Inicio / Historical / Akhir Yang Indah Untuk Duke / 02. Bertemu Karakter Kesukaan!

Compartir

02. Bertemu Karakter Kesukaan!

Autor: Miss Kyo
last update Última actualización: 2025-02-25 16:39:28

"Begitu memasuki istana, kamu harus tersenyum, Ellisha!" bisik Torico de Faelwen, ayah Ellisha.

Elina tidak punya pilihan lain selain mengangguk patuh. Sebab saat ini sebilah pisau sudah ditodongkan ayahnya dari samping. Sementara Roseria hanya diam sembari mengamati wajahnya di cermin.

Saat melewati pintu masuk istana, Elina tersenyum kaku. Ia mengedarkan pandangan ke segala arah. Pemandangan yang hanya bisa dilihat dalam komik, kini ada di depannya. Air mancur di dalam aula, musik yang begitu tenang, dan tidak lupa gaun mewah di segala penjuru. Khas pesta dansa di komik kerajaan.

"Nona Faelwen, bolehkah saya memberi salam pada Anda?"

Elina sontak menoleh saat seorang pria tua bertubuh tinggi membungkuk di depannya.

"Ah, Marquess Rowguen. Tentu saja Anda bisa memberi salam pada putriku," ujar Torico.

Elina yang bingung hanya bisa diam. Ia bisa melihat dengan jelas saat sebelah tangannya digenggam oleh pria tersebut. Lalu mulai mengarahkan punggung tangan Elina ke bibirnya.

Secepat mungkin Elina menarik tangannya. Ia terkejut bukan main. Bisa-bisanya pria yang terlihat berumur setengah abad ingin mencium tangan gadis muda.

"Ellisha!" bentak Torico dengan suara cukup keras.

Elina sontak mundur saat semua mata mengarah padanya. Mereka nampak ingin tahu apa yang terjadi saat ini.

"Ma-maafkan saya!" ujar Elina sembari membungkuk 90 derajat.

Orang yang ada di sana langsung terkejut melihatnya. Selama ini hanya wanita dari kalangan bawah yang meminta maaf dengan cara seperti itu.

"Ellisha! Ikut aku!" kata Roseria sembari menarik paka tangan Elina.

Begitu tiba di lorong yang sepi, Roseria langsung mendorong Elina hingga membentur dinding. Tidak berhenti sampai di sana, ia juga melayangkan tamparan keras di pipi Elina.

"Di mana tata kramamu?!" kata Roseria.

Elina menelan ludahnya dengan kasar. Ia tidak tahu apa pun tentang tata krama di tempat ini. Menurutnya meminta maaf dengan cara membungkuk sudah termasuk sangat sopan saat berada di Indonesia.

"Kamu hanya perlu sedikit membungkuk untuk minta maaf! Apa kamu bodoh tidak mengerti hal mudah seperti itu?!"

"Maafkan saya."

Roseria yang mulai jengah mendengar permintaan maaf langsung mengangkat tangannya. Elina sontak menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Countess Faelwen?"

Roseria dan Elina menoleh bersamaan. Nampak pria bertubuh tinggi disertai dada bidang dan berambut cokelat tengah bersandar di dekat jendela. Pria itu menyisir rambutnya ke belakang, lalu menatap tajam ke arah mereka.

Mata Elina langsung membulat. Ia tahu betul gestur yang dilakukan pria tersebut.

"Cha-Charless masih hidup ...," gumam Elina lirih.

Tanpa bisa dikendalikan, Elina langsung berlari dan memeluk Charless dengan erat. Ia tidak menyangka bisa bertemu dengan karakter favoritnya di komik. Ia menangis tersedu-sedu di dada bidang pria tersebut. Charless hanya bisa melempar tatapan bingung ke arah Roseria.

"Sepertinya Anda gagal mengajarkan tata krama pada putri Anda, Countess."

Roseria menunduk. "Ma-maafkan saya, Duke Frederick."

Charless langsung mendorong tubuh Elina menjauh darinya. Ia mendecih kesal saat melihat tuxedonya basah karena air mata.

"Sepertinya Anda harus memperbaiki riasan lagi, Nona Faelwen," ujar Charless sembari menyodorkan sapu tangan bergambar burung.

Senyum Elina langsung mengembang. Ia menyambut sapu tangan dengan antusias. Walau malu-malu, namun ia tetap mencium benda itu tepat di depan pemiliknya.

"Sebaiknya Anda tidak terlalu lama. Yang Mulia Raja bisa marah besar kalau tidak melihat kita di pesta."

