LOGIN“Ariel.. kau tahu, kemarin Cindy launching lagi buku terbarunya.”
Ariel menahan sendok sereal di udara. “Cindy?” alisnya terangkat. “Launching buku baru lagi? Bukannya bulan lalu dia baru launching? Kok—kok sudah launching lagi?”
Silvi memasang wajah takjub sembari mengusap cover buku yang ia pegang seperti mengelus kucing. “Ya, dan kau tahu, Riel… penjualannya langsung membludak dan—”
“—dan kamu udah beli,” sela Ariel setengah manyun.
Silvi tertawa kecil sambil memutar bola mata. “Aku membelinya dan memang ceritanya sangat bagus dan bikin penasaran tiap babnya. Lihat deh.” Ia mengayun-ayunkan buku itu seperti piala.
Ariel memerhatikan judul di sampul dengan raut cemberut. Dadanya menghangat oleh sesuatu yang bukan kopi. “Cindy… penulis seangkatanku… editor George juga… kok bisa secepat itu?” gumamnya, lebih kepada diri sendiri.
Silvi menyandarkan punggung ke sandaran ranjang. “Kayak gimana sih ceritanya? Penasaran nggak? Eh.. siapa tau kalau kau baca bisa membantu jadi referensimu, Riel.”
Ariel berpura-pura menguap, padahal tengkuknya menegang. “Apa sih, cerita ya cerita."
"Tapi, bagus loh. Pantas hari pertama launching langsung laku."
“Ga ah!” potong Ariel cepat. “Aku tuh… ya… lagi fokus sama project-ku sendiri.” Suaranya terdengar datar, tapi jarinya meremas sendok sampai berderit menyentuh mangkuk.
Silvi mengedikkan bahu, lalu memeriksa jam di ponsel. “Ah, aku harus pergi kerja!” Ia menepuk dahi sendiri. “Aku sudah masak tadi, jadi… kamu makan aja nanti ya, Riel. Jangan lupa panci kecil yang di kompor harus dipanasin lagi.”
“Ya, ya.” Ariel mengangkat tangan, berpura-pura santai.
Begitu pintu apartemen tertutup dan bunyi langkah Silvi menghilang di lorong, Ariel diam lima detik. Lalu—plop—ia meloncat ke ranjang, meraih buku di ujung kasur, dan menatap sampulnya seperti menatap rival abadi.
“Sentuhan Panas Kakak Iparku.” Ariel memiringkan kepala. “Astaga… judulnya… memang bikin penasaran sih.”
Ia menelan ludah. Mata coklatnya menelusuri nama penulis di bawah judul: Cindy Amor. Ia menghela napas. “Cindy, kamu bener-bener….”
Ariel membuka halaman prolog. Kertas menggesek jari, harum tinta baru melayang tipis. Satu kalimat. Dua kalimat. Tiga paragraf. Hook pertamanya mencengkeram seperti magnet. Ariel mendengus, tapi halaman berikutnya sudah keburu berpindah.
“Dia naruh konflik keluarga di paragraf dua…” gumamnya. “Terus… cliffhanger pendek di akhir prolog. Hmm.”
Halaman berganti lagi. Jam dinding mengetuk-ngetuk pelan, tapi Ariel tak peduli. Di kepalanya, kata-kata menyusun arus deras. Selesai Bab 1. Ia tak sadar sudah duduk bersila. Selesai Bab 2. Ia menunduk, gugup. Selesai Bab 3. Ia menggigit bibir bawah, insecure merayap seperti napas dingin di belakang leher. Selesai Bab 4. Ia menutup buku itu pelan, menatap langit-langit.
“Tulisan Cindy memang bagus…” ucapnya muram. “Terlalu mulus… ritmenya rapi. Kenapa aku malah….” Ia mengacak rambut sendiri.
