مشاركة

BAB. 212

مؤلف: Wisha Berliani
last update تاريخ النشر: 2026-06-05 22:40:29

Pintu geser otomatis di lobi utama rumah sakit lantai dasar terbuka perlahan.

Aldean dan Celine melangkah masuk dengan tergesa-gesa. Atmosfer rumah sakit yang dingin dan berbau obat seolah kian mencekik dada mereka. Dengan langkah yang lebar, Aldean menuntun Celine mendekati meja informasi yang dijaga oleh seorang perawat.

“Selamat sore, Sus. Saya Aldean Devantara. Anak saya, Kayra Devantara, korban kecelakaan tunggal yang baru saja dibawa beberapa saat lalu. Di mana dia sekarang?” tanya Aldean
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 228

    Kayra mengunyah suapan bubur yang diberikan Celine dengan perlahan. Sesekali Kayra menunduk dalam, pura-pura sibuk merapikan ujung selimutnya yang sebetulnya sudah rapi, hanya demi menghindari tatapan Celine yang duduk tepat di samping ranjang.Suasana di dalam kamar rawat masih dipenuhi kecanggungan yang samar. Tidak ada lagi pertengkaran, tidak ada lagi tatapan tajam, tetapi juga belum ada kehangatan yang dulu pernah begitu akrab di antara mereka.Celine kembali menyendok bubur dari bagian pinggir mangkuk.“Pelan-pelan ya, Kay... masih panas,” ujarnya lembut.Kayra hanya mengangguk kecil. Dasarnya Kayra memang gadis remaja yang egonya setinggi langit, ia terus memalingkan wajahnya dari Celine—entah itu menunduk atau menoleh ke arah jendela.Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Aldean yang sejak tadi bersandar di dekat pintu sengaja tidak ikut campur. Ia membiarkan keduanya menemukan jalan mereka sendiri.Celine kembali menyodorkan sesendok bubur. Namun kali ini, begitu bubur ma

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 227

    Begitu sampai di depan pintu kayu kamar rawat Kayra, Aldean menghentikan langkahnya sejenak. Ia menoleh pada Celine, memberikan remasan lembut pada jemari istrinya seolah menyalurkan kode rahasia berupa penguat. ​“Siap, Sayang?” bisik Aldean dengan suara baritonnya yang meneduhkan. ​Celine menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, lalu mendongak menatap sang suami dengan binar mata yang mantap. “Siap, Mas.” ​Aldean tersenyum tipis, lalu tangan kirinya bergerak memutar knop pintu secara perlahan, mendorongnya pelan agar tidak menimbulkan suara bising yang bisa mengejutkan Kayra di dalam. Pintu geser itu terbuka tanpa suara. Begitu menapakkan kaki di dalam ruangan bernuansa putih itu, Aldean dan Celine langsung menyadari bahwa sepasang netra yang tadinya terpejam, kini telah terbuka seutuhnya. Kayra ternyata sudah terbangun dari tidurnya. ​Mendengar desau halus pintu yang terbuka, Kayra menolehkan kepalanya perlahan di atas bantal. Detik itu juga, matanya langsung me

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 226

    Aldean memutar posisi duduknya menghadap pada Celine, lalu mengecup punggung tangan sang istri dengan begitu dalam dan lama. Sentuhan bibirnya terasa hangat, seolah sedang menyalurkan seluruh sisa kekuatan yang ia miliki setelah badai emosi di dalam kamar rawat tadi.​“Kayra baik-baik saja, Sayang,” ucap Aldean, suara baritonnya kembali rendah, stabil, dan dipenuhi wibawa seorang suami yang menenangkan. Pria itu menjeda kalimatnya sejenak, menatap lekat-lekat sepasang netra bening Celine yang masih memancarkan sisa kecemasan.“Dia memintamu keluar tadi... bukan karena dia membencimu. Sama sekali bukan. Justru karena dia merasa sangat malu dan bingung di depanmu.”Celine tertegun, sepasang matanya mengerjap tidak mengerti. “Malu...? Bingung? Kenapa, Mas?”​“Kamu tahu kan, Sayang... kalau kemarin aku sudah mengatakan semua kebenaran itu pada Kayra. Termasuk tentang apa yang dilakukan mamanya pada mamamu,” jawab Aldean pelan-pelan, masih menatap lekat-lekat mata Celine. “Dan apa yang aku

