分享

BAB 6

作者: ANDIN
last update publish date: 2026-10-13 12:23:00

Alan berdiri di depan pintu kamar hotel yang berbeda dari sebelumnya. Alena dengan sengaja memilih lokasi baru untuk pertemuannya dengan Akan, demi menjaga kerahasiaan dan menghindari pandangan publik yang bisa saja mengenali mereka.

​Begitu pintu terbuka, sosok Alena langsung menyapa pandangannya. Alena datang lebih awal. Wanita itu tampak anggun di balik polesan riasannya yang tipis.

​"Masuklah, Alan," bisik Alena pelan sambil memberi jalan.

​Tanpa basa-basi, Alan segera melangkah masuk dan langsung berbalik menatap Alena. Pikirannya melayang pada para penagih utang yang siap meratakan rumahnya kapan saja.

​"Mbak, langsung saja, Mana uang yang Mbak maksud tadi?" potong Alan dengan cepat, suaranya terdengar datar dan bergetar menahan desakan panik.

​Alena sempat tertegun melihat sikap terburu-buru Alan. Namun, dia tidak peduli pada hal itu. Karena tujuan dia bertemu Alan memang untuk berterima kasih dan memberikan uang itu.

“Ini uang kamu. Sekali lagi, aku ucapkan terimakasih sama kamu. Dan aku minta maaf atas sikapku kemarin,” ujar Alena sambil menyerahkan segepok uang pada Alan.

​Dengan jemari yang gemetar, Alan menyambar amplop itu dan langsung menghitung tumpukan lembaran uang seratus ribuan di dalamnya. Hatinya yang semula menggantungkan harapan besar perlahan-lahan runtuh saat hitungannya selesai.

​"I-ini...Ini cuma tiga puluh juta,” bisik Alan tapi Alena bisa mendengarnya. 

​"Iya, tiga puluh juta. Apakah jumlahnya kurang?" jawab Alena, mengernyit heran melihat reaksi Alan yang melorot lesu.

Alan terdiam. Dia sedikit bimbang. Apakah dia harus jujur tentang kondisi ekonominya yang sedang dikejar rentenir?

“Alan? Ada apa?” tanya Alena sekali lagi. 

Karena terdesak, Alan langsung menjawab tanpa sungkan.

​"Iya mbak. Uangnya Kurang. Saya butuh lima puluh juta untuk melunasi hutang rentenir,” jawab Alan tanpa menutupi lagi masalahnya.

​Alena terdiam, mencerna kepanikan Alan. "Apa? Lima puluh juta?”

​"Iya Mbak. Kalau hari ini saya tidak menyerahkan lima puluh juta tunai, rumah saya bakal dibakar dan diratakan dengan tanah!" 

​Melihat raut keputusasaan yang jujur di wajah Alan, rasa iba menyusup perlahan ke dalam dada Alena. Tidak ada kebohongan atau drama dalam sorot mata pria sederhana itu. 

Di matanya, Alan bukan sekadar tukang servis AC biasa, melainkan sosok pria tulus, bertanggung jawab, dan gigih yang sedang dihantam kemalangan keluarga.

 "Aku bisa menambahkannya, Alan. Tapi aku butuh waktu satu bulan lagi. Tentunya, setelah aku tahu hasil pasti dari apa yang kita lakukan semalam... apakah aku benar-benar mandul, atau aku bisa hamil,” sahut Alena mencoba memberikan bantuan pada Alan.

​Namun, dengan cepat Alan menggelengkan kepala dengan cepat.

"Saya tidak bisa menunggu sampai bulan depan, Mbak! Nanti sore rumah saya sudah rata dengan tanah! Saya harus melunasinya hari ini.”

​Suasana kamar mendadak hening seketika. Alan menundukkan kepalanya, napasnya memburu cepat. Sementara itu, Alena menatap Alan dari ujung kepala hingga ujung kaki.

​Alena mendadak teringat kembali pada kejadian liar semalam. Mengingat stamina Alan yang luar biasa, hangat sentuhannya, dan bagaimana gairah alami pria itu telah membuahi rahimnya. Pria di depannya ini jauh lebih berharga dibandingkan suaminya yang selama ini hanya bisa memberi kebohongan.

​Sebuah ide nekat dan liar tiba-tiba terlintas di dalam benak Alena. Apalagi, dia sangat sakit hati dengan kelakuan suaminya. Sehingga dia berpikir, jika suaminya saja bisa selingkuh, kenapa dia tidak?

