Share

Kejutan

Author: Pena Chr
last update publish date: 2026-08-10 11:01:07

Aku membaca pesan itu berulang kali, memikirkannya. Namun, tak ada jawaban yang muncul juga.

Suamiku memang ringan tangan—sesekali, tapi dia selalu punya alasan dibaliknya. Menurut mas Doni, ada banyak hal yang tidak aku ketahui di dunia ini.

Aku percaya, kenapa? karena dia adalah orang yang menolongku, mengajariku bertahan di dunia kerja yang memang kejam. Aku sadar kalau aku banyak tak tahunya.

Ibuku membesarkanku sendirian. Ayahku pulang ke rumah istri pertamanya. Menurut pengakuan ibu dan keluarga besar, ayahku mengaku sebagai duda tanpa anak saat meminang ibuku—padahal pernikahan pertamanya baik-baik saja, dan ketika istri pertamanya melabrak ibu dan meminta ayah untuk memilih, ayah memilih istri pertamanya.

Jadi sampai sekarang, di usiaku yang sudah mendekati angka dua puluh lima ini, aku tak pernah mendapatkan didikan dari seorang ayah. Berdiri sendiri, melindungi diri sendiri.

Ketika lulus SMA, aku langsung mencari kerja. Mas Doni adalah orang yang menerimaku bekerja—setelah lebih dari dua puluh lamaranku gagal. Dia menjadikanku sales lapangan. Mengajariku cara menjadi sales dari awal sampai akhirnya bisa mencapai target. Lalu kami berdua dipindahkan ke bagian telemarketing, dan darisanalah karierku semakin menanjak, begitupun dengan mas Doni.

Semenjak pisah rumah, mas Doni memang membatasi nafkah yang dia berikan untukku. Namun, aku masih bisa menerima alasannya. Suamiku sedang mengumpulkan uang untuk program bayi tabung yang biayanya tidak sedikit itu.

Ada perkataan mas Doni yang masih aku pegang sampai sekarang; "Rinjani, istriku. Percayalah, aku tidak pernah berniat menyakitimu. Aku menyanyangimu. Aku ingin masuk surga bersamamu, mendidikmu, membekalimu dengan ketaatan."

Matanya berkaca-kaca saat mengatakannya, mengecup keningku penuh kehangatan, mendekapku erat sekali.

Aku percaya, itu semua tulus dari hatinya. Aku yakin, seperti inilah cinta.

---

"RINJANI!!!"

Aku tersentak, terduduk seketika di atas ranjang dengan napas yang memburu. Jantungku bergedup tak karuan, menyisakan sensasi ngilu karena dibangunkan paksa dari tidur yang sepertinya kurang dari empat jam.

Kepalaku luar biasa pening, berputar-putar mencoba mencerna keadaan.

"Jam... Jam berapa ini?" gumamku panik, suaraku parau khas orang baru bangun tidur.

Setengah sadar, aku meraba-raba nakas di samping tempat tidur dengan liar. Aku menepis tumpukan novel, meraba permukaan kayu yang dingin, hingga akhirnya aku menemukan ponsel yang kucari. Dengan tangan gemetar, aku menyalakan layarnya. Cahaya terang dari ponsel langsung menusuk mataku yang masih lengket.

07.15 WIB

"RINJANI!!! TULI KAMU YA? DIMANA KAMU?"

Teriakan kedua itu disusul oleh suara debuman pintu depan yang beradu dengan tembok.

Aku buru-buru menyibak selimut, mengabaikan rasa pening yang mendera. Dengan langkah setengah berlari, aku menuju lemari pakaian. Aku tahu persis apa yang membuatnya berteriak kesurupan sepagi ini.

"Aku di sini, Mas. Maaf, maaf. Aku ketiduran. Nggak dengar suara azan maupun alarm tadi," ujarku. Menyerahkan baju kerja yang sudah aku setrika dengan rapi.

BUG

Kepalaku yang sudah pening, kini bertambah parah. Dahiku nyeri, dan mataku mulai kabur.

"Goblok!!! Hari apa ini?"

