Share

Bab 10 Kejutan

Author: J Shara
last update Last Updated: 2025-11-28 19:21:43

“Ingat, Ariel... selama praktek, kau tidak boleh merasa dilecehkan. Aku akan mencium bibirmu, lehermu, bahkan menyentuh seluruh bagian tubuhmu yang sensitif. Jadi.. kau harus benar-benar siap.” Nathan menjelaskan dengan penuh penekanan saat berpindah duduk di samping Ariel.

Ariel terdiam, menelan ludahnya sekali. Sebenarnya instingnya bekerja bahwa apa yang akan ia lakukan adalah sesuatu yang membahayakan tapi ia teringat lagi akan novel dan..

Cindy yang telah sukses melampauinya.

“A-aku.. siap, Dok,” ucapnya akhirnya walau sorot matanya penuh keragu-raguan.

“Kau yakin?” tanya Nathan dengan tatapan seperti mengintimidasi, meyakinkan Ariel sekali lagi.

“Yakin, Dok.” Suara Ariel terdengar agak bergetar.

Nathan terdiam sesaat menatap Ariel dengan ekspresi datar. Perlahan Nathan bergerak, mendekatkan wajahnya ke wajah Ariel dan memiringkan wajahnya. Ariel yang mengerti bahwa itu adalah tanda mereka akan berciuman, memejamkan matanya.

Bibir mereka bertemu. Nathan mengecupnya begitu lembut beberapa kali hingga ia menyesap bibir gadis itu. Bibir Ariel bergetar saat ia mencoba membalas ciuman itu namun saat ia membalasnya. Tanpa sadar ia seperti larut dalam pergulatan bibir itu.

“Hm.. lumayan juga,” kaya Nathan berbisik saat ciuman itu terlepas sesaat.

Bibir itu kembali berpagutan namun kali ini lebih liar, lebih bergairah dan lebih panas. Ariel bisa merasakan jantungnya berdegub makin kencang dan napasnya terasa sesak.

“Ah...” Desahan tak tertahankan itu terdengar tiap sesekali ciuman itu terlepas hanya untuk mengambil pasokan oksigen.

“Nghh... Dok...”

Ariel mendesah gelisah saat ciuman itu semakin turun ke leher dan merasakan hembusan napas Nathan di lehernya yang sangat sensitif itu. Membuat Ariel merinding namun sekaligus nikmat hingga tanpa sadar Ariel menengadahkan kepalanya seakan memberi izin Nathan untuk terus mengeksplor leher jenjang nan mulus itu.

“Bagaimana..? Kau menikmatinya..?”

Pertanyaan yang terdengar berbisik dan terkesan erotis itu seperti mampu menghipnotis Ariel. Ariel tidak menjawab, ia hanya menggigit bibir bawahnya yang tanpa sengaja malah tampak seksi di mata Nathan dan membuat pria itu semakin ingin melahapnya.

Perlahan tubuh Ariel menyandar di bantal sofa. Matanya masih terpejam karena rasa nikmat kecupan dan isapan Nathan di lehernya. Hingga Ariel merasa tangan Nathan menyentuh salah satu gundukan di dadanya dan meremasnya lembut.

Ariel membelalakan matanya, terkejut dengan remasan itu dan refleks ia mendorong Nathan. Napasnya terdengar memburu dan ia tampak.. shock.

“Kenapa?” tanya Nathan dengan napas tertatih.

Beberapa saat hanya terdengar suara napas Ariel yang berat. “Ma-maaf, Dok.. A.. aku...”

“Kau belum siap, ya?”

Pertanyaan Nathan barusan seperti belati yang menohok gadis itu. Ia menelan ludahnya sambil berusaha mengatur napasnya. “Maaf, Dok.. bisakah kita lanjutkan besok?” suara Ariel bergetar, “hari ini.. kurasa.. terlalu mendadak.”

Nathan mengangguk kecil, seakan paham dengan apa yang Ariel hadapi. Antara takut, ragu.. namun sangat ingin melakukannya karena suatu ambisi.