​"Alan, aku bisa memberikan dua puluh juta sisanya sekarang juga," kata Alena dengan nada suara yang perlahan berubah rendah dan penuh penekanan.

​Alan mendongak cepat. "Beneran, Mbak? Gimana caranya mbak? Saya akan melakukan apapun untuk mendapatkannya," sahut Alan dengan antusias.

​Alena menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap lurus ke dalam iris mata Alan tanpa ragu.

 "Syaratnya satu. Kamu harus bersedia kembali menanamkan benihmu di rahimku. Saat ini juga,” jawab Alena dengan tegas.

​Kata-kata Alena bagaikan petir yang menyambar kesadaran Alan. Pria itu membeku di tempatnya, matanya membelalak tak percaya.

​"A-apa?" bisik Alan terbata-bata. "Mbak... Mbak minta kita melakukan itu lagi?"

​"Iya. Satu kali semalam tidak memberikan kepastian 100 persen untuk kehamilan. Aku butuh memastikan rahimku benar-benar terisi benihmu sebelum aku melangkah lebih jauh menghadapi suamiku. Jika kamu setuju, dua puluh juta tunai akan jadi milikmu sekarang juga!” tegas Alena, sambil melangkah pelan mendekati Alan.

​Bagi sebagian besar pria lajang, penawaran ini adalah kesempatan emas yang sangat menggiurkan. Mendapatkan uang dalam jumlah besar sekaligus menikmati tubuh wanita secantik Alena.

​Namun bagi Alan, hatinya justru berdenyut perih dan cemas. Harga dirinya kembali berontak keras. Dia merasa tidak nyaman dan terhina karena diperlakukan tak ubahnya seperti alat pemuas eksperimen atau pejantan sewaan.

​Namun, bayangan para penagih utang yang memegang obor di depan rumahnya kembali melintas di benaknya. Rumah yang menjadi satu satunya harta berharga miliknya.

​Alan memejamkan mata erat-erat, menarik napas panjang yang terasa sangat berat menekan dadanya, lalu perlahan membuangnya.

​"Baik Mbak. Saya terima tawaran Mbak!” seru Alan dengan penuh keyakinan.

​Alena mengukir senyum tipis. Antara rasa lega dan hasrat yang mulai tersulut. Tanpa membuang waktu, Alena  mendekati Alan yang masih berdiri kaku di tengah ruangan. 

Jemari lentik Alena terangkat, perlahan-lahan mengurai tali gaun yang menutupi tubuhnya. Kain sutra tipis itu merosot turun ke lantai karpet, menyisakan Alena dalam balutan pakaian dalam renda berwarna hitam yang begitu menggoda dan memamerkan lekuk tubuh mulusnya secara sempurna.

​"Terima kasih, Alan. Kali ini, berikan aku kenikmatan yang membuatku melupakan semua masalahku," bisik Alena lembut.

“Baik Mbak. Aku akan memberikan kepuasan padamu. Aku tidak akan mengecewakanmu.”

​Alena menjangkau kerah baju Alan, menarik tubuh tegap pria itu mendekat hingga dada mereka saling berbenturan rapat. Hawa panas langsung menguar hebat di antara mereka. Alan yang memandang keindahan paras dan tubuh Alena dari jarak sejengkal tak mampu lagi membendung naluri purbanya.

​Tanpa bersuara, Alan melepaskan bajunya, memperlihatkan tubuh tegap berotot yang terbentuk dari kerja kerasnya sehari-hari. Alena menarik napas dalam-dalam, mengagumi keindahan fisik pria di depannya. Tanpa ragu, Alena mendekatkan wajahnya, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang langsung membakar seketika.

​"Mmph..." Alena mendesah pelan di sela ciuman mereka saat Alan melingkarkan lengan kekuatannya di pinggang mulus Alena.

​Alan mengangkat tubuh wanita itu dengan mudah, membawanya melangkah menuju ranjang. Tubuh Alena terhempas lembut di atas kasur yang empuk. Alan langsung mengungkung tubuh molek wanita itu, menatap mata Alena yang sayu dan sarat akan dahaga emosi serta gairah terlarang.

​"Apakah aku boleh melakukan sesukaku Mbak?" bisik Alan dengan napas yang memburu tepat di atas wajah Alena.

