Beranda / Romansa / Tolong Perlahan, Dokter Nate! / Bab 11 Aku Siap, Dokter!

Share

Bab 11 Aku Siap, Dokter!

Penulis: J Shara
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-28 19:23:59

Langkah kaki Ariel terdengar pelan namun berat di sepanjang koridor apartemen itu. Setiap hentakan tumitnya seolah membawa beban yang tak terlihat, menggantung di dada, menyesakkan. Jemarinya bergetar ketika memasukkan kunci ke lubang pintu. Suara klik yang biasanya terdengar biasa saja, malam ini terasa seperti gema kesepian yang menusuk.

Begitu pintu terbuka, aroma mie instan dan suara tawa kecil dari drama Korea menyambutnya. Silvi sedang duduk santai di sofa, rambutnya diikat berantakan, kaos longgar yang kebesaran hampir menutupi celana pendeknya.

“Ariel?” serunya, menoleh dengan senyum lebar. “Baru pulang? Gimana acara ulang tahun Dhani? Seru, kan?”

Ariel tidak menjawab. Ia berdiri di ambang pintu, menatap sahabatnya yang kini menatap balik dengan wajah penuh tanda tanya. Matanya sayu, bibirnya bergetar menahan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kelelahan.

“Eh... Ariel?” Silvi menurunkan sumpitnya perlahan. “Kenapa? Mukamu pucat banget—”

Sebelum kalimat itu selesai, air mata Ariel tiba-tiba tumpah begitu saja. Tanpa suara, tanpa penjelasan. Pipinya basah, bahunya bergetar, dan napasnya terputus di tenggorokan. Ia buru-buru menunduk, menutupi wajahnya dengan tangan.

“Ariel…” Silvi refleks berdiri, hampir menjatuhkan mangkuknya ke lantai. “Hei, ada apa sih?”

Namun Ariel tidak menjawab. Ia berjalan cepat melewati Silvi, langkahnya gemetar tapi penuh tekad.

“Ariel!” panggil Silvi, tapi sahabatnya sudah membuka pintu kamar dan—brak!—menutupnya keras-keras dari dalam.

Terdengar suara kunci diputar.

Hening.

Silvi berdiri terpaku di depan pintu kamar itu, jantungnya ikut berdebar. Ia mengetuk pelan.

“Ariel... hei, aku di sini, oke? Mau ngomong, ayo ngomong. Tapi kalau mau sendiri dulu, juga nggak apa-apa.”

Tak ada jawaban. Hanya suara isakan yang sangat pelan, nyaris tertelan oleh dentuman soundtrack drama di televisi.

Di dalam kamar, Ariel duduk di lantai bersandar ke dinding, lututnya ditarik ke dada. Tangannya menggenggam ujung dressnya yang sudah kusut. Riasannya luntur, menetes bersama air mata.

Bayangan malam tadi masih berputar di kepalanya.

Dhani berciuman begitu panas dengan wanita lain.

Dan Ariel? Ia hanya berdiri di sana, dengan persiapan kejutan yang malah berbalik arah padanya..

“Kenapa dia berkhianat...?” bisiknya parau. “Kenapa?”

---

Seharian penuh Ariel tak keluar kamar. Tirai jendela tertutup rapat, membuat cahaya sore yang hangat pun tak mampu menembus dinding kesedihannya.

Suara tangisnya sudah serak; mungkin sudah terlalu lama ia berusaha menahan, lalu gagal. Di atas tempat tidur, tisu-tisu berserakan, wajahnya sembab, rambutnya kusut menempel di pipi.

Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, bayangan Dhani berciuman panas dengan wanita lain pun kembali muncul.

"Kenapa... bahkan untuk menjelaskan pun tidak?" bisiknya parau, memeluk bantal erat-erat.

Ponselnya diam. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan. Hanya keheningan yang menusuk dan menegaskan satu hal: Dhani benar-benar pergi.

Ariel memalingkan wajah, menatap nakas di samping tempat tidur. Di sana, sebuah novel masih tergeletak. Cindy Amor. Nama yang selalu membuat hatinya berdesir antara iri dan benci.

Ia meraih novel itu. Sampul mengilapnya seakan mengejek — judul besar di atasnya bertuliskan “Sentuhan Panas Kakak Iparku” dengan tulisan emas.

Novel itu baru saja dirilis dan menjadi viral di mana-mana. Karya Cindy, rival yang dulu satu penerbit dengannya.

“Dia semakin sukses...” gumam Ariel getir. “Sementara aku bahkan belum bisa bangkit dari satu kegagalan.”

Ia membuka halaman pertama. Ada tanda tangan Cindy di sana — tulisan angkuh, seolah mengukir kemenangan.

Ariel menutupnya lagi dengan kasar.

