공유

Tak Dianggap Ada

작가: Pena Chr
last update 게시일: 2026-08-10 10:59:11

Panggilan diakhiri begitu saja, tanpa persetujuanku. Jika aku terlambat? jelas aku akan kembali dijadikan samsak hidup. Suamiku tak perduli meskipun ada orang tuanya, dia tak segan memukulku jika dirasa aku melakukan kesalahan.

Dengan terpaksa, tanpa sarapan, aku mengayuh sepeda ontel ini sejauh satu kilo meter.

"Kamu bodoh apa gimana? di rumah kan ada motor? ngapain kesini naik sepeda ontel?" sambut mas Doni.

"Sengajalah, Mas. Biar ada alasan kalau terlambat datang. Padahal kan tadi dia janji sama ibu kalau sepuluh menit lagi sampai di sini," timpal Pipit.

Dua serangan langsung—tanpa menunggu kakiku berhasil menyentuh tanah di rumah ini.

"Kamu kan tahu kalau aku tidak bisa menggunakan motor kopling, Mas." Mencoba mengatur napas senormal mungkin agar tidak dituduh mencari belas kasihan.

Tak ada jawaban dari dua manusia itu. Pipit kembali sibuk dengan ponselnya, sementara mas Doni kembali menyemprot burung-burung peliharaannya.

Tanpa diperintah, kakiku sudah melangkah dengan sendirinya menuju ke dapur. Ibu mertuaku sudah menunggu di kursi goyang kesayangannya.

"Ibu sudah membuat daftar apa saja yang harus kamu lakukan ya. Jam enam nanti kami mau keluar sebentar, ada urusan. Tolong pastikan tidak ada satupun pekerjaan yang terlewat ya," ujar ibu mertua. Beliau beranjak dari kursinya dan meninggalkanku begitu saja.

Aku tak dianggap selayaknya menantu. Sepertinya mas Doni dizinkan menikah denganku hanya karena aku mampu mengurus rumah dengan baik. Salahku juga, ketika kami masih pacaran aku bersedia turun ke dapur untuk membantu menyiapkan sajian arisan kala itu.

"Penyesalan datangnya selalu diakhir, Rin," gerutuku pada diri sendiri.

Tak ada sedikitpun keinginan dalam diriku untuk ikut bersama mereka karena meskipun ada, aku juga tidak akan dianggap.

Sesekali, aku berandai-andai. Kalau saja bapak mertua masih ada, mungkin kehidupan rumah tanggaku tak akan sepelik ini.

Almarhum bapak mertua dulu cukup perhatian denganku. Sebulan usia pernikahan, dokter mengatakan kalau aku hamil. Dan bapak mertua adalah orang yang paling antusias ketika mendengar kabarnya. Setiap pagi, beliau selalu bertanya padaku :

'Kamu mau makan apa hari ini, Nduk? bayimu pengen makan apa? biar bapak carikan di pasar.'

---

Jam lima sore, semua pekerjaan sudah terselesaikan dengan sempurna. Aku sudah berusaha menghubungi mas Doni, bertanya kapan mereka akan pulang. Namun, sampai detik ini pesanku belum juga mendapatkan jawaban.

'Mas, aku izin pulang dulu ya. Aku mau mandi dan ganti baju. Kalau nanti acara arisannya sudah mulai, aku kembali ke rumah ibu lagi.'

Kendati belum mendapatkan persetujuan, aku tetap mengayuh sepeda ontelku dan pulang ke rumahku sendiri. Rasa lapar itu sudah tidak tertahankan lagi. Aku tidak berani makan di rumah ibu mertua tanpa seizinnya. Runyam. Nasi satu piring yang nikmatnya tak seberapa, bisa-bisa membuat tubuhku babak belur karena dianiaya.

Sampai larut malam, pesanku hanya dibaca saja, tak dibalas sama sekali. Ibu mertua juga tak menghubungiku. Jelas, mereka sudah tidak membutuhkan kehadiranku lagi.

Tak ingin menambah rentetan sakit hati, aku meletakkan ponsel kembali ke meja dan fokus dengan pekerjaan yang lain. Karena sadar kalau penghasilanku sebagai sales tidak cukup banyak, aku mencoba mencari pekerjaan sampingan lainnya. Aku sedang giat belajar membuat lembar kerja untuk anak-anak. Peminatnya lumayan, dan modalnya hanya kuota internet saja.

Dikala aku menyesap segelas kopi untuk meringankan beban pikiran, ada pesan W******p yang masuk. Aku membaca dari bilah notifikasi.

'Sayang, maaf aku baru sempat membalas pesanmu ya. Jalanannya macet. Sampai rumah tamu ibu sudah ramai, jadi pesanmu terlewat begitu saja. Terima kasih sudah meringankan beban ibuku ya. Pahala besar untukmu, Sayang.