"Maaf, Mas," hanya itu yang bisa aku ucapkan—karena akupun tidak tahu dimana letak salahnya jadi tidak tahu harus memperbaiki apa.

"Hari apa ini?" ulang mas Doni dengan suara yang lebih nyaring.

"Hari kamis, Mas," jawabku. Kali ini aku sudah kembali menguasai diri, berhasil menegakkan posisi berdiriku.

"Hari jumat, goblok!" makinya. "Tahu kamu kalau hari jumat harusnya pakai baju apa?"

"Aku siapkan ulang, Mas. Bentar ya."

Dengan langkah cepat, aku kembali ke kamar. Menyambar baju batik yang tergantung di almari dan menyerahkan kembali ke suamiku yang masih berdiri—berkacak pinggang—di ruang tamu.

"Makanya kalau di suruh tidur itu langsung tidur, jangan main HP aja, kek orang goblok! Nulis novel tai kucing, sampai sekarang juga kamu nggak dapat apa-apa dari nulis novelmu itu!" ucapnya, menyambar baju batik yang aku serahkan. Sembari mengenakan secara serampangan dan berjalan keluar, dia menggerutu, "Sudah bener buat soal untuk anak TK aja, ngapain harus sok jadi penulis novel segala!"

Sesaat kemudian dia kembali—hanya berdiri di ambang pintu—melemparkan kunci motorku.

Aku masih mematung, mengumpulkan nyawa, mencerna apa yang baru saja terjadi.

"Kok bisa aku nggak dengar alarm?" gumamku tak percaya pada diri sendiri. Ada lima alarm di ponselku, mulai dari jam tiga sampai jam empat pagi. Ada rutinitas yang harus aku selesaikan selama rentang waktu itu. Dan hari ini? aku tak mendengar apapun.

Aku melangkah, mengunci pintu depan. Mengambil handuk, dan bergegas ke kamar mandi. Aku juga butuh bersiap untuk berangkat kerja.

Saat mencuci muka, aku kembali merasakan nyeri di dahi. Tadi pikiranku terlalu sibuk, sampai tak menyadari ada luka di tubuhku.

Di depan kaca, aku melihat ada benjolan di dahiku. Helm yang dipukulkan mas Doni tadi ternyata meninggalkan luka.

"Yaudahlah ya. Mana mungkin bisa benjolan sebesar ini disembunyikan. Aku juga nggak mungkin izin kerja lagi kan," pikirku. Mencoba mengabaikan rasa sakit dan melanjutkan aktivitasku. Waktuku terbatas.

Bersiap-siap, aku memasukkan beberapa barang ke dalam tas. Melihat ulang ponselku barangkali ada pesan yang belum sempat terbaca olehku.

Mataku fokus pada hari dan tanggal yang tertera di layar.

"Hari ini kamis."

Membuka almari lagi, melipat baju yang tadi sudah aku siapkan untuk suamiku, dan menyimpannya ke dalam tas kertas.

Kantor suamiku searah dengan kantorku. Aku akan mengantarkan seragam ini nanti, sekalian berangkat. Kasihan suamiku jika dia salah baju sendirian. Tak lupa, aku mengirimkan pesan sebelumnya.

'Mas, hari ini ternyata kamis. Ini aku berangkat kerja sekalian menitipkan baju kamu ke satpam ya. Maaf ya, Mas. Tadi aku nggak dengar alarm, jadi telat mengantar baju kerja kamu.'

Sesampainya di kantor, ternyata aku masih disambut hangat oleh ketua timku. Karena dia perempuan, mungkin dia bisa memaklumi kondisiku saat ini.

"Rin, kamu yakin baik-baik saja? itu benjolannya besar lo, dan warnanya ungu. Baiknya kamu kompres deh. Atau kalau kamu butuh tempat buat cerita, aku ada di ruanganku ya."

"Terima kasih, Bu, tapi benjolannya memang nggak sakit kok, Bu. Nyeri dikit saja, tapi aman," jawabku tak sepenuhnya jujur.

