Share

BAB 4

Author: ANDIN
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-29 09:23:11

Bab 4

​Beberapa jam kemudian, Alena perlahan-lahan membuka matanya.

​Rasa pening menyerang kepalanya bagaikan dihantam benda tumpul. Pandangannya kabur sejenak sebelum akhirnya menyesuaikan dengan remang cahaya kamar hotel. Alena memegangi pelipisnya yang berdenyut kencang, lalu memaksakan tubuhnya untuk duduk di tepi ranjang.

“Dimana ini…?”

​Pikiran Alena kosong selama beberapa detik, mencoba mencerna keberadaannya. Namun begitu matanya menyapu lantai kamar, kesadarannya tertampar.

​

Di atas karpet, berhamburan puluhan lembar uang kertas merah, alat-alat kosmetik miliknya yang berserakan, lipstik yang terlepas dari wadahnya, dan tasnya yang terbuka lebar. 

Semua kerusuhan itu adalah jejak dari kepanikan seorang pria yang tadi berjuang panik mencari obat inhaler demi menyelamatkan nyawanya.

​

Memory malam itu berputar kembali di benaknya bak pita kaset yang diputar ulang. Dan hal yang pertama diingat Alena adalah Alan.​ Pria asing berkaus mekanik dengan otot kekar. 

Pria yang tak sengaja salah masuk kamar karena hendak memperbaiki AC, tapi justru ditarik secara paksa oleh Alena untuk melayaninya, hingga menanamkan benih kehidupan di dalam rahimnya.

​Alena menunduk, menatap jemarinya yang gemetar. Dia ingat betul bagaimana dia menghina Alan, menuduhnya, dan melemparkan uang ke dadanya seolah pria itu adalah barang seruhan yang bisa dibeli dengan harga murah. 

Tapi apa yang dilakukan Alan saat Alena tersengal-sengal di ambang kematian? Pria itu tidak lari. Dia panik, menggeledah tas Alena untuk mencari obat, menyemprotkan inhaler ke mulutnya, dan mengangkat tubuhnya ke kasur.

​Dan yang paling menampar hatinya, Alan pergi tanpa menyentuh sepeser pun uang yang dilemparkannya.

“Ternyata dia benar benar pria baik baik. Aku sudah salah menilainya…” sesal Alena.

​Rasa bersalah yang teramat sangat menyusup ke relung hati Alena. Di balik sikap angkuh dan status sosialnya yang tinggi, Alena tahu dirinya telah bertindak sangat murahan dan kejam pada pria yang justru telah menyelamatkan nyawanya. Dia merasa sangat berutang budi pada tukang servis AC itu.

​Namun, lamunan rasa bersalah itu buyar seketika saat matanya menangkap cahaya layar ponsel yang tergeletak di samping tempat tidur.

​

Alena meraih ponselnya. Layar itu masih menampilkan foto kiriman Siska. Dimana Angga, suaminya, sedang merangkul mesra wanita lain dengan seorang anak laki-laki di sebuah acara sekolah.

​Brak!

​Alena mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Amarah yang sempat padam kini kembali menyala, membakar dadanya dengan hawa panas yang membara. 

Namun kali ini, Alena tidak lagi histeris atau menangis sampai sesak napas. Pengalaman melintasi batas kematian beberapa saat lalu membuat mentalnya sedikit lebih keras dan dingin.

​"Mas Angga...Kamu membuatku merasa seperti wanita mandul tak berguna selama bertahun-tahun... sementara kamu memelihara keluarga lain di luar sana?" geram Alena penuh amarah.

​Di sisi lain kota, di sebuah bengkel servis AC yang tampak sederhana dan dipenuhi tabung freon serta suku cadang yang berserakan, Alan sedang sibuk membongkar sebuah kompresor tua. Peluh membasahi kaos kerjanya yang bernoda oli.

​Tiba-tiba, suara langkah kaki terburu-buru masuk ke dalam bengkel. Itu Budi, rekan kerjanya yang tadi ditemui Alena di hotel.

​"Lan! Alan!" panggil Budi sambil terengah-engah, melempar tangga lipatnya ke sudut ruangan.

​Alan menoleh tanpa menghentikan jemarinya yang memegang kunci pas. "Kenapa kamu, Bud? Dikejar anjing?"

​"Bukan! Tadi di hotel tempat kamu nyervis AC semalam, ada cewek cantik banget nyariin kamu!" Budi mendekati Alan dengan mata melotot dan raut wajah penasaran yang membuncah.

​Gerakan tangan Alan mendadak berhenti total. Kunci pas di tangannya hampir saja jatuh ke lantai semen.

​"Cewek... cantik?nCewek mana maksudmu?" tanya Alan, mencoba bersikap tenang meski jantungnya mendadak berdesir heboh. Memastikan jika cewek itu bukan Alena.

