Share

BAB. 213

last update publish date: 2026-06-05 23:59:19

Atmosfer di ruang tunggu lantai 3 mendadak berubah menjadi semakin berat. Detik demi detik yang merayap terasa begitu menyiksa, seolah-olah waktu sengaja melambat untuk menguji kesabaran mereka.

​Tiba-tiba, Aldean yang sedari tadi duduk tegak menatap pintu ganda itu, tersentak pelan. Pria itu melepaskan pegangannya dari bahu Celine dan refleks mencengkeram dadanya sendiri dengan tangan kiri.

“Mas? Mas, kenapa?” Celine yang merasakan perubahan drastis pada tubuh suaminya langsung panik. Ia menat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 228

    Kayra mengunyah suapan bubur yang diberikan Celine dengan perlahan. Sesekali Kayra menunduk dalam, pura-pura sibuk merapikan ujung selimutnya yang sebetulnya sudah rapi, hanya demi menghindari tatapan Celine yang duduk tepat di samping ranjang.Suasana di dalam kamar rawat masih dipenuhi kecanggungan yang samar. Tidak ada lagi pertengkaran, tidak ada lagi tatapan tajam, tetapi juga belum ada kehangatan yang dulu pernah begitu akrab di antara mereka.Celine kembali menyendok bubur dari bagian pinggir mangkuk.“Pelan-pelan ya, Kay... masih panas,” ujarnya lembut.Kayra hanya mengangguk kecil. Dasarnya Kayra memang gadis remaja yang egonya setinggi langit, ia terus memalingkan wajahnya dari Celine—entah itu menunduk atau menoleh ke arah jendela.Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Aldean yang sejak tadi bersandar di dekat pintu sengaja tidak ikut campur. Ia membiarkan keduanya menemukan jalan mereka sendiri.Celine kembali menyodorkan sesendok bubur. Namun kali ini, begitu bubur ma

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 227

    Begitu sampai di depan pintu kayu kamar rawat Kayra, Aldean menghentikan langkahnya sejenak. Ia menoleh pada Celine, memberikan remasan lembut pada jemari istrinya seolah menyalurkan kode rahasia berupa penguat. ​“Siap, Sayang?” bisik Aldean dengan suara baritonnya yang meneduhkan. ​Celine menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, lalu mendongak menatap sang suami dengan binar mata yang mantap. “Siap, Mas.” ​Aldean tersenyum tipis, lalu tangan kirinya bergerak memutar knop pintu secara perlahan, mendorongnya pelan agar tidak menimbulkan suara bising yang bisa mengejutkan Kayra di dalam. Pintu geser itu terbuka tanpa suara. Begitu menapakkan kaki di dalam ruangan bernuansa putih itu, Aldean dan Celine langsung menyadari bahwa sepasang netra yang tadinya terpejam, kini telah terbuka seutuhnya. Kayra ternyata sudah terbangun dari tidurnya. ​Mendengar desau halus pintu yang terbuka, Kayra menolehkan kepalanya perlahan di atas bantal. Detik itu juga, matanya langsung me

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 226

    Aldean memutar posisi duduknya menghadap pada Celine, lalu mengecup punggung tangan sang istri dengan begitu dalam dan lama. Sentuhan bibirnya terasa hangat, seolah sedang menyalurkan seluruh sisa kekuatan yang ia miliki setelah badai emosi di dalam kamar rawat tadi.​“Kayra baik-baik saja, Sayang,” ucap Aldean, suara baritonnya kembali rendah, stabil, dan dipenuhi wibawa seorang suami yang menenangkan. Pria itu menjeda kalimatnya sejenak, menatap lekat-lekat sepasang netra bening Celine yang masih memancarkan sisa kecemasan.“Dia memintamu keluar tadi... bukan karena dia membencimu. Sama sekali bukan. Justru karena dia merasa sangat malu dan bingung di depanmu.”Celine tertegun, sepasang matanya mengerjap tidak mengerti. “Malu...? Bingung? Kenapa, Mas?”​“Kamu tahu kan, Sayang... kalau kemarin aku sudah mengatakan semua kebenaran itu pada Kayra. Termasuk tentang apa yang dilakukan mamanya pada mamamu,” jawab Aldean pelan-pelan, masih menatap lekat-lekat mata Celine. “Dan apa yang aku