Tiba-tiba alarm ponselnya meraung riuh. “Astaga!” Ariel melompat. “Waktunya siap-siap ke apartemen dr. Nathan!” serunya sendiri. Ia menaruh buku itu terbuka di ranjang—lalu menutupnya lagi, lalu membuka, lalu menutup. “Jangan sentuh. Nanti kepikiran lagi,” ia menegur dirinya sendiri.
Ariel menyambar handuk, berlari ke kamar mandi.
---
Ding dong.
Suara bel apartemen itu memecah kesunyian malam.
Ariel menarik napas panjang, menepuk-nepuk gaunnya, lalu berdiri tegak dengan jantung yang memukul-mukul seperti genderang perang.
Pintu terbuka perlahan.
Tampak dr. Nathan, mengenakan kemeja putih polos yang lengannya tergulung rapi, dipadu celana panjang hitam. Tanpa jas dokter, tanpa clipboard, hanya Nathan dalam wujud paling santai—namun tetap memancarkan wibawa yang tak bisa disembunyikan.
Ia menatap Ariel beberapa detik, lalu melirik jam tangannya.
“Kau telat, Nona... delapan menit.”
Nada suaranya tenang, tapi tajam seperti garis waktu yang tak bisa diganggu.
Ariel berusaha menampilkan senyum manis—senyum yang sering menyelamatkannya dalam banyak situasi, termasuk ketika dosen pembimbing dulu hampir mencoret namanya dari daftar sidang.
“Maaf, Dok... aku tadi ada urusan mendadak.”
Nathan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya datar, lama, seperti sedang menimbang apakah keterlambatan delapan menit layak mendapat vonis atau pengampunan.
Akhirnya, ia menarik napas ringan.
“Oke. Masuklah.”
Pintu dibuka lebih lebar, dan Ariel pun melangkah masuk. Aroma kopi bercampur wangi aftershave Nathan langsung menyergap hidungnya.
Apartemen itu… luar biasa.
Modern, rapi, dan setiap sudutnya tampak seolah difoto untuk majalah interior.
Dinding krem lembut, rak buku besar dengan deretan literatur medis dan novel klasik, serta lampu gantung bergaya minimalis yang memantulkan cahaya hangat.
“Silakan duduk,” ujar Nathan sambil berjalan ke arah dapur kecil.
Ariel duduk di sofa abu-abu, tubuhnya masih tegang karena tatapan dingin dokter itu masih melekat di benaknya.
“Tunggu sebentar, aku akan mengambil sesuatu,” katanya sebelum menghilang ke dalam kamarnya.
Ariel mengangguk patuh, menautkan jari-jari di pangkuannya. Begitu Nathan tak terlihat, matanya mulai berkelana ke setiap sudut ruangan.
“Benar-benar… mewah banget,” gumamnya pelan.
Ia membayangkan apartemennya sendiri—tipe studio kecil dengan dapur sempit dan meja lipat. Bahkan suara tetangga memasak mie instan pun masih bisa terdengar jelas di malam hari.
“Dunia ini memang nggak adil,” ujarnya pelan sambil memerhatikan lukisan hitam-putih di dinding yang tampak seperti potret abstrak anatomi manusia.
Tak lama kemudian, suara langkah Nathan terdengar lagi.
Ariel menoleh—dan matanya langsung membulat.
Nathan muncul sambil membawa sebuah kardus kecil, kira-kira seukuran kotak sepatu. Ia meletakkannya di meja di depan Ariel, lalu duduk berhadapan dengannya.
“Apa itu, Dok?” tanya Ariel dengan nada penasaran, matanya memandangi isi kardus yang masih tertutup sebagian.
Nathan membuka tutupnya perlahan.
Isinya… sachet-sachet kecil berwarna-warni, seperti permen dengan berbagai desain mencolok—merah, biru, hitam, bahkan emas metalik.
Ariel mengerutkan dahi.
“Itu permen kah?” Ia mengulurkan tangan ragu-ragu. “Kenapa kau membawa permen sebanyak itu?”
Nathan menatapnya sebentar, lalu menjawab dengan nada datar namun tegas, “Itu semua pengaman.”