​"Ya mana aku tahu namanya! Tapi penampilannya mewah banget, Lan. Pakai gaun mahal, bawa tas bermerek, pokoknya gaya orang kaya raya. Dia nanya-nanya kamu, terus Minta nomor telepon pribadi kamu ke aku,” cerita Budi penuh semangat. 

​Wajah Alan seketika berubah pucat pasi. Bayangan Alena, wanita di kamar 404 yang baru saja bercocok tanam dengannya tadi malam dan ditinggalkannya dalam keadaan terkapar, langsung berputar liar di dalam kepalanya.

​"Terus... kamu kasih nomorku?!" cecar Alan dengan nada panik yang tak bisa disembunyikan.

​"Ya aku kasih lah! Lagian dia ngasih aku uang tip lima ratus ribu cuma buat nomor kamu,”  jawab Budi sambil menepuk kantong kemejanya dengan bangga.

​"Aduh, Budi! Kenapa kamu kasih, sih?!" bentak Alan sambil mengusap wajahnya kasar dengan tangannya yang bernoda oli.

​Alan mondar-mandir di dalam bengkel dengan raut wajah sangat cemas. Ketakutan yang semalam sempat menghilang kini datang kembali menerjangnya. Kenapa Alena masih mengejarnya? Bukankah wanita itu sudah mendapatkan obat inhalernya? Bukankah Alan sudah pergi tanpa mengambil uang sepeser pun?

​Budi mengernyit bingung melihat reaksi Alan yang melenceng jauh dari dugaannya. "Lho? Kok kamu malah marah dan panik? Harusnya kamu senang dicariin cewek sekelas bidadari begitu! Lagian, Katanya ada barangmu yang ketinggalan pas kamu nyervis AC di kamarnya.”

​Mendengar ucapan Budi, satu pikiran liar dan mengerikan mendadak terlintas di dalam otak Alan.

​"Buset! Barang apa yang ketinggal? Dan ngapain dia nyari aku? Jangan-jangan... jangan-jangan dia hamil?!" celetuk Alan begitu saja tanpa kendali. 

​Suasana bengkel yang tadinya riuh oleh suara mesin mendadak hening seketika.

​Budi melotot lebar, matanya hampir melompat keluar dari kelopaknya. Dia menatap Alan dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan tidak percaya yang luar biasa.

​"Eh, gila kamu ya, Lan?! Kamu… kamu menghamili pelanggan?!"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Akibat Salah Masuk Kamar   BAB 12

    Melihat reaksi Alena, Alan menyadari bahwa tidak semudah itu menyadarkan wanita yang hatinya baru saja hancur berkeping-keping. Alena masih terus menangis, menutup wajahnya dengan kedua tangan saat emosinya meluap tak tertahan. Pikirannya benar-benar kalut, tertutup oleh rasa dikhianati dan harga diri yang diinjak-injak selama bertahun-tahun.​Alan menarik napas panjang. Duduk berlama-lama di pinggir jalanan yang sepi dan makin dingin hanya akan memicu masalah baru. Dia tidak punya pilihan lain selain membawa Alena pergi dari tempat itu secepatnya.​"Mbak Alena, kita tidak bisa terus-terusan di sini. Ayo ikut saya. Kita bicara di tempat yang lebih aman,” ajak Alan dengan pelan.​Alena tidak menjawab, tetapi dia juga tidak menolak ketika Alan membantu memegang lengannya untuk berdiri. Langkahnya masih sangat lemah dan gontai. Alan mengarahkannya menuju sepeda motor tua yang terparkir di tepi jalan. Setelah memasangkan helm ke kepala Alena, Alan naik ke jok depan dan meminta wanita itu

  • Akibat Salah Masuk Kamar   BAB 11

    Tidak ada ruang atau kesempatan lagi bagi Alan untuk menolak permintaan itu. Isak tangis lirih Alena di seberang telepon benar-benar mengetuk nuraninya. Apalagi jika mengingat jarum jam sudah menunjukkan larut malam dan suasana jalanan kota makin sepi. Sangat berbahaya bagi seorang perempuan sendirian bertengger di pinggir jalan tanpa pengawasan.​"Kirimkan lokasi Mbak sekarang," ucap Alan sambil mempersiapkan diri untuk menjemput Alena.​Setelah sambungan telepon terputus, sebuah pesan masuk berisi titik lokasi Alena menunggu. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Alan menyambar jaket dan helmnya, lalu bergegas berlari ke pekarangan rumah. Dia menyalakan mesin sepeda motor tuanya dan langsung memutar gas dengan kecepatan tinggi.​Alan berkendara sangat cepat membelah kegelapan malam. Kebetulan lalu lintas sudah melengang lengang, sehingga hanya butuh waktu lima belas menit bagi Alan untuk sampai di lokasi yang dikirimkan Alena.​Dari kejauhan, Alan langsung mengenali sosok wanita itu.

