Share

Bab 64

Author: Renita April
last update publish date: 2026-07-25 18:24:39

"Simpan omong kosongmu itu, Teguh. Aku sama sekali tidak memerlukannya. Pergilah dari hadapanku," ucap Karin dalam kilatan muak.

Teguh kaget karena baru pertama kali ia mendengar Karin berbicara demikian. Karin istri yang lembut, patuh. Sejak kapan dia berubah menjadi wanita yang tidak kenali? Ini bukan Karin yang ia kenal. Teguh ingin istrinya yang dulu.

"Kamu sudah berubah, Karin."

"Kamulah yang membuat perubahan itu, Teguh. Sejak kamu terlena dengan jabatan dan gajimu itu." Karin menatapny
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ahh, Pelan-Pelan, Boss.    Bab 65

    "Kalian sudah berpisah, tapi kamu masih memikirkannya. Kamu tidak menepati janjimu, Dewa," ucap Sinta dengan rasa kecewa yang teramat sangat. "Lalu bagaimana denganmu sendiri, Sinta? Apa kamu berubah, tidak kan? Kamu tetap dengan kebiasanmu itu. Kamu ingin aku menoleransi semua perbuatanmu, tetapi kamu sendiri malah mengekangku."Tatapan Sinta melebar karena Dewa tahu ia masih belum berubah. Memangnya kenapa kalau ia masih menyimpan kekasih-kekasih mudanya itu? Semuanya karena Dewa juga yang bersikap dingin padanya. Sinta ingin hubungan harmonis antara suami istri, tetapi Dewa tidak bisa memberikan itu. Pacar di luar sana memang tidak sebanding dengan kekayaan dan ketampanan suaminya. Namun, Sinta mendapatkan kasih sayang mereka, meski itu semata-mata karena uang. Paling tidak ia merasakan disayang, dipeluk, didengar, tidak seperti Dewa yang selalu mengabaikannya. "Sebelum bicara, kamu harusnya menyadari apa salahmu." Sinta tidak ingin disalahkan. Ia begini karena suaminya. Dewa t

  • Ahh, Pelan-Pelan, Boss.    Bab 64

    "Simpan omong kosongmu itu, Teguh. Aku sama sekali tidak memerlukannya. Pergilah dari hadapanku," ucap Karin dalam kilatan muak. Teguh kaget karena baru pertama kali ia mendengar Karin berbicara demikian. Karin istri yang lembut, patuh. Sejak kapan dia berubah menjadi wanita yang tidak kenali? Ini bukan Karin yang ia kenal. Teguh ingin istrinya yang dulu. "Kamu sudah berubah, Karin.""Kamulah yang membuat perubahan itu, Teguh. Sejak kamu terlena dengan jabatan dan gajimu itu." Karin menatapnya tajam. "Aku tidak sengaja melakukannya. Anggap saja kita impas. Kamu tidur dengan Tuan Dewa, dan aku bersama Miranda. Ini adil kan? Setelah Miranda melahirkan, aku akan kembali padamu. Jadi, bersabarlah untuk itu." Hah! Dengan gampangnya Teguh terus bicara seperti itu seolah hati Karin terbuat dari batu. Karin tidak menanggapinya lagi karena suaminya sudah buta pada pesona wanita itu. Apa pun yang Karin ucapkan hanyalah angin lalu bagi pria ini. Jadi percuma mendebatnya. "Kamu tidak ingin a

  • Ahh, Pelan-Pelan, Boss.    Bab 63

    Damian menatap Karin cukup lama. Dari kesan yang ia tangkap ada pria yang menyakiti wanita ini. Sungguh tidak beruntung laki-laki itu. Jika Damian bertemu Karin lebih dulu, ia akan menjadikannya sebagai ratu di hati ini."Pria berengsek mana yang menyakitimu, Karin?" "Suamiku," jawab Karin."Sakit di tubuhmu? Apa itu karena dia? Katakan padaku, biar kuberi dia pelajaran."Karin menggeleng. Ia memaksakan diri untuk tersenyum pada Damian. "Orang lain, tapi penyebabnya dia.""Dia tidak pantas bersamamu, Karin. Lebih baik tinggalkan saja. Masih banyak pria yang menginginkan dirimu." Termasuk dirinya. Damian akui itu. "Ini sudah malam, Tuan. Yakin mau menginap di sini?" Karin mengalihkan pembicaraan karena ia mual membahas Teguh. "Jika kamu mau di hotel, aku bersedia pindah tempat.""Di sini saja. Lagi pula kamu sudah menyewa untuk satu malam. Sangat sayang bila uangnya hangus.""Uang bukan masalah untukku. Selain pilot, keluargaku juga memiliki maskapai penerbangan rute luar dan dalam

