Home / Romansa / Tolong Perlahan, Dokter Nate! / Bab 184 Riset dan Karya

Share

Bab 184 Riset dan Karya

Author: J Shara
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-04 22:00:18

Ariel merasakan oksigen di paru-parunya seolah menipis. Tawaran Nathan bukan sekadar saran profesional; itu adalah godaan yang dibungkus dengan dalih riset literasi. Mata Ariel bergerak gelisah, menatap kancing kemeja Nathan yang terbuka, lalu kembali ke sepasang mata tajam yang seolah bisa membaca setiap gejolak hasrat dan ketakutannya.

​"Riset?" bisik Ariel, suaranya serak. "Dokter, kita bicara tentang naskah, bukan tentang... hal lain. Lagipula, bukankah ini berbahaya bagi kita berdua?"

​Nat
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Nia Khair
dudududuu rumit banget hubungan mereka....
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 193 Lamaran - TAMAT

    Aula Central Park malam itu bermandikan cahaya lampu kristal yang megah, namun bagi Nathan, atmosfer di sana terasa menyesakkan. Ribuan pasang mata tertuju pada panggung utama, tempat sebuah baliho besar terpampang dengan judul mencolok: 'Rahasia Empat Tahun' oleh Ariel Anata.Nathan berdiri di sudut paling gelap, bersandar pada pilar beton yang dingin. Ia sengaja mengenakan turtleneck hitam dan jas yang senada, berharap kerumunan orang tidak mengenalinya sebagai dokter bedah yang sempat viral karena edukasinya di podcast-podcast. Matanya tidak beralih sedikit pun dari sosok wanita yang duduk di kursi beludru di atas panggung.Ariel tampak luar biasa cantik, meski gurat kelelahan tidak bisa sepenuhnya disembunyikan oleh riasan tipisnya. Ia mengenakan gaun loose-fit berwarna krem yang jatuh dengan lembut, menyamarkan perutnya yang kini sudah sedikit membuncit. Nathan merasakan dadanya berdenyut perih. Itu anaknya. Nyawa yang selama sebulan ini ia tangisi dalam diam, kini berada hanya b

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 192 Jejak yang Hilang dan Secercah Harapan

    ​Langkah kaki Nathan menggema keras di lorong apartemen yang sunyi. Napasnya memburu, paru-parunya terasa panas, namun ia tidak peduli. Pikirannya hanya tertuju pada satu nama: Ariel. Setelah konfrontasi hebat dengan Kara di rumah sakit, satu-satunya hal yang ia inginkan adalah merengkuh Ariel, meminta maaf, dan berjanji bahwa ia akan bertanggung jawab sepenuhnya atas nyawa kecil yang kini tumbuh di rahim gadis itu.​Ia sampai di depan pintu nomor 402. Jantungnya berdentum kencang saat ia menekan bel berkali-kali.​Ting-nong! Ting-nong!​"Ariel! Ini aku, Nathan! Buka pintunya, tolong!" teriaknya, tak peduli jika tetangga merasa terganggu.​Tidak ada jawaban. Sunyi.​Nathan mencoba memutar gagang pintu, dan alangkah terkejutnya ia saat mendapati pintu itu tidak terkunci. Dengan perasaan waswas, ia melangkah masuk. Namun, pemandangan di dalamnya membuat dunianya seakan runtuh untuk kedua kalinya hari itu.​Apartemen itu kosong.​Tidak ada lagi aroma kayu manis yang biasa tercium dari li

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 191 Badai di Lorong Rumah Sakit

    ​Ketegangan di koridor rumah sakit itu memuncak dalam hitungan detik. Kara, dengan kecepatan yang tidak terduga, menyambar amplop putih dari tangan Ariel yang gemetar. Sentakan itu begitu keras hingga ujung kertasnya sempat menyayat telapak tangan Ariel, namun rasa perih itu kalah oleh rasa takut yang menghantam dadanya.​"Hai! Apa yang kau lakukan? Kembalikan!" sergah Ariel, suaranya naik satu oktav. Ia berusaha meraih kembali miliknya, namun Kara melangkah mundur, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan.​Kara tidak memedulikan protes itu. Dengan kasar, ia merobek segel amplop dan mengeluarkan selembar kertas hasil laboratorium di dalamnya. Matanya menyisir baris demi baris kata medis yang tertera di sana. Begitu sampai pada kesimpulan akhir, napas Kara tertahan.​"Positif hamil?" Suara Kara bergetar, bukan karena sedih, melainkan karena ledakan emosi yang nyaris tak terkendali. Ia menatap Ariel dengan pandangan menghina. "Kamu hamil anak siapa, Ariel? Siapa laki-laki malang yan

