Mag-log inBab 5
Alan yang panik setengah mati refleks meloncat dan membekap erat mulut Budi dengan telapak tangannya yang penuh noda oli mesin. "Mmph! Mmph!" Budi memberontak, matanya membelalak lebar. "Diam! Suaramu seperti toa masjid, Budi!" bisik Alan penuh penekanan, matanya melirik ke sekeliling bengkel untuk memastikan teman-teman mekanik yang lain tidak mendengar. Setelah situasi terasa aman, Alan perlahan melepas bekapannya. Budi meludah-ludah mengusap bibirnya yang kini belepotan oli hitam. "Gila kamu, Lan! Bau oli!" Budi meringis geli sekaligus kesal. "Tapi beneran, kamu bikin anak orang hamil? Siapa cewek itu? Kenapa kamu bisa…" "Bukan begitu, Budi! Dengarkan dulu penjelasanku! Waktu aku pergi selesai nyervis AC di kamarnya, cewek itu lagi lemas. Dia pingsan di kasur! Sebelum pingsan, dia sempat ngeluh pusing dan mual-mual. Nah, aku kan jadi panik! Makanya aku mikir... jangan-jangan dia itu hamil!" potong Alan cepat, otaknya berputar keras mencari alasan masuk akal agar tidak membongkar kejadian liar semalam. Budi mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, meresapi alibi Alan yang terdengar begitu meyakinkan. "Oh... jadi kamu cuma nebak-nebak gara-gara dia mual dan pingsan? Aku pikir kamu habis berbuat bermacam-macam sama pelanggan! Bikin kaget saja,” sahut Budi bernapas lega. "Makanya jangan asal teriak!" dengus Alan berpura-pura tenang, meski di dalam hatinya jantungnya berdetak seperti guncangan kompresor rusak. Waktu berganti sore. Alam sudah kembali pulang, tapi pikirannya masih melayang pada kata-kata Budi tentang Alena. Alan benar-benar resah. Bagaimana kalau tebakannya bukan sekadar alibi, melainkan kenyataan? Bagaimana kalau benih yang ditanamnya di rahim Alena malam itu benar-benar tumbuh? Alan menggigit bibir bawahnya. Dia tidak ingin terlibat urusan rumit dengan istri orang kaya. Namun, di sisi lain, jika Alena benar-benar mengandung darah dagingnya, Alan tak sanggup membayangkan calon anaknya dibesarkan dalam kebohongan atau bahkan menjadi korban perselisihan rumah tangga wanita itu. Tiba tiba, terdengar getaran singkat dari ponsel jadul milik Alan yang memecah keheningan. Sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal masuk ke aplikasinya. Alan membuka rentetan pesan yang masuk ke ponselnya. Maaf mengganggu, ini aku, Alena. Wanita yang ada di kamar 404 semalam. Aku minta maaf atas perlakuanku yang sangat kasar dan menghinamu semalam. Aku juga ingin berterima kasih karena kamu sudah menolong nyawaku saat aku sesak napas. Bisakah kita bertemu sebentar? Aku ingin memberikan uang yang seharusnya menjadi hakmu. Ini bukan untuk membeli tubuhmu atau merendahkan harga dirimu, tapi sebagai kompensasi dan rasa terima kasihku atas bantuanmu. Tolong jangan menolak.Alan tertegun membaca baris demi baris pesan dari Alena. Pengakuan jujur dan permohonan maaf dari wanita anggun itu sempat menyenggol sisi manusianya. Ada sedikit rasa lega karena Alena ternyata menyadari kesalahannya.
