LOGIN"Mundur kalian!" seru Elina sembari menodongkan sapu pada semua pelayan yang ada di depannya.
Sejak kembali ke kamar tamu istana, pelayan berbondong-bondong datang untuk mengganti pakaiannya. Walau Elina menolak, mereka terus memaksa dengan membawa nama raja.
"Nona, jika kami tidak melakukan tugas, maka Yang Mulia Raja akan marah."
"Kalau begitu kalian hanya perlu diam di sini. Lalu aku akan mengganti pakaian sendiri," kata Elina.
"Ta-tapi ... bukankah itu artinya kami membohongi Yang Mulia Raja?"
"Tidak masalah. Asalkan kalian tutup mulut, tidak akan ada yang tahu."
Mereka diam sambil saling pandang. Namun setelah itu mereka mundur. Menandakan usaha Elina tidak sia-sia.
Elina menghela napas lega. Ia memasuki kamar mandi yang hanya ditutupi tirai. Bak mandi bulat yang dipenuhi air sabun sudah siap.
"Uhh, nikmat sekali ...," gumam Elina sembari masuk ke dalam bak mandi.
Elina menyandarkan kepalanya di sandaran yang sudah disiapkan. Matanya menatap langit-langit kamar yang dihiasi perak dan permata.
Kalau di dunia nyata, pasti sudah dirampok, batin Elina.
Semakin lama berendam, rasa kantuk mulai menyerang. Perlahan matanya tertutup dengan sendirinya. Hingga ia terlelap.
"Elina! Kamu mengecewakanku!"
Elina sontak membuka matanya. Ia sedang berdiri di tengah padang pasir. Di hadapannya berdiri gadis cantik berambut cokelat panjang dengan gaun indah.
"Ellisha?" gumam Elina pelan.
Gadis itu melangkah tegas ke arahnya. "Kamu harus menghindari pria itu!"
"Siapa yang kamu maksud, Ellisha?"
"Duke Charless! Pria itu yang nantinya akan membakar tubuhku!" teriak Ellisha sembari menangis.
Elina menyentuh bahu gadis itu, lalu tersenyum. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
"Hanya ada satu cara! Pergi sejauh mungkin dari Charless dan tanah Verdentia!"
Elina langsung memeluk Ellisha yang menangis semakin tersedu-sedu. Ia tidak tahu apa pun tentang karakter antagonis tersebut. Selama ini ia hanya melihat cerita dari sudut pandang Putri Casia.
"Pasti hidupmu sangat berat, Ellisha."
"Mereka ... jahat. Semua orang di tempat ini ... mereka bukan manusia!" racau Ellisha.
Elina menepuk punggung gadis itu berulang kali. "Aku tahu. Maka dari itu, aku ingin mengubahnya. Aku ingin Ellisha mendapatkan akhir yang bahagia."
"Satu-satunya cara untuk mencapai itu hanya menjauh dari Duke Charless."
"Tapi salah satu alasanku bertahan di tempat ini adalah Duke Charless!"
Ellisha langsung mendorong Elina menjauh. Sorot matanya begitu tajam hingga seperti mengeluarkan percikan api. Ia mengangkat sebelah telapak tangannya. Lalu bola api keluar dari sana. Ellisha melempar api itu ke bahu Elina.
"Akhhh!!" jerit Elina merasakan panas di bahunya.
Kali ini Ellisha mengeluarkan bola api dari kedua telapak tangannya.
"Jika kamu tidak menuruti ucapanku. Maka aku tidak akan segan-segan membuat jiwamu merasakan yang lebih panas dari ini!"
~~~
"Tuan, saya melihat pelayan Nona Faelwen membawa gaun milik Tuan Putri."
Charless yang tengah meneguk anggur langsung meletakkan gelasnya. Dahinya berkerut menampakkan ekspresi tidak suka. Secepat mungkin ia mengambil mantel, lalu keluar dari kamar.
Apalagi yang ingin dia lakukan pada Putri Casia? batin Charless.
Tidak perlu menunggu dibukakan pintu, Charless bisa masuk dengan leluasa karena pintu kamar itu terbuka lebar. Pelayan nampak berlarian ke sana dan ke mari seperti kebingungan.
