Share

Tak Takut Mati

Author: Pena Chr
last update publish date: 2026-08-10 11:13:48

Aku menatap wajah suamiku yang memerah. Kata-katanya tentang syariat, keadilan dan kebaikan berhamburan seperti sampah di udara. Aku tahu, jika aku terus mendengarkan celoteh liciknya, hatiku yang bodoh ini bisa saja terdorong untuk luluh dan percaya lagi.

"Aku mau cerai, Mas."

Mata Doni membelalak, "Apa kamu bilang?!"

"AKU MAU CERAI!" teriakku tepat di depan wajahnya. "Aku sudah muak dengan semua kegilaan ini. Hiduplah berdua dengan pujaan hatimu itu!"

BUK!

Pukulan keras mendarat di rahangku, melemparkan tubuhku hingga tersungkur ke lantai. Belum sempat aku memulihkan napas, Doni menjambak rambutku dengan kasar, memaksa kepalaku mendongak.

PLAK!

"Cerai?!" bentaknya seraya menampar wajahku lagi. "Dasar perempuan tak tahu diri. Perempuan tak tahu terima kasih. Sudah merasa hebat kamu sampai berani meminta cerai dariku?"

"Aku mau cerai!" ulangku.

Doni menendang rusukku, membuatku terbatuk-batuk menahan sesak.

"Kenapa? karena kamu sudah berhasil menjual diri kepada laki-laki hidung belang di luar sana? dibayar berapa kamu? perempuan sampah sepertimu jelas tak ada harganya. Bahkan diobral murahpun tak ada yang mau. Laki-laki bodoh mana yang mau denganmu? Tukang becak depan rumah itukah?" cemoohnya, yakin kalau dia ingin menjatuhkan mentalku.

"Aku mau cerai." Kalimat ini aku ucapkan berulang-ulang, seperti mantra untuk diriku sendiri agar tidak lagi bisa dimanupulasi oleh bajingan di depanku ini.

"Persetan dengan keinginanmu. Pikirmu kamu bisa hidup setelah berpisah denganku? siapa yang mau memungut perempuan sampah sepertimu? tidakkah kamu tahu seperti apa bentukmu saat ini? bangun! lihatlah dirimu di depan cermin itu!" ucap Doni penuh penekanan.

Dia menjambak rambutku—memaksaku untuk berdiri—menyeretku sampai ke dalam kamar. Membuat tubuhku berdiri tegak di depan cermin.

"Lihat!!! Pikirmu kamu secantik apa? Orang gila yang biasa lewat di depan rumah ibuku saja jauh lebih cantik dibandingkan dirimu."

"Bagus!" kataku tanpa ekspresi. "Kalau begitu ceraikan saja aku, agar kamu bisa mencari perempuan cantik di luar sana, untuk menyempurnakan hidupmu!"

Ditariknya kuat-kuat rambutku. "Siapa kamu berani memberikan perintah padaku, hah?!"

"Aku—"

BUG!

Tubuhku kembali tersungkur ke lantai. Seperti binatang yang bertemu dengan musuhnya, Doni sepertinya tak berniat memberikan ampun padaku.

Dia menendang membabi-buta ke arahku. Memukul tanpa jeda. Sekali lagi dia menarik rambut, memaksa kepalaku untuk mendongak, menatap matanya yang liar.

"Dasar perempuan mandul! Selangkah saja kamu berani meninggalkanku, mati kamu!" ancamnya.

Darah segar yang merembes dari sudut bibirku terasa dingin, menyadarkanku bahwa pernikahan ini memang sudah tidak layak lagi untuk dipertahankan.

Aku menyapu darah di sudut bibirku dengan punggung tangan, lalu tertawa kecil di hadapannya.

Doni mendadak ragu. "Kenapa kamu tertawa?! kesurupan kamu?!"

"Pukul lagi, Mas," bisikku parau, menatap lurus matanya tanpa kedip. "Pukul aku sampai mati."

"Jangan gila kamu, Rinjani!"

"BUNUH SAJA AKU HARI INI!!!" teriaku histeris, "Mati di tanganmu jauh lebih terhormat daripada harus hidup semenyedihkan ini, bajingan!"

Doni melepaskan cengkramannya, mundur selangkah, tatapannya seolah menyiratkan dia tak percaya kalau aku akan berani melawannya.

"Ceraikan aku, atau bunuh saja aku. Hanya itu pilihannya," tegasku.

Aku menyeka sisa air mata, menegakkan posisi berdiriku, "Sekarang, keluarlah dari rumahku."

"Rumahmu?"

"Aku yang membayar uang mukanya, aku yang membayar angsurannya, tak ada uangmu sepeserpun di rumah ini. Jadi, keluarlah. Aku tak sudi melihat wajah menjijikkan ini lagi!" jelasku tenang.

