LOGINPagi ini suasana kediaman Frederick sangat ricuh. Pelayan yang berlalu lalang di depan kamar Elina terdengar sibuk membicarakan sesuatu. Elina melirik ke arah Mika yang tengah menyisir rambutnya."Kamu tau sesuatu, Mika?"Mika menggeleng pelan. "Tidak, Nona. Saat mengambil sarapan, saya tidak mendengar apa pun.""Kalau begitu, kita harus keluar dan mencari tau!" kata Elina penuh semangat.Setelah penampilannya terlihat rapi, Elina langsung mengajak Mika keluar. Mereka sengaja berjalan mengikuti pelayan agar bisa mendapat informasi."Tuan Duke benar-benar berubah."Mereka membicarakan Charless? batin Elina."Bagaimana bisa Tuan Duke yang selama ini tidak pernah membuang siapa pun, tega memecat Agni.""Benar! Bahkan pencuri dan pembunuh bayaran selalu dibiarkan pergi. Sebenarnya apa yang dilakukan wanita ular itu pada Tuan Duke?!""Sepertinya Tuan Duke benar-benar menyukai Nona Faelwen.""Bagaimana kalau kita protes?""Kau mau kepalamu terlepas?""Tentu saja tidak!"Elina menghentikan l
Elina berjalan tertatih menuju ke arah kamarnya. Ia tidak peduli dengan darah yang terus keluar. Ia menghapus jejak air mata di pipinya sembari tersenyum."Sebenarnya ... apa yang aku harapkan saat berada di tubuh penjahat ini?"Saat melintasi danau, Elina tanpa sengaja melihat sosok yang tengah duduk di atas rerumputan. Sebisa mungkin ia tidak peduli. Sebab Charless melarangnya pergi ke area danau. Namun saat hendak pergi, namanya diserukan cukup keras."Hei, Nona Faelwen!"Elina sontak menoleh. Sosok di tengah kegelapan itu berlari ke arahnya sembari melambaikan tangan.Elina yang panik langsung memaksa kakinya untuk berlari. Namun akibat terluka, ia justru kembali terjatuh. Namun pinggangnya ditahan oleh seseorang."Saya bukan penjahat. Nona tidak perlu khawatir."Elina memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya. Nampak seorang pria berambut putih berkilau tengah tersenyum ke arahnya."Si-siapa?" tanya Elina dengan suara pelan.Pria itu melepaskan tangannya dari pinggang Elina, l
Elina tidak bisa berhenti menangis. Dadanya terasa sangat sesak setiap mengingat ucapan Charless. Pria itu sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasannya. Padahal ia ingin sekali memberitahukan sikap kurang ajar pelayan tersebut."Nona, apa sebaiknya kita pulang saja?" tanya Mika yang duduk di samping Elina.Elina langsung menggeleng. Ia masih tidak terbiasa dengan rasa sakit cambukan. Lebih baik menghadapi kata-kata kasar dari pelayan Frederick.Tiba-tiba saja gerbang belakang dekat tempat duduk mereka terbuka. Sosok berjubah cokelat datang membawa tas besar. Lalu dia menghampiri Elina."Nona, mengapa Anda menangis?" tanya sosok itu yang ternyata seorang wanita paruh baya. Ia menyodorkan sapu tangan pada Elina.Mika langsung menyambar sapu tangan tersebut. "Terima kasih. Tapi, siapa Anda?""Saya kepala koki di Frederick. Semua orang memanggil saya Madam.""Ayo kita kembali ke kamar, Mika," kata Elina sembari beranjak dari tempat duduk.Tangan Elina langsung ditahan oleh wanita ters
"Ulangi semua yang saya ucapkan tadi!"Elina menggaruk tengkuknya. Sejak sarapan bersama dengan Charless, kepalanya seperti tidak bisa mengingat apa pun. Hanya wajah tampan pria itu yang memenuhi isi kepalanya."Tidak boleh mendekati danau?" kata Elina dengan ragu.Charless mengangguk pelan. Ia menopang kepalanya dengan sebelah tangan. Pandangannya tidak bisa lepas dari gadis tersebut."Apa lagi?" tanya Charless."Tidak boleh ke halaman belakang istana. Jangan memetik bunga di taman. Dilarang keras memasuki perpustakaan dan ruang kerja Tuan Duke."Charless mengerutkan dahinya. "Saya bertanya pada Nona Faelwen, bukan kau."Mika membungkuk. "Mohon maaf atas kelancangan saya, Tuan Duke."Baru saja Charless hendak bicara, pintu ruang tamu terbuka. Nampak Galiard datang dengan napas terengah-engah. Dia terlihat sangat terburu-buru."Yang Mulia Raja meminta Tuan untuk datang ke istana."Charless terdiam sejenak. Ia nampak seperti tengah memikirkan banyak hal. Lalu setelahnya ia langsung ber
"Duke, aku suka aroma gadis ini. Biarkan aku membawanya."Charless langsung memanggil pedang petirnya. Ia bergegas melompat ke danau sebelum ular itu benar-benar membawa Elina ke dunia lain.Begitu di dalam air, suasana langsung berubah. Nampak istana besar dengan banyak penjaga. Namun Charless masih bisa melihat Remio, ular besar yang membawa Elina sudah hampir memasuki istana."Iris, waktunya makan," bisik Charless pada pedangnya.Tiba-tiba saja pedang itu mengeluarkan cahaya yang menyilaukan. Charless langsung menerjang semua penjaga yang menghadangnya.Tidak butuh waktu lama, Charless sudah melewati gerbang. Namun Remio dan Elina sudah tidak terlihat. Charless berlari sekuat tenaga sebelum pintu istana tertutup.Pedang di tangan Charless melayang begitu cepat, lalu menahan pintu yang hampir tertutup."Terima kasih, Iris."Charless yang berhasil masuk ke istana itu langsung berjalan menyusuri lorong besar. Terakhir kali ia datang ke tempat ini untuk menyelamatkan Casia, ia hampir s
Kriet.Elina dan Mika menutup mulut mereka serapat mungkin saat pintu ruangan itu terbuka. Suara langkah kaki terdengar begitu mengerikan di telinga mereka."Tuan, Nona Faelwen tidak mungkin ada di ruangan ini.""Justru tempat yang jauh dari kata mungkin itu harus diperiksa."Elina mendecak begitu mendengar ucapan Charless. Akhirnya ia keluar dari tempat persembunyiannya. Ia bisa melihat Charless yang tersenyum miring ke arahnya."Tikus kecil pasti bersembunyi di ruangan kecil 'kan?""Duke, saya mohon biarkan kami tinggal di sini satu minggu lagi," kata Elina sembari menghampiri Charless."Pulang."Elina menoleh ke arah Galiard seolah meminta bantuan. Namun pria itu mengedikkan bahunya.Elina memegang kepalanya, lalu berjalan sempoyongan ke arah Mika."Kepalaku sangat sakit seperti mau pecah," kata Elina sembari memasang wajah sedih.Charless nampak tidak goyah. "Pulang sekarang juga.""Duke ... saya mohon."Elina langsung berlutut di depan kaki Charless. Entah mengapa air matanya mul







