LOGIN"Begitu memasuki istana, kamu harus tersenyum, Ellisha!" bisik Torico de Faelwen, ayah Ellisha.
Elina tidak punya pilihan lain selain mengangguk patuh. Sebab saat ini sebilah pisau sudah ditodongkan ayahnya dari samping. Sementara Roseria hanya diam sembari mengamati wajahnya di cermin.
Saat melewati pintu masuk istana, Elina tersenyum kaku. Ia mengedarkan pandangan ke segala arah. Pemandangan yang hanya bisa dilihat dalam komik, kini ada di depannya. Air mancur di dalam aula, musik yang begitu tenang, dan tidak lupa gaun mewah di segala penjuru. Khas pesta dansa di komik kerajaan.
"Nona Faelwen, bolehkah saya memberi salam pada Anda?"
Elina sontak menoleh saat seorang pria tua bertubuh tinggi membungkuk di depannya.
"Ah, Marquess Rowguen. Tentu saja Anda bisa memberi salam pada putriku," ujar Torico.
Elina yang bingung hanya bisa diam. Ia bisa melihat dengan jelas saat sebelah tangannya digenggam oleh pria tersebut. Lalu mulai mengarahkan punggung tangan Elina ke bibirnya.
Secepat mungkin Elina menarik tangannya. Ia terkejut bukan main. Bisa-bisanya pria yang terlihat berumur setengah abad ingin mencium tangan gadis muda.
"Ellisha!" bentak Torico dengan suara cukup keras.
Elina sontak mundur saat semua mata mengarah padanya. Mereka nampak ingin tahu apa yang terjadi saat ini.
"Ma-maafkan saya!" ujar Elina sembari membungkuk 90 derajat.
Orang yang ada di sana langsung terkejut melihatnya. Selama ini hanya wanita dari kalangan bawah yang meminta maaf dengan cara seperti itu.
"Ellisha! Ikut aku!" kata Roseria sembari menarik paka tangan Elina.
Begitu tiba di lorong yang sepi, Roseria langsung mendorong Elina hingga membentur dinding. Tidak berhenti sampai di sana, ia juga melayangkan tamparan keras di pipi Elina.
"Di mana tata kramamu?!" kata Roseria.
Elina menelan ludahnya dengan kasar. Ia tidak tahu apa pun tentang tata krama di tempat ini. Menurutnya meminta maaf dengan cara membungkuk sudah termasuk sangat sopan saat berada di Indonesia.
"Kamu hanya perlu sedikit membungkuk untuk minta maaf! Apa kamu bodoh tidak mengerti hal mudah seperti itu?!"
"Maafkan saya."
Roseria yang mulai jengah mendengar permintaan maaf langsung mengangkat tangannya. Elina sontak menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Countess Faelwen?"
Roseria dan Elina menoleh bersamaan. Nampak pria bertubuh tinggi disertai dada bidang dan berambut cokelat tengah bersandar di dekat jendela. Pria itu menyisir rambutnya ke belakang, lalu menatap tajam ke arah mereka.
Mata Elina langsung membulat. Ia tahu betul gestur yang dilakukan pria tersebut.
"Cha-Charless masih hidup ...," gumam Elina lirih.
Tanpa bisa dikendalikan, Elina langsung berlari dan memeluk Charless dengan erat. Ia tidak menyangka bisa bertemu dengan karakter favoritnya di komik. Ia menangis tersedu-sedu di dada bidang pria tersebut. Charless hanya bisa melempar tatapan bingung ke arah Roseria.
"Sepertinya Anda gagal mengajarkan tata krama pada putri Anda, Countess."
Roseria menunduk. "Ma-maafkan saya, Duke Frederick."
Charless langsung mendorong tubuh Elina menjauh darinya. Ia mendecih kesal saat melihat tuxedonya basah karena air mata.
"Sepertinya Anda harus memperbaiki riasan lagi, Nona Faelwen," ujar Charless sembari menyodorkan sapu tangan bergambar burung.
Senyum Elina langsung mengembang. Ia menyambut sapu tangan dengan antusias. Walau malu-malu, namun ia tetap mencium benda itu tepat di depan pemiliknya.
"Sebaiknya Anda tidak terlalu lama. Yang Mulia Raja bisa marah besar kalau tidak melihat kita di pesta."