  • Akibat Salah Masuk Kamar   BAB 10

    Alena melangkah keluar dari pintu kaca hotel dengan tubuh yang terasa begitu layu. Angin malam yang berembus kencang langsung menyapu kulitnya, namun rasa dingin itu sama sekali tak mampu menandingi rasa hampa yang membekukan dadanya.​Setiap kata-kata Angga di lobi tadi terus bergema, berputar-putar di dalam kepalanya. Semua tuduhan dan kebohongan yang disimpannya rapi selama bertahun-tahun akhirnya meledak tepat di depan matanya.“Mas Angga. Kenapa kamu lakukan semua ini padaku Mas?” lirih Alena dengan tatapan kosong.​Harusnya Alena merogoh ponselnya, menghubungi sopir pribadinya untuk segera menjemput dengan mobil mewah yang biasa mengantarnya. Tapi saat ini, dia sama sekali tidak ingin melihat siapa pun dari kehidupannya yang lama. Alena hanya ingin menghilang sejenak dari pusaran kemewahan yang terasa makin memuakkan.​Tanpa tujuan pasti, Alena berjalan menyusuri trotoar jalanan kota yang mulai lengang. Langkah kakinya lambat, terseret bersama gaun kremnya yang melambai ditiup a

  • Akibat Salah Masuk Kamar   BAB 9

    Alena baru saja melangkah keluar dari area lift menuju lobi hotel ketika matanya menangkap sosok yang sangat dia kenali. Pria itu berdiri di dekat konter resepsionis, mengenakan kemeja biru yang persis sama seperti yang dipakainya saat pamit seminggu lalu. ​Dia adalah Angga, suami Alena.​Langkah Alena terhenti seketika. Dadanya mendadak terasa dingin. Tapi kali ini, tidak ada rasa panik atau serangan sesak napas yang datang menyiksa. Hatinya sudah terlalu kebal setelah semua yang dia lalui beberapa waktu ;terakhir.​Pada saat yang bersamaan, Angga menoleh. Tatapan mata mereka berdua bertabrakan di tengah keramaian lobi. Wajah Angga yang tadinya santai berubah kaget luar biasa. Langkahnya tertahan, matanya membelalak menatap Alena dari atas sampai bawah.​"Alena?" Angga berjalan mendekati Alena dengan dahi berkerut rapat. "Kamu ngapain di sini? Kamu ngikutin aku?"​Alena menatap suaminya dengan tajam. Tidak ada air mata, tidak ada suara gemetar. Hanya ada tatapan dingin yang tajam.​"

  • Akibat Salah Masuk Kamar   BAB 8

    Setelah hampir dua jam lamanya berada di kamar hotel itu, Alan membenahi pakaiannya satu per satu. Sementara Alena masih terbaring pasrah di balik selimut putih, menatapnya dengan tatapan sukar diartikan. Setelah kembali rapi dan mengantongi uang dari Alena, Alan segera berpamitan untuk pulang.“Mbak, aku harus segera pulang. Sekali lagi aku mau ucapin Terima kasih sama kamu Mbak. Kamu bagai dewi penolongku,” ucap Alan sambil merapikan rambutnya. “Aku yang harusnya berterima kasih sama kamu Alan. Kamu, sudah memberikan sesuatu yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya,” sahut Alena sambil bangun dari rebahannya. Tanpa banyak kata lagi, Alan segera melangkah mendekati pintu. Tapi, Alena menahannya.“Alan, tunggu!”Alan berhenti, lalu menoleh.“Ya Mbak Alena, Ada apa Mbak?”Tanpa basa basi, Alena tiba tiba mendekat ke arah Alan lalu memeluk erat pria itu dari belakang.“Alan, kita mungkin tidak punya ikatan. Tapi, jujur aku katakan aku menyukaimu!”Mendengar pengakuan Alena, Alan memu

  • Akibat Salah Masuk Kamar   BAB 7

    Berbeda dari malam sebelumnya, saat segalanya diburu ketakutan, kepanikan, dan amarah meledak-ledak, kali ini pergerakan mereka terasa jauh lebih lambat, dalam, dan sengaja. Ada semacam kesepakatan terselubung di antara mereka untuk melepaskan segala beban hidup sejenak di atas ranjang ini.​Alan membiarkan jemari tangannya menyusuri lekuk pinggang Alena yang mulus. Otot-otot lengannya yang tegap menopang tubuhnya tepat di atas Alena, menatap lurus pada mata sayu wanita yang napasnya berembus hangat menyentuh lehernya.​"Kenapa menatapku seperti itu?" bisik Alena lirih. Suaranya serak, sarat akan gairah yang masih membara.​"Mbak benar-benar yakin tidak akan menyesal? Saya cuma tukang servis AC. Setelah malam ini dan setelah uang itu saya terima, kita tidak punya hubungan apa-apa lagi,” tanya Alan dengan suara maskulinnya.​Alena mengukir senyum tipis. Jemari lentiknya naik, menyusuri garis rahang Alan yang tegas lalu membelai rambut pria itu yang basah oleh keringat.​"Jangan bahas s

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status