Doni membeku, matanya melotot tajam.

"KELUAR!!!" teriakku lantang.

"Kamu mengusirku?!" bentak Doni, raut wajahnya jauh lebih merah dari sebelumnya. Urat-uratnya bahkan terlihat jelas di kulitnya yang coklat itu. "Kamu pikir kamu bisa mengusirku dari rumahku sendiri?"

"Kembalikan kuncinya dan keluar!"

Dalam sekejap Doni sudah berada dekat sekali denganku. Tanpa ampun kedua tangannya mencengkeram bahuku, menarik lalu mendorong tubuhku sekuat tenaga ke arah pintu.

"AKHRG!"

BRUK!

Tubuhku terjerembab keras di teras. Nyeri menjalar hebat di siku dan lututku yang terantuk ke lantai. Belum sempat aku bangkit untuk memberikan perlawanan, Doni membanting pintu tepat di depan wajahku.

Suara selot kunci diputar dari dalam terdengar begitu nyaring.

"Buka, Bajingan!!!" teriakku sambil menggedor-gedor pintu kayu itu dengan sisa tenagaku. "Ini rumahku! Buka!"

Dari balik pintu, suara Doni terdengar dingin dan licik. "Malam ini kamu tidur di luar, Rinjani. Biar kamu sadar diri siapa pemegang kendali dalam rumah tangga ini!"

"Buka, bajingan! Buka!" Aku menendang pintu tanpa henti, rasa sakit di badanku hilang ditelan amarah yang selama ini terpendam.

"Berteriaklah sepuasmu, Rinjani. Habiskan suaramu. Besok pagi, kamu akan berlutut meminta maaf kepadaku."

Doni menarik gorden, dan tak lagi terlihat olehku.

Dengan langkah terseok, aku berjalan ke apotek depan perumahan untuk membeli obat-obatan luar dan pereda nyeri. Aku harus mengobati diriku dulu, sebelum menghancurkan pintu rumah itu nantinya. Aku sudah bertekad, tidak akan membiarkan Doni tidur nyenyak di rumah yang kuhidupi dengan peluhku itu.

"Astagfirullah, Ya Allah. Ibu jatuh? kecelakaan?" tanya salah satu petugas di apotek—langsung berlari untuk membopongku. Mendudukkanku di salah satu kursi, dan berteriak meminta kepada rekan kerjanya untuk mengambilkan kotak P3K.

"Ada pereda nyeri, Kak? boleh saya beli satu?" pintaku.

Aku tidak tahu seperti apa rupaku saat ini sampai semua orang yang ada di apotek ini nampak panik.

"Saya bersihkan luka-lukanya dulu ya, Bu. Ya Allah. Ibu darimana ini tadi? hebat sekali, Bu. Dengan darah sebanyak ini, ibu tidak pingsan," katanya, tangannya cekatan menyeka keningku. Dan baru kusadari kalau ada banyak darah segar yang keluar dari pelipisku.

Sesaat aku ingat kalau tadi aku sempat terbentur ujung meja yang lancip, mungkin itulah penyebabnya.

Pandanganku mulai kabur, dan sempat memejam sejenak, tapi petugas di apotek memintaku untuk tidak memejamkan mata.

"Kami panggilkan ambulans ya, Bu. Kami bantu sebisa kami sampai ambulansnya datang nanti."

Aku hanya manggut-manggut, menatap langit-langit apotek. Terheran dengan kegilaan diriku. Ada perasaan lega yang tidak bisa diungkapkan dengan kata, aku berpuas diri karena akhirnya berani melawan dan melepaskan.

Pintu apotek berderit.

"Bu Rinjani? apa yang terjadi?" tanya seseorang, suaranya terdengar panik.

"Biasalah, Pak Dika," jawabku. "Punya lelaki ya—" aku tak bisa melanjutkan kalimatku karena semuanya menjadi berputar-putar, semakin pudar, kemudian gelap.

---

Aroma antiseptik menusuk hidung. Aku terbangun di ranjang rumah sakit—sepertinya IGD—dengan tangan sudah terpasang selang infus.

Saat mataku menyisir sekeliling, aku melihat ada Pak Mahardika yang sedang berjalan ke arahku.

"Sudah sadar, Bu Rinjani? ada yang dikeluhkan?" tanyanya penuh perhatian.

"Kok bapak ada di sini?" Bingung, aku tidak ingat apa yang terjadi terakhir kali. Bukankah pihak apotek hendak memanggilkan ambulans?

"Kebetulan saya tidak tahu harus menghubungi siapa, jadi saya sengaja menunggu sampai Bu Rinjani sadar," jelasnya.

"Aa... Terima kasih ya, Pak. Sekarang bapak boleh meninggalkan saya. InsyaAllah saya sudah lebih baik," ucapku yakin.