Elina mengangguk dengan penuh semangat walau air matanya mengalir semakin deras. Ia menampar sebelah pipinya cukup keras hingga membuat Charless dan Roseria bingung.
Cha-Charless ada di depanku!! jerit Elina di dalam hati.
"Sepertinya putri Anda sakit, Countess," ujar Charless.
Roseria hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Lalu melempar tatapan tajam ke arah Elina yang sedang mencubit pipi dan tangannya berulang kali.
Apa yang sedang kau rencanakan kali ini, Ellisha?
~~~
Tuk!
"Aww!"
Tuk!
"Berhenti menginjak kaki saya, Nona."
Elina menggigit bibirnya bawahnya. Tingkat kegugupannya sudah mencapai level maksimal. Ia bahkan tidak bisa menatap wajah Charless.
Kali ini keringat yang sangat dingin mulai membanjiri wajahnya. Perutnya terasa sangat mual. Ia menoleh ke segela arah untuk mencari toilet. Namun ia tidak menemukannya.
"A-anu ... Charless—eh! Maksud saya Duke," panggil Elina setengah berbisik.
"Ya? Apa mulai lelah, Nona?" jawab Charless.
Elina memejamkan matanya dengan erat. Ia menahan kedua sudut bibirnya agar tidak melengkung.
Bahkan suaranya tampan! Jika terlalu lama aku bisa pingsan di sini! jerit Elina dalam hati.
"To-toilet," ujar Elina lirih.
Charless mengerutkan dahinya. "Apa sangat mendesak?"
"Sa-saya ingin membasuh wajah."
Charless langsung menghentikan gerakan dansanya. Ia merangkul pinggang Elina tanpa permisi. Namun mereka tidak pergi ke mana-mana.
"Charless!"
Elina membulatkan matanya saat melihat gadis cantik berambut pirang setengah berlari ke arah mereka. Gadis itu tidak sendiri, di sampingnya ada pria tampan berambut merah. Tubuhnya tidak kalah proporsial dari Charless.
Mereka ... pemeran utama dalam komik yang aku baca!!! jerit Elina dalam hati.
"Sudah ku bilang berulang kali, jangan berlari Putri Casia," kata Charless sembari mencium punggung tangan gadis tersebut.
Charless mencium putri! Persis dengan chapter 2 di komik! Elina menutup mulutnya dengan mata melotot.
"Aku tidak sabar ingin bertemu denganmu dan Nona Faelwen," kata Casia, sesekali ia melirik ke arah Elina.
"Lama tidak bertemu, Pangeran Zetrian," kata Charless membungkuk dengan tangan di depan dada.
"Bagaimana kabarmu setelah perang di perbatasan?" tanya Zetrian.
Elina merasa kepalanya mendadak kosong. Baik Zetrian maupun Charless benar-benar memiliki ketampanan yang menyilaukan.
"Charless pasti melakukannya dengan baik!" sahut Casia.
Zetrian mengusap puncak kepala gadis tersebut. "Aku bertanya pada Charless."
Senyum Elina mendadak pudar saat melihat Charless yang menatap datar kedua orang tersebut. Ia sempat lupa kalau Charless hanyalah orang ketiga di antara Casia dan Zetrian.
Secepat mungkin ia merangkul sebelah tangan pria tersebut. Ia tersenyum secerah mungkin ke arah sepasang kekasih tersebut.
"Maaf jika saya mengganggu perbincangan kalian. Tapi ... baby, saya sudah tidak bisa menahannya lagi," kata Elina sembari mengerucutkan bibirnya pada Charless.
Zetrian, Casia, dan Charless sontak menoleh ke arah Elina. Wajah mereka nampak terkejut. Sementara Elina masih terus tersenyum menunggu jawaban dari Charless.
"Ah, maaf karena mengganggu waktu kalian berdua!" kata Casia.
Elina menggeleng cepat. "Tidak apa-apa. Senang bertemu dengan Anda berdua."
Charless mendeham pelan. "Ayo pergi."
Akhirnya mereka keluar dari tempat dansa. Charless membawa Elina keluar dari istana menuju ke taman. Mereka duduk di kursi dekat air mancur berbentuk hati.
Elina menghela napas lega. Setelah keluar, rasa mual di perutnya menghilang. Ia menoleh ke arah Charless yang ternyata tengah menatapnya.
"Hei, Nona Faelwen," panggil Charless.
