共有

BAB. 203

last update 公開日: 2026-05-31 23:59:14

Tuduhan keji itu menjadi pemantik terakhir yang menghancurkan seluruh sisa kontrol diri Aldean. Rahang pria itu mengeras sempurna hingga urat-urat di lehernya menonjol tegang. Sorot matanya mendadak berubah menjadi begitu dingin, tajam, dan sarat akan kekecewaan yang teramat dalam pada putri kandungnya sendiri.

Aldean tersenyum sinis, sebuah senyuman terluka yang teramat menyakitkan.

“Memanipulasi kasus, kamu bilang?” tanya Aldean dengan nada suara yang mendadak merendah, namun justru terdengar
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 230

    Di sisi kiri brankar, sepasang mata elang Aldean menangkap dengan sangat jelas gurat kedilemaan yang sedang menyiksa putrinya.Sebagai pria dewasa yang cerdas dan penuh perhitungan, Aldean tahu ego Kayra tidak akan pernah benar-benar runtuh selama ada dirinya yang bertindak sebagai penengah di sini. Mereka harus dibiarkan berdua. Ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh dia sia-siakan.Maka, dengan gerakan yang teramat natural, Aldean meraba saku celananya. Ia mengeluarkan ponselnya yang sebenarnya layarnya gelap total, lalu menempelkannya ke telinga seolah-olah benda itu baru saja bergetar.“Ah... iya, halo? Selamat sore,” ucap Aldean, aktingnya begitu sempurna hingga Celine sempat terkecoh.Pria itu menoleh ke arah Celine dengan raut wajah yang dibuat seolah sedang mendesak. “Sayang, aku ada telepon penting dari klien luar negeri. Aku harus angkat di luar sebentar karena sinyal di sini kurang bagus. Kamu... bisa tolong bantu Kayra menyeka tubuhnya dulu, hmm?”Deg.Celine dan Kayr

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 229

    Hening hangat menyelimuti kamar rawat selama beberapa saat. Tidak ada yang berbicara, namun entah kenapa keheningan kali ini terasa jauh berbeda dibanding hari-hari sebelumnya. Tidak lagi menyesakkan, tidak lagi dipenuhi amarah, justru terasa damai.Celine kembali menyendok bubur dan menyuapkannya kepada Kayra. Kali ini gadis itu tidak banyak protes, meski sesekali masih mendecak atau menggerutu pelan.Setelah beberapa suapan berikutnya, mangkuk bubur itu akhirnya hampir kosong.“Habiskan ya, Kay... tinggal tiga suap lagi,” ujar Celine.Kayra langsung mengerang. “Masih banyak.”“Tiga suap doang.”“Dua.”“Tiga.”“Dua setengah.”Celine menatap Kayra datar, sementara Kayra membalas tatapan itu tak kalah datar.Melihat itu, Aldean menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menahan tawa. Pria matang itu lalu duduk di kursi yang ada di sisi lain brankar, menatap bergantian putri dan istrinya dengan senyum penuh arti. “Aku baru sadar sesuatu,” seloroh Aldean tenang, memancing perhatian kedua p

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 228

    Kayra mengunyah suapan bubur yang diberikan Celine dengan perlahan. Sesekali Kayra menunduk dalam, pura-pura sibuk merapikan ujung selimutnya yang sebetulnya sudah rapi, hanya demi menghindari tatapan Celine yang duduk tepat di samping ranjang.Suasana di dalam kamar rawat masih dipenuhi kecanggungan yang samar. Tidak ada lagi pertengkaran, tidak ada lagi tatapan tajam, tetapi juga belum ada kehangatan yang dulu pernah begitu akrab di antara mereka.Celine kembali menyendok bubur dari bagian pinggir mangkuk.“Pelan-pelan ya, Kay... masih panas,” ujarnya lembut.Kayra hanya mengangguk kecil. Dasarnya Kayra memang gadis remaja yang egonya setinggi langit, ia terus memalingkan wajahnya dari Celine—entah itu menunduk atau menoleh ke arah jendela.Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Aldean yang sejak tadi bersandar di dekat pintu sengaja tidak ikut campur. Ia membiarkan keduanya menemukan jalan mereka sendiri.Celine kembali menyodorkan sesendok bubur. Namun kali ini, begitu bubur ma