Aku mencoba menunjukkan dengan memperbaiki posisi dudukku, tapi langsung dicegah olehnya.

"Istirahat saja, Bu, jangan banyak bergerak dulu. Meskipun janinnya aman, tapi ibunya butuh banyak istirahat," pinta pak Mahardika.

Dahiku berkerut, janin? memangnya aku hamil?

"Aku hamil?"

"Loh? Bu Rinjani nggak tahu kalau hamil? Dokter bilang tadi ibu hamil, dan beruntung karena janinya baik-baik saja, padahal terlihat jelas ada bekas pukulan di perut ibu."

Suaraku tercekat, aku mematung, tak tahu harus merasa senang atau sedih. Di saat aku sadar dan memutuskan untuk meninggalkan suami gilaku, ternyata Tuhan menitipkan janin di rahimku.

"Hidup ini memang tak bisa ditebak ya, Pak," kataku tiba-tiba. "Di saat aku sadar kalau suamiku gila, Tuhan malah menitipkan janin ke rahimku. Kemarin-kemarin saat aku benar-benar berharap ada anak dalam rumah tangga kami, Tuhan tak mengabulkannya."

"Azura sudah melaporkan kasus KDRT ini ke pihak berwajib. Tadi juga sudah sempat visum."

"Bu Azura? Bu Azura yang bekerja di telkomsel itu, Pak?"

Pak Mahardika mengangguk. "Dia sepupu saya. Kebetulan tadi kami ke apotek bareng. Begitu Azura melihat Bu Rinjani babak belur, Azura langsung pergi ke kantor polisi di sekitar sana, sementara saya dan petugas di apotek membawa ibu ke sini."

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ajari Aku, Mas Duda   Tak Takut Mati

    Aku menatap wajah suamiku yang memerah. Kata-katanya tentang syariat, keadilan dan kebaikan berhamburan seperti sampah di udara. Aku tahu, jika aku terus mendengarkan celoteh liciknya, hatiku yang bodoh ini bisa saja terdorong untuk luluh dan percaya lagi. "Aku mau cerai, Mas."Mata Doni membelalak, "Apa kamu bilang?!" "AKU MAU CERAI!" teriakku tepat di depan wajahnya. "Aku sudah muak dengan semua kegilaan ini. Hiduplah berdua dengan pujaan hatimu itu!"BUK!Pukulan keras mendarat di rahangku, melemparkan tubuhku hingga tersungkur ke lantai. Belum sempat aku memulihkan napas, Doni menjambak rambutku dengan kasar, memaksa kepalaku mendongak. PLAK!"Cerai?!" bentaknya seraya menampar wajahku lagi. "Dasar perempuan tak tahu diri. Perempuan tak tahu terima kasih. Sudah merasa hebat kamu sampai berani meminta cerai dariku?""Aku mau cerai!" ulangku. Doni menendang rusukku, membuatku terbatuk-batuk menahan sesak."Kenapa? karena kamu sudah berhasil menjual diri kepada laki-laki hidung b

  • Ajari Aku, Mas Duda   Kebodohanku

    "Kamu sewa mobil untuk apa, Mas?" tanyaku. "Dan perempuan ini siapa ya? sepertinya aku belum pernah melihatnya.""Oh, ini Dewi. Sepupu jauh. Anaknya saudara ibu. Kalian memang belum pernah bertemu, tapi Dewi sering main ke rumah ibu," jelas suamiku. "Dewi," kata perempuan itu, menyodorkan tangan, memperkenalkan diri. "Rinjani.""Kami sewa mobil untuk perjalanan luar kota minggu depan, Mbak Rinjani. Ada salah satu anggota keluarga yang ada di Yogjakarta melangsungkan pernikahan," jelas Dewi, tiba-tiba saja menjadi juru bicara suamiku. "Oh." Aku tidak bertanya lebih. Sudah biasa jika aku tidak tahu apapun tentang acara keluarga besar suamiku. Aku sudah kebal dianggap tak ada."Kamu sendiri kenapa di sini, An? kamu tidak kerja?" selidik Doni."Ini kerja, Mas. Kebetulan bosnya beli unit dariku," jawabku. "Wah, cair ini. Bulan depan masih bisa kerja berarti ya? nggak jadi dipecat," kata Doni sumringah. "Alhamdulillah.""Aku bisa nabung lagi berarti. Kamu semangat kerjanya. Usahakan ja