Elina mengangguk dengan penuh semangat walau air matanya mengalir semakin deras. Ia menampar sebelah pipinya cukup keras hingga membuat Charless dan Roseria bingung.

Cha-Charless ada di depanku!! jerit Elina di dalam hati.

"Sepertinya putri Anda sakit, Countess," ujar Charless.

Roseria hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Lalu melempar tatapan tajam ke arah Elina yang sedang mencubit pipi dan tangannya berulang kali.

Apa yang sedang kau rencanakan kali ini, Ellisha? 

~~~

Tuk!

"Aww!"

Tuk!

"Berhenti menginjak kaki saya, Nona."

Elina menggigit bibirnya bawahnya. Tingkat kegugupannya sudah mencapai level maksimal. Ia bahkan tidak bisa menatap wajah Charless.

Kali ini keringat yang sangat dingin mulai membanjiri wajahnya. Perutnya terasa sangat mual. Ia menoleh ke segela arah untuk mencari toilet. Namun ia tidak menemukannya.

"A-anu ... Charless—eh! Maksud saya Duke," panggil Elina setengah berbisik.

"Ya? Apa mulai lelah, Nona?" jawab Charless.

Elina memejamkan matanya dengan erat. Ia menahan kedua sudut bibirnya agar tidak melengkung.

Bahkan suaranya tampan! Jika terlalu lama aku bisa pingsan di sini! jerit Elina dalam hati.

"To-toilet," ujar Elina lirih.

Charless mengerutkan dahinya. "Apa sangat mendesak?"

"Sa-saya ingin membasuh wajah."

Charless langsung menghentikan gerakan dansanya. Ia merangkul pinggang Elina tanpa permisi. Namun mereka tidak pergi ke mana-mana.

"Charless!"

Elina membulatkan matanya saat melihat gadis cantik berambut pirang setengah berlari ke arah mereka. Gadis itu tidak sendiri, di sampingnya ada pria tampan berambut merah. Tubuhnya tidak kalah proporsial dari Charless.

Mereka ... pemeran utama dalam komik yang aku baca!!! jerit Elina dalam hati.

"Sudah ku bilang berulang kali, jangan berlari Putri Casia," kata Charless sembari mencium punggung tangan gadis tersebut.

Charless mencium putri! Persis dengan chapter 2 di komik! Elina menutup mulutnya dengan mata melotot. 

"Aku tidak sabar ingin bertemu denganmu dan Nona Faelwen," kata Casia, sesekali ia melirik ke arah Elina.

"Lama tidak bertemu, Pangeran Zetrian," kata Charless membungkuk dengan tangan di depan dada.

"Bagaimana kabarmu setelah perang di perbatasan?" tanya Zetrian.

Elina merasa kepalanya mendadak kosong. Baik Zetrian maupun Charless benar-benar memiliki ketampanan yang menyilaukan.

"Charless pasti melakukannya dengan baik!" sahut Casia.

Zetrian mengusap puncak kepala gadis tersebut. "Aku bertanya pada Charless."

Senyum Elina mendadak pudar saat melihat Charless yang menatap datar kedua orang tersebut. Ia sempat lupa kalau Charless hanyalah orang ketiga di antara Casia dan Zetrian.

Secepat mungkin ia merangkul sebelah tangan pria tersebut. Ia tersenyum secerah mungkin ke arah sepasang kekasih tersebut.

"Maaf jika saya mengganggu perbincangan kalian. Tapi ... baby, saya sudah tidak bisa menahannya lagi," kata Elina sembari mengerucutkan bibirnya pada Charless.

Zetrian, Casia, dan Charless sontak menoleh ke arah Elina. Wajah mereka nampak terkejut. Sementara Elina masih terus tersenyum menunggu jawaban dari Charless.

"Ah, maaf karena mengganggu waktu kalian berdua!" kata Casia.

Elina menggeleng cepat. "Tidak apa-apa. Senang bertemu dengan Anda berdua."

Charless mendeham pelan. "Ayo pergi."

Akhirnya mereka keluar dari tempat dansa. Charless membawa Elina keluar dari istana menuju ke taman. Mereka duduk di kursi dekat air mancur berbentuk hati.

Elina menghela napas lega. Setelah keluar, rasa mual di perutnya menghilang. Ia menoleh ke arah Charless yang ternyata tengah menatapnya.

"Hei, Nona Faelwen," panggil Charless.

Elina mengerjap beberapa kali. Ditatap dari dekat oleh Charless membuatnya sangat gugup.

"Ya, Duke?"

