LOGIN"Beb, kita jadi nyalon kan?" tanya Indri. "Jadi, tapi kita makan dulu," kata Vivian. "Itu gampang, kamu bisa nyetir nggak?" tanya Indri. "Enggak," jawab Vivian. "Gampang aku bisa nyetir, cuss...aku bawa mobil," kata Indri sambil menyelipkan rambut goibnya ke balik telinganya. Keduanya pun berjalan beriringan, hingga ketika pintu lift terbuka keduanya pun masuk. "Beb, kamu nggak papa pulang malem?" tanya Indri. "Aku nggak punya siapa-siapa tau, aku juga udah lama hidup terkungkung. Sekarang aku mau menikmati hidupku lagi," jawab Vivian. "Kayaknya kita perlu saling kenal deh, Beb. Aku mau kok jadi bestie tersolid kamu," Indri pun memeluk lengan Vivian kemudian menyandarkan kepalanya pada pundan Vivian. Ting, pintu lift terbuka. Vivian terkejut sesaat tapi kemudian kembali netral setelah melihat Arsen yang masuk bersama dengan Sandy. Mata Arsen terlihat begitu tajam mengarah padanya, apa lagi pada tangan Vivian yang dipeluk erat temannya itu. "CEO?" tanya Indri ta
"Udah, ah..." Vivian menjauh dan merapikan pakaiannya lagi. Sementara Arsen menatapnya dengan penuh misteri, "Aku beri peringatan, sebaiknya jangan berteman dengan siluman," kata Arsen tiba-tiba. Vivian yang tadinya sibuk merapikan pakaiannya kini mendongkak menatap Arsen, "Siluman?" tanyanya bingung. "Bencong tadi," jelas Arsen. "Indri?" tanya Vivian memastikan. "Indra!" kata Arsen mengetuk kepala Vivian. "Ih, apasi?!" "Nggak usah dekat-dekat dia! Dan, laki-laki manapun, jaga nama baik perusahaan!" kata Arsen seolah memberikan peringatan. Vivian menautkan alisnya mendengar ucapan Arsen, kemudian ia pun tertawa, "Ahahaha..." "Apa ada yang lucu?" tanya Arsen sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, menatap Vivian dengan serius. "Udah ah, kamu makin lucu aja," Vivian merapikan dasi Arsen, kemudian ia pun mundur selangkah, "aku mau nyalon dulu, kan kata kamu aku wajib cantik, bersih selama kasih asi untuk Cila," katanya lalu memutar badannya dan pergi.
"Kamu nggak papa?" tanya Bayu bingung. "Enggak," jawab Vivian berusaha terlihat baik-baik saja. "Vi, nanti malam jalan yuk. Aku mau ajak kamu nonton," kata Bayu. Arsen langsung menatap Vivian dengan tajam, ia mungkin akan menelan wanita itu hidup-hidup jika saja berani menerima ajakan Bayu. "Ya," kata Vivian, kemudian ia menutup mata sambil menggigit bibir bawahnya. Karena Arsen semakin mempercepat gerakannya. Hingga akhirnya ia pun merasa ada yang menyembur keluar, nafasnya terengah-engah seketika. "Vi, kamu baik-baik saja?" tanya Bayu khawatir. "Aku-aku..." Bayu cepat memberikan minumannya pada Vivian, "minum dulu," katanya terlihat perhatian. "Iya," Vivian meneguk minuman miliknya dan perlahan ia mulai merasa lebih baik. Saat itu Arsen pun bangkit, "Aku permisi," katanya santai seolah tidak ada yang terjadi. "Oke," kata Bayu yang masih serius mengkhawatirkan Vivian, "kamu beneran nggak papa, kan?" tanya Bayu lagi memastikan. "Enggak," ucap Vivian, 'kurang ajar
"Bos," kata Sandy terburu-buru, "Nyonya Karla datang," katanya lagi. Vivian pun mendorong Arsen, kemudian perlahan turun dari meja Arsen lalu dengan cepat merapikan pakaiannya yang sudah berantakan. "Sayang, aku datang," kata Karla sambil melangkah masuk. Tapi kemudian matanya terpaku pada Vivian, "jadi kamu kerjanya di kantor suami saya?" kata Karla. "Ia, Nyonya," jawab Vivian. "Oh," Karla mengerti. "Saya ijin permisi, Nyonya," pamit Vivian lalu melangkah keluar. Arsen kembali duduk di kursi kebesarannya, ia terlihat tidak tertarik sama sekali dengan kedatangan istrinya itu. "Sayang, mukanya kok gitu sih? Ini aku bawakan makan siang, sekalian ini aku yang masakin pakek sendiri pakai rasa sayang," ujar Karla. Tapi Arsen hanya diam saja, ia meraih ponselnya dan mengirimkan pesan pada Vivian. Arsen; Kita selesaikan di hotel. Vivian; Urus dulu istrinya. "Sayang, kita honeymoon yuk." kata Karla tiba-tiba. "Honeymoon?" ulang Arsen. Karla mengangguk penuh semangat,
