Share

Bab 100: Sisi Lain

Author: Duvessa
last update Last Updated: 2025-06-27 01:07:23
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil mereka akhirnya berhenti di depan gedung apartemen Renjiro.

“Thanks ya, udah repot-repot anterin aku sampai sini,” ucap Renjiro sambil membuka pintu mobil. Suaranya tetap hangat dan ramah, seolah tidak sadar betapa tegangnya suasana di kursi depan.

Tanpa menunggu, Isvara ikut turun. Langkahnya ringan, ekspresinya tetap ramah. Alvano tidak menahan, tidak menyuruh kembali. Dia hanya duduk di balik kemudi, menatap ke depan tanpa berkedip.

Dari kejauhan, Alvano bisa melihat bagaimana Isvara tertawa kecil mendengar sesuatu yang dikatakan Renjiro. Bukan tawa besar. Namun, cukup untuk membuat dada Alvano mengencang.

Dan saat pamit, Renjiro membungkuk dan mengecup sisi pipi kiri dan kanan Isvara. Cipika-cipiki cepat, khas budaya pergaulan modern. Namun, di mata seorang pria yang diam-diam menggenggam status sebagai suami, gestur itu membakar habis sisa sabarnya.

Beberapa detik kemudian, Isvara kembali masuk ke mobil. Masih dengan sisa senyum yang nyari
Duvessa

Marahnya Alvano ngeri juga ya :(

| 47
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (7)
goodnovel comment avatar
Mbak Nana
vano marah berat cemburu berat dia sudah nahan sejak tadi dan sekarang booom meledak
goodnovel comment avatar
Dian Damayanti
isvara..maunye di mengerti perasaannye sama pasangannye,sementara die sendiri sebagain wanita dewasa masa ga ngerti perasaan pasangannye ,walaupun masih baru jd pasangan...
goodnovel comment avatar
Dian Damayanti
isvara sebenarnya orang dewasa atau masih anak2 ye....kok kelakuan dan cara berpikirnye ga bisa dibilang dewasa ,ga bisa bedain antara bertingkah yg pantas dan tidak pantas ,sebagai pasangan suami istri.....yaah....walau nikahnye dadakan sih....
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Akad Dadakan: Suami Penggantiku Ternyata Sultan   Bab 238: Rapat Pemegang Saham

    Ruang rapat utama Valora hari ini lebih mirip ruang sidang. Meja panjang berlapis kayu hitam dipenuhi wajah-wajah serius: keluarga Narendra, direksi senior, investor asing, hingga keluarga Soedibyo yang datang dengan penuh percaya diri. Udara kaku, tebal oleh aroma parfum mahal yang tak mampu menutupi bau ambisi.Alvano duduk di kursi puncak. Tubuhnya tegak, wajahnya bersih, rambutnya disisir rapi, jas hitam dan dasi sempurna. Dari luar, dia tampak tenang. Namun di balik ketenangan itu, pikirannya berputar lebih cepat dari detik jam yang berdetak di dinding.Analisis di kepala Alvano berputar. Keluarga Narendra memegang 35% saham. Itu pondasi. Mereka solid, tidak akan pernah berpaling. Namun, tiga puluh lima persen saja tidak cukup.Investor asing dan saham publik, total 20%. Biasanya netral, menunggu siapa yang lebih meyakinkan. Namun, dengan skandal foto yang viral kemarin, banyak yang mulai goyah. Dari laporan internal, paling optimis hanya 5% yang masih mau berdiri di pihaknya. Si

  • Akad Dadakan: Suami Penggantiku Ternyata Sultan   Bab 237: Memanjatkan Doa

    “Mas, ada apa sih?” tanya Isvara penasaran, ketika mereka kini sudah duduk di sofa favorit mereka. Sementara Dewangga dan Jefri baru saja undur diri setelah makan. Sepertinya keduanya memang sengaja memberi ruang untuk pasangan itu.Alvano terdiam sejenak, wajahnya serius. Dia seperti menimbang, apakah sebaiknya dia memperlihatkan berita itu sekarang atau menunda sampai Isvara lebih siap.“Mas!” desak Isvara lagi, nadanya meninggi. Ada ketegangan di balik suaranya, perpaduan penasaran dan rasa cemas yang membuatnya tidak bisa duduk tenang.Akhirnya setelah Alvano menghela napas berat, dia meraih ponsel yang tergeletak di meja kecil. Jemarinya menggeser layar sebentar sebelum menyodorkannya ke hadapan istrinya.Judul berita terpampang jelas dengan huruf besar yang menusuk mata:[CEO Valora Group Tertangkap Basah Bersama Seorang Perempuan Penghibur.]Jantung Isvara berdebar tak karuan. Pemandangan yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri dua minggu lalu kini dipelintir jadi bahan sa