"Jika memanggil saya dengan panggilan aneh itu sekali lagi, saya akan memenjarakan Anda!" kata Charless dengan tegas.

"Pa-panggilan aneh? Apa maksud Anda?"

"Baby. Saya bukan anak bayi."

Elina tertawa pelan. Ia memandang langit sore hari yang begitu cerah.

"Kenapa begitu? Padahal Duke terlihat menggemaskan seperti bayi."

Elina tersenyum tipis sembari menunduk. Ia teringat, sosok yang menggemaskan itu nantinya akan membakarnya hidup-hidup.

Lalu dia menyesal dan mengakhiri hidupnya sendiri, batin Elina.

Kedua mata Elina mulai berkaca-kaca. Saat air mata hendak menetes, ia langsung bangun dari tempat duduk dan menengadahkan kepalanya menatap langit malam.

"Sangat menggemaskan. Sampai saya ingin memberikan akhir yang indah untuk Anda," kata Elina sembari tersenyum.

Charless mengerutkan dahinya. "Akhir yang indah?"

Elina menelan ludahnya. Ia memberanikan diri untuk menatap Charless. Lalu ia tersenyum lebar hingga matanya menyipit.

"Saya ingin Duke bahagia. Walau harus merelakan kebahagiaan saya."

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   15. Jangan Menyukai Saya

    Sejak pertanyaan terakhir Elina terjawab, tidak ada lagi yang bersuara. Bahkan sampai mereka tiba di penginapan pertama. Keduanya tidak saling bicara, bahkan untuk sekadar melempar sapaan singkat pun tidak."Nona, saatnya makan malam."Elina buru-buru merebahkan tubuhnya di kasur saat Mika mengetuk pintu kamarnya. Setelah tidak kunjung mendapat jawaban, terdengar suara pintu yang terbuka."Nona?" Elina semakin membenamkan kepalanya di bantal yang empuk tersebut."Maaf, Tuan Duke. Sepertinya Nona sudah tidur."Kedua mata Elina sontak terbuka lebar. Ia buru-buru bangun dari tempat tidurnya. Benar saja, sosok Charless ada di ambang pintu tengah berbalik hendak pergi. Secepat mungkin Elina menahan kepergian pria tersebut."Sa-saya belum tidur, Duke."Charless berbalik dengan mata menyipit. "Rupanya Nona pura-pura tidur.""Bukan begitu. Tadi ... tadi saya benar-benar mengantuk. Jadi saya—""Ayo makan malam bersama. Anggap saja ini ganti dari minum teh yang gagal," potong Charless sembari

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   14. Mengapa Duke Membenci Saya?

    Baru saja kereta kuda Elina, Mika dan Galiard tiba di gerbang, kereta kuda keluarga Frederick sudah terlihat dari kejauhan. Akhirnya mereka mengurungkan niat untuk pergi dan langsung turun.Tidak lama, Charless juga turun dari kereta kuda. Padahal biasanya ia tidak mau diturunkan di gerbang utama.Pria itu setengah berlari menghampiri Elina. Jika menonton di tv, karakter pria pasti berlari ke arah karakter wanita sembari tersenyum cerah. Tapi Charless justru terlihat dingin dan ada sedikit ekspresi marah di wajahnya."Kau ...." Charless menatap lurus ke arah Elina. Ia tidak melanjutkan ucapannya karena sibuk mengatur nafasnya."Apa yang terjadi, Tuan Duke?" tanya Galiard yang sudah ada di samping pria itu."Tolong siapkan kereta kuda!" kata Charless penuh penekanan.Galiard tidak bertanya dan langsung berlari mengikuti perintah yang diberikan. Sementara Elina diam dengan wajah bingung.Charless menunduk sembari melipat sebelah tangannya di dada dengan sopan. Elina pernah melihat gestu

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   13. Undangan Rahasia Dari Istana

    Pagi ini suasana kediaman Frederick sangat ricuh. Pelayan yang berlalu lalang di depan kamar Elina terdengar sibuk membicarakan sesuatu. Elina melirik ke arah Mika yang tengah menyisir rambutnya."Kamu tau sesuatu, Mika?"Mika menggeleng pelan. "Tidak, Nona. Saat mengambil sarapan, saya tidak mendengar apa pun.""Kalau begitu, kita harus keluar dan mencari tau!" kata Elina penuh semangat.Setelah penampilannya terlihat rapi, Elina langsung mengajak Mika keluar. Mereka sengaja berjalan mengikuti pelayan agar bisa mendapat informasi."Tuan Duke benar-benar berubah."Mereka membicarakan Charless? batin Elina."Bagaimana bisa Tuan Duke yang selama ini tidak pernah membuang siapa pun, tega memecat Agni.""Benar! Bahkan pencuri dan pembunuh bayaran selalu dibiarkan pergi. Sebenarnya apa yang dilakukan wanita ular itu pada Tuan Duke?!""Sepertinya Tuan Duke benar-benar menyukai Nona Faelwen.""Bagaimana kalau kita protes?""Kau mau kepalamu terlepas?""Tentu saja tidak!"Elina menghentikan l