“A-apa? Pe-pengaman?”
Suara Ariel naik satu oktaf. Ia langsung menarik tangannya yang nyaris menyentuh sachet di depan matanya.
Nathan menautkan kedua tangannya di depan dada, tenang seperti dokter yang sudah siap dengan reaksi pasiennya.
“Ya. Pengaman. Berbagai jenis dan tekstur.”
Ariel hampir tersedak udara. “Kenapa… kau… membawanya ke hadapanku?”
“Karena,” Nathan mencondongkan tubuh sedikit ke depan, suaranya menurun menjadi tenang tapi jelas, “kau sedang menulis novel yang melibatkan adegan dewasa, bukan?”
Aula Central Park malam itu bermandikan cahaya lampu kristal yang megah, namun bagi Nathan, atmosfer di sana terasa menyesakkan. Ribuan pasang mata tertuju pada panggung utama, tempat sebuah baliho besar terpampang dengan judul mencolok: 'Rahasia Empat Tahun' oleh Ariel Anata.Nathan berdiri di sudut paling gelap, bersandar pada pilar beton yang dingin. Ia sengaja mengenakan turtleneck hitam dan jas yang senada, berharap kerumunan orang tidak mengenalinya sebagai dokter bedah yang sempat viral karena edukasinya di podcast-podcast. Matanya tidak beralih sedikit pun dari sosok wanita yang duduk di kursi beludru di atas panggung.Ariel tampak luar biasa cantik, meski gurat kelelahan tidak bisa sepenuhnya disembunyikan oleh riasan tipisnya. Ia mengenakan gaun loose-fit berwarna krem yang jatuh dengan lembut, menyamarkan perutnya yang kini sudah sedikit membuncit. Nathan merasakan dadanya berdenyut perih. Itu anaknya. Nyawa yang selama sebulan ini ia tangisi dalam diam, kini berada hanya b
Langkah kaki Nathan menggema keras di lorong apartemen yang sunyi. Napasnya memburu, paru-parunya terasa panas, namun ia tidak peduli. Pikirannya hanya tertuju pada satu nama: Ariel. Setelah konfrontasi hebat dengan Kara di rumah sakit, satu-satunya hal yang ia inginkan adalah merengkuh Ariel, meminta maaf, dan berjanji bahwa ia akan bertanggung jawab sepenuhnya atas nyawa kecil yang kini tumbuh di rahim gadis itu.Ia sampai di depan pintu nomor 402. Jantungnya berdentum kencang saat ia menekan bel berkali-kali.Ting-nong! Ting-nong!"Ariel! Ini aku, Nathan! Buka pintunya, tolong!" teriaknya, tak peduli jika tetangga merasa terganggu.Tidak ada jawaban. Sunyi.Nathan mencoba memutar gagang pintu, dan alangkah terkejutnya ia saat mendapati pintu itu tidak terkunci. Dengan perasaan waswas, ia melangkah masuk. Namun, pemandangan di dalamnya membuat dunianya seakan runtuh untuk kedua kalinya hari itu.Apartemen itu kosong.Tidak ada lagi aroma kayu manis yang biasa tercium dari li
Ketegangan di koridor rumah sakit itu memuncak dalam hitungan detik. Kara, dengan kecepatan yang tidak terduga, menyambar amplop putih dari tangan Ariel yang gemetar. Sentakan itu begitu keras hingga ujung kertasnya sempat menyayat telapak tangan Ariel, namun rasa perih itu kalah oleh rasa takut yang menghantam dadanya."Hai! Apa yang kau lakukan? Kembalikan!" sergah Ariel, suaranya naik satu oktav. Ia berusaha meraih kembali miliknya, namun Kara melangkah mundur, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan.Kara tidak memedulikan protes itu. Dengan kasar, ia merobek segel amplop dan mengeluarkan selembar kertas hasil laboratorium di dalamnya. Matanya menyisir baris demi baris kata medis yang tertera di sana. Begitu sampai pada kesimpulan akhir, napas Kara tertahan."Positif hamil?" Suara Kara bergetar, bukan karena sedih, melainkan karena ledakan emosi yang nyaris tak terkendali. Ia menatap Ariel dengan pandangan menghina. "Kamu hamil anak siapa, Ariel? Siapa laki-laki malang yan