"Ada apa ini?" tanya Charless.
"No-Nona Faelwen—"
"Di mana dia?" tanya Charless kali ini dengan penuh penekanan.
"Nona tidak sadarkan diri di bak mandi!" seru salah satu pelayan yang kelihatan paling panik.
"Mengapa kalian membuat keributan di sini dan tidak memindahkan dia?!"
"Kami ... takut."
Charless mendecih. Ia langsung berjalan cepat menuju tirai dan membukanya. Jantungnya berdebar cepat. Ia menelan ludahnya dengan kasar saat melihat bagian atas tubuh gadis tersebut.
"Bawakan handuk!" seru Charless.
Setelah membalut tubuh Ellisha, ia langsung membawanya ke tempat tidur. Berulang kali ia menepuk pipi gadis itu, namun tidak kunjung bangun.
"Cepat pakaikan dia busana yang nyaman."
Lebih dari setengah jam Charless menunggu sembari membaca surat kabar harian yang ada di kamar tersebut. Akhirnya Ellisha selesai berpakaian. Namun gadis itu masih tidak sadarkan diri.
"Kalian boleh keluar. Aku yang akan menjaganya," kata Charless.
Setelah semua pelayan keluar, ia duduk di tepi ranjang. Ia menatap tajam wajah tanpa beban di depannya. Tiba-tiba saja Ellisha membuka mulutnya, tapi dengan mata terpejam.
"Jangan ... panas."
Dahi Charless berkerut. Ia menurunkan selimut yang menutupi bagian atas tubuh Ellisha.
"Tidak. Aku tidak akan meninggalkan Charless," gumam Ellisha lirih.
Charless yang penasaran, semakin mendekatkan telinganya dengan Ellisha. Sebab suara gadis itu semakin lirih.
"Charless harus bahagia ...."
"Tidak masalah. Aku di sini untuk melihat dia bahagia."
Charless menjauhkan tubuhnya. Ia meletakkan telapak tangan di dahi Ellisha. Entah mengapa, hatinya terasa sakit mendengar ucapan gadis itu.
Tapi ingatan tentang semua perlakuan buruk Ellisha langsung memenuhi kepalanya. Sebelah tangannya mengepal kuat. Ia mendecih pelan sembari menatap Ellisha.
"Aku tidak akan tertipu oleh ular sepertimu, Nona Faelwen."
Charless segera berdiri. Ia melangkah cepat ke arah lemari pakaian di ruangan tersebut. Sorot matanya menajam saat melihat gaun yang dibicarakan oleh pengawalnya.
Sebelah tangannya menyentuh gaun itu, lalu muncul lingkaran hitam. Secara ajaib, benda yang disentuhnya itu terhisap dan menghilang.
"Jangan harap kamu bisa melukai hati Putri Casia lagi."
~~~
Pagi hari saat persiapan, Elina sangat terkejut saat melihat luka bakar di bahunya. Padahal ia yakin kalau saat itu hanya mimpi. Ia segera mengenakan jubah mandi dan keluar dari bak.
Begitu di luar, ia hanya mendapati satu pelayan yang pernah dilihatnya saat pertama kali terbangun di tempat ini. Ia menatap gadis mungil itu cukup lama.
"Kamu ...."
Gadis itu membungkuk dengan sopan. "Maaf atas keterlambatan saya, Nona. Saya Mika, pelayan yang akan melayani Anda setiap hari."
Oh, benar. Aku pernah melihatnya di komik, batin Elina.
"Mika, apa kamu bisa sedikit lebih dekat?" kata Elina setengah berbisik.
Mika mengangguk patuh, lalu mendekati Elina yang nampak panik. Ia mulai membisikkan sesuatu pada pelayannya tersebut. Wajah Mika berubah menjadi kaget.
"Saya akan kembali secepatnya, Nona!" kata Mika sembari berlari keluar dari kamar.
Elina bergegas mengunci pintu kamarnya. Lalu ia berjalan ke arah cermin besar. Ia sedikit menurunkan jubah di bagian bahunya. Luka bakar yang tak terasa panas itu masih ada di sana.