“Sudah cukup,” katanya tegas pada dirinya sendiri, menatap bayangan samar di cermin seberang.

Ia bangkit, berjalan pelan ke arah cermin itu. Wajahnya kacau, mata bengkak, namun di balik semua itu ada sesuatu yang mulai muncul kembali — ambisi.

Ia menyentuh permukaan cermin dengan jemari gemetar.

“Setidaknya.. aku nggak boleh gagal untuk yang satu itu.”

Ia menghapus air matanya dengan punggung tangan. Novel Cindy ia letakkan kembali di atas nakas, kali ini dengan satu senyum miring di bibirnya.

“Setidaknya, aku tidak boleh gagal untuk yang satu itu.”

---

Koridor apartemen terasa sunyi malam itu. Cahaya lampu neon menyorot wajahnya yang dingin dan tegas.

Ketika sampai di depan pintu apartemen dr. Nathan, Ariel menarik napas panjang. Tangannya sempat ragu sejenak di atas tombol bel, tapi akhirnya ia menekannya.

Ding... dong.

Suara langkah kaki terdengar dari dalam. Tak lama kemudian, pintu terbuka.

Nathan muncul dengan pakaian biasa — kemeja hitam dan celana panjang abu-abu. Wajahnya datar seperti biasa, tapi matanya menyapu cepat sosok Ariel dari atas ke bawah.

“Kau datang malam ini...” katanya pelan, menyandarkan tubuh di kusen pintu dan menatap dengan tatapan menantang. “Memangnya kau sudah benar-benar siap, heh?”

Ariel menatapnya lurus. Tidak ada air mata, tidak ada senyum palsu.

“Ya. Aku siap, Dokter.” suaranya mantap.

Nathan mengangkat alis, sedikit terkejut. Biasanya gadis itu gugup, dan ragu. Tapi malam ini berbeda.

Nathan menatapnya lama, seolah menimbang kata-kata itu.

Kemudian ia menghela napas, dan sedikit tersenyum tipis.

“Baiklah,” katanya akhirnya. “Tapi ingat, Ariel...”

Ia menatap gadis itu tajam, suaranya merendah namun tegas.

“Jika kau benar-benar tidak siap nantinya — aku tidak akan lagi mengajarimu apa pun. Ingat itu.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 184 Riset dan Karya

    Ariel merasakan oksigen di paru-parunya seolah menipis. Tawaran Nathan bukan sekadar saran profesional; itu adalah godaan yang dibungkus dengan dalih riset literasi. Mata Ariel bergerak gelisah, menatap kancing kemeja Nathan yang terbuka, lalu kembali ke sepasang mata tajam yang seolah bisa membaca setiap gejolak hasrat dan ketakutannya.​"Riset?" bisik Ariel, suaranya serak. "Dokter, kita bicara tentang naskah, bukan tentang... hal lain. Lagipula, bukankah ini berbahaya bagi kita berdua?"​Nathan terkekeh rendah, suara tawa yang maskulin dan penuh otoritas. Ia melangkah satu tindak lagi, hingga lututnya nyaris bersentuhan dengan lutut Ariel yang sedang duduk di sofa. Ia membungkuk, menumpukan kedua tangannya di sandaran sofa, mengurung tubuh mungil Ariel di antara lengannya.​"Bahaya adalah nama tengahmu, Ariel. Bukankah kau menjadi penulis terkenal karena keberanianmu menabrak norma?" Nathan mendekatkan wajahnya, aroma sandalwood dan sisa kopi hitam dari napasnya menyapa indra penci

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 183 Godaan Untuk Kembali

    Lampu-lampu jalanan Jakarta mulai berpijar saat Ariel melangkah gontai menyusuri trotoar menuju kompleks apartemennya. Kunjungan ke rumah Silvi tadi siang setidaknya memberi sedikit oksigen bagi jiwanya yang sesak. Bau bayi, tawa ringan tentang masa SMA, dan teh hangat yang disuguhkan Silvi sempat membuat Ariel lupa akan jerat Matthew. Namun, begitu kakinya menginjak lobi apartemen yang dingin dan steril, beban itu kembali menghimpit pundaknya.​Unit 24B terasa begitu sunyi. Ariel melemparkan jaketnya ke sembarang arah, lalu menatap laptop yang masih terbuka di meja kerja. Kursor di layar berkedip-kedip seolah mengejeknya—mengejek kebuntuan ide yang membuatnya hampir gila. "Persetan dengan prosa elegan," gumamnya lirih. Kepalanya kembali berdenyut, bukan karena kurang oksigen, melainkan karena rasa sepi yang tiba-tiba menyerang dengan ganas.​Dalam kondisi suntuk yang memuncak, bayangan dokter Nathan tiba-tiba melintas. Nathan adalah paradoks; pria yang menyelamatkannya, namun juga pr