Lampu meja kerja Ariel berpendar kekuningan, kontras dengan kegelapan apartemennya yang hanya disinari lampu jalan dari balik jendela. Jemarinya menari di atas papan ketik, mencoba merangkai kembali kata-kata dalam draf novel lamanya yang sempat terbengkalai. Menulis selalu menjadi pelarian baginya—sebuah dunia di mana ia bisa mengatur takdir setiap karakter tanpa harus merasa sakit hati.Namun, fokusnya pecah.Tiba-tiba, sebuah rasa tidak nyaman naik dari perut menuju pangkal kerongkongannya. Rasa asam yang tajam membuatnya tersedak. Ariel menutup mulutnya rapat-rapat, mendorong kursi kerjanya hingga berderit keras, dan berlari menuju kamar mandi.“Hoekk!”Ia mencengkeram pinggiran wastafel porselen yang dingin. Tubuhnya gemetar saat ia memuntahkan cairan bening. Napasnya tersengal, dadanya terasa sesak. Setelah beberapa menit yang menyiksa, ia membasuh wajahnya dengan air dingin, menatap pantulan dirinya di cermin yang kini tampak pucat pasi.“Apa maagku kambuh ya?” gumamnya p
Keheningan di ruang makan itu mendadak terasa begitu tebal.Dr. Kara menatap Ariel dengan waspada, matanya tajam seperti sedang mengukur sesuatu yang tidak terlihat. Sementara itu Ariel hanya membalas tatapan itu dengan senyum lembut, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.Lalu tiba-tiba—Ariel terkekeh kecil.“Aduh… kenapa jadi serius begini?” katanya ringan sambil melambaikan tangan. “Aku kan cuma bercanda, Dokter. Kita makan dulu saja, ya.”Nada suaranya santai, hampir seperti anak kecil yang baru saja melempar gurauan.Nathan menatap Ariel lama, mencoba membaca ekspresinya. Ia tidak yakin apakah ucapan tadi benar-benar hanya candaan.Dr. Kara memaksakan senyum tipis.“Oh… tentu,” katanya.Namun suasana sudah terlanjur berubah.Dentang sendok dan garpu kembali terdengar, tapi kini terasa canggung. Tidak ada lagi percakapan ringan. Nathan hanya makan sedikit, lebih sering melirik Ariel dari sudut matanya.Sementara Kara...Kara sama sekali tidak berselera makan lagi.Ia hanya mengad
Aroma sisa hujan semalam masih tertinggal di udara ketika Ariel menekan tombol send di laptopnya. Jantungnya bertalu-talu. Sebuah subjek email singkat: Naskah Final - Teach Me How, Doctor.Ia menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit kamar dengan senyum yang tak bisa dibendung. Akhirnya. Setelah semua drama dengan Matthew, setelah air mata dan penolakan dari London, naskah yang sebenarnya telah ia rintis jauh sebelum badai itu datang kini rampung. Ini bukan sekadar buku; ini adalah katarsis. Sebuah cerita tentang seorang wanita yang belajar menemukan suaranya di bawah bimbingan seorang pria yang dingin namun menghanyutkan—sebuah cerminan yang terlalu nyata dari apa yang ia alami bersama Nathan."Sudah selesai, Pak George," bisik Ariel pada ruangan yang sepi. Ia tidak tahu apakah Matthew akan mengizinkan naskah ini terbit, atau apakah Pak George punya cukup keberanian untuk meloloskannya. Tapi baginya, keberhasilan menyelesaikan kalimat terakhir adalah kemenangan mutlak.Ar







