Share

BAB. 190

Penulis: Wisha Berliani
last update Tanggal publikasi: 2026-05-24 20:25:02

Celine menahan napas. Lidahnya mendadak kelu, terjepit di antara pilihan untuk tetap menjaga rahasia pernikahan mereka sesuai kesepakatan, atau menyelamatkan Darrel dari amukan monster cemburu di hadapannya saat ini.

Di sisi lain, Celine juga sangat takut jika Aldean yang sedang kehilangan akal sehat ini akan membuat keributan di depan Shaka yang masih kecil.

Alih-alih menjawab tuntutan Aldean, Celine justru melakukan hal yang sama sekali tidak diduga oleh kedua pria itu. Dengan mantap, tangan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 191

    Bip.Suara smart lock berbunyi pendek, disusul pintu unit apartemen yang terbuka lebar. Begitu melangkah masuk, Celine langsung melepaskan cengkeraman Aldean dari pergelangan tangannya dengan sentakan kasar.​Debuman pintu yang ditutup rapat oleh Aldean di belakangnya seolah memutus seluruh sisa kebisingan dari luar. Seketika, keheningan yang mencekam langsung menyergap ruang tengah apartemen yang luas, tapi terasa begitu sempit karena atmosfer tegang sekaligus intim di antara mereka.Celine membalikkan tubuhnya, berjalan beberapa langkah lalu melempar tas kecilnya ke atas sofa dengan kasar.Dada perempuan bertubuh mungil itu naik turun menahan pasokan oksigen yang mendadak terasa menipis. Amarah, kekecewaan, dan rasa sesak yang ia telan bulat-bulat sejak pertengkaran mereka tadi sore di kantor—soal Aldean yang memintanya mengalah demi menjaga perasaan Kayra—kini kembali mendidih ke permukaan.​“Maksud Om Dean tadi di taman apa, sih?!” sembur Celine seketika, membalikkan badan menghad

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 190

    Celine menahan napas. Lidahnya mendadak kelu, terjepit di antara pilihan untuk tetap menjaga rahasia pernikahan mereka sesuai kesepakatan, atau menyelamatkan Darrel dari amukan monster cemburu di hadapannya saat ini.Di sisi lain, Celine juga sangat takut jika Aldean yang sedang kehilangan akal sehat ini akan membuat keributan di depan Shaka yang masih kecil.Alih-alih menjawab tuntutan Aldean, Celine justru melakukan hal yang sama sekali tidak diduga oleh kedua pria itu. Dengan mantap, tangan kecilnya bergerak maju, menyusup di antara jemari kekar Aldean, lalu mencengkeram pergelangan tangan suaminya dengan teramat erat.“Om, ayo pulang,” kata Celine cepat, suaranya sedikit bergetar namun penuh penekanan.Aldean tersentak. Alis tebalnya menukik tajam. Ia menunduk, menatap tangannya yang digenggam erat oleh Celine, lalu kembali menatap istrinya itu dengan sorot mata tidak terima.“Apa? Pulang? Begitu saja?” geram Aldean dalam hati, egonya berontak hebat.Sialan.Dia sudah menyetir sep

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 189

    Mendengar pertanyaan itu, Aldean mendengus sinis. Langkah kakinya yang besar langsung memotong jarak, bergerak maju hingga tubuh tegapnya berdiri angkuh tepat di hadapan Celine, mengurung perempuan itu dalam bayang-bayang tubuh besarnya.​“Ngapain aku di sini?” Aldean mengulang pertanyaan Celine dengan nada rendah, tak habis pikir.​Mata elang Aldean menatap Celine dengan kilat cemburu yang begitu pekat, namun terselip binar terluka dan merajuk yang hanya ia tunjukkan pada istrinya.Jiwa dominannya bergejolak hebat, tidak terima karena alih-alih merasa bersalah karena sudah pergi tanpa kabar, Celine malah menyambutnya dengan wajah seolah ia adalah pengganggu.​“Kamu mematikan ponselmu, mengabaikan panggilanku, dan membiarkan aku hampir gila seperti orang tolol di rumah karena mencemaskanmu, Celine,” bisik Aldean, suaranya beralih menjadi sangat dalam dan dingin, namun terdengar begitu posesif dan penuh tuntutan.“Dan sekarang kamu bertanya ngapain aku di sini? Di saat kamu malah asyik