Elina mengerjap beberapa kali. Ditatap dari dekat oleh Charless membuatnya sangat gugup.
"Ya, Duke?"
"Jika memanggil saya dengan panggilan aneh itu sekali lagi, saya akan memenjarakan Anda!" kata Charless dengan tegas.
"Pa-panggilan aneh? Apa maksud Anda?"
"Baby. Saya bukan anak bayi."
Elina tertawa pelan. Ia memandang langit sore hari yang begitu cerah.
"Kenapa begitu? Padahal Duke terlihat menggemaskan seperti bayi."
Elina tersenyum tipis sembari menunduk. Ia teringat, sosok yang menggemaskan itu nantinya akan membakarnya hidup-hidup.
Lalu dia menyesal dan mengakhiri hidupnya sendiri, batin Elina.
Kedua mata Elina mulai berkaca-kaca. Saat air mata hendak menetes, ia langsung bangun dari tempat duduk dan menengadahkan kepalanya menatap langit malam.
"Sangat menggemaskan. Sampai saya ingin memberikan akhir yang indah untuk Anda," kata Elina sembari tersenyum.
Charless mengerutkan dahinya. "Akhir yang indah?"
Elina menelan ludahnya. Ia memberanikan diri untuk menatap Charless. Lalu ia tersenyum lebar hingga matanya menyipit.
"Saya ingin Duke bahagia. Walau harus merelakan kebahagiaan saya."
Elina merasa sangat takut saat Galiard datang membaca barang yang diminta oleh Charless. Tidak ada satu pun yang bicara. Apalagi saat Charless nampak sedang menempelkan besi di bara yang menyala."Maafkan saya, Nona. Tapi separuh perjalanan hidup, saya habiskan bersama pekerjaan ini," ujar Charless.Elina tidak menjawab. Matanya tidak bisa berpaling dari besi yang sebagiannya sudah berwarna merah."Baiklah. Saya akan mulai dengan pertanyaan yang mudah," ujar Zetrian sembari berjalan ke belakang Elina.Elina menelan ludahnya dengan kasar. Besi panas itu sudah digenggam oleh Charless. Hanya jawabannya yang bisa menentukan besi itu menempel di wajahnya atau tidak."Apa Nona tau rencana ayah Anda?" tanya Zetrian.Elina menggeleng pelan. Tatapannya bertemu dengan Charless. Zetrian mendeham beberapa kali, namun tidak ada pergerakan."Duke?" panggil Zetrian.Charless mengerjap, lalu menoleh ke arah Zetrian. "Ya?""Mengapa kau melamun? Dasar bodoh!"Zetrian langsung mengambil alih besi itu, n
Charless merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia mengusap wajah dengan kasar saat teringat ucapan Zetrian. Nampaknya pria itu benar-benar ingin membuat Ellisha membuka mulut terkait aktivitas ilegal yang dilakukan ayahnya."Bagaimana jika gadis itu tidak bicara, bahkan setelah besi panas menempel di wajahnya?"Charless mendesah gusar. Ia bergegas bangun dan mengenakan mantel hitam panjangnya. Begitu keluar kamar, ia langsung menemukan Ellisha tengah berdiri di balkon lantai dua.Entah mengapa Charless selalu merasa ada kesedihan yang menyelimuti gadis itu. Apalagi saat tengah berdiri sendirian di tengah malam seperti ini."Anda tidak tidur, Nona?" tanya Charless."Se-sebentar lagi."Kedua tangan Charless terkepal kuat. Bagaimana bisa gadis yang terlihat sangat rapuh itu terlibat dengan Torico. Salah satu kandidat yang dicurigai ingin melakukan pemberontakan.Charless berdiri di samping Ellisha yang hanya setinggi dadanya. Gadis itu nampak kedinginan karena tidak mengenakan mantel. Tanpa di