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 227

    Begitu sampai di depan pintu kayu kamar rawat Kayra, Aldean menghentikan langkahnya sejenak. Ia menoleh pada Celine, memberikan remasan lembut pada jemari istrinya seolah menyalurkan kode rahasia berupa penguat. ​“Siap, Sayang?” bisik Aldean dengan suara baritonnya yang meneduhkan. ​Celine menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, lalu mendongak menatap sang suami dengan binar mata yang mantap. “Siap, Mas.” ​Aldean tersenyum tipis, lalu tangan kirinya bergerak memutar knop pintu secara perlahan, mendorongnya pelan agar tidak menimbulkan suara bising yang bisa mengejutkan Kayra di dalam. Pintu geser itu terbuka tanpa suara. Begitu menapakkan kaki di dalam ruangan bernuansa putih itu, Aldean dan Celine langsung menyadari bahwa sepasang netra yang tadinya terpejam, kini telah terbuka seutuhnya. Kayra ternyata sudah terbangun dari tidurnya. ​Mendengar desau halus pintu yang terbuka, Kayra menolehkan kepalanya perlahan di atas bantal. Detik itu juga, matanya langsung me

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 226

    Aldean memutar posisi duduknya menghadap pada Celine, lalu mengecup punggung tangan sang istri dengan begitu dalam dan lama. Sentuhan bibirnya terasa hangat, seolah sedang menyalurkan seluruh sisa kekuatan yang ia miliki setelah badai emosi di dalam kamar rawat tadi.​“Kayra baik-baik saja, Sayang,” ucap Aldean, suara baritonnya kembali rendah, stabil, dan dipenuhi wibawa seorang suami yang menenangkan. Pria itu menjeda kalimatnya sejenak, menatap lekat-lekat sepasang netra bening Celine yang masih memancarkan sisa kecemasan.“Dia memintamu keluar tadi... bukan karena dia membencimu. Sama sekali bukan. Justru karena dia merasa sangat malu dan bingung di depanmu.”Celine tertegun, sepasang matanya mengerjap tidak mengerti. “Malu...? Bingung? Kenapa, Mas?”​“Kamu tahu kan, Sayang... kalau kemarin aku sudah mengatakan semua kebenaran itu pada Kayra. Termasuk tentang apa yang dilakukan mamanya pada mamamu,” jawab Aldean pelan-pelan, masih menatap lekat-lekat mata Celine. “Dan apa yang aku

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 225

    Celine mengerutkan keningnya dalam-dalam. Alih-alih merasa bersalah, ia justru menatap suaminya dengan pandangan yang benar-benar heran. Jarak wajah mereka yang begitu dekat, membuat Celine bisa melihat dengan jelas bagaimana sepasang mata elang suaminya yang biasa memancarkan ketegasan mutlak, kini justru tampak sayu dan dipenuhi sisa-sisa kepanikan. Aldean tidak langsung menjawab. Pria berkepala empat itu justru mengembuskan napas berat yang terasa hangat di wajah Celine. Alih-alih melepaskan cengkeramannya pada bahu sang istri, Aldean malah dengan sengaja menjatuhkan dahinya untuk bertumpu di bahu istrinya itu. ​Ya, seorang Aldean Devantara yang selama ini disegani di dunia bisnis, kini menumpahkan seluruh beban di kepala dan tubuhnya di bahu istrinya, seolah-olah kekuatannya mendadak menghilang begitu saja karena kelelahan mental. ​“Aku nggak sedang bercanda, Celine...” gumam Aldean, suara baritonnya yang berat kini terdengar begitu pelan, serak, dan... merajuk. “Jangan coba-

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status