Namun, harga diri Alan sebagai pria tetap berbisik keras. Uang kompensasi? Alan tidak ingin mengambil uang dari situasi yang membingungkan itu. Dia berniat menyelesaikan kesalahpahaman ini dan melupakan segalanya. Alan mulai mengetikkan balasan untuk menolaknya. Namun, belum sempat Alan mengetik, terdengar gedoran pintu dengan keras. Brak..Brak..Brak! Suara gedoran keras yang menghantam pintu depan rumahnya yang lapuk membuat Alan melonjak kaget. Pintu kayu tua itu bergetar sampai debu-debu berjatuhan dari plafon. "Alan! Keluar kamu sialan! Jangan kabur-kaburan terus! Bayar utang judi bapakmu! Kalau tidak bayar hari ini, aku bakar rumah reyotmu ini sampai jadi abu!" teriak seorang pria dengan penuh emosi. Darah Alan seketika mendidih karena pesan dari Alena, sekaligus mendingin dalam waktu bersamaan. Kepanikan terasa mencengkeram dadanya. Beberapa minggu belakangan ini, hidup Alan bagaikan di dalam neraka. Bapaknya, seorang pecandu judi yang tak bertanggung jawab, kabur melarikan diri entah ke mana setelah kalah taruhan puluhan juta. Para rentenir dan penagih utang kelas teri kini menjadikan Alan sebagai sasaran empuk. "Alan! Jangan pura-pura mati di dalam! Kami tahu kamu ada di rumah! Cepat siapkan uang 50 juta!" teriakan itu kembali terdengar, diikuti tendangan keras ke dinding papan luar. Alan mengepalkan tangannya rapat-rapat sambil mengumpat habis-habisan dalam hati. Dia begitu geram dengan kelakuan bapaknya. Tapi, yang terpenting saat itu adalah membayar utang demi keselamatannya. ”Lima puluh juta! Dari mana aku bisa dapatin uang sebanyak itu? Brengsek!!” Pria sepertinya yang hanya mengandalkan gaji bulanan sebagai teknisi AC, mana bisa mendapatkan uang sebesar itu dalam waktu singkat? Menjual motor tuanya pun tak akan pernah cukup untuk menutupi sepersepuluh dari utang haram bapaknya. Kerja kerasnya selama ini hancur begitu saja hanya karena kelakuan bajingan bapak kandungnya sendiri. Jika dia tidak membayar utang itu hari ini, rumah yang dia tempati akan dibakar dan tanahnya akan disita. Di tengah keringat dingin yang membasahi dahi dan jantung yang berdegup liar menahan amarah serta ketakutan, mata Alan kembali tertuju pada layar ponsel yang masih menyala di tangannya. “Apa aku terima saja uang kompensasi ini?” gumam Alan dalam hati. Logika Alan yang terdesak runtuh seketika. Tak ada jalan keluar lain. Ini satu-satunya pintu darurat yang terbuka di depan matanya. Dengan jemari yang gemetar karena rasa panik dan amarah yang bergejolak, Alan segera mengirim balasan dengan satu kalimat singkat. “Ok Mbak, kita ketemu!”Melihat reaksi Alena, Alan menyadari bahwa tidak semudah itu menyadarkan wanita yang hatinya baru saja hancur berkeping-keping. Alena masih terus menangis, menutup wajahnya dengan kedua tangan saat emosinya meluap tak tertahan. Pikirannya benar-benar kalut, tertutup oleh rasa dikhianati dan harga diri yang diinjak-injak selama bertahun-tahun.Alan menarik napas panjang. Duduk berlama-lama di pinggir jalanan yang sepi dan makin dingin hanya akan memicu masalah baru. Dia tidak punya pilihan lain selain membawa Alena pergi dari tempat itu secepatnya."Mbak Alena, kita tidak bisa terus-terusan di sini. Ayo ikut saya. Kita bicara di tempat yang lebih aman,” ajak Alan dengan pelan.Alena tidak menjawab, tetapi dia juga tidak menolak ketika Alan membantu memegang lengannya untuk berdiri. Langkahnya masih sangat lemah dan gontai. Alan mengarahkannya menuju sepeda motor tua yang terparkir di tepi jalan. Setelah memasangkan helm ke kepala Alena, Alan naik ke jok depan dan meminta wanita itu
Tidak ada ruang atau kesempatan lagi bagi Alan untuk menolak permintaan itu. Isak tangis lirih Alena di seberang telepon benar-benar mengetuk nuraninya. Apalagi jika mengingat jarum jam sudah menunjukkan larut malam dan suasana jalanan kota makin sepi. Sangat berbahaya bagi seorang perempuan sendirian bertengger di pinggir jalan tanpa pengawasan."Kirimkan lokasi Mbak sekarang," ucap Alan sambil mempersiapkan diri untuk menjemput Alena.Setelah sambungan telepon terputus, sebuah pesan masuk berisi titik lokasi Alena menunggu. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Alan menyambar jaket dan helmnya, lalu bergegas berlari ke pekarangan rumah. Dia menyalakan mesin sepeda motor tuanya dan langsung memutar gas dengan kecepatan tinggi.Alan berkendara sangat cepat membelah kegelapan malam. Kebetulan lalu lintas sudah melengang lengang, sehingga hanya butuh waktu lima belas menit bagi Alan untuk sampai di lokasi yang dikirimkan Alena.Dari kejauhan, Alan langsung mengenali sosok wanita itu.