  • Ahh, Pelan-Pelan, Boss.    Bab 62

    "Aku akan teriak," ucap Karin yang membuat Damian tergelak. Karin mengumpat dalam hati. Ia selalu berurusan dengan pria gila. "Silakan saja. Paling mereka mengira kita sedang berbagi kehangatan." Damian menyeringai, tangannya membelai kancing kemeja Karin. Dalam satu tarikan saja kancing itu berjatuhan. Kemeja Karin terbuka menampakkan buah ranumnya yang mulai terisi kembali. "Kamu tidak boleh melakukan ini padaku.""Sayang, aku sudah menyewamu. Kamu tidak bisa menolakku." Damian mendorong Karin ke tempat tidur. Membuka lebar kemeja yang Karin kenakan, lalu menarik kait penutup yang melindungi buah ranum itu. Karin tersentak, Damian sungguh melakukannya. Pria ini melucutinya tanpa bisa dicegah. "Akhhh! Pelan-pelan. Kamu menyakitiku." Pria gila! Begitulah yang Karin ucapkan dalam hati. Damian menghisap dengan tarikan kuat. Ada geraman dalam tiap tarikan bibirnya. Laki-laki ini marah, tetapi apa penyebabnya? Karin tidak mengerti. Tangan Karin terulur untuk mengusap puncak kepala Dam

  • Ahh, Pelan-Pelan, Boss.    Bab 61

    Suasana terasa canggung. Karin tidak banyak bicara, pria bertopeng ini pun sama. Keduanya saling diam, meski telah berada di kamar. Si pria tidak menyebutkan nama ataupun perintah. Karin bingung sendiri tentunya. Lebih mudah bila bersama pelanggan yang congkak, setidaknya ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Contoh saja Damian. Atau pelanggan dingin, tetapi baik hati seperti Dewa. "Tuan, saya perlu mandi. Apakah Tuan bersedia menunggu?" tanya Karin."Hmm."Memangnya apa yang diharapkan? Pria ini sepertinya memang pendiam. Karin bergegas masuk kamar mandi membersihkan diri. Lima belas menit kemudian ia keluar dengan memakai kimono. Karin langsung berbaring di tempat tidur, ia tetap memakai topengnya. Namun, pria bertopeng itu belum juga mendekat. "Tuan, saya Karin.""Hmm."Laki-laki ini tidak mungkin bisu karena tadi Karin mendengar dia bicara. Lalu kenapa sekarang malah diam saja? Mendekat juga tidak. Lalu apa maunya? Apa harus digoda? Tugasnya hanya menjual asi, bukan tubuh. "

  • Ahh, Pelan-Pelan, Boss.    Bab 60

    Pesan tersebut tidak dibalas atau diberi reaksi apa pun. Karin membiarkannya begitu saja karena sekarang ada hal yang perlu ia lakukan. Pergi ke Rumah Donor Mosa, lalu ambil keuntungan dari pelanggan kaya yang membutuhkan asi. Meski merasakan nyeri di perut serta punggung belakang, Karin tetap nekat berangkat ke sana. Ia memakai pakaian biasa seperti kemeja dan celana kain. Ya, itu lebih nyaman untuk saat ini. Karin bukannya tidak punya keinginan memakai gaun atau dress seperti wanita cantik lainnya. Saat ini belum tepat. Ia terluka karena ulah pria-pria kejam itu. Malam ini ia juga merias wajah, menyamarkan mata bengkak akibat menangisi pria tak bertanggung jawab. Karin akui telah menyia-nyiakan air mata, tetapi ia sendiri juga tidak tahu kenapa kesedihan ini terus menghampirinya. Jauh di lubuk hati, Karin belum bisa melepas Teguh. Ia butuh yang namanya waktu. Setelah siap, Karin langsung pergi menuju rumah donor. Ia belum menerima pesanan apa pun hari ini. Mungkin malam ini ak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status