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   12. Sosok Di Tepi Danau

    Elina berjalan tertatih menuju ke arah kamarnya. Ia tidak peduli dengan darah yang terus keluar. Ia menghapus jejak air mata di pipinya sembari tersenyum."Sebenarnya ... apa yang aku harapkan saat berada di tubuh penjahat ini?"Saat melintasi danau, Elina tanpa sengaja melihat sosok yang tengah duduk di atas rerumputan. Sebisa mungkin ia tidak peduli. Sebab Charless melarangnya pergi ke area danau. Namun saat hendak pergi, namanya diserukan cukup keras."Hei, Nona Faelwen!"Elina sontak menoleh. Sosok di tengah kegelapan itu berlari ke arahnya sembari melambaikan tangan.Elina yang panik langsung memaksa kakinya untuk berlari. Namun akibat terluka, ia justru kembali terjatuh. Namun pinggangnya ditahan oleh seseorang."Saya bukan penjahat. Nona tidak perlu khawatir."Elina memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya. Nampak seorang pria berambut putih berkilau tengah tersenyum ke arahnya."Si-siapa?" tanya Elina dengan suara pelan.Pria itu melepaskan tangannya dari pinggang Elina, l

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   11. Pilihan Yang Menyakitkan

    Elina tidak bisa berhenti menangis. Dadanya terasa sangat sesak setiap mengingat ucapan Charless. Pria itu sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasannya. Padahal ia ingin sekali memberitahukan sikap kurang ajar pelayan tersebut."Nona, apa sebaiknya kita pulang saja?" tanya Mika yang duduk di samping Elina.Elina langsung menggeleng. Ia masih tidak terbiasa dengan rasa sakit cambukan. Lebih baik menghadapi kata-kata kasar dari pelayan Frederick.Tiba-tiba saja gerbang belakang dekat tempat duduk mereka terbuka. Sosok berjubah cokelat datang membawa tas besar. Lalu dia menghampiri Elina."Nona, mengapa Anda menangis?" tanya sosok itu yang ternyata seorang wanita paruh baya. Ia menyodorkan sapu tangan pada Elina.Mika langsung menyambar sapu tangan tersebut. "Terima kasih. Tapi, siapa Anda?""Saya kepala koki di Frederick. Semua orang memanggil saya Madam.""Ayo kita kembali ke kamar, Mika," kata Elina sembari beranjak dari tempat duduk.Tangan Elina langsung ditahan oleh wanita ters

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   10. Bertengkar Dengan Pelayan

    "Ulangi semua yang saya ucapkan tadi!"Elina menggaruk tengkuknya. Sejak sarapan bersama dengan Charless, kepalanya seperti tidak bisa mengingat apa pun. Hanya wajah tampan pria itu yang memenuhi isi kepalanya."Tidak boleh mendekati danau?" kata Elina dengan ragu.Charless mengangguk pelan. Ia menopang kepalanya dengan sebelah tangan. Pandangannya tidak bisa lepas dari gadis tersebut."Apa lagi?" tanya Charless."Tidak boleh ke halaman belakang istana. Jangan memetik bunga di taman. Dilarang keras memasuki perpustakaan dan ruang kerja Tuan Duke."Charless mengerutkan dahinya. "Saya bertanya pada Nona Faelwen, bukan kau."Mika membungkuk. "Mohon maaf atas kelancangan saya, Tuan Duke."Baru saja Charless hendak bicara, pintu ruang tamu terbuka. Nampak Galiard datang dengan napas terengah-engah. Dia terlihat sangat terburu-buru."Yang Mulia Raja meminta Tuan untuk datang ke istana."Charless terdiam sejenak. Ia nampak seperti tengah memikirkan banyak hal. Lalu setelahnya ia langsung ber

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status