Home / Historical / Akhir Yang Indah Untuk Duke / 04. Elina Dipenjarakan!

Share

04. Elina Dipenjarakan!

Author: Miss Kyo
last update Last Updated: 2025-02-25 16:43:24

"Apa yang sedang Anda rencanakan, Nona Ellisha Faelwen? Anda mau membunuh Putri Casia?!"

Elina mengerutkan dahinya. Namun saat hendak membela diri, ia langsung ditarik menuju kamar Casia. Terlihat jelas gadis itu terbaring di kasur dengan darah keluar dari hidung dan mulutnya.

Sontak Elina menoleh ke arah Charless. Pria itu menatapnya dengan tajam, seolah ia tidak membutuhkan penjelasan apa pun. Tanpa menunggu waktu lama, Zetrian juga datang ke kamar tersebut.

"Apa yang terjadi pada Putri Casia?" tanya Zetrian yang langsung berlari ke arah tempat tidur.

Elina bisa melihat dengan jelas Charless yang maju satu langkah, lalu berdiri tepat di depannya.

Bibir Elina melengkung saat memandang punggung lebar tersebut. Penampakan Charless dari belakang begitu keren dan menawan. Seumur hidup, Elina belum pernah melihat pria seperti itu.

"Nona Faelwen mungkin merasa rendah diri seperti biasa. Tolong maafkan dia, Yang Mulia," kata salah satu pelayan Casia.

Zetrian melirik Elina dengan tajam. "Apa ada saksi mata?"

"Saya melihat pelayan Nona Faelwen keluar dari kamar Yang Mulia Putri Casia," ujar pelayan istana.

Elina sontak melotot. Ia maju hingga berdiri tepat di samping Charless. Kini ia bisa melihat dengan jelas semua orang yang ada di kamar ini tengah menatapnya dengan ekspresi tidak suka.

"Sa-saya tidak mungkin berani melakukannya, Pangeran!" ujar Elina dengan wajah panik.

Charless mencengkram pergelangan tangan Elina. "Anda bisa menjelaskan semuanya di depan Yang Mulia Raja, Nona Faelwen."

"A-apa?"

Tanpa menunggu persetujuan, pengawal Casia langsung menarik paksa Elina keluar dari kamar tersebut. Mereka berjalan cepat menuju pintu besar yang ada di tengah ruangan. Sebuah lambang mahkota dan pedang di depan pintu sudah cukup menggambarkan sosok Raja Verdentia.

Saat pintu dibuka, nampak Sang Raja sudah didampingi ajudannya. Ada juga kedua orang tua Elina dan Mika yang berlutut di dekat singgasana Raja. Elina menelan ludahnya. Walau sudah terbiasa ditindas, tapi ia tetap merasa takut. Apalagi saat ini ia berada di tempat asing.

"Ini percobaan pembunuhan yang keenam, Nona Ellisha Faelwen," kata Raja.

Elina langsung didorong ke lantai. Ia sedikit menoleh dan melihat sosok Charless ada di belakangnya. Pria itu menatapnya tanpa senyum sedikit pun. Tidak ada kesan ramah di wajah Charless seperti yang biasa dilihatnya di komik.

"Anda diizinkan untuk membela diri," kata Raja.

"Saya tidak mungkin berani melakukannya, Yang Mulia Raja!" kata Elina dengan cepat.

"Dasar penyihir!" seru Zetrian yang baru saja masuk.

Duk!

Wajah Elina dipaksa mencium lantai oleh Charless yang ada di belakangnya. Ia tidak menyangka kalau karakter kesukaannya tega melakukan itu.

Raja berdiri dari singgasananya. "Semua penjahat mengatakan hal yang sama, Nona Ellisha de Faelwen."

Raja menoleh ke arah Mika yang sudah bersujud di samping kedua orang tua Elina.

"Kau orang yang memasukkan racun ke makanan Putri Casia, bukan?" tanya Raja sembari berjongkok tepat di depan Mika.

Mika sontak mengangkat kepalanya, lalu mengangguk berkali-kali. Raja tersenyum tipis namun sorot matanya semakin menajam.

"Apa benar, Nona Ellisha Faelwen yang memerintahkanmu?"

"Benar, Yang Mulia Raja! Nona sendiri yang membuat racunnya!" jelas Mika.

Tangan Charless semakin kuat mendorong wajah Elina ke lantai. Bahkan gadis itu sampai kesulitan bernapas. Jika ditekan sedikit lagi, mungkin saja hidungnya akan patah.

"Pelayan Anda sudah berkata jujur, Nona. Sampai kapan Anda akan terus berkilah seperti ini?" tanya Raja.