Alena melangkah keluar dari pintu kaca hotel dengan tubuh yang terasa begitu layu. Angin malam yang berembus kencang langsung menyapu kulitnya, namun rasa dingin itu sama sekali tak mampu menandingi rasa hampa yang membekukan dadanya.Setiap kata-kata Angga di lobi tadi terus bergema, berputar-putar di dalam kepalanya. Semua tuduhan dan kebohongan yang disimpannya rapi selama bertahun-tahun akhirnya meledak tepat di depan matanya.“Mas Angga. Kenapa kamu lakukan semua ini padaku Mas?” lirih Alena dengan tatapan kosong.Harusnya Alena merogoh ponselnya, menghubungi sopir pribadinya untuk segera menjemput dengan mobil mewah yang biasa mengantarnya. Tapi saat ini, dia sama sekali tidak ingin melihat siapa pun dari kehidupannya yang lama. Alena hanya ingin menghilang sejenak dari pusaran kemewahan yang terasa makin memuakkan.Tanpa tujuan pasti, Alena berjalan menyusuri trotoar jalanan kota yang mulai lengang. Langkah kakinya lambat, terseret bersama gaun kremnya yang melambai ditiup a
Alena baru saja melangkah keluar dari area lift menuju lobi hotel ketika matanya menangkap sosok yang sangat dia kenali. Pria itu berdiri di dekat konter resepsionis, mengenakan kemeja biru yang persis sama seperti yang dipakainya saat pamit seminggu lalu. Dia adalah Angga, suami Alena.Langkah Alena terhenti seketika. Dadanya mendadak terasa dingin. Tapi kali ini, tidak ada rasa panik atau serangan sesak napas yang datang menyiksa. Hatinya sudah terlalu kebal setelah semua yang dia lalui beberapa waktu ;terakhir.Pada saat yang bersamaan, Angga menoleh. Tatapan mata mereka berdua bertabrakan di tengah keramaian lobi. Wajah Angga yang tadinya santai berubah kaget luar biasa. Langkahnya tertahan, matanya membelalak menatap Alena dari atas sampai bawah."Alena?" Angga berjalan mendekati Alena dengan dahi berkerut rapat. "Kamu ngapain di sini? Kamu ngikutin aku?"Alena menatap suaminya dengan tajam. Tidak ada air mata, tidak ada suara gemetar. Hanya ada tatapan dingin yang tajam."
Setelah hampir dua jam lamanya berada di kamar hotel itu, Alan membenahi pakaiannya satu per satu. Sementara Alena masih terbaring pasrah di balik selimut putih, menatapnya dengan tatapan sukar diartikan. Setelah kembali rapi dan mengantongi uang dari Alena, Alan segera berpamitan untuk pulang.“Mbak, aku harus segera pulang. Sekali lagi aku mau ucapin Terima kasih sama kamu Mbak. Kamu bagai dewi penolongku,” ucap Alan sambil merapikan rambutnya. “Aku yang harusnya berterima kasih sama kamu Alan. Kamu, sudah memberikan sesuatu yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya,” sahut Alena sambil bangun dari rebahannya. Tanpa banyak kata lagi, Alan segera melangkah mendekati pintu. Tapi, Alena menahannya.“Alan, tunggu!”Alan berhenti, lalu menoleh.“Ya Mbak Alena, Ada apa Mbak?”Tanpa basa basi, Alena tiba tiba mendekat ke arah Alan lalu memeluk erat pria itu dari belakang.“Alan, kita mungkin tidak punya ikatan. Tapi, jujur aku katakan aku menyukaimu!”Mendengar pengakuan Alena, Alan memu
Berbeda dari malam sebelumnya, saat segalanya diburu ketakutan, kepanikan, dan amarah meledak-ledak, kali ini pergerakan mereka terasa jauh lebih lambat, dalam, dan sengaja. Ada semacam kesepakatan terselubung di antara mereka untuk melepaskan segala beban hidup sejenak di atas ranjang ini.Alan membiarkan jemari tangannya menyusuri lekuk pinggang Alena yang mulus. Otot-otot lengannya yang tegap menopang tubuhnya tepat di atas Alena, menatap lurus pada mata sayu wanita yang napasnya berembus hangat menyentuh lehernya."Kenapa menatapku seperti itu?" bisik Alena lirih. Suaranya serak, sarat akan gairah yang masih membara."Mbak benar-benar yakin tidak akan menyesal? Saya cuma tukang servis AC. Setelah malam ini dan setelah uang itu saya terima, kita tidak punya hubungan apa-apa lagi,” tanya Alan dengan suara maskulinnya.Alena mengukir senyum tipis. Jemari lentiknya naik, menyusuri garis rahang Alan yang tegas lalu membelai rambut pria itu yang basah oleh keringat."Jangan bahas s