“Aku mengerti,” kata Nathan akhirnya, “kau bisa datang lagi hanya saat setelah kau benar-benar siap telanjang di hadapanku. Ingat itu!” lanjutnya memperingatkan.

Mendengar kata "telanjang" membuat napas Ariel semakin sesak karena ia tak pernah telanjang di hadapan siapa pun. Bahkan di depan Silvi yang notabene seorang wanita sama sepertinya, dan juga merupakan sahabatnya sendiri pun tak pernah.

“Ba-baik, Dok.. aku.. permisi pulang dulu.”

Ariel langsung membereskan buku catatan dan pulpennya dan buru-buru memasukkannya ke dalam tas dan segera berdiri. “Aku pulang dulu. Dok, Terima kasih banyak untuk malam ini,” ucapnya sambil membungkukkan badannya.

Setelah mengucapkan itu, Ariel bergegas berjalan cepat menuju keluar apartemen. Wajahnya memanas saat ia berjalan keluar dari gedung itu dan menaiki mobil.

“Astaga... haruskan aku melakukan semua ini?” gumamnya saat ia berada di dalam mobil.

Sementara di apartemen, Nathan duduk di sofa ruang tamunya sembari memandang ke arah jendela apartemennya. Tanpa disadari, ia menyentuh bibirnya, rasas ciuman bibir Ariel dan lehernya yang begitu mulus masih terasa nyata di bibirnya.

“Ariel... kita lihat, kau masih ingin melanjutkan ini atau hanya sampai di sini saja?”

Raut kekecewaan tampak di wajah Nathan. Ada sesuatu dalam dirinya yang enggan ia akui namun jauh di lubuk hatinya, ia ingin Ariel akan kembali. Entah besok... atau suatu hari yang entah kapan itu.

---

Langit malam di atas kota tampak kelam, tapi apartemen di lantai dua puluh itu bersinar hangat. Lilin-lilin kecil menyala di sepanjang meja makan, di antara balon-balon warna perak dan biru yang bertuliskan Happy Birthday, My Love.

Ariel berdiri di tengah ruangan, memandangi hasil tangannya sendiri—setiap detail ia rancang dengan penuh cinta.

“Dhani pasti terkejut,” gumamnya pelan sambil tersenyum.

Ia mengenakan gaun sederhana warna pastel, rambutnya digelung rapi, dengan sedikit lipstik merah muda. Di meja, sebuah kue berlapis cokelat dengan tulisan Happy Birthday, Love tampak menunggu seseorang yang belum juga datang.

Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam.

Lalu sebelas.

Lalu hampir tengah malam.

Ariel memandangi layar ponselnya—belasan pesan tak terbaca terkirim ke nomor yang sama.

“Kamu di mana?”

“Dhan… aku kangen.”

Namun tak satu pun dibalas.

Ia menarik napas panjang, menatap lilin-lilin yang mulai mencair. “Mungkin dia lembur,” katanya mencoba menenangkan diri. “Atau masih di klinik.”

Tapi dalam hati kecilnya, Ariel tahu—Dhani selalu memberi kabar, sekecil apa pun alasannya.

Malam makin larut. Pukul dua belas lewat lima belas menit, suara langkah dan dentingan kunci terdengar di luar pintu.

Ariel tersenyum lega, jantungnya berdetak cepat.

Ia buru-buru bersembunyi di balik sofa, menyiapkan lilin kecil yang akan ia nyalakan.

“Selamat ulang tah—”

Pintu terbuka.

Tapi suara yang terdengar bukan milik seseorang yang lelah setelah bekerja.

Suara tawa… dan desahan.

Ariel terpaku. Dari balik bayangan, ia melihat Dhani masuk sambil memeluk seorang wanita berambut pirang pendek yang mengenakan dress hitam ketat—terlalu pendek, terlalu mencolok.

“Dhan…” suara Ariel tercekat di tenggorokannya, tapi belum sempat keluar, wanita itu sudah menarik wajah Dhani untuk berciuman.

Ciuman panjang. Dalam.

Tepat di depan pintu yang sama, di rumah yang selama ini penuh kenangan mereka.

