Home / Romansa / Tolong Perlahan, Dokter Nate! / Bab 9 Titik-Titik Berbahaya

Share

Bab 9 Titik-Titik Berbahaya

Author: J Shara
last update Last Updated: 2025-11-28 19:19:56

Ariel menatap layar ponselnya yang kini sudah redup. Nama kontak “Sayang” masih tertinggal di layar, tapi tanpa tanda-tanda kehidupan di ujung sana.

“Kenapa sih, Dhani...?” gumamnya pelan sambil memijat pelipisnya.

Ia menekan tombol panggil lagi. Nada sambung berdering... satu, dua, tiga—

Dan terputus.

Ariel mengembuskan napas panjang, meletakkan ponsel itu di atas meja.

“Sudah tiga kali aku telepon, dan tetap ditolak. Ini cuma salah sambung, atau dia sengaja...?” katanya pada diri sendiri, setengah frustrasi.

Tangannya menelusuri layar, melihat pesan-pesan terakhir mereka. Semua masih sama: terakhir dibalas dua hari lalu.

“Sayang, besok aku ada shift malam, jangan tunggu aku ya.”

Itu pesan terakhir dari Dhani. Setelah itu... hening.

Ariel menunduk, memainkan sendok di cangkir kopinya yang mulai dingin.

“Besok ulang tahunnya, masa aku malah dicuekin begini?” ujarnya lirih.

Lalu matanya menatap kosong ke arah jendela apartemen yang temaram. “Apa besok aku langsung kasih dia kejutan aja ya? Ke apartemennya diam-diam... kasih kue, dan—”

Suara alarm dari ponselnya memotong lamunannya.

“Ah! Aku hampir lupa!” serunya spontan.

Ia buru-buru berdiri, mengambil buku catatan dan pulpen yang tergeletak di meja. “Jadwal ke apartemen dr. Nathan...” gumamnya.

Ariel merapikan rambut, menyampirkan shoulder bag-nya, lalu bergegas keluar dari apartemennya.

---

Begitu masuk ke dalam taksi online, ia menatap keluar jendela, melihat lampu kota yang berlari di balik kaca.

“Outline novelku juga belum kelar...” desahnya, memandangi buku catatan yang terbuka di pangkuannya.

Beberapa kalimat tergores setengah jadi di sana: “Pertemuan yang memaksa, tapi meninggalkan bekas yang terlalu dalam.”

Ia mengernyit. “Hm... kenapa aku malah ngerasa kalimat itu kayak nunjuk ke aku sendiri, ya?”

Ponselnya ia tengok lagi. Tidak ada notifikasi. Tidak ada pesan dari Dhani.

“Setidaknya kasih kabar, kan bisa... cuma ‘aku sibuk’, atau apa kek,” gumamnya, suaranya lirih tapi getir.

Supir di depan sempat melirik lewat kaca spion. “Mbaknya nggak apa-apa?”

Ariel tersenyum tipis. “Ah, iya, nggak apa-apa, Pak.”

“Pusing kerjaan, ya?”

“Sedikit,” jawabnya sambil tersenyum lemah.

Padahal, bukan hanya kerjaan. Hatinya juga ikut membuatnya pusing.

Taksi berhenti di depan gedung apartemen tinggi dengan dinding kaca berkilau.

“Sudah sampai, Mbak,” ucap sang supir.

Ariel mengangguk, menyerahkan uang, lalu keluar sambil menarik napas dalam.

“Ya sudah... lupakan dulu Dhani. Fokus ke pelajaran hari ini,” katanya, seolah menenangkan diri sendiri.

Ia menaiki lift menuju unit 23 B. Saat pintu terbuka, aroma wangi citrus yang khas langsung menyambutnya. Pintu apartemen dr. Nathan terbuka setengah.

Ariel sempat ragu, lalu mengetuk pelan.

“Dokter?” panggilnya.

Tidak lama kemudian, Nathan membuka lebar pintu apartemennya dan menadang Ariel dengan ekspresi yang datar. "Tumben kau datang lumayan tepat waktu."

---

Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara spidol yang menggores pelan di atas whiteboard.

Nathan berdiri tegak di depan papan, mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku. Garis wajahnya serius, tapi mata tajamnya sesekali melirik ke arah Ariel, yang duduk di sofa dengan buku catatan di pangkuannya.

Di papan, tergambar sketsa anatomi wanita dan pria — sederhana, rapi, dan jelas hasil tangan orang yang teliti.

Nathan meletakkan spidol di meja, bersandar ringan ke papan tulis. “Katakan padaku, Ariel. Dari semua yang kubahas hari ini…” — matanya menatap tajam, menantang — “apa kesimpulannya?”

Ariel membuka mulutnya, lalu buru-buru menunduk hendak melihat catatannya. Tapi Nathan mengangkat tangan menghentikannya.