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 190 Benang yang Kusut

    ​Lampu meja kerja Ariel berpendar kekuningan, kontras dengan kegelapan apartemennya yang hanya disinari lampu jalan dari balik jendela. Jemarinya menari di atas papan ketik, mencoba merangkai kembali kata-kata dalam draf novel lamanya yang sempat terbengkalai. Menulis selalu menjadi pelarian baginya—sebuah dunia di mana ia bisa mengatur takdir setiap karakter tanpa harus merasa sakit hati.​Namun, fokusnya pecah.​Tiba-tiba, sebuah rasa tidak nyaman naik dari perut menuju pangkal kerongkongannya. Rasa asam yang tajam membuatnya tersedak. Ariel menutup mulutnya rapat-rapat, mendorong kursi kerjanya hingga berderit keras, dan berlari menuju kamar mandi.​“Hoekk!”​Ia mencengkeram pinggiran wastafel porselen yang dingin. Tubuhnya gemetar saat ia memuntahkan cairan bening. Napasnya tersengal, dadanya terasa sesak. Setelah beberapa menit yang menyiksa, ia membasuh wajahnya dengan air dingin, menatap pantulan dirinya di cermin yang kini tampak pucat pasi.​“Apa maagku kambuh ya?” gumamnya p

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 189 Empat Tahun Lamanya

    Keheningan di ruang makan itu mendadak terasa begitu tebal.Dr. Kara menatap Ariel dengan waspada, matanya tajam seperti sedang mengukur sesuatu yang tidak terlihat. Sementara itu Ariel hanya membalas tatapan itu dengan senyum lembut, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.Lalu tiba-tiba—Ariel terkekeh kecil.“Aduh… kenapa jadi serius begini?” katanya ringan sambil melambaikan tangan. “Aku kan cuma bercanda, Dokter. Kita makan dulu saja, ya.”Nada suaranya santai, hampir seperti anak kecil yang baru saja melempar gurauan.Nathan menatap Ariel lama, mencoba membaca ekspresinya. Ia tidak yakin apakah ucapan tadi benar-benar hanya candaan.Dr. Kara memaksakan senyum tipis.“Oh… tentu,” katanya.Namun suasana sudah terlanjur berubah.Dentang sendok dan garpu kembali terdengar, tapi kini terasa canggung. Tidak ada lagi percakapan ringan. Nathan hanya makan sedikit, lebih sering melirik Ariel dari sudut matanya.Sementara Kara...Kara sama sekali tidak berselera makan lagi.Ia hanya mengad

  • Tolong Perlahan, Dokter Nate!   Bab 188 Bagaimana Jika

    Aroma sisa hujan semalam masih tertinggal di udara ketika Ariel menekan tombol send di laptopnya. Jantungnya bertalu-talu. Sebuah subjek email singkat: Naskah Final - Teach Me How, Doctor.Ia menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit kamar dengan senyum yang tak bisa dibendung. Akhirnya. Setelah semua drama dengan Matthew, setelah air mata dan penolakan dari London, naskah yang sebenarnya telah ia rintis jauh sebelum badai itu datang kini rampung. Ini bukan sekadar buku; ini adalah katarsis. Sebuah cerita tentang seorang wanita yang belajar menemukan suaranya di bawah bimbingan seorang pria yang dingin namun menghanyutkan—sebuah cerminan yang terlalu nyata dari apa yang ia alami bersama Nathan."Sudah selesai, Pak George," bisik Ariel pada ruangan yang sepi. Ia tidak tahu apakah Matthew akan mengizinkan naskah ini terbit, atau apakah Pak George punya cukup keberanian untuk meloloskannya. Tapi baginya, keberhasilan menyelesaikan kalimat terakhir adalah kemenangan mutlak.Ar

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status