Elina meronta saat Zetrian secara langsung turun tangan merantai kedua tangannya. Padahal ia yakin selama ini tidak pernah melakukan kesalahan yang melibatkan kerajaan."Tunggu sebentar, Yang Mulia Pangeran!" seru Elina sembari membungkuk. Ia masih harus menjaga sopan santunnya."Kebohongan apa lagi yang ingin Anda sebarkan, Nona Faelwen?" tanya Zetrian, senyum miring terpasang di wajahnya.Kedua tangan Elina terkepal kuat. Jika tidak dirantai, mungkin saja ia sudah memukul wajah tampan pria tersebut."Saya tidak tahu alasan Yang Mulia menangkap saya.""Tidak perlu alasan untuk menyeret keluarga Faelwen, termasuk Anda, Nona!"Dahi Elina mengkerut. "Tapi saya tidak melakukan kesalahan apa pun!""Bawa dia keluar!" seru Zetrian.Tubuh Elina yang belum terisi makanan apa pun itu nyaris terbang saat pengawal menarik rantai yang ada di tangannya. Ia bisa merasakan nyeri hebat di sekitar pergelangan tangan. Namun memohon seperti apa pun tidak akan mendapat belas kasihan dari Zetrian yang sud
Gosip mengenai Ellisha De Faelwen menyebar luas. Ada yang mengatakan bahwa sang antagonis itu bertobat karena usianya tidak lama lagi. Ada pula yang mengatakan kalau Ellisha sang pembuat onar mengalami gegar otak saat jatuh ke sungai beberapa bulan lalu.Mau bertobat atau pun gegar otak, keduanya sama-sama menarik perhatian Pangeran Zetrian. Pria yang selama ini tutup mata soal Ellisha De Faelwen, mulai mengirim mata-mata untuk mengawasi wanita tersebut."Apakah kabar itu benar?" tanya Zetrian.Charless menghela napas pelan. "Masih belum dipastikan kebenarannya, Pangeran."Zetrian memijat keningnya. "Jangan sampai ada yang terlewat. Bisa saja ini direncanakan untuk menutupi kebusukan Count Faelwen.""Apa maksud Anda, Pangeran?"Zetrian menatap sahabat lamanya itu dengan wajah bingung. Ia tertawa pelan penuh paksaan. Sedetik kemudian raut wajahnya kembali serius."Jangan hanya karena perubahan kecil, kau sampai melupakan semua kejahatan gadis itu!" kata Zetrian dengan tegas.Charless m
Elina memacu langkahnya lebih cepat, namun Charless tetap bisa mengikutinya. Bahkan pria itu sampai bisa menyamakan langkah dengannya. Elina langsung menoleh saat Charless berada tepat di sampingnya."Mengapa Duke mengikuti saya?" tanya Elina. Ia membuang pandangannya ke sembarang arah.Elina bisa merasakan Charless yang terus memandanginya. Ia mendeham pelan untuk meredakan gugupnya."Anda tidak dengar?""Ada apa dengan penampilan Anda?" tanya Charless.Elina menunduk sembari melihat pakaiannya saat ini. Ia menggaruk tengkuknya sembari tertawa kaku."Sa-saya hanya ingin mencoba pakaian ini," jawab Elina sekenanya.Charless mengangguk pelan. "Pakaian itu bukan untuk menghindariku 'kan?""Tidak!"Charless tersenyum, ia langsung menghadang jalan Elina dengan tubuh besarnya. Elina mendecak pelan melihat tingkah pria tersebut."Bukankah Duke seharusnya sedang makan malam?" tanya Elina.Charless mengangguk. "Tapi saya tidak melihat Nona di sana. Nafsu makan saya langsung hilang.""Berhenti
Setelah sadarkan diri, Elina tidak berani keluar dari kamar. Ia masih sangat terkejut dengan kejadian di taman. Walau ia sangat menyukai Charless, namun sama sekali tidak terlintas dipikirannya untuk berciuman dengan pria tersebut. Sama sekali tidak!Selama ini rasa suka Elina pada Charless tidak lebih dari seorang penggemar. Ia ingin memberikan kisah yang indah pada pria tersebut. Walau sesekali saat membaca komik, terlintas rasa ingin menggenggam tangan Charless."Nona, Tuan Duke akan makan malam bersama Count dan Countess. Apa Nona ingin ikut?" tanya Mika.Kepala Elina langsung menggeleng. "Tidak! Saya akan makan di kamar.""Bagaimana kalau Tuan Duke mencari Nona?""Tidak akan!" sanggah Elina dengan cepat."Tapi saat mengantar Nona yang pingsan tadi siang, Tuan Duke kelihatan sangat khawatir. Mungkin saja—""Mika, bisakah kau mengambilkan makanan sekarang?" potong Elina.Mika mengangguk cepat. Gadis itu langsung menghilang secepat kilat.Setelah kepergian Mika, ia bergegas mengganti