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 182 Kawan Lama

    Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden apartemen Ariel terasa berbeda hari itu. Bukan lagi sebagai pengingat akan kegagalan, melainkan sebagai lonceng dimulainya babak baru. Di atas meja kerja yang biasanya berantakan, kini hanya ada laptop dan kamus tesaurus bahasa Inggris yang tebal. Jemari Ariel menari di atas keyboard, mencoba menerjemahkan rasa sakitnya menjadi prosa yang elegan dalam bahasa asing.​Namun, setelah lima jam berkutat dengan struktur kalimat lampau (past tense) dan mencari padanan kata yang tepat untuk menggambarkan "kerinduan yang menyayat," kepalanya mulai berdenyut. Ia butuh oksigen. Ia butuh melihat dunia luar yang tidak didominasi oleh layar monitor.​Dengan jaket tipis dan rambut yang diikat asal-asalan, Ariel melangkah keluar menuju minimarket di bawah kompleks apartemennya. Bau pembersih lantai dan udara dingin dari mesin pendingin menyambutnya. Saat ia sedang memilah-milah deretan kopi kaleng, matanya tertumpu pada seorang wanita yan

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 181 Pencerahan

    Tiga bulan berlalu seperti musim dingin yang tak berujung di dalam apartemen Ariel. Ruangan yang dulunya terasa hangat kini dipenuhi dengan tumpukan kertas naskah yang dicoret-coret, cangkir kopi yang mengering, dan cahaya redup dari layar laptop yang menyala hingga dini hari.Ariel menatap layar ponselnya. Sebuah email baru masuk. Tanpa membukanya pun, ia sudah tahu isinya.“Terima kasih telah mengirimkan naskah Anda kepada kami. Namun, setelah melalui pertimbangan dewan redaksi, kami merasa karya ini belum sesuai dengan visi penerbitan kami saat ini...”Kalimat formal itu terasa seperti sembilu. Ini adalah penolakan ke-27 dalam sembilan puluh hari. Matthew tidak main-main dengan ancamannya. Setiap kali Ariel mengirimkan naskah ke penerbit besar maupun kecil, pintu selalu tertutup rapat. Bahkan beberapa editor yang dulunya adalah teman baiknya tiba-tiba berhenti membalas pesannya. Kekuasaan Matthew telah menciptakan dinding kedap udara di sekeliling kariernya.Dengan langkah gontai d

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 180 Kebebasan

    Lantai teratas gedung perkantoran itu terasa lebih dingin dari biasanya saat Ariel melangkah masuk tanpa mengetuk. Matthew sedang berdiri membelakangi pintu, menatap panorama kota Jakarta dari dinding kaca raksasanya, menyesap wiski seolah ia baru saja memenangkan seluruh dunia."Kau kembali lebih cepat dari perkiraanku, Ariel," Matthew berbalik, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Bagaimana rasanya duduk di kursi barumu? Empuk, bukan?"Ariel tidak membalas senyuman itu. Ia melangkah mendekati meja mahoni besar milik Matthew dan meletakkan amplop biru tua yang tadi pagi diberikan kepadanya. Di atasnya, Ariel meletakkan kartu identitas karyawannya."Aku tidak menginginkannya, Matt. Aku tidak menginginkan jabatan ini, aku tidak menginginkan uang ini, dan aku tidak menginginkan... kita."Gelas di tangan Matthew berhenti bergerak. Matanya yang tajam menyipit, mencari celah kebohongan di wajah Ariel. "Apa yang kau katakan? 'Kita' adalah satu-satunya alasan kau berada di posisi ini.""It

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 179 Jalan Kebebasan

    Suasana kantor yang megah itu tiba-tiba terasa seperti penjara berlapis emas bagi Ariel. Kata-kata Matthew masih terngiang, beradu dengan pesan singkat dari Nathan yang baru saja ia hapus. Tanpa pikir panjang, Ariel menyambar tasnya, mengabaikan tumpukan naskah yang seharusnya ia kurasi, dan melangkah keluar melewati sekretaris barunya yang membungkuk hormat dengan wajah tegang.Ia tidak pulang ke apartemennya sendiri. Kakinya membawanya berhenti tepat di depan pintu unit bernomor 23B—pintu yang sangat ia kenali, tepat di sebelah unit miliknya.Ariel menarik napas panjang, lalu mengetuk. Satu kali, dua kali, tidak ada jawaban. Baru pada ketukan ketiga, terdengar suara kunci diputar. Pintu terbuka perlahan, menampakkan Nathan dengan kaos abu-abu lusuh dan rambut yang sedikit berantakan. Matanya yang tajam tampak lelah, namun seketika melembut saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya."Ariel?" suara Nathan serak. Ia tidak segera membukakan pintu lebar-lebar, seolah ragu apakah ini

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status