“Tanpa melihat catatan,” ujarnya pelan namun penuh tekanan.

Ariel berhenti, menatapnya ragu. “Tapi aku—”

“Gunakan ingatanmu. Kau tidak sedang belajar teori mati. Pahami konsepnya,” Nathan memotong, suaranya menurun menjadi lebih lembut namun tetap berwibawa.

Ariel menarik napas dalam-dalam, menutup bukunya pelan. “Baik… kalau begitu, menurutku…”

Ia mencoba mengingat tiap kata yang dikatakan Nathan sebelumnya.

“Kesimpulannya, tubuh wanita—memiliki area tertentu yang sensitif lebih banyak dibanding pria karena jumlah reseptor saraf yang lebih banyak.”

Nathan tersenyum tipis. “Apa saja itu?”

Ariel menggigit bibir bawahnya, berusaha menyusun kembali ingatannya. Ia menarik napas pelan sebelum akhirnya berucap, menyebutkan bagian-bagian tubuh yang terlintas di benaknya—dari sentuhan tangan, jejak di bibir, leher, hingga tengkuk, lalu turun ke punggung dan perut, sampai pada wilayah yang paling pribadi.

“Wilayah pribadi?” tanya Nathan.

Ariel terdiam sejenak. Alisnya berkerut saat ia mencoba mengingat istilah medis yang pernah ia dengar. Dengan suara yang lebih hati-hati, ia menyebutkannya secara singkat, nama-nama anatomi yang hanya dikenal dalam konteks kesehatan, lalu mengakhiri ucapannya dengan sebuah jeda, seolah menyadari betapa sensitifnya topik yang baru saja ia sentuh.

Nathan tampak terkesan. "Wow, kau banyak mengerti ternyata. "Lalu untuk pria?"

"Sebenarnya sih sama.. hanya saja jumlah saraf wanita lebih banyak..."

Nathan mengangguk-angguk kecil, layaknya setuju dengan jawaban Ariel. "Bagus, kamu belajar lebih cepat dari perkiraanku."

Ariel terkekeh malu. "Terima kasih, Dok."

"Untuk teori sepertinya kamu tidak ada masalah," kata Nathan sambil menghapus tulisannya di white board. "Baiklah kita akan lanjut ke prakteknya langsung agar kau bisa tahu rasanya dan bisa mendeskripsikannya ke dalam tulisan."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 183 Godaan Untuk Kembali

    Lampu-lampu jalanan Jakarta mulai berpijar saat Ariel melangkah gontai menyusuri trotoar menuju kompleks apartemennya. Kunjungan ke rumah Silvi tadi siang setidaknya memberi sedikit oksigen bagi jiwanya yang sesak. Bau bayi, tawa ringan tentang masa SMA, dan teh hangat yang disuguhkan Silvi sempat membuat Ariel lupa akan jerat Matthew. Namun, begitu kakinya menginjak lobi apartemen yang dingin dan steril, beban itu kembali menghimpit pundaknya.​Unit 24B terasa begitu sunyi. Ariel melemparkan jaketnya ke sembarang arah, lalu menatap laptop yang masih terbuka di meja kerja. Kursor di layar berkedip-kedip seolah mengejeknya—mengejek kebuntuan ide yang membuatnya hampir gila. "Persetan dengan prosa elegan," gumamnya lirih. Kepalanya kembali berdenyut, bukan karena kurang oksigen, melainkan karena rasa sepi yang tiba-tiba menyerang dengan ganas.​Dalam kondisi suntuk yang memuncak, bayangan dokter Nathan tiba-tiba melintas. Nathan adalah paradoks; pria yang menyelamatkannya, namun juga pr

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 182 Kawan Lama

    Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden apartemen Ariel terasa berbeda hari itu. Bukan lagi sebagai pengingat akan kegagalan, melainkan sebagai lonceng dimulainya babak baru. Di atas meja kerja yang biasanya berantakan, kini hanya ada laptop dan kamus tesaurus bahasa Inggris yang tebal. Jemari Ariel menari di atas keyboard, mencoba menerjemahkan rasa sakitnya menjadi prosa yang elegan dalam bahasa asing.​Namun, setelah lima jam berkutat dengan struktur kalimat lampau (past tense) dan mencari padanan kata yang tepat untuk menggambarkan "kerinduan yang menyayat," kepalanya mulai berdenyut. Ia butuh oksigen. Ia butuh melihat dunia luar yang tidak didominasi oleh layar monitor.​Dengan jaket tipis dan rambut yang diikat asal-asalan, Ariel melangkah keluar menuju minimarket di bawah kompleks apartemennya. Bau pembersih lantai dan udara dingin dari mesin pendingin menyambutnya. Saat ia sedang memilah-milah deretan kopi kaleng, matanya tertumpu pada seorang wanita yan