Jantung Ariel serasa berhenti.

Dengan tangan gemetar, ia menekan saklar lampu.

Cklik!

Cahaya langsung memenuhi ruangan, menyinari balon, lilin, kue, dan… pengkhianatan.

Wanita itu langsung terlonjak kaget, buru-buru mendorong Dhani menjauh. “Astaga!”

Dhani mematung, matanya membelalak saat melihat Ariel berdiri di sana—wajahnya pucat, mata basah, dan lilin kecil di tangannya jatuh ke lantai.

“A…Ariel…” suara Dhani serak. “Aku—”

“Selamat ulang tahun,” potong Ariel dengan nada getir, suaranya nyaris bergetar. “Sesuai rencanaku, kan? Suatu kejutan malam yang tak akan kulupakan.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 183 Godaan Untuk Kembali

    Lampu-lampu jalanan Jakarta mulai berpijar saat Ariel melangkah gontai menyusuri trotoar menuju kompleks apartemennya. Kunjungan ke rumah Silvi tadi siang setidaknya memberi sedikit oksigen bagi jiwanya yang sesak. Bau bayi, tawa ringan tentang masa SMA, dan teh hangat yang disuguhkan Silvi sempat membuat Ariel lupa akan jerat Matthew. Namun, begitu kakinya menginjak lobi apartemen yang dingin dan steril, beban itu kembali menghimpit pundaknya.​Unit 24B terasa begitu sunyi. Ariel melemparkan jaketnya ke sembarang arah, lalu menatap laptop yang masih terbuka di meja kerja. Kursor di layar berkedip-kedip seolah mengejeknya—mengejek kebuntuan ide yang membuatnya hampir gila. "Persetan dengan prosa elegan," gumamnya lirih. Kepalanya kembali berdenyut, bukan karena kurang oksigen, melainkan karena rasa sepi yang tiba-tiba menyerang dengan ganas.​Dalam kondisi suntuk yang memuncak, bayangan dokter Nathan tiba-tiba melintas. Nathan adalah paradoks; pria yang menyelamatkannya, namun juga pr

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 182 Kawan Lama

    Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden apartemen Ariel terasa berbeda hari itu. Bukan lagi sebagai pengingat akan kegagalan, melainkan sebagai lonceng dimulainya babak baru. Di atas meja kerja yang biasanya berantakan, kini hanya ada laptop dan kamus tesaurus bahasa Inggris yang tebal. Jemari Ariel menari di atas keyboard, mencoba menerjemahkan rasa sakitnya menjadi prosa yang elegan dalam bahasa asing.​Namun, setelah lima jam berkutat dengan struktur kalimat lampau (past tense) dan mencari padanan kata yang tepat untuk menggambarkan "kerinduan yang menyayat," kepalanya mulai berdenyut. Ia butuh oksigen. Ia butuh melihat dunia luar yang tidak didominasi oleh layar monitor.​Dengan jaket tipis dan rambut yang diikat asal-asalan, Ariel melangkah keluar menuju minimarket di bawah kompleks apartemennya. Bau pembersih lantai dan udara dingin dari mesin pendingin menyambutnya. Saat ia sedang memilah-milah deretan kopi kaleng, matanya tertumpu pada seorang wanita yan

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 181 Pencerahan

    Tiga bulan berlalu seperti musim dingin yang tak berujung di dalam apartemen Ariel. Ruangan yang dulunya terasa hangat kini dipenuhi dengan tumpukan kertas naskah yang dicoret-coret, cangkir kopi yang mengering, dan cahaya redup dari layar laptop yang menyala hingga dini hari.Ariel menatap layar ponselnya. Sebuah email baru masuk. Tanpa membukanya pun, ia sudah tahu isinya.“Terima kasih telah mengirimkan naskah Anda kepada kami. Namun, setelah melalui pertimbangan dewan redaksi, kami merasa karya ini belum sesuai dengan visi penerbitan kami saat ini...”Kalimat formal itu terasa seperti sembilu. Ini adalah penolakan ke-27 dalam sembilan puluh hari. Matthew tidak main-main dengan ancamannya. Setiap kali Ariel mengirimkan naskah ke penerbit besar maupun kecil, pintu selalu tertutup rapat. Bahkan beberapa editor yang dulunya adalah teman baiknya tiba-tiba berhenti membalas pesannya. Kekuasaan Matthew telah menciptakan dinding kedap udara di sekeliling kariernya.Dengan langkah gontai d