​Alena menatap iris mata Alan dengan lekat, mengalungkan kedua tangannya di leher tegap Alan. "Lakukan, Alan. Buat aku yakin kalau aku bukan wanita mandul. Tanamkan benihmu sampai penuh..."

​Pernyataan pasrah dan memikat dari Alena meruntuhkan sisa-sisa batasan logika dalam kepala Alan. Alan mengambil alih sepenuhnya. Dia menyambar kembali bibir Alena, menciumnya lebih dalam dan intens, menyalurkan segala rasa emosi, beban hidup, dan kehangatan yang tak terbendung.

​Jemari Alan bergerak lincah menelusuri setiap lekuk tubuh mulus Alena, menanggalkan penghalang terakhir di antara kulit mereka. Alena menggeliat, mendesahkan nama Alan pelan saat sentuhan demi sentuhan pria itu membakar seluruh saraf tubuhnya.

​"Ah... Alan..." rintih Alena, memeluk erat bahu kokoh Alan saat percikan gairah menyengat intensitas pertemuan mereka.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Akibat Salah Masuk Kamar   BAB 12

    Melihat reaksi Alena, Alan menyadari bahwa tidak semudah itu menyadarkan wanita yang hatinya baru saja hancur berkeping-keping. Alena masih terus menangis, menutup wajahnya dengan kedua tangan saat emosinya meluap tak tertahan. Pikirannya benar-benar kalut, tertutup oleh rasa dikhianati dan harga diri yang diinjak-injak selama bertahun-tahun.​Alan menarik napas panjang. Duduk berlama-lama di pinggir jalanan yang sepi dan makin dingin hanya akan memicu masalah baru. Dia tidak punya pilihan lain selain membawa Alena pergi dari tempat itu secepatnya.​"Mbak Alena, kita tidak bisa terus-terusan di sini. Ayo ikut saya. Kita bicara di tempat yang lebih aman,” ajak Alan dengan pelan.​Alena tidak menjawab, tetapi dia juga tidak menolak ketika Alan membantu memegang lengannya untuk berdiri. Langkahnya masih sangat lemah dan gontai. Alan mengarahkannya menuju sepeda motor tua yang terparkir di tepi jalan. Setelah memasangkan helm ke kepala Alena, Alan naik ke jok depan dan meminta wanita itu

  • Akibat Salah Masuk Kamar   BAB 11

    Tidak ada ruang atau kesempatan lagi bagi Alan untuk menolak permintaan itu. Isak tangis lirih Alena di seberang telepon benar-benar mengetuk nuraninya. Apalagi jika mengingat jarum jam sudah menunjukkan larut malam dan suasana jalanan kota makin sepi. Sangat berbahaya bagi seorang perempuan sendirian bertengger di pinggir jalan tanpa pengawasan.​"Kirimkan lokasi Mbak sekarang," ucap Alan sambil mempersiapkan diri untuk menjemput Alena.​Setelah sambungan telepon terputus, sebuah pesan masuk berisi titik lokasi Alena menunggu. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Alan menyambar jaket dan helmnya, lalu bergegas berlari ke pekarangan rumah. Dia menyalakan mesin sepeda motor tuanya dan langsung memutar gas dengan kecepatan tinggi.​Alan berkendara sangat cepat membelah kegelapan malam. Kebetulan lalu lintas sudah melengang lengang, sehingga hanya butuh waktu lima belas menit bagi Alan untuk sampai di lokasi yang dikirimkan Alena.​Dari kejauhan, Alan langsung mengenali sosok wanita itu.

  • Akibat Salah Masuk Kamar   BAB 10

    Alena melangkah keluar dari pintu kaca hotel dengan tubuh yang terasa begitu layu. Angin malam yang berembus kencang langsung menyapu kulitnya, namun rasa dingin itu sama sekali tak mampu menandingi rasa hampa yang membekukan dadanya.​Setiap kata-kata Angga di lobi tadi terus bergema, berputar-putar di dalam kepalanya. Semua tuduhan dan kebohongan yang disimpannya rapi selama bertahun-tahun akhirnya meledak tepat di depan matanya.“Mas Angga. Kenapa kamu lakukan semua ini padaku Mas?” lirih Alena dengan tatapan kosong.​Harusnya Alena merogoh ponselnya, menghubungi sopir pribadinya untuk segera menjemput dengan mobil mewah yang biasa mengantarnya. Tapi saat ini, dia sama sekali tidak ingin melihat siapa pun dari kehidupannya yang lama. Alena hanya ingin menghilang sejenak dari pusaran kemewahan yang terasa makin memuakkan.​Tanpa tujuan pasti, Alena berjalan menyusuri trotoar jalanan kota yang mulai lengang. Langkah kakinya lambat, terseret bersama gaun kremnya yang melambai ditiup a