"Jujurlah, Ellisha. Kami tidak akan marah padamu," kata Roseria sembari memasang wajah sedih.

Elina tersenyum getir. Ia memilih tetap diam. Sebab kata tidaknya tentu saja seperti angin belaka.

"Bawa dia ke penjara bawah tanah bersama pelayannya!" titah Raja.

Elina kembali ditarik dengan kasar. Setelah berdiri, ia bisa melihat lagi wajah-wajah yang memandang ke arahnya dengan ekspresi benci.

"Duke Charless. Sebagai tunangannya, Saya memerintahkan Anda untuk mengawasi Nona Ellisha de Faelwen!" kata Raja sebelum kembali duduk di atas singgasananya.

Elina merasa sangat sesak saat melihat Charless dengan patuh memberikan penghormatan pada Sang Raja. Lalu ia ditarik keluar dari ruangan besar tersebut.

Begitu tiba di luar, Charless meminta pengawal untuk memberikan waktu berdua pada mereka. Setelah itu, ia mencengkram wajah Elina. Sorot matanya sangat tajam. Elina tidak pernah melihatnya di komik.

"Jika Anda terbukti melakukannya, saya akan membunuh Anda dengan tangan saya sendiri!"

"Saya tidak melakukannya, Duke," kata Elina dengan suara bergetar.

