suaranya hampir tak terdengar. Ia tertawa kecil, tapi terdengar pahit.Ia bahkan belum sempat melangkah maju, belum sempat mencoba apa pun, tapi sudah kalah telak.Perasaannya terasa konyol, benar-benar konyol.Perlahan, pandangannya turun. Ia menatap dadanya sendiri, diam cukup lama.Pikiran aneh mulai muncul tanpa bisa ia tahan, "yang disukainya itu... yang kayak dia?"Datar dan tidak lembut seperti dirinya.Gennie mengerucutkan bibir, lalu menyentuh ringan dadanya sendiri, "padahal yang kaya gini lebih oke."Kemudian ia tiba-tiba mematung, pipinya sedikit memanas. Kenapa pula ia jadi memikirkan seperti itu?!Ia menggelengkan kepalanya kuat, berusaha mengusir pikiran tak jelas. Gennie menatap kosong

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status