"Bagaimana kalau tidak bisa hilang?" gumam Elina.
Brak!
Elina sampai melotot saat pintu kamarnya yang dikunci sudah terbuka lebar. Ia menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.
"Du-Duke Charless! Apa yang Anda lakukan di—"
Charless tidak menjawab. Ia menyisir rambutnya ke belakang. Retina cokelat tua itu menatap Elina sangat tajam. Tentu saja membuat gadis itu takut. Apalagi ia tidak pernah melihat bagian Charless datang ke kamar Ellisha di komik. Sulit menerka apa yang akan terjadi selanjutnya.
Suara langkah kaki Charless yang berat semakin mendekat ke tempat Elina berdiri. Lalu ia mencengkram bahu gadis itu.
"Apa yang sedang Anda rencanakan, Nona Ellisha Faelwen? Anda mau membunuh Putri Casia?!"
Pagi ini suasana kediaman Frederick sangat ricuh. Pelayan yang berlalu lalang di depan kamar Elina terdengar sibuk membicarakan sesuatu. Elina melirik ke arah Mika yang tengah menyisir rambutnya."Kamu tau sesuatu, Mika?"Mika menggeleng pelan. "Tidak, Nona. Saat mengambil sarapan, saya tidak mendengar apa pun.""Kalau begitu, kita harus keluar dan mencari tau!" kata Elina penuh semangat.Setelah penampilannya terlihat rapi, Elina langsung mengajak Mika keluar. Mereka sengaja berjalan mengikuti pelayan agar bisa mendapat informasi."Tuan Duke benar-benar berubah."Mereka membicarakan Charless? batin Elina."Bagaimana bisa Tuan Duke yang selama ini tidak pernah membuang siapa pun, tega memecat Agni.""Benar! Bahkan pencuri dan pembunuh bayaran selalu dibiarkan pergi. Sebenarnya apa yang dilakukan wanita ular itu pada Tuan Duke?!""Sepertinya Tuan Duke benar-benar menyukai Nona Faelwen.""Bagaimana kalau kita protes?""Kau mau kepalamu terlepas?""Tentu saja tidak!"Elina menghentikan l
Elina berjalan tertatih menuju ke arah kamarnya. Ia tidak peduli dengan darah yang terus keluar. Ia menghapus jejak air mata di pipinya sembari tersenyum."Sebenarnya ... apa yang aku harapkan saat berada di tubuh penjahat ini?"Saat melintasi danau, Elina tanpa sengaja melihat sosok yang tengah duduk di atas rerumputan. Sebisa mungkin ia tidak peduli. Sebab Charless melarangnya pergi ke area danau. Namun saat hendak pergi, namanya diserukan cukup keras."Hei, Nona Faelwen!"Elina sontak menoleh. Sosok di tengah kegelapan itu berlari ke arahnya sembari melambaikan tangan.Elina yang panik langsung memaksa kakinya untuk berlari. Namun akibat terluka, ia justru kembali terjatuh. Namun pinggangnya ditahan oleh seseorang."Saya bukan penjahat. Nona tidak perlu khawatir."Elina memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya. Nampak seorang pria berambut putih berkilau tengah tersenyum ke arahnya."Si-siapa?" tanya Elina dengan suara pelan.Pria itu melepaskan tangannya dari pinggang Elina, l
Elina tidak bisa berhenti menangis. Dadanya terasa sangat sesak setiap mengingat ucapan Charless. Pria itu sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasannya. Padahal ia ingin sekali memberitahukan sikap kurang ajar pelayan tersebut."Nona, apa sebaiknya kita pulang saja?" tanya Mika yang duduk di samping Elina.Elina langsung menggeleng. Ia masih tidak terbiasa dengan rasa sakit cambukan. Lebih baik menghadapi kata-kata kasar dari pelayan Frederick.Tiba-tiba saja gerbang belakang dekat tempat duduk mereka terbuka. Sosok berjubah cokelat datang membawa tas besar. Lalu dia menghampiri Elina."Nona, mengapa Anda menangis?" tanya sosok itu yang ternyata seorang wanita paruh baya. Ia menyodorkan sapu tangan pada Elina.Mika langsung menyambar sapu tangan tersebut. "Terima kasih. Tapi, siapa Anda?""Saya kepala koki di Frederick. Semua orang memanggil saya Madam.""Ayo kita kembali ke kamar, Mika," kata Elina sembari beranjak dari tempat duduk.Tangan Elina langsung ditahan oleh wanita ters