Rapat berakhir, Arsen keluar bersama asistennya. Kursi mulai bergeser, laptop ditutup, dan percakapan kecil kembali terdengar. Suasana memang kembali normal, tetapi ketegangan masih terasa. Vivian berdiri dengan tenang dan merapikan tasnya tanpa terburu-buru. Beberapa orang melirik ke arahnya, lalu segera mengalihkan pandangan saat mata mereka hampir bertemu. Mereka jelas memperhatikan, tetapi tidak ingin terlihat terang-terangan. Saat Vivian melangkah keluar dari ruang rapat, bisik-bisik mulai terdengar lebih jelas. “Berani juga dia.” “Baru hari pertama sudah jawab seperti itu.” “CEO saja dilawan.” Vivian mendengarnya, tetapi tidak menanggapi. Langkahnya tetap tenang dan stabil. Sampai tiba-tiba ada yang menghentikan langkahnya. "Hay, kenalan dong. Aku Indri," katanya. Vivian terdiam sambil memperhatikan orang dihadapannya, sedikit aneh karena dia seorang lalaki tapi namanya Indri, apakah orang tuanya salah memberi nama? Pria itu tampaknya mengerti dengan kebing
Lantai marmer yang mengilap memantulkan bayangan langkah Vivian yang tenang dan terukur. Orang-orang berlalu lalang dengan pakaian rapi, sibuk dengan urusan masing-masing. Namun, beberapa pasang mata sempat melirik, mungkin karena wajahnya yang baru, atau karena cara Vivian berjalan yang terlalu percaya diri untuk ukuran karyawan hari pertama. Vivian berhenti di depan meja resepsionis. “Selamat pagi. Saya Vivian, karyawan baru,” ucapnya singkat. Resepsionis itu tersenyum profesional, lalu mengecek data di komputernya. “Oh, iya, Mbak Vivian. Dari divisi Corporate Communication, ya? Silakan ke lantai 12. Nanti langsung ke ruang HR untuk briefing.” Vivian mengangguk pelan. “Terima kasih.” Pintu lift terbuka. Beberapa karyawan sudah berdiri di dalam. Vivian masuk tanpa banyak bicara. Suasana di dalam lift cenderung sunyi, hanya diisi suara mesin yang halus dan sesekali notifikasi ponsel. Namun, pelan-pelan, bisik-bisik mulai terdengar. “Itu ya yang baru?” “Katanya masu
Pagi hari ini cuaca terlihat sangat indah, Vivian menitipkan baby Cila pada Nina terlebih dahulu sebelum pulang untuk mengambil beberapa barang-barangnya. Setelah itu kakinya pun melangkah menuruni anak tangga, dab diteras ia melihat Arsen. Vivian sedikit menundukkan kepala lalu melanjutkan langk
"Ayo," kata Arsen. Vivian pun perlahan mulai mengulurkan tangannya, memegang tangan Arsen dan berdiri perlahan. Tapi ternyata tumit sendalnya patah membuatnya kehilangan keseimbangan. "Eh..." katanya sebelum hampir terjatuh lagi, tapi ternyata tangannya reflek memeluk lengan Arsen. Sejena
"Oeee..." suara tangisan Cila terdengar. Vivian dan Arsen pun saling menatap dengan nafas terengah-engah. Kemudian Arsen menaikan sebelah alisnya lalu berkata, "Waktu yang tepat." "Oeee..." kembali terdengar suara tangisan baby Cila. Vivian ingin segera mengambilnya dan memberikan asi, tapi
Hay teman-teman kita lanjut.*Vivian menatap Arsen penuh amarah, gairah dan rasa sakit yang tidak ingin ia rasakan lebih dalam semakin mendesak. Baiklah, jika Rayan mengatakan tak ada satu lelaki pun yang mau dengannya mari kita buktikan. "Kau tidak akan menyesal?" tanya Arsen sambil meremas







