Home / Historical / Akhir Yang Indah Untuk Duke / 12. Sosok Di Tepi Danau

Share

12. Sosok Di Tepi Danau

Author: Miss Kyo
last update Last Updated: 2026-01-09 19:47:09

Elina berjalan tertatih menuju ke arah kamarnya. Ia tidak peduli dengan darah yang terus keluar. Ia menghapus jejak air mata di pipinya sembari tersenyum.

"Sebenarnya ... apa yang aku harapkan saat berada di tubuh penjahat ini?"

Saat melintasi danau, Elina tanpa sengaja melihat sosok yang tengah duduk di atas rerumputan. Sebisa mungkin ia tidak peduli. Sebab Charless melarangnya pergi ke area danau. Namun saat hendak pergi, namanya diserukan cukup keras.

"Hei, Nona Faelwen!"

Elina sontak menoleh. Sosok di tengah kegelapan itu berlari ke arahnya sembari melambaikan tangan.

Elina yang panik langsung memaksa kakinya untuk berlari. Namun akibat terluka, ia justru kembali terjatuh. Namun pinggangnya ditahan oleh seseorang.

"Saya bukan penjahat. Nona tidak perlu khawatir."

Elina memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya. Nampak seorang pria berambut putih berkilau tengah tersenyum ke arahnya.

"Si-siapa?" tanya Elina dengan suara pelan.

Pria itu melepaskan tangannya dari pinggang Elina, l
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   15. Jangan Menyukai Saya

    Sejak pertanyaan terakhir Elina terjawab, tidak ada lagi yang bersuara. Bahkan sampai mereka tiba di penginapan pertama. Keduanya tidak saling bicara, bahkan untuk sekadar melempar sapaan singkat pun tidak."Nona, saatnya makan malam."Elina buru-buru merebahkan tubuhnya di kasur saat Mika mengetuk pintu kamarnya. Setelah tidak kunjung mendapat jawaban, terdengar suara pintu yang terbuka."Nona?" Elina semakin membenamkan kepalanya di bantal yang empuk tersebut."Maaf, Tuan Duke. Sepertinya Nona sudah tidur."Kedua mata Elina sontak terbuka lebar. Ia buru-buru bangun dari tempat tidurnya. Benar saja, sosok Charless ada di ambang pintu tengah berbalik hendak pergi. Secepat mungkin Elina menahan kepergian pria tersebut."Sa-saya belum tidur, Duke."Charless berbalik dengan mata menyipit. "Rupanya Nona pura-pura tidur.""Bukan begitu. Tadi ... tadi saya benar-benar mengantuk. Jadi saya—""Ayo makan malam bersama. Anggap saja ini ganti dari minum teh yang gagal," potong Charless sembari

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   14. Mengapa Duke Membenci Saya?

    Baru saja kereta kuda Elina, Mika dan Galiard tiba di gerbang, kereta kuda keluarga Frederick sudah terlihat dari kejauhan. Akhirnya mereka mengurungkan niat untuk pergi dan langsung turun.Tidak lama, Charless juga turun dari kereta kuda. Padahal biasanya ia tidak mau diturunkan di gerbang utama.Pria itu setengah berlari menghampiri Elina. Jika menonton di tv, karakter pria pasti berlari ke arah karakter wanita sembari tersenyum cerah. Tapi Charless justru terlihat dingin dan ada sedikit ekspresi marah di wajahnya."Kau ...." Charless menatap lurus ke arah Elina. Ia tidak melanjutkan ucapannya karena sibuk mengatur nafasnya."Apa yang terjadi, Tuan Duke?" tanya Galiard yang sudah ada di samping pria itu."Tolong siapkan kereta kuda!" kata Charless penuh penekanan.Galiard tidak bertanya dan langsung berlari mengikuti perintah yang diberikan. Sementara Elina diam dengan wajah bingung.Charless menunduk sembari melipat sebelah tangannya di dada dengan sopan. Elina pernah melihat gestu

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   13. Undangan Rahasia Dari Istana