"Rin, maaf ya. Menurutku, tindakan kekerasan itu bukan bahasa cinta. Baik itu dilakukan oleh orang tua, ataupun oleh pasangan kita."

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ajari Aku, Mas Duda   Tak Takut Mati

    Aku menatap wajah suamiku yang memerah. Kata-katanya tentang syariat, keadilan dan kebaikan berhamburan seperti sampah di udara. Aku tahu, jika aku terus mendengarkan celoteh liciknya, hatiku yang bodoh ini bisa saja terdorong untuk luluh dan percaya lagi. "Aku mau cerai, Mas."Mata Doni membelalak, "Apa kamu bilang?!" "AKU MAU CERAI!" teriakku tepat di depan wajahnya. "Aku sudah muak dengan semua kegilaan ini. Hiduplah berdua dengan pujaan hatimu itu!"BUK!Pukulan keras mendarat di rahangku, melemparkan tubuhku hingga tersungkur ke lantai. Belum sempat aku memulihkan napas, Doni menjambak rambutku dengan kasar, memaksa kepalaku mendongak. PLAK!"Cerai?!" bentaknya seraya menampar wajahku lagi. "Dasar perempuan tak tahu diri. Perempuan tak tahu terima kasih. Sudah merasa hebat kamu sampai berani meminta cerai dariku?""Aku mau cerai!" ulangku. Doni menendang rusukku, membuatku terbatuk-batuk menahan sesak."Kenapa? karena kamu sudah berhasil menjual diri kepada laki-laki hidung b

  • Ajari Aku, Mas Duda   Kebodohanku

    "Kamu sewa mobil untuk apa, Mas?" tanyaku. "Dan perempuan ini siapa ya? sepertinya aku belum pernah melihatnya.""Oh, ini Dewi. Sepupu jauh. Anaknya saudara ibu. Kalian memang belum pernah bertemu, tapi Dewi sering main ke rumah ibu," jelas suamiku. "Dewi," kata perempuan itu, menyodorkan tangan, memperkenalkan diri. "Rinjani.""Kami sewa mobil untuk perjalanan luar kota minggu depan, Mbak Rinjani. Ada salah satu anggota keluarga yang ada di Yogjakarta melangsungkan pernikahan," jelas Dewi, tiba-tiba saja menjadi juru bicara suamiku. "Oh." Aku tidak bertanya lebih. Sudah biasa jika aku tidak tahu apapun tentang acara keluarga besar suamiku. Aku sudah kebal dianggap tak ada."Kamu sendiri kenapa di sini, An? kamu tidak kerja?" selidik Doni."Ini kerja, Mas. Kebetulan bosnya beli unit dariku," jawabku. "Wah, cair ini. Bulan depan masih bisa kerja berarti ya? nggak jadi dipecat," kata Doni sumringah. "Alhamdulillah.""Aku bisa nabung lagi berarti. Kamu semangat kerjanya. Usahakan ja

  • Ajari Aku, Mas Duda   Titik Balik

    Dengan gerakan kalap, tangan kanannya menyambar vas keramik kecil yang tergantung di pajangan dinding tepat di samping kami. Tanpa ragu, dia menghentakkannya ke pinggiran lemari kayu. PRANG!Bunyi keramik pecah beradu di udara. Sebagian vas itu hancur berhamburan ke lantai, sementara sebagian lagi yang menyisakan pecahan tajam berpola bergerigi masih berada dalam cengkeraman jemarinya. Sebelum aku sempat menjerit, Doni mencengkeram rahangku dengan tangan kirinya, menekan kepalaku, membuatnya makin terdesak ke tembok. Lalu, dengan deru napasnya yang memburu, dia memajukan pecahan vas berujung runcing itu—menempelkannya tepat di atas urat nadi leherku. Dingin. Ujung keramik tajam itu menusuk kulit leherku. Rasa perih itu kini mulai terasa dan setetes cairan hangat mulai merembes. "Berani kamu meninggikan suaramu padaku, hah?!" napas Doni memburu tepat di depan wajahku. Matanya merah, melotot seperti hendak melompat keluar. "Berani kamu?! Cari mati kamu ya?!"Jantungku berdegup tak k