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 225

    Celine mengerutkan keningnya dalam-dalam. Alih-alih merasa bersalah, ia justru menatap suaminya dengan pandangan yang benar-benar heran. Jarak wajah mereka yang begitu dekat, membuat Celine bisa melihat dengan jelas bagaimana sepasang mata elang suaminya yang biasa memancarkan ketegasan mutlak, kini justru tampak sayu dan dipenuhi sisa-sisa kepanikan. Aldean tidak langsung menjawab. Pria berkepala empat itu justru mengembuskan napas berat yang terasa hangat di wajah Celine. Alih-alih melepaskan cengkeramannya pada bahu sang istri, Aldean malah dengan sengaja menjatuhkan dahinya untuk bertumpu di bahu istrinya itu. ​Ya, seorang Aldean Devantara yang selama ini disegani di dunia bisnis, kini menumpahkan seluruh beban di kepala dan tubuhnya di bahu istrinya, seolah-olah kekuatannya mendadak menghilang begitu saja karena kelelahan mental. ​“Aku nggak sedang bercanda, Celine...” gumam Aldean, suara baritonnya yang berat kini terdengar begitu pelan, serak, dan... merajuk. “Jangan coba-

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 224

    Pikiran-pikiran buruk itu terus menggelayuti benak Aldean, membuat dadanya kian bergemuruh dihantam kecemasan.Tak lama kemudian, Aldean segera merogoh saku celananya dengan gerakan kasar, menyambar ponselnya lalu dengan cepat mendial nomor Celine. Ponsel itu ditempelkan erat ke telinganya, sementara kakinya berjalan mondar-mandir di tengah lorong dengan rahang yang mengeras rapat dan pelipis yang mulai dihiasi bulir keringat dingin.Tut... Tut... Tut...Hanya suara nada sambung yang monoton yang menyahut panggilannya. Tidak ada jawaban. Aldean mematikan sambungan, lalu kembali menekan tombol panggil dengan ibu jari yang mulai bergetar samar. Satu kali, dua kali, tiga kali... tetap sama. Panggilannya diabaikan begitu saja.“Angkat, Sayang... Tolong angkat...” bisik Aldean parau, suaranya kini dipenuhi nada frustrasi yang teramat nyata.Kedewasaan dan ketenangan pria berkepala empat itu runtuh seketika. Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Aldean Devantara, ia merasa sekujur tubuh

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 223

    Aldean menatap putrinya lekat-lekat, jemarinya merapikan anak rambut Kayra yang berantakan dengan penuh kesabaran.​Kayra meremas selimut rumah sakit dengan tangan kirinya yang bebas, menyalurkan rasa sesak yang kembali menghantam dadanya. Air mata perempuan itu kembali menetes deras, kali ini benar-benar murni karena rasa takut yang teramat sangat.​“Pa... gimana kalau Celine sudah telanjur benci banget sama aku?” bisik Kayra, suaranya bergetar hebat dan tercekat oleh isakan. “Kemarin... kemarin aku udah jahat banget sama dia. Aku selalu ngatain dia perempuan nggak tahu diri, aku maki-maki dia dengan kata-kata keji yang nggak pantas... aku selalu pojokin dia...”​Kayra mendongak, menatap Aldean dengan sepasang mata sembap yang memancarkan keputusasaan yang begitu nyata.​“Aku takut Celine udah nutup pintu maafnya buat aku, Pa. Aku takut kalau nanti aku minta maaf, dia bakal buang muka dan nggak mau lagi nerima aku sebagai sahabatnya... aku nggak sanggup kalau harus kehilangan Celine

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status