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 181 Pencerahan

    Tiga bulan berlalu seperti musim dingin yang tak berujung di dalam apartemen Ariel. Ruangan yang dulunya terasa hangat kini dipenuhi dengan tumpukan kertas naskah yang dicoret-coret, cangkir kopi yang mengering, dan cahaya redup dari layar laptop yang menyala hingga dini hari.Ariel menatap layar ponselnya. Sebuah email baru masuk. Tanpa membukanya pun, ia sudah tahu isinya.“Terima kasih telah mengirimkan naskah Anda kepada kami. Namun, setelah melalui pertimbangan dewan redaksi, kami merasa karya ini belum sesuai dengan visi penerbitan kami saat ini...”Kalimat formal itu terasa seperti sembilu. Ini adalah penolakan ke-27 dalam sembilan puluh hari. Matthew tidak main-main dengan ancamannya. Setiap kali Ariel mengirimkan naskah ke penerbit besar maupun kecil, pintu selalu tertutup rapat. Bahkan beberapa editor yang dulunya adalah teman baiknya tiba-tiba berhenti membalas pesannya. Kekuasaan Matthew telah menciptakan dinding kedap udara di sekeliling kariernya.Dengan langkah gontai d

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 180 Kebebasan

    Lantai teratas gedung perkantoran itu terasa lebih dingin dari biasanya saat Ariel melangkah masuk tanpa mengetuk. Matthew sedang berdiri membelakangi pintu, menatap panorama kota Jakarta dari dinding kaca raksasanya, menyesap wiski seolah ia baru saja memenangkan seluruh dunia."Kau kembali lebih cepat dari perkiraanku, Ariel," Matthew berbalik, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Bagaimana rasanya duduk di kursi barumu? Empuk, bukan?"Ariel tidak membalas senyuman itu. Ia melangkah mendekati meja mahoni besar milik Matthew dan meletakkan amplop biru tua yang tadi pagi diberikan kepadanya. Di atasnya, Ariel meletakkan kartu identitas karyawannya."Aku tidak menginginkannya, Matt. Aku tidak menginginkan jabatan ini, aku tidak menginginkan uang ini, dan aku tidak menginginkan... kita."Gelas di tangan Matthew berhenti bergerak. Matanya yang tajam menyipit, mencari celah kebohongan di wajah Ariel. "Apa yang kau katakan? 'Kita' adalah satu-satunya alasan kau berada di posisi ini.""It

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 179 Jalan Kebebasan

    Suasana kantor yang megah itu tiba-tiba terasa seperti penjara berlapis emas bagi Ariel. Kata-kata Matthew masih terngiang, beradu dengan pesan singkat dari Nathan yang baru saja ia hapus. Tanpa pikir panjang, Ariel menyambar tasnya, mengabaikan tumpukan naskah yang seharusnya ia kurasi, dan melangkah keluar melewati sekretaris barunya yang membungkuk hormat dengan wajah tegang.Ia tidak pulang ke apartemennya sendiri. Kakinya membawanya berhenti tepat di depan pintu unit bernomor 23B—pintu yang sangat ia kenali, tepat di sebelah unit miliknya.Ariel menarik napas panjang, lalu mengetuk. Satu kali, dua kali, tidak ada jawaban. Baru pada ketukan ketiga, terdengar suara kunci diputar. Pintu terbuka perlahan, menampakkan Nathan dengan kaos abu-abu lusuh dan rambut yang sedikit berantakan. Matanya yang tajam tampak lelah, namun seketika melembut saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya."Ariel?" suara Nathan serak. Ia tidak segera membukakan pintu lebar-lebar, seolah ragu apakah ini

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 178 Kesalahan?

    "Aku tidak perlu bertanya untuk memberikan yang terbaik bagi gadisku, Ariel," Matthew melangkah mendekat, mempersempit jarak di antara mereka hingga Ariel bisa mencium aroma kayu cendana dari tubuh pria itu. "Kemarin kau memilihku di depan Nathan. Itu adalah keputusan paling bijaksana yang pernah kau buat. Dan di duniaku, loyalitas selalu membuahkan hasil."Matthew mengulurkan sebuah amplop berwarna biru tua yang tergeletak di atas meja. "Buka."Dengan tangan gemetar, Ariel merobek amplop itu. Matanya membelalak membaca baris demi baris surat keputusan di dalamnya.SURAT KEPUTUSAN DIREKSIMenetapkan: Ariella Anata sebagai Senior Executive Editor & Head of Creative Content.Wewenang: Hak veto penuh atas seluruh naskah fiksi dan non-fiksi, anggaran mandiri sebesar 1 miliar rupiah per kuartal, dan laporan langsung kepada CEO."Matt, ini terlalu banyak... Aku cuma ingin menjadi penulis. Kalau seperti ini, orang-orang akan menganggap aku hanya—""Hanya apa? Simpanan CEO?" Matthew memotong

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status