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 180 Kebebasan

    Lantai teratas gedung perkantoran itu terasa lebih dingin dari biasanya saat Ariel melangkah masuk tanpa mengetuk. Matthew sedang berdiri membelakangi pintu, menatap panorama kota Jakarta dari dinding kaca raksasanya, menyesap wiski seolah ia baru saja memenangkan seluruh dunia."Kau kembali lebih cepat dari perkiraanku, Ariel," Matthew berbalik, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Bagaimana rasanya duduk di kursi barumu? Empuk, bukan?"Ariel tidak membalas senyuman itu. Ia melangkah mendekati meja mahoni besar milik Matthew dan meletakkan amplop biru tua yang tadi pagi diberikan kepadanya. Di atasnya, Ariel meletakkan kartu identitas karyawannya."Aku tidak menginginkannya, Matt. Aku tidak menginginkan jabatan ini, aku tidak menginginkan uang ini, dan aku tidak menginginkan... kita."Gelas di tangan Matthew berhenti bergerak. Matanya yang tajam menyipit, mencari celah kebohongan di wajah Ariel. "Apa yang kau katakan? 'Kita' adalah satu-satunya alasan kau berada di posisi ini.""It

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 179 Jalan Kebebasan

    Suasana kantor yang megah itu tiba-tiba terasa seperti penjara berlapis emas bagi Ariel. Kata-kata Matthew masih terngiang, beradu dengan pesan singkat dari Nathan yang baru saja ia hapus. Tanpa pikir panjang, Ariel menyambar tasnya, mengabaikan tumpukan naskah yang seharusnya ia kurasi, dan melangkah keluar melewati sekretaris barunya yang membungkuk hormat dengan wajah tegang.Ia tidak pulang ke apartemennya sendiri. Kakinya membawanya berhenti tepat di depan pintu unit bernomor 23B—pintu yang sangat ia kenali, tepat di sebelah unit miliknya.Ariel menarik napas panjang, lalu mengetuk. Satu kali, dua kali, tidak ada jawaban. Baru pada ketukan ketiga, terdengar suara kunci diputar. Pintu terbuka perlahan, menampakkan Nathan dengan kaos abu-abu lusuh dan rambut yang sedikit berantakan. Matanya yang tajam tampak lelah, namun seketika melembut saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya."Ariel?" suara Nathan serak. Ia tidak segera membukakan pintu lebar-lebar, seolah ragu apakah ini

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 178 Kesalahan?

    "Aku tidak perlu bertanya untuk memberikan yang terbaik bagi gadisku, Ariel," Matthew melangkah mendekat, mempersempit jarak di antara mereka hingga Ariel bisa mencium aroma kayu cendana dari tubuh pria itu. "Kemarin kau memilihku di depan Nathan. Itu adalah keputusan paling bijaksana yang pernah kau buat. Dan di duniaku, loyalitas selalu membuahkan hasil."Matthew mengulurkan sebuah amplop berwarna biru tua yang tergeletak di atas meja. "Buka."Dengan tangan gemetar, Ariel merobek amplop itu. Matanya membelalak membaca baris demi baris surat keputusan di dalamnya.SURAT KEPUTUSAN DIREKSIMenetapkan: Ariella Anata sebagai Senior Executive Editor & Head of Creative Content.Wewenang: Hak veto penuh atas seluruh naskah fiksi dan non-fiksi, anggaran mandiri sebesar 1 miliar rupiah per kuartal, dan laporan langsung kepada CEO."Matt, ini terlalu banyak... Aku cuma ingin menjadi penulis. Kalau seperti ini, orang-orang akan menganggap aku hanya—""Hanya apa? Simpanan CEO?" Matthew memotong

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status