LOGIN"Ssssttt...uh..." suara Vivian dari dalam kamar. Mata Sandy langsung melebar mendengarnya, ia yang semula terlihat lemas mendadak menegang sempurna. "Nona Cila, itu apa?" tanya Sandy dengan perasaan berdebar. "Maman..." jawab Cila. "Ya, Papamu dagi makan Ibumu," katanya. Lalu ia pun bergidik ngeri, suara itu begitu nyata. Kamar sederhana itu tidak akan kedap suara dan Sandy juga tidak bisa untuk tenang. "Kapan aku bisa makan orang?" gumamnya lalu menggeleng cepat. "Mamam..." kata Cila lagi. "Iya, sebentar...ini, Om kasih roti. Cila boleh makan roti nggak sih?" tanya Sandy bingung. Tapi daripada bocah itu menangis ia pun memberikannya. "Kayaknya nggak lama lagi Cila bakalan punya adik," kata Sandy sambil tersenyum geli. Lalu terdengar suara langkah kaki, Sandy pun menatap asal suara. Kemudian ia pun menghembuskan nafas kasar. Karla. "Mana mereka?" tanya Karla sambil melipat tangan di dada dan melihat Cila bersama Sandy, "babu itu nggak mampu merawat anak Arsen
Di kamar sederhana dan di atas ranjang Vivian berbaring miring dengan sebelah tangannya menopang kepalanya. Sedangkan Arsen duduk disana juga dengan bersandar pada dasbor ranjang. Sambil fokus pada ponsel, sedangkan Cila berada di tengah. "Mas, kamu balik aja ke keluarga kamu. Aku capek banget begini," kata Vivian frustasi sambil mengelus rambut Cila yang tidur di atas ranjang. Mendengar ucapan Vivian, Arsen pun menoleh, "kamu bicara apa?" tanya Arsen. "Aku nggak enak sama orang tua kamu, kesannya aku ini jahat banget gitu, Mas," keluhnya. Arsen pun berpindah posisi, ia kini berbaring di belakang Vivian, berbaring miring sambil menopang kepalanya dengan tangannya. Kemudian menarik Vivian agar menghadapnya, "Sayang, aku sudah sampai sejauh ini. Aku tidak akan mundur lagi," kata Arsen sambil menyisir rambut Vivian dengan jarinya. "Mas, tapi-" ucapan Vivian terhenti saat Arsen mencium bibirnya pelan, namun kemudian berubah menjadi lumatan. Vivian pun membalasnya pelan, da
"Cila, makan buah aja ya. Cila belum waktunya makan es krim," kata Vivian berbicara pada Cila. "Mauuu," Cila berusaha untuk menggapai eskrim di atas meja, tapi Vivian menjauhkan akhirnya ia pun menangis. Vivian langsung berdiri, dan menciumi wajah Cila yang menggemaskan itu, "Sayang, Cila anak pintar...Ibu kasih, buah ya," Vivian pun memberikan buah dan Cila pun tak lagi menangis, "anak pintar," kata Vivian akhirnya.Vivian pun kembali mencium pipi menggemaskan Cila, bukan lahir dari rahimnya. Tapi bagaimana pun juga bayi itu sudah meminum asinya hingga bayi itupun seperti mengenali Vivian.Seperti ada ikatan yang tidak mudah untuk dijelaskan, tetapi terlihat jelas bahwa Cila begitu nyaman dengan Vivian.Arsen pun tersenyum melihatnya."Akhir-akhir ini, Bos lebih sering tersenyum ya," kata Sandy yang langsung menepuk pundaknya.Arsen pun melirik tangan Sandy dengan tajam."Hehehe, maaf, Bos," Sandy tersenyum kecut menyadari kelancangannya."Sepertinya kau mau menikah dengan Indra,
"Mas, baju ganti Cila mana?" tanya Vivian. Arsen pun bangkit dari duduknya, "Kita belanja sekarang," kata Arsen. Vivian pun mengangguk. "Indri, ikut yuk," kata Vivian. "Emangnya boleh?" tanya Indri. "Boleh," kata Vivian. *** Di Mall Vivian terlihat sangat senang memilih beberapa pakaian untuk Cila. Arsen yang menggendong Cila terlihat menikmati suasana ini. Suasana keluarga yang hangat, sekaligus pelepas lelah setelah sibuknya bekerja. "Ini gemes banget," kata Vivian yang melihat baju renang. Lalu ia mendekatkan pada Cila, "kamu lucu pakai ini," kata Vivian, "Mas, Cila boleh panggil aku Ibu nggak?" tanya Vivian penuh harap. Arsen pun mengangguk tanda setuju. Membuat Vivian semakin tersenyum lebar, 'Tiara, bukan Ibu lupain kamu. Tapi ijinin Ibu sayang sama Cila ya,' batinnya seolah berbicara pada putrinya yang telah tiada. "Ih, senyumnya bikin gemes," kata Vivian. Cup. Ia pun mencium pipi bocah itu, tapi kemudian Arsen pun mendekatkan wajahnya. Vivian pun
"Mas," panggil Vivian mengintip dari cela pintu kamar mandi. Arsen pun berjalan mendekat, "Apa, mau ngajak mandi bareng?" tanya Arsen lalu mendorong pintu agar terbuka lebih lebar, "kamu memang lawan yang seimbang," katanya penuh arti. "Eh!" Vivian pun tetap mempertahankan pintu yang tertutup, "ambilin handuk, aku lupa bawa handuk!" kata Vivian. "Lupa?" Arsen tersenyum penuh arti. Vivian bergidik ngeri melihat senyuman Arsen, "Hey, jangan mikir macem-macem, aku beneran lupa!" kata Vivian cepat sebelum Arsen berpikir yang lain. "Baiklah," Arsen pun menuju kamar lalu kembali untuk memberikan handuk. Vivian cepat menerimanya, tapi Arsen tetap menahan pintu agar tidak tertutup rapat. "Mas, ada mantan istri mu di luar. Pergi sana, aku malas ribet!" "Sudah pergi! Kita lanjutkan bagaimana?" goda Arsen. "Mas?!" pekik Vivian. Arsen menahan tawa melihat wajah kesal Vivian. "Mas, dari tadi malam sampai pagi ini masa belum puas?" tanya Vivian tak percaya. "Kan, aku suami y
Vivian terkapar di samping Arsen, ia langsung tertidur. Arsen tersenyum melihat wajah polos dengan rambut berantakan, di mata Arsen wajah Vivian yang seperti ini jauh lebih menarik. Kemudian ia pun keluar dari kamar, dan ternyata ada Sandy dan Indri yang duduk di ruang tamu. "Kayaknya matahari sedang bersinar terang," gumam Sandy. "Bos, apakah Vivian udah bangun?" tanya Indri. "Tidur!" jawab Arsen dingin. Kemudian ia pun segera menuju dapur, Sandy pun menyusulnya. "Bos, hari ini kita memantau pembangunan hotel," kata Sandy. "Tunda saja," jawab Arsen. "Apa?" Sandy pun terkejut. "Perlu aku bersihkan kotoran telingamu pakai pisau ini?!" tanya Arsen. Sandy pun menganggukkan kepala, "Baiklah, tapi...Bos apakah tidak ada rencana gajiku naik!" tanya Sandy. Arsen pun meliriknya, lalu mengangguk. Membuat Sandy merasa bahagia, "Yessss!!!" "Tapi nikahi Indra!" kata Arsen lagi seketika mematahkan kebahagiaan Sandy. "Bos?" tanya Sandy tak percaya. "Bercanda, gajimu