Oh iya, malam ini aku tidak pulang ya. Capek. Takutnya nanti malah terjadi apa-apa di jalan. Tolong besok pagi bawakan baju kerjaku ya, sekalian kamu berangkat kerja. Selamat tidur, istriku.'

Ada seulas senyum yang mengembang tiba-tiba. Kemarahan di dalam diri sejak pagi sirna begitu saja. Ada secercah harapan dan sedikit keyakinan kalau cinta suamiku sepertinya masih sama. Hanya saja, bahasa dan cara penyampaiannya yang sedikit berbeda.

Aku mulai mengetik pesan balasan, tapi aku urungkan. Ini sudah larut. Sebentar lagi hari sudah berganti. Suamiku sudah mengatakan kalau dia sedang lelah, kalau aku membalas pesannya dia tak akan bisa beristirahat dengan tenang.

Kembali ke layar laptop, aku menyelesaikan pekerjaanku dan beranjak ke kamar. Suamiku tak pulang, tidak ada lagi yang perlu ditunggu.

Satu jam sudah aku membaringkan tubuh, tapi tak juga bisa terlelap. Aku mengambil ponsel dan berselancar di sosial media. Membuka salah satu akun anonimku, dan menemukan ada banyak sekali notifikasi. Utas yang aku buat beberapa tahun lalu ternyata viral dan mendapatkan banyak perhatian warganet.

Utas tentang luapan hati ketika awal-awal mendapatkan kekerasan dari mas Doni.

Diantara sekian banyak komentar dukungan dan saran, ada salah satu komentar yang menarik perhatianku;

Kenapa kalian tidak bercerai saja? anak belum ada. Penghasilan ada. Rumah kamu yang bayar. Bukankah itu sudah cukup? toh meskipun statusmu istri, kamu tetap sendirian saja di dunia ini.

***

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Ajari Aku, Mas Duda   Onar Di Tempat Kerja

    Aku mematung. Perutku mual bukan main. Kenapa aku tidak pernah berfikir sampai sejauh ini. Apa karena uangku tak lagi bisa dia nikmati? jadi dia menghancurkan citraku di tempat kerja juga?Mata-mata itu menatapku dengan nyalang, sebagian dari staf perempuan tak perlu repot-repot menyembunyikan perasaan jijiknya."Pantas saja anak baru langsung bisa closing di awal bulan. Jadi begini cara mainnya?" celetuk salah satu staf perempuan senior. "Ah... Kupikir dia sepolos penampilannya lo, Mbak. Ternyata bunting sama laki orang juga?" timpal yang lain. Aku berjongkok, merenggut lengan Doni dan memaksanya untuk berdiri. "Pergilah, Mas! Berhentilah bersandiwara!" desisku tajam. Doni sengaja menjatuhkan tubuhnya ke belakang, seolah aku baru saja menghempaskannya dengan sangat kasar. Dia menatapku dengan mata yang berkaca-kaca, "Sebegitu jijiknya kah kamu padaku sekarang, Sayang? Apa karena pria kaya itu? aku tahu cintaku memang tidak bisa membuatmu bergelimang harta, tapi selama empat tahun

  • Ajari Aku, Mas Duda   Putar Balik Fakta

    "Apalagi sekarang dia sedang hamil, Pak. Kami sudah bertahun-tahun menjadi pejuang garis dua. Program kesana-kemari dan selalu gagal. Dokter bilang sperma saya kurang cocok dengan sel telur istri saya, jadi susah dibuahi. Lalu, setelah dia pindah kerja dan dekat dengan duda itu, tiba-tiba saja dia hamil. Apa... apa iya itu anak saya?"Laki-laki itu meneteskan air mata—palsu tentu saja. Petugas penyidik berdecak pelan, simpati jelas bergeser padanya. Bahkan aku bisa tahu dengan melihat tatapan para petugas itu kepadaku. "Tapi demi Tuhan, Pak," Doni menyeka air matanya, suaranya terdengar begitu heroik. "Saya bersedia memaafkan pengkhianatannya. Saya bersedia merawat bayi dari laki-laki itu asalkan istri saya mau pulang. Saya sangat mencintainya, Pak. Saya ingin menyelamatkan rumah tangga kami."Aku reflek tertawa—tak percaya. Doni membuat skenario yang sangat rapi, begitu masuk akal bagi orang luar yang tidak tahu apa-apa. Mahardika yang kebetulan menolongku, kehamilanku yang tiba-tib

  • Ajari Aku, Mas Duda   Apa Selanjutnya, Tuhan?