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 188

    Pedal gas diinjak sedalam-dalamnya. Mobil sport hitam milik Aldean membelah jalanan malam kota yang mulai lengang dengan kecepatan di atas rata-rata. Cengkeraman tangannya pada kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah dan cemburu yang membakar dada membuatnya mengabaikan segala rambu lalu lintas.Di tengah keheningan kabin mobil yang menegang, sebuah dering ponsel memecah konsentrasi Aldean. Sumber suara itu berasal dari dalam dasbor mobil, terhubung langsung dengan sistem audio kendaraan. Layar di dashboard berkedip, menampilkan nama Evan.Aldean menyambar tombol di setir untuk mengangkatnya, langsung mengaktifkan mode speaker.“Katakan, Evan!” seru Aldean tanpa basa-basi, suaranya menggelegar dingin.“Tuan, saya sudah berada di Taman Ria Semesta sekarang,” lapor Evan cepat di seberang telepon, suara riuh latar belakang taman hiburan samar-samar terdengar.“Orang lapangan kita terus mengawasi Nona Celine dari jarak aman agar tidak dicurigai. Sampai detik ini, Nona

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 187

    Di seberang telepon, suara Evan terdengar agak ragu dan berat, tidak seperti biasanya.“Tuan... saya sudah mendapatkan koordinat posisi Nyonya Celine. Tim IT berhasil melacak taksi yang ditumpanginya. Nona Celine saat ini berada di pinggiran kota, tepatnya di kawasan Taman Ria Semesta.”“Taman hiburan?” Aldean mengernyitkan alisnya, mendadak merasa bingung. Untuk apa Celine pergi ke tempat seramai itu di tengah malam dalam keadaan hancur? “Kirimkan lokasinya sekarang, aku akan berangkat—”“Tunggu, Tuan. Maaf,” potong Evan cepat, nadanya terdengar semakin tidak enak hati. “Saya... saya baru saja menerima laporan visual dari orang lapangan yang saya utus untuk memastikan keadaan Nona Celine di lokasi.”Jantung Aldean mendadak berdegup kencang, firasat buruk kembali menyergapnya. “Maksudmu apa, Evan? Celine baik-baik saja, kan? Dia tidak terluka?”“Nona Celine aman dan sehat, Tuan. Hanya saja... Nona tidak sendirian. Saya sudah mengirimkan beberapa foto yang baru saja diambil oleh orang

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 186

    Celine tertegun seribu bahasa. Kehangatan di dadanya terasa semakin pekat di tengah dinginnya malam. Di saat dunianya sedang runtuh akibat kenyataan pahit tentang hubungannya dengan Aldean, di atas gondola ini, Darrel justru menatapnya seolah-olah ia adalah hal paling berharga di dunia. Namun, tepat saat debaran aneh itu kian menggila, sebuah sengatan kesadaran mendadak menghantam kepala Celine. Bayangan cincin pernikahan di jarinya dan wajah Aldean terlintas begitu saja. “Enggak, Cel... kamu nggak boleh begini,” batin Celine memperingatkan dirinya sendiri dengan tegas. Rasa hangat yang ditawarkan Darrel malam ini memang sangat menenangkan, tapi Celine tahu ini salah. Seberapapun hancurnya dia karena keegoisan Aldean, seberapapun kecewanya dia pada suaminya, statusnya belum berubah. Dia masih istri sah Aldean Devantara. Dia tidak boleh membiarkan pria lain—bahkan Darrel yang sangat baik sekalipun—melintasi batas yang seharusnya. Celine menarik napas panjang. Secara perlahan dan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status