  • Ajari Aku, Mas Duda   Titik Balik

    Dengan gerakan kalap, tangan kanannya menyambar vas keramik kecil yang tergantung di pajangan dinding tepat di samping kami. Tanpa ragu, dia menghentakkannya ke pinggiran lemari kayu. PRANG!Bunyi keramik pecah beradu di udara. Sebagian vas itu hancur berhamburan ke lantai, sementara sebagian lagi yang menyisakan pecahan tajam berpola bergerigi masih berada dalam cengkeraman jemarinya. Sebelum aku sempat menjerit, Doni mencengkeram rahangku dengan tangan kirinya, menekan kepalaku, membuatnya makin terdesak ke tembok. Lalu, dengan deru napasnya yang memburu, dia memajukan pecahan vas berujung runcing itu—menempelkannya tepat di atas urat nadi leherku. Dingin. Ujung keramik tajam itu menusuk kulit leherku. Rasa perih itu kini mulai terasa dan setetes cairan hangat mulai merembes. "Berani kamu meninggikan suaramu padaku, hah?!" napas Doni memburu tepat di depan wajahku. Matanya merah, melotot seperti hendak melompat keluar. "Berani kamu?! Cari mati kamu ya?!"Jantungku berdegup tak k

  • Ajari Aku, Mas Duda   Penolongku

    "Tapi, mana mungkin suamiku sejahat itu? bukankah dia sendiri yang mengatakan bulan lalu, kalau dia masih sanggup menafkahiku meskipun aku tidak lagi berpenghasilan?"Sepanjang jalan pulang, aku bermonolog sendiri. Perdebatan di otakku semakin tak karuan. Sebagian lain meyakini kalau suamiku memang tidak berniat menafkahiku dengan layak, sebagian lain meyakini kalau mas Doni melakukan ini semua atas perintah ibunya."Bener. Mas Doni kan anak yang patuh. Pasti ibu yang meminta dia untuk bohong sama aku," simpulku begitu motor ini berbelok ke teras rumah. Karena tetangga mertuaku tadi bilang kalau mereka pergi dengan mobil agen perjalanan, terlintas ide dipikiranku untuk mendatangi travel-travel terdekat dan menawarkan mobil langsung kepada mereka. "Toh cara ini belum pernah aku coba. Kalau mau telfon juga kan aku nggak tahu mau nelfon siapa," kataku meyakinkan diri sendiri. "Kalau tidak dicoba, nggak tahu hasilnya. Semangat, Rinjani!"Aku mencari, mencatat, dan membuat daftar kantor

  • Ajari Aku, Mas Duda   Kehilangan Penghasilan

    "Rin, maaf ya. Menurutku, tindakan kekerasan itu bukan bahasa cinta. Baik itu dilakukan oleh orang tua, ataupun oleh pasangan kita.""Maksudnya gimana ya, Bu?" Aku tak sepenuhnya paham dengan apa yang dikatakan oleh ketua timku. Apakah dia sedang menyinggung masalah rumah tanggaku? tapi tahu dari mana? aku tidak pernah menceritakan apapun kepada rekan kerjaku. "Ya... Aku hanya menyampaikan pendapatku saja, Rinjani. Menurutku, tindakan kekerasan itu bukan bahasa cinta. Jadi, kalau kamu mendapatkan kekerasan dari pasanganmu, ya lebih baik ditinggalkan. Karena kekerasan itu bukan bahasa cinta.""Tapi saya tidak mendapatkan kekerasan dari suami saya, Bu," bantahku. "Syukurlah kalau kamu tidak mengalami KDRT, Rin," ucap ketua timku. Dia menatapku sejenak, kemudian meninggalkanku. Aku menelan saliva, mencoba menyunggingkan senyum agar terlihat baik-baik saja. Tadi, ketika satpam dan beberapa orang bertanya tentang benjolan di dahiku, aku menjelaskan jika ini terjadi karena benturan deng

  • Ajari Aku, Mas Duda   Kejutan

    Aku membaca pesan itu berulang kali, memikirkannya. Namun, tak ada jawaban yang muncul juga. Suamiku memang ringan tangan—sesekali, tapi dia selalu punya alasan dibaliknya. Menurut mas Doni, ada banyak hal yang tidak aku ketahui di dunia ini. Aku percaya, kenapa? karena dia adalah orang yang menolongku, mengajariku bertahan di dunia kerja yang memang kejam. Aku sadar kalau aku banyak tak tahunya. Ibuku membesarkanku sendirian. Ayahku pulang ke rumah istri pertamanya. Menurut pengakuan ibu dan keluarga besar, ayahku mengaku sebagai duda tanpa anak saat meminang ibuku—padahal pernikahan pertamanya baik-baik saja, dan ketika istri pertamanya melabrak ibu dan meminta ayah untuk memilih, ayah memilih istri pertamanya. Jadi sampai sekarang, di usiaku yang sudah mendekati angka dua puluh lima ini, aku tak pernah mendapatkan didikan dari seorang ayah. Berdiri sendiri, melindungi diri sendiri.Ketika lulus SMA, aku langsung mencari kerja. Mas Doni adalah orang yang menerimaku bekerja—setel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status