    Pagi ini suasana kediaman Frederick sangat ricuh. Pelayan yang berlalu lalang di depan kamar Elina terdengar sibuk membicarakan sesuatu. Elina melirik ke arah Mika yang tengah menyisir rambutnya."Kamu tau sesuatu, Mika?"Mika menggeleng pelan. "Tidak, Nona. Saat mengambil sarapan, saya tidak mendengar apa pun.""Kalau begitu, kita harus keluar dan mencari tau!" kata Elina penuh semangat.Setelah penampilannya terlihat rapi, Elina langsung mengajak Mika keluar. Mereka sengaja berjalan mengikuti pelayan agar bisa mendapat informasi."Tuan Duke benar-benar berubah."Mereka membicarakan Charless? batin Elina."Bagaimana bisa Tuan Duke yang selama ini tidak pernah membuang siapa pun, tega memecat Agni.""Benar! Bahkan pencuri dan pembunuh bayaran selalu dibiarkan pergi. Sebenarnya apa yang dilakukan wanita ular itu pada Tuan Duke?!""Sepertinya Tuan Duke benar-benar menyukai Nona Faelwen.""Bagaimana kalau kita protes?""Kau mau kepalamu terlepas?""Tentu saja tidak!"Elina menghentikan l

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   12. Sosok Di Tepi Danau

    Elina berjalan tertatih menuju ke arah kamarnya. Ia tidak peduli dengan darah yang terus keluar. Ia menghapus jejak air mata di pipinya sembari tersenyum."Sebenarnya ... apa yang aku harapkan saat berada di tubuh penjahat ini?"Saat melintasi danau, Elina tanpa sengaja melihat sosok yang tengah duduk di atas rerumputan. Sebisa mungkin ia tidak peduli. Sebab Charless melarangnya pergi ke area danau. Namun saat hendak pergi, namanya diserukan cukup keras."Hei, Nona Faelwen!"Elina sontak menoleh. Sosok di tengah kegelapan itu berlari ke arahnya sembari melambaikan tangan.Elina yang panik langsung memaksa kakinya untuk berlari. Namun akibat terluka, ia justru kembali terjatuh. Namun pinggangnya ditahan oleh seseorang."Saya bukan penjahat. Nona tidak perlu khawatir."Elina memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya. Nampak seorang pria berambut putih berkilau tengah tersenyum ke arahnya."Si-siapa?" tanya Elina dengan suara pelan.Pria itu melepaskan tangannya dari pinggang Elina, l

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   11. Pilihan Yang Menyakitkan

    Elina tidak bisa berhenti menangis. Dadanya terasa sangat sesak setiap mengingat ucapan Charless. Pria itu sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasannya. Padahal ia ingin sekali memberitahukan sikap kurang ajar pelayan tersebut."Nona, apa sebaiknya kita pulang saja?" tanya Mika yang duduk di samping Elina.Elina langsung menggeleng. Ia masih tidak terbiasa dengan rasa sakit cambukan. Lebih baik menghadapi kata-kata kasar dari pelayan Frederick.Tiba-tiba saja gerbang belakang dekat tempat duduk mereka terbuka. Sosok berjubah cokelat datang membawa tas besar. Lalu dia menghampiri Elina."Nona, mengapa Anda menangis?" tanya sosok itu yang ternyata seorang wanita paruh baya. Ia menyodorkan sapu tangan pada Elina.Mika langsung menyambar sapu tangan tersebut. "Terima kasih. Tapi, siapa Anda?""Saya kepala koki di Frederick. Semua orang memanggil saya Madam.""Ayo kita kembali ke kamar, Mika," kata Elina sembari beranjak dari tempat duduk.Tangan Elina langsung ditahan oleh wanita ters

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   10. Bertengkar Dengan Pelayan

    "Ulangi semua yang saya ucapkan tadi!"Elina menggaruk tengkuknya. Sejak sarapan bersama dengan Charless, kepalanya seperti tidak bisa mengingat apa pun. Hanya wajah tampan pria itu yang memenuhi isi kepalanya."Tidak boleh mendekati danau?" kata Elina dengan ragu.Charless mengangguk pelan. Ia menopang kepalanya dengan sebelah tangan. Pandangannya tidak bisa lepas dari gadis tersebut."Apa lagi?" tanya Charless."Tidak boleh ke halaman belakang istana. Jangan memetik bunga di taman. Dilarang keras memasuki perpustakaan dan ruang kerja Tuan Duke."Charless mengerutkan dahinya. "Saya bertanya pada Nona Faelwen, bukan kau."Mika membungkuk. "Mohon maaf atas kelancangan saya, Tuan Duke."Baru saja Charless hendak bicara, pintu ruang tamu terbuka. Nampak Galiard datang dengan napas terengah-engah. Dia terlihat sangat terburu-buru."Yang Mulia Raja meminta Tuan untuk datang ke istana."Charless terdiam sejenak. Ia nampak seperti tengah memikirkan banyak hal. Lalu setelahnya ia langsung ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status