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 225

    Celine mengerutkan keningnya dalam-dalam. Alih-alih merasa bersalah, ia justru menatap suaminya dengan pandangan yang benar-benar heran. Jarak wajah mereka yang begitu dekat, membuat Celine bisa melihat dengan jelas bagaimana sepasang mata elang suaminya yang biasa memancarkan ketegasan mutlak, kini justru tampak sayu dan dipenuhi sisa-sisa kepanikan. Aldean tidak langsung menjawab. Pria berkepala empat itu justru mengembuskan napas berat yang terasa hangat di wajah Celine. Alih-alih melepaskan cengkeramannya pada bahu sang istri, Aldean malah dengan sengaja menjatuhkan dahinya untuk bertumpu di bahu istrinya itu. ​Ya, seorang Aldean Devantara yang selama ini disegani di dunia bisnis, kini menumpahkan seluruh beban di kepala dan tubuhnya di bahu istrinya, seolah-olah kekuatannya mendadak menghilang begitu saja karena kelelahan mental. ​“Aku nggak sedang bercanda, Celine...” gumam Aldean, suara baritonnya yang berat kini terdengar begitu pelan, serak, dan... merajuk. “Jangan coba-

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 224

    Pikiran-pikiran buruk itu terus menggelayuti benak Aldean, membuat dadanya kian bergemuruh dihantam kecemasan.Tak lama kemudian, Aldean segera merogoh saku celananya dengan gerakan kasar, menyambar ponselnya lalu dengan cepat mendial nomor Celine. Ponsel itu ditempelkan erat ke telinganya, sementara kakinya berjalan mondar-mandir di tengah lorong dengan rahang yang mengeras rapat dan pelipis yang mulai dihiasi bulir keringat dingin.Tut... Tut... Tut...Hanya suara nada sambung yang monoton yang menyahut panggilannya. Tidak ada jawaban. Aldean mematikan sambungan, lalu kembali menekan tombol panggil dengan ibu jari yang mulai bergetar samar. Satu kali, dua kali, tiga kali... tetap sama. Panggilannya diabaikan begitu saja.“Angkat, Sayang... Tolong angkat...” bisik Aldean parau, suaranya kini dipenuhi nada frustrasi yang teramat nyata.Kedewasaan dan ketenangan pria berkepala empat itu runtuh seketika. Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Aldean Devantara, ia merasa sekujur tubuh

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 223

    Aldean menatap putrinya lekat-lekat, jemarinya merapikan anak rambut Kayra yang berantakan dengan penuh kesabaran.​Kayra meremas selimut rumah sakit dengan tangan kirinya yang bebas, menyalurkan rasa sesak yang kembali menghantam dadanya. Air mata perempuan itu kembali menetes deras, kali ini benar-benar murni karena rasa takut yang teramat sangat.​“Pa... gimana kalau Celine sudah telanjur benci banget sama aku?” bisik Kayra, suaranya bergetar hebat dan tercekat oleh isakan. “Kemarin... kemarin aku udah jahat banget sama dia. Aku selalu ngatain dia perempuan nggak tahu diri, aku maki-maki dia dengan kata-kata keji yang nggak pantas... aku selalu pojokin dia...”​Kayra mendongak, menatap Aldean dengan sepasang mata sembap yang memancarkan keputusasaan yang begitu nyata.​“Aku takut Celine udah nutup pintu maafnya buat aku, Pa. Aku takut kalau nanti aku minta maaf, dia bakal buang muka dan nggak mau lagi nerima aku sebagai sahabatnya... aku nggak sanggup kalau harus kehilangan Celine

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status