    "Bisakah Pak Mahardika menghubungi Bu Azura? saya tidak ingin masalah ini dibesarkan, Pak," pintaku dengan suara parau. Bayangan Doni menghajarku tanpa ampun masih segar di ingatan. Dan fakta bahwa aku mengandung anaknya menjadi salah satu pertimbanganku. Jika aku saja yang luntang-lantung sendirian, aku tidak keberatan. Tapi bagaimana dengan anak yang ada di kandunganku ini? tegakah aku membiarkan dia hidup dengan kesengsaraan?"Bu Rinjani mau damai?" tanya Mahardika. Dari tatapan dan juga nada bicaranya, sepertinya beliau tidak percaya dengan keinginanku untuk damai."Laki-laki itu masih tinggal di rumah saya, Pak. Dan saya juga baru tahu hari ini kalau saya hamil. Jika masalah ini sampai ke polisi, kemungkinan saya dihajar sampai mati akan lebih besar.""Ya kalau begitu jangan pulang. Jangan temui dia. Jangan lagi berhubungan dengan laki-laki gila itu sampai masalah ini sudah tertangani dengan baik oleh pihak kepolisian."Aku tersenyum kecut, "Bapak ini terlalu baik atau terlalu

  • Ajari Aku, Mas Duda   Tak Takut Mati

    Aku menatap wajah suamiku yang memerah. Kata-katanya tentang syariat, keadilan dan kebaikan berhamburan seperti sampah di udara. Aku tahu, jika aku terus mendengarkan celoteh liciknya, hatiku yang bodoh ini bisa saja terdorong untuk luluh dan percaya lagi. "Aku mau cerai, Mas."Mata Doni membelalak, "Apa kamu bilang?!" "AKU MAU CERAI!" teriakku tepat di depan wajahnya. "Aku sudah muak dengan semua kegilaan ini. Hiduplah berdua dengan pujaan hatimu itu!"BUK!Pukulan keras mendarat di rahangku, melemparkan tubuhku hingga tersungkur ke lantai. Belum sempat aku memulihkan napas, Doni menjambak rambutku dengan kasar, memaksa kepalaku mendongak. PLAK!"Cerai?!" bentaknya seraya menampar wajahku lagi. "Dasar perempuan tak tahu diri. Perempuan tak tahu terima kasih. Sudah merasa hebat kamu sampai berani meminta cerai dariku?""Aku mau cerai!" ulangku. Doni menendang rusukku, membuatku terbatuk-batuk menahan sesak."Kenapa? karena kamu sudah berhasil menjual diri kepada laki-laki hidung b

  • Ajari Aku, Mas Duda   Kebodohanku

    "Kamu sewa mobil untuk apa, Mas?" tanyaku. "Dan perempuan ini siapa ya? sepertinya aku belum pernah melihatnya.""Oh, ini Dewi. Sepupu jauh. Anaknya saudara ibu. Kalian memang belum pernah bertemu, tapi Dewi sering main ke rumah ibu," jelas suamiku. "Dewi," kata perempuan itu, menyodorkan tangan, memperkenalkan diri. "Rinjani.""Kami sewa mobil untuk perjalanan luar kota minggu depan, Mbak Rinjani. Ada salah satu anggota keluarga yang ada di Yogjakarta melangsungkan pernikahan," jelas Dewi, tiba-tiba saja menjadi juru bicara suamiku. "Oh." Aku tidak bertanya lebih. Sudah biasa jika aku tidak tahu apapun tentang acara keluarga besar suamiku. Aku sudah kebal dianggap tak ada."Kamu sendiri kenapa di sini, An? kamu tidak kerja?" selidik Doni."Ini kerja, Mas. Kebetulan bosnya beli unit dariku," jawabku. "Wah, cair ini. Bulan depan masih bisa kerja berarti ya? nggak jadi dipecat," kata Doni sumringah. "Alhamdulillah.""Aku bisa nabung lagi berarti. Kamu semangat kerjanya. Usahakan ja

  • Ajari Aku, Mas Duda   Titik Balik

    Dengan gerakan kalap, tangan kanannya menyambar vas keramik kecil yang tergantung di pajangan dinding tepat di samping kami. Tanpa ragu, dia menghentakkannya ke pinggiran lemari kayu. PRANG!Bunyi keramik pecah beradu di udara. Sebagian vas itu hancur berhamburan ke lantai, sementara sebagian lagi yang menyisakan pecahan tajam berpola bergerigi masih berada dalam cengkeraman jemarinya. Sebelum aku sempat menjerit, Doni mencengkeram rahangku dengan tangan kirinya, menekan kepalaku, membuatnya makin terdesak ke tembok. Lalu, dengan deru napasnya yang memburu, dia memajukan pecahan vas berujung runcing itu—menempelkannya tepat di atas urat nadi leherku. Dingin. Ujung keramik tajam itu menusuk kulit leherku. Rasa perih itu kini mulai terasa dan setetes cairan hangat mulai merembes. "Berani kamu meninggikan suaramu padaku, hah?!" napas Doni memburu tepat di depan wajahku. Matanya merah, melotot seperti hendak melompat keluar. "Berani kamu?! Cari mati kamu ya?!"Jantungku berdegup tak k

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status