"Ulangi semua yang saya ucapkan tadi!"Elina menggaruk tengkuknya. Sejak sarapan bersama dengan Charless, kepalanya seperti tidak bisa mengingat apa pun. Hanya wajah tampan pria itu yang memenuhi isi kepalanya."Tidak boleh mendekati danau?" kata Elina dengan ragu.Charless mengangguk pelan. Ia menopang kepalanya dengan sebelah tangan. Pandangannya tidak bisa lepas dari gadis tersebut."Apa lagi?" tanya Charless."Tidak boleh ke halaman belakang istana. Jangan memetik bunga di taman. Dilarang keras memasuki perpustakaan dan ruang kerja Tuan Duke."Charless mengerutkan dahinya. "Saya bertanya pada Nona Faelwen, bukan kau."Mika membungkuk. "Mohon maaf atas kelancangan saya, Tuan Duke."Baru saja Charless hendak bicara, pintu ruang tamu terbuka. Nampak Galiard datang dengan napas terengah-engah. Dia terlihat sangat terburu-buru."Yang Mulia Raja meminta Tuan untuk datang ke istana."Charless terdiam sejenak. Ia nampak seperti tengah memikirkan banyak hal. Lalu setelahnya ia langsung ber
"Duke, aku suka aroma gadis ini. Biarkan aku membawanya."Charless langsung memanggil pedang petirnya. Ia bergegas melompat ke danau sebelum ular itu benar-benar membawa Elina ke dunia lain.Begitu di dalam air, suasana langsung berubah. Nampak istana besar dengan banyak penjaga. Namun Charless masih bisa melihat Remio, ular besar yang membawa Elina sudah hampir memasuki istana."Iris, waktunya makan," bisik Charless pada pedangnya.Tiba-tiba saja pedang itu mengeluarkan cahaya yang menyilaukan. Charless langsung menerjang semua penjaga yang menghadangnya.Tidak butuh waktu lama, Charless sudah melewati gerbang. Namun Remio dan Elina sudah tidak terlihat. Charless berlari sekuat tenaga sebelum pintu istana tertutup.Pedang di tangan Charless melayang begitu cepat, lalu menahan pintu yang hampir tertutup."Terima kasih, Iris."Charless yang berhasil masuk ke istana itu langsung berjalan menyusuri lorong besar. Terakhir kali ia datang ke tempat ini untuk menyelamatkan Casia, ia hampir s
Kriet.Elina dan Mika menutup mulut mereka serapat mungkin saat pintu ruangan itu terbuka. Suara langkah kaki terdengar begitu mengerikan di telinga mereka."Tuan, Nona Faelwen tidak mungkin ada di ruangan ini.""Justru tempat yang jauh dari kata mungkin itu harus diperiksa."Elina mendecak begitu mendengar ucapan Charless. Akhirnya ia keluar dari tempat persembunyiannya. Ia bisa melihat Charless yang tersenyum miring ke arahnya."Tikus kecil pasti bersembunyi di ruangan kecil 'kan?""Duke, saya mohon biarkan kami tinggal di sini satu minggu lagi," kata Elina sembari menghampiri Charless."Pulang."Elina menoleh ke arah Galiard seolah meminta bantuan. Namun pria itu mengedikkan bahunya.Elina memegang kepalanya, lalu berjalan sempoyongan ke arah Mika."Kepalaku sangat sakit seperti mau pecah," kata Elina sembari memasang wajah sedih.Charless nampak tidak goyah. "Pulang sekarang juga.""Duke ... saya mohon."Elina langsung berlutut di depan kaki Charless. Entah mengapa air matanya mul