Charless tersenyum. "Bahkan jika Anda dilahirkan kembali, saya tetap tidak akan percaya."

~~~

Penjara bawah tanah terasa begitu dingin dan gelap. Elina menoleh ke segala arah. Tidak ada lubang cahaya sama sekali. Mika yang ada di sampingnya sudah gemetar hebat.

"Mengapa kamu berbohong di depan Yang Mulia Raja?" tanya Elina.

Mika sontak menoleh sambil melotot. "Saya tidak mau sendirian di tempat ini!"

"Siapa yang memberimu tugas berbahaya ini?"

Mika diam seribu kata. Ia membuang wajahnya ke sembarang arah. Rupanya Mika memang terlatih untuk menutup mulut.

Waktu berjalan tanpa Elina tahu sudah siang atau malam. Namun udara di sekitar mendadak sangat dingin. Bahkan napas mereka sampai mengeluarkan asap.

Elina melirik Mika. Pakaian pelayan yang dikenakan gadis mungil itu pasti tidak cukup untuk menghangatkan tubuhnya. Walaupun Elina sendiri hanya menggunakan jubah mandi.

"Mendekat ke sini," kata Elina.

Mika menatapnya dengan sinis. Ia menggeleng kuat dan semakin menjauhkan tubuhnya dari Elina.

Srek!!

Mika sangat terkejut saat mendengar suara tersebut. Walau dalam kegelapan, ia bisa melihat Elina tengah merobek bagian bawah pakaiannya.

"No-Nona! Apa yang Anda lakukan?! Apa Anda benar-benar sudah gila?!" seru Mika.

Elina tidak menjawab. Ia sibuk mencari cara agar api bisa muncul di telapak tangannya. Sebab ia tahu kalau Ellisha merupakan penyihir api yang hebat. Mengeluarkan setitik api tentu bukan hal yang mustahil.

"Tolong datangkan api ...," gumam Elina lirih.

Cukup lama Elina menunggu. Akhirnya api kecil muncul dari telunjuknya. Namun warna apinya sedikit berbeda dengan milik Ellisha yang pernah ia lihat dalam mimpi.

"A-apinya berwarna biru!" pekik Mika.

Tiba-tiba saja sebuah pedang masuk melalui celah penjara. Nampak Charless sudah berdiri di depan pintu tengah menatapnya tanpa ekspresi.

"Jangan melakukan hal yang mencurigakan. Anda masih dalam tahap penyelidikan!" tegur Charless.

Elina tertawa kaku. Ia menggeleng berulang kali.

"Saya hanya ingin menyalakan api."

Ya tuhan! Di tengah kegelapan pun dia tetap terlihat tampan! Yaa ... walaupun dia cukup kejam, pekik Elina dalam hati.

Terjadi keheningan setelahnya. Elina dan Mika menikmati hangatnya api yang dibuat menggunakan sihir. Sementara Charless tengah sibuk membaca surat sembari berdiri. Perhatian Elina mulai teralihkan saat pria itu berjongkok di depan pintu penjara.

"Mengapa Anda tidak jujur saja pada Yang Mulia Raja?" tanya Charless.

Elina tersenyum miring. "Lalu saya dihukum karena kesalahan yang tidak saya lakukan?"

"Barang buktinya sudah ditemukan, Nona Faelwen! Cepat atau lambat kebenarannya akan terungkap."

Elina melirik Mika yang sedari tadi diam. Wajahnya nampak pucat saat mendengar ucapan Charless. Jika tidak punya hati, mungkin Elina sudah membocorkan semua tingkah yang dilakukan oleh pelayan kiriman Roseria tersebut.

"Kalau saya mengakuinya, apa hukuman yang akan saya dapatkan? Apakah hukuman penggal?" tanya Elina.

Tatapan Charless berubah tajam. "Jika itu saya, maka saya akan langsung menjatuhi hukuman penggal!"

"Untung saja Yang Mulia Raja bukan orang seperti Anda. Beliau sangat murah hati sampai masih membiarkan saya hidup."

Charless mencengkram besi penjara. Tatapannya sama sekali tidak lepas dari Elina.

"Yang Mulia Raja akan mengirim Anda ke barisan depan saat peperangan, Nona Faelwen!" kata Charless dengan tegas.

Elina mengerutkan dahinya. Ia teringat dengan bagian cerita saat perang terjadi. Zetrian dan Charless mengalami luka parah. Namun saat kembali ke kediaman, hanya Zetrian yang mendapat perhatian dari Casia.

Elina mendecak pelan. "Aku benci bagian itu."

"Jika Anda membencinya. Hukuman yang tersisa hanya dibakar di atas altar kesucian."

"Tidak! Saya akan ikut berperang!" jawab Elina dengan cepat.

Aku akan menyelamatkanmu!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   27. Terjebak Di Hutan

    Elina merasa sangat takut saat Galiard datang membaca barang yang diminta oleh Charless. Tidak ada satu pun yang bicara. Apalagi saat Charless nampak sedang menempelkan besi di bara yang menyala."Maafkan saya, Nona. Tapi separuh perjalanan hidup, saya habiskan bersama pekerjaan ini," ujar Charless.Elina tidak menjawab. Matanya tidak bisa berpaling dari besi yang sebagiannya sudah berwarna merah."Baiklah. Saya akan mulai dengan pertanyaan yang mudah," ujar Zetrian sembari berjalan ke belakang Elina.Elina menelan ludahnya dengan kasar. Besi panas itu sudah digenggam oleh Charless. Hanya jawabannya yang bisa menentukan besi itu menempel di wajahnya atau tidak."Apa Nona tau rencana ayah Anda?" tanya Zetrian.Elina menggeleng pelan. Tatapannya bertemu dengan Charless. Zetrian mendeham beberapa kali, namun tidak ada pergerakan."Duke?" panggil Zetrian.Charless mengerjap, lalu menoleh ke arah Zetrian. "Ya?""Mengapa kau melamun? Dasar bodoh!"Zetrian langsung mengambil alih besi itu, n

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   26. Elina Diintrogasi