  • Akibat Salah Masuk Kamar   BAB 9

    Alena baru saja melangkah keluar dari area lift menuju lobi hotel ketika matanya menangkap sosok yang sangat dia kenali. Pria itu berdiri di dekat konter resepsionis, mengenakan kemeja biru yang persis sama seperti yang dipakainya saat pamit seminggu lalu. ​Dia adalah Angga, suami Alena.​Langkah Alena terhenti seketika. Dadanya mendadak terasa dingin. Tapi kali ini, tidak ada rasa panik atau serangan sesak napas yang datang menyiksa. Hatinya sudah terlalu kebal setelah semua yang dia lalui beberapa waktu ;terakhir.​Pada saat yang bersamaan, Angga menoleh. Tatapan mata mereka berdua bertabrakan di tengah keramaian lobi. Wajah Angga yang tadinya santai berubah kaget luar biasa. Langkahnya tertahan, matanya membelalak menatap Alena dari atas sampai bawah.​"Alena?" Angga berjalan mendekati Alena dengan dahi berkerut rapat. "Kamu ngapain di sini? Kamu ngikutin aku?"​Alena menatap suaminya dengan tajam. Tidak ada air mata, tidak ada suara gemetar. Hanya ada tatapan dingin yang tajam.​"

  • Akibat Salah Masuk Kamar   BAB 8

    Setelah hampir dua jam lamanya berada di kamar hotel itu, Alan membenahi pakaiannya satu per satu. Sementara Alena masih terbaring pasrah di balik selimut putih, menatapnya dengan tatapan sukar diartikan. Setelah kembali rapi dan mengantongi uang dari Alena, Alan segera berpamitan untuk pulang.“Mbak, aku harus segera pulang. Sekali lagi aku mau ucapin Terima kasih sama kamu Mbak. Kamu bagai dewi penolongku,” ucap Alan sambil merapikan rambutnya. “Aku yang harusnya berterima kasih sama kamu Alan. Kamu, sudah memberikan sesuatu yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya,” sahut Alena sambil bangun dari rebahannya. Tanpa banyak kata lagi, Alan segera melangkah mendekati pintu. Tapi, Alena menahannya.“Alan, tunggu!”Alan berhenti, lalu menoleh.“Ya Mbak Alena, Ada apa Mbak?”Tanpa basa basi, Alena tiba tiba mendekat ke arah Alan lalu memeluk erat pria itu dari belakang.“Alan, kita mungkin tidak punya ikatan. Tapi, jujur aku katakan aku menyukaimu!”Mendengar pengakuan Alena, Alan memu

  • Akibat Salah Masuk Kamar   BAB 7

    Berbeda dari malam sebelumnya, saat segalanya diburu ketakutan, kepanikan, dan amarah meledak-ledak, kali ini pergerakan mereka terasa jauh lebih lambat, dalam, dan sengaja. Ada semacam kesepakatan terselubung di antara mereka untuk melepaskan segala beban hidup sejenak di atas ranjang ini.​Alan membiarkan jemari tangannya menyusuri lekuk pinggang Alena yang mulus. Otot-otot lengannya yang tegap menopang tubuhnya tepat di atas Alena, menatap lurus pada mata sayu wanita yang napasnya berembus hangat menyentuh lehernya.​"Kenapa menatapku seperti itu?" bisik Alena lirih. Suaranya serak, sarat akan gairah yang masih membara.​"Mbak benar-benar yakin tidak akan menyesal? Saya cuma tukang servis AC. Setelah malam ini dan setelah uang itu saya terima, kita tidak punya hubungan apa-apa lagi,” tanya Alan dengan suara maskulinnya.​Alena mengukir senyum tipis. Jemari lentiknya naik, menyusuri garis rahang Alan yang tegas lalu membelai rambut pria itu yang basah oleh keringat.​"Jangan bahas s

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status