LOGINNando tidak langsung menanggapi. Ia menatap Bagas lama, cukup lama untuk membedakan apakah pernyataan itu sekadar rasa bersalah atau sebuah obsesi yang dibungkus penebusan.“Pak,” akhirnya ia membuka suara, pelan tapi jernih, “yang Bapak inginkan itu terdengar seperti permintaan maaf, tapi juga seperti hukuman.”Bagas membuka mata, menoleh sedikit. “Bukan itu maksud saya.”“Tapi itulah yang terdengar,” respon Nando dengan hati-hati, “seolah Bapak ingin Nona Biya melihat bahwa Bapak adalah orang yang menghancurkannya. Bapak ingin Nona Biya mengingat luka itu secara jelas sebelum menerima Bapak.”Tatapan Bagas mengeras samar, bukan marah, melainkan defensif, tanpa sadar.“Bukankah itu jujur?” Bagas membalas lirih.“Kejujuran, iya. Tapi apakah itu sehat untuk Bapak dan untuk Nona Biya? Itu adalah hal yang berbeda,” jawab Nando.Bagas menunduk, kedua jarinya saling menekan, seperti sedang berusaha menahan sesuatu yang ingin pecah dari dadanya. Nando melanjutkan, lebih tajam namun tetap me
“Maaf, Pak. Ada beberapa hal yang masih harus saya urus sebelum kemari,” ucap seseorang yang sudah ditunggu sejak tadi.Nando, sekretaris Bagas selama di Indonesia yang kini dipercayakan Bagas untuk menjadi CEO sementara. Pria itu memang ada di Italia sejak dua minggu lalu untuk membicarakan sesuatu dengan Bagas.“It’s fine,” jawab Bagas sambil mencoba duduk dan bersandar, Nando segera membantu atasannya itu untuk menaikkan kepala ranjang menjadi sandaran yang nyaman.Bagas mengerti betul bahwa posisi yang sedang dijalani Nando tidak mudah. Jadi menunggu hingga malam hari seperti ini tidak masalah.“Tapi, Pak. Kenapa Nona Biya tidur di depan?” pertanyaan Nando sontak membuat Bagas mengernyitkan dahi.Bukankah Biya sudah pulang? Gadis itu seharusnya sudah berada di apartemennya sendiri sejak siang tadi. Sejak Bagas mengusirnya karena merasa kalut dan kepala panas. Bagas langsung turun dari ranjang dan Nando bergegas membantunya.“Bapak mau kemana?” tanya Nando sambil memegangi lengan p
3 hari menginap di rumah sakit membuat tubuh Biya benar-benar pegal. Apalagi, dirinya harus tidur di sofa atau kursi. Meski Bagas berulang kali mengatakan untuk tidur bersamanya di ranjang, tapi Biya menolak keras mengingat luka pria itu benar-benar memilukan baginya.“Saya mau pulang,” ucap Bagas.Bahkan sejak kemarin, pria itu terus menggaungkan kalimat itu, yang mana masih di bantah dengan halus oleh Biya. Namun, semakin lama semakin menyebalkan, apalagi setelah pembicaraan Bagas dan Arsen tempo hari membuat pria itu bersikap aneh.“Nggak bisa. Tunggu dokter dulu. Kamu kenapa sih, Mas. Rewel banget.”Sudah. Keluar semua emosi yang terpendam akibat pegal badan, pusing kepala, desakan Abangnya. Sekarang, pria yang begitu dicintainya membuatnya semakin pusing dengan permintaan yang jelas tidak akan langsung dikabulkan oleh pihak rumah sakit.“Saya tidak tahu kalau ternyata saya rewel buat kamu,” merasa menjadi korban adalah alat andalan bagi Bagas sejak kemarin.Benar sih, memang korb
Hampir dua puluh menit hanya untuk membuat Biya mau mandi dan itu pun setelah Bagas setengah memohon, setengah menggoda agar gadis itu menyerah. Kini, kamar kembali sunyi. Hanya suara mesin infus dan tarikan napas pendek Bagas yang terdengar.Tersisa dua pria dewasa yang berdiri di dua kutub emosi yang berbeda. Bagas, yang terbaring lemah dengan kulit pucat sedang menatap Arsen dengan kelembutan yang hanya bisa ia tunjukkan saat sudah tidak punya tenaga menyembunyikan apa pun.Sementara Arsen berdiri tegak di sisi ranjang, bahunya tegang, tatapannya tajam dan menjulang seperti bayangan besar yang menutupi lampu kamar. Mereka membisu cukup lama hingga Bagas mengerjapkan mata perlahan.“Tatapan kamu... seperti ingin... membunuh saya,” gumam Bagas, setengah bercanda, setengah jujur.Arsen tidak tertawa. Rahangnya bergerak, menahan sesuatu yang terlalu berat untuk dilepas begitu saja.“Kalau saya mau,” katanya datar, “saya tidak akan repot-repot membuat kamu sekarat.”Bagas mendengus pela
“Sudah... jangan,” Suaranya serak, nyaris tak terdengar.Biya menggeleng di antara tangisannya, wajahnya tetap tertanam di lengan Bagas.“Abang gila,” suaranya pecah karena tangisan.Bukannya merasa sedih, Bagas justru merasa tingkah Biya sangatlah lucu. Mengingat perempuan itu begitu menyayangi Arsen, maka jelas saja hal itu tidak mungkin terjadi. Bagas berusaha mengangkat wajah Biya, tapi si empunya menolak dengan menggelengkan wajah.“Saya... mau... lihat... wajah... kamu,” Bagas benar-benar berusaha merangkai kata.Dengan berat hati, Biya mengangkat wajahnya yang sembab dengan hidup memerah, mata merah, air mata yang masih mengaliri pipi lembut itu. Tangan besar itu mencoba menangkup pipi Biya, sedikit gemetar tapi tak dihentikan.“Nangis... jelek,” bisiknya dengan nada menggoda Biya agar Biya berhenti.Biya mengerjap pelan mendengar kata-kata itu, bukan karena tersinggung, tetapi karena menyadari Bagas masih kesulitan bicara dan masih sempat-sempatnya menggoda. Air matanya justru
Marsha enggan memaksa, karena selama menjalin hubungan dengan Arsen, ia paham betul bagaimana kerasnya adik dan kakak itu. jadi, dengan berat hati Marsha masuk dengan meninggalkan Arsen yang duduk lemas di bangku koridor.Di dalam kamar, suara mesin monitor halus mengisi udara. Biya duduk begitu dekat dengan ranjang, seakan takut Bagas akan menghilang jika ia mengambil jarak lebih dari beberapa sentimeter. Ia memegang tangan Bagas yang dingin, ibu jarinya mengusap tulang jari yang menonjol. Marsha mendekat perlahan.“Sayang, kamu mau mandi dulu? Biar ngerasa lebih seger.”Biya hanya menggeleng, matanya masih terpaku pada wajah Bagas yang memar. Sesekali dadanya naik-turun terlalu cepat, pertanda masih syok.“Kalau Bagas bangun, dia lihat kamu sampai lemes gini, kamu pikir dia bakal senang?” Marsha mencoba lembut, tapi tetap realistis.Kali ini Biya menunduk. “Aku takut banget. Aku kira, aku kira dia-” Suaranya patah di tengah kalimat.Marsha memijat bahunya. “Sudah tidak pa-pa yang pe