    Charless merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia mengusap wajah dengan kasar saat teringat ucapan Zetrian. Nampaknya pria itu benar-benar ingin membuat Ellisha membuka mulut terkait aktivitas ilegal yang dilakukan ayahnya."Bagaimana jika gadis itu tidak bicara, bahkan setelah besi panas menempel di wajahnya?"Charless mendesah gusar. Ia bergegas bangun dan mengenakan mantel hitam panjangnya. Begitu keluar kamar, ia langsung menemukan Ellisha tengah berdiri di balkon lantai dua.Entah mengapa Charless selalu merasa ada kesedihan yang menyelimuti gadis itu. Apalagi saat tengah berdiri sendirian di tengah malam seperti ini."Anda tidak tidur, Nona?" tanya Charless."Se-sebentar lagi."Kedua tangan Charless terkepal kuat. Bagaimana bisa gadis yang terlihat sangat rapuh itu terlibat dengan Torico. Salah satu kandidat yang dicurigai ingin melakukan pemberontakan.Charless berdiri di samping Ellisha yang hanya setinggi dadanya. Gadis itu nampak kedinginan karena tidak mengenakan mantel. Tanpa di

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   25. Kelicikan Zetrian

    Elina meronta saat Zetrian secara langsung turun tangan merantai kedua tangannya. Padahal ia yakin selama ini tidak pernah melakukan kesalahan yang melibatkan kerajaan."Tunggu sebentar, Yang Mulia Pangeran!" seru Elina sembari membungkuk. Ia masih harus menjaga sopan santunnya."Kebohongan apa lagi yang ingin Anda sebarkan, Nona Faelwen?" tanya Zetrian, senyum miring terpasang di wajahnya.Kedua tangan Elina terkepal kuat. Jika tidak dirantai, mungkin saja ia sudah memukul wajah tampan pria tersebut."Saya tidak tahu alasan Yang Mulia menangkap saya.""Tidak perlu alasan untuk menyeret keluarga Faelwen, termasuk Anda, Nona!"Dahi Elina mengkerut. "Tapi saya tidak melakukan kesalahan apa pun!""Bawa dia keluar!" seru Zetrian.Tubuh Elina yang belum terisi makanan apa pun itu nyaris terbang saat pengawal menarik rantai yang ada di tangannya. Ia bisa merasakan nyeri hebat di sekitar pergelangan tangan. Namun memohon seperti apa pun tidak akan mendapat belas kasihan dari Zetrian yang sud

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   24. Pangeran Zetrian Mencurigai Elina!

    Gosip mengenai Ellisha De Faelwen menyebar luas. Ada yang mengatakan bahwa sang antagonis itu bertobat karena usianya tidak lama lagi. Ada pula yang mengatakan kalau Ellisha sang pembuat onar mengalami gegar otak saat jatuh ke sungai beberapa bulan lalu.Mau bertobat atau pun gegar otak, keduanya sama-sama menarik perhatian Pangeran Zetrian. Pria yang selama ini tutup mata soal Ellisha De Faelwen, mulai mengirim mata-mata untuk mengawasi wanita tersebut."Apakah kabar itu benar?" tanya Zetrian.Charless menghela napas pelan. "Masih belum dipastikan kebenarannya, Pangeran."Zetrian memijat keningnya. "Jangan sampai ada yang terlewat. Bisa saja ini direncanakan untuk menutupi kebusukan Count Faelwen.""Apa maksud Anda, Pangeran?"Zetrian menatap sahabat lamanya itu dengan wajah bingung. Ia tertawa pelan penuh paksaan. Sedetik kemudian raut wajahnya kembali serius."Jangan hanya karena perubahan kecil, kau sampai melupakan semua kejahatan gadis itu!" kata Zetrian dengan tegas.Charless m

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   23. Dugaan Galiard Tentang Elina

    Elina memacu langkahnya lebih cepat, namun Charless tetap bisa mengikutinya. Bahkan pria itu sampai bisa menyamakan langkah dengannya. Elina langsung menoleh saat Charless berada tepat di sampingnya."Mengapa Duke mengikuti saya?" tanya Elina. Ia membuang pandangannya ke sembarang arah.Elina bisa merasakan Charless yang terus memandanginya. Ia mendeham pelan untuk meredakan gugupnya."Anda tidak dengar?""Ada apa dengan penampilan Anda?" tanya Charless.Elina menunduk sembari melihat pakaiannya saat ini. Ia menggaruk tengkuknya sembari tertawa kaku."Sa-saya hanya ingin mencoba pakaian ini," jawab Elina sekenanya.Charless mengangguk pelan. "Pakaian itu bukan untuk menghindariku 'kan?""Tidak!"Charless tersenyum, ia langsung menghadang jalan Elina dengan tubuh besarnya. Elina mendecak pelan melihat tingkah pria tersebut."Bukankah Duke seharusnya sedang makan malam?" tanya Elina.Charless mengangguk. "Tapi saya tidak melihat Nona di sana. Nafsu makan saya langsung hilang.""Berhenti

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   22. Elina menghindari Charless

    Setelah sadarkan diri, Elina tidak berani keluar dari kamar. Ia masih sangat terkejut dengan kejadian di taman. Walau ia sangat menyukai Charless, namun sama sekali tidak terlintas dipikirannya untuk berciuman dengan pria tersebut. Sama sekali tidak!Selama ini rasa suka Elina pada Charless tidak lebih dari seorang penggemar. Ia ingin memberikan kisah yang indah pada pria tersebut. Walau sesekali saat membaca komik, terlintas rasa ingin menggenggam tangan Charless."Nona, Tuan Duke akan makan malam bersama Count dan Countess. Apa Nona ingin ikut?" tanya Mika.Kepala Elina langsung menggeleng. "Tidak! Saya akan makan di kamar.""Bagaimana kalau Tuan Duke mencari Nona?""Tidak akan!" sanggah Elina dengan cepat."Tapi saat mengantar Nona yang pingsan tadi siang, Tuan Duke kelihatan sangat khawatir. Mungkin saja—""Mika, bisakah kau mengambilkan makanan sekarang?" potong Elina.Mika mengangguk cepat. Gadis itu langsung menghilang secepat kilat.Setelah kepergian Mika, ia bergegas mengganti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status