  • Ajari Aku, Mas Duda   Penolongku

    "Tapi, mana mungkin suamiku sejahat itu? bukankah dia sendiri yang mengatakan bulan lalu, kalau dia masih sanggup menafkahiku meskipun aku tidak lagi berpenghasilan?"Sepanjang jalan pulang, aku bermonolog sendiri. Perdebatan di otakku semakin tak karuan. Sebagian lain meyakini kalau suamiku memang tidak berniat menafkahiku dengan layak, sebagian lain meyakini kalau mas Doni melakukan ini semua atas perintah ibunya."Bener. Mas Doni kan anak yang patuh. Pasti ibu yang meminta dia untuk bohong sama aku," simpulku begitu motor ini berbelok ke teras rumah. Karena tetangga mertuaku tadi bilang kalau mereka pergi dengan mobil agen perjalanan, terlintas ide dipikiranku untuk mendatangi travel-travel terdekat dan menawarkan mobil langsung kepada mereka. "Toh cara ini belum pernah aku coba. Kalau mau telfon juga kan aku nggak tahu mau nelfon siapa," kataku meyakinkan diri sendiri. "Kalau tidak dicoba, nggak tahu hasilnya. Semangat, Rinjani!"Aku mencari, mencatat, dan membuat daftar kantor

  • Ajari Aku, Mas Duda   Kehilangan Penghasilan

    "Rin, maaf ya. Menurutku, tindakan kekerasan itu bukan bahasa cinta. Baik itu dilakukan oleh orang tua, ataupun oleh pasangan kita.""Maksudnya gimana ya, Bu?" Aku tak sepenuhnya paham dengan apa yang dikatakan oleh ketua timku. Apakah dia sedang menyinggung masalah rumah tanggaku? tapi tahu dari mana? aku tidak pernah menceritakan apapun kepada rekan kerjaku. "Ya... Aku hanya menyampaikan pendapatku saja, Rinjani. Menurutku, tindakan kekerasan itu bukan bahasa cinta. Jadi, kalau kamu mendapatkan kekerasan dari pasanganmu, ya lebih baik ditinggalkan. Karena kekerasan itu bukan bahasa cinta.""Tapi saya tidak mendapatkan kekerasan dari suami saya, Bu," bantahku. "Syukurlah kalau kamu tidak mengalami KDRT, Rin," ucap ketua timku. Dia menatapku sejenak, kemudian meninggalkanku. Aku menelan saliva, mencoba menyunggingkan senyum agar terlihat baik-baik saja. Tadi, ketika satpam dan beberapa orang bertanya tentang benjolan di dahiku, aku menjelaskan jika ini terjadi karena benturan deng

  • Ajari Aku, Mas Duda   Kejutan

    Aku membaca pesan itu berulang kali, memikirkannya. Namun, tak ada jawaban yang muncul juga. Suamiku memang ringan tangan—sesekali, tapi dia selalu punya alasan dibaliknya. Menurut mas Doni, ada banyak hal yang tidak aku ketahui di dunia ini. Aku percaya, kenapa? karena dia adalah orang yang menolongku, mengajariku bertahan di dunia kerja yang memang kejam. Aku sadar kalau aku banyak tak tahunya. Ibuku membesarkanku sendirian. Ayahku pulang ke rumah istri pertamanya. Menurut pengakuan ibu dan keluarga besar, ayahku mengaku sebagai duda tanpa anak saat meminang ibuku—padahal pernikahan pertamanya baik-baik saja, dan ketika istri pertamanya melabrak ibu dan meminta ayah untuk memilih, ayah memilih istri pertamanya. Jadi sampai sekarang, di usiaku yang sudah mendekati angka dua puluh lima ini, aku tak pernah mendapatkan didikan dari seorang ayah. Berdiri sendiri, melindungi diri sendiri.Ketika lulus SMA, aku langsung mencari kerja. Mas Doni adalah orang yang menerimaku bekerja—setel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status