  • Akad Dadakan: Suami Penggantiku Ternyata Sultan   Bab 236: Penasaran

    Isvara mengerjap pelan, matanya masih terasa berat ketika sinar matahari sore masuk lewat jendela balkon. Begitu benar-benar tersadar, dia mendapati dirinya sudah di kamar penthouse. Selimut menutupi setengah tubuhnya, posisi bantal rapi seperti baru saja dibenahi.“Loh, aku gimana bisa sampai sini?” gumamnya pelan.Keningnya berkerut. Apa Alvano yang menggendongnya naik? Pipi Isvara spontan menghangat membayangkan itu.Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Sepi. Tidak ada tanda-tanda Alvano di ruangan. Akhirnya, dia bangkit perlahan karena perutnya terasa keroncongan.Begitu menuruni tangga spiral menuju lantai bawah, aroma bawang tumis dan kaldu menyambutnya. Di dapur, Wati tampak sibuk memotong sayuran sambil sesekali mengecek panci di atas kompor.“Pas banget,” gumam Isvara, sambil menahan senyum.“Non!” Wati langsung menyapa dengan sumringah ketika melihat Nona mudanya turun dan berjalan menuju meja makan. “Aduh, Mbak kangen deh. Jangan kabur-kaburan lagi ya, Non.”Isvara

  • Akad Dadakan: Suami Penggantiku Ternyata Sultan   Bab 235: Moody

    Tidak terasa, pelarian rasa honeymoon itu sudah berjalan genap dua minggu. Hari-hari di Jeju terasa ringan, meski diselingi beberapa kali perdebatan kecil. Isvara masih ingin memperpanjang liburan, sementara Alvano berkali-kali menekankan bahwa pekerjaannya menumpuk, dan tidak bisa terus ditunda. Akhirnya, mereka sepakat pulang hari ini, meski jelas Isvara yang paling berat melepas.Di bandara, suasana riuh oleh pengunjung yang lalu-lalang, koper yang bergeser di lantai, dan suara pengumuman yang bergema dari pengeras suara. Dari kejauhan, terlihat sosok Jefri yang sudah menunggu mereka, berdiri rapi dengan kemeja putih, tangan siap menyambut.“Mas, udah baikan sama Jefri?” bisik Isvara sambil menyeret kopernya dengan langkah yang agak terseok.Alvano sempat melirik istrinya, lalu menghela napas. Alih-alih menjawab, dia justru meraih gagang koper itu dengan mudah dari tangan Isvara. “Sini, biar aku bawain. Kamu beneran niat kabur, ya? Bawa baju segini banyak.” Omelannya terdengar lebi

  • Akad Dadakan: Suami Penggantiku Ternyata Sultan   Bab 234: Menagih Janji

    Setelah syuting selesai, Isvara masih belum berhenti senyum-senyum sendiri. Di dalam mobil, sepanjang perjalanan kembali ke hotel, dia terus saja mengulang-ulang dengan wajah berbinar.“Mas, sumpah itu momen fangirl of the year. Aku nggak nyangka bisa sedekat itu sama San!”Alvano hanya fokus menyetir. Bibirnya melengkung tipis, tapi jelas sekali dia menahan kesal.“Serius aku seneng banget deh tadi! Besok kita ke sana lagi ya? Soalnya–”“Ra.” Suara rendah itu memotong, penuh peringatan.Isvara langsung menutup mulut, mengerti bahwa keinginannya kali ini akan menemui penolakan, meski pipinya masih memerah menahan geli. Dia melirik ke arah suaminya sekilas, lalu cepat-cepat menunduk, pura-pura sibuk dengan ponsel padahal layar bahkan belum menyala. Jantungnya masih berdebar saking euforianya, tapi ada getaran lain yang tak kalah kuat, tatapan Alvano yang sedari tadi terasa menusuk.Mobil melaju menembus jalanan malam yang mulai sepi. Isvara menempelkan kepalanya ke kaca jendela, mencob

  • Akad Dadakan: Suami Penggantiku Ternyata Sultan   Bab 233: Kompensasi

    Pasangan itu akhirnya sampai di Jungmun Saekdal Beach. Angin laut langsung menyambut, membawa aroma asin dan debur ombak yang berkejaran. Di kejauhan, sudah terlihat kru yang sibuk menyiapkan kamera, lampu, dan properti untuk syuting MV idol yang ditunggu-tunggu Isvara.Isvara hampir melompat kegirangan, matanya berbinar. “Mas, itu mereka! Aku lihat–” suaranya tercekat, jari telunjuknya teracung.Alvano hanya menatap istrinya dengan senyum tipis. “Hm. Jadi segini semangatnya kamu kalau lihat cowok lain, ya?”Isvara menoleh cepat, wajahnya memerah, tapi terlalu antusias untuk berhenti. “Bukan cowok lain. Ini idol, beda kelas, Mas.”Isvara menarik lengan suaminya, hampir menyeretnya ke arah kerumunan penggemar lain yang sudah berkumpul di tepian. Membuat Alvano mendengus pelan, tapi tetap mengikuti langkah kecil itu. Tangannya otomatis menggenggam pinggang Isvara, seolah menandai bahwa perempuan di depannya tetap miliknya.“Kalau aku nggak salah, kamu kaburnya buat nenangin diri. Kok se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status