Share

Kecelakaan (lagi)

Author: Dwrite
last update Last Updated: 2023-05-18 13:58:47

"Sa, udah denger belum? Katanya Faqih kecelakaan," ucap Aisha pada Salsa yang baru saja menyelesaikan menutup buku hafalannya.

"Halah, biarin aja. Palingan dia banyak tingkah. Pecicilan persis bapaknya. Kayaknya Bang Faqih juga cuma kejedot ujung dipan," tuturnya blak-blakan sembari meraih camilan di dalam lemari, lalu mendaratkan bokong di atas karpet bawah ranjang.

"Tapi katanya kaki Faqih keseleo, terus tulang idungnya geser."

"Apuah?!" Sontak bungkus camilan terlepas dari genggaman Salsa.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
dianrahmat
alamaaak... lagi2 part ini bikin ngakak ...... hadeuuh Fariz fariz... anak sakit kok yg ditanyain sarungnya ...‍♀️...‍♀️. biarpun tuh sarung mahal teteup aja anak mah no 1 ....... btw Salsa... jgn ingetin ttg hal yg memalukan om fariz dong ......
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Terlambat?

    Sejak sore, Faqih sudah berdiri di depan cermin. Kemeja hitam polos diganti dengan cokelat muda yang dipatukan dengan angle pants berwarna cream. Jam tangan dipoles ulang. Rambut dirapikan untuk ketiga kalinya.Ia bahkan membuka kembali koper kecilnya dan mengeluarkan parfum yang jarang ia pakai, aroma maskulin lembut yang dulu sempat dipuji salah satu teman kampusnya.Beberapa semprotan. Lalu satu lagi. Sampai semerbak aromanya memenuhi kamar.Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka tanpa diketuk. Fariz berdiri di sana, bersandar santai sambil memerhatikan putra semata wayangnya dari ujung kepala sampai kaki.“Lu mau dateng ke acara keluarga atau ngapel, sih? Rapi bener kayak mau kondangan,” tanyanya.Faqih menoleh, lalu cekikikan. “Ah, biasanya aja ini mah, Pak."Fariz mendekat, mengendus udara dramatis. “Busyet ... Wangi amat lagi. Ini acara keluarga, Tong. Bukan interview calon mertua.”Faqih memutar mata. “Kayak yang nggak pernah muda aja. Pasti bapak juga kalau ke kondangan pakai poma

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Jarak

    Pagi pertama Faqih kembali ke Lumajang terasa aneh. Udara masih sama. Jalanan menuju pesantren masih dilewati pedagang sayur dan anak-anak berseragam putih. Bahkan gerbang pesantren pun tidak banyak berubah.Namun, Faqih yang melangkah masuk bukan lagi remaja yang dulu berdiri petantang-petenteng di barisan wisuda.Ia datang sebagai alumni. Sebagai lelaki 26 tahun yang sudah melihat dunia yang lebih luas. Tentu saja ia lebih dewasa dan berwibawa.Beberapa santri perempuan yang kebetulan melintas melirik dua kali. Ada yang berbisik. Ada yang tersenyum malu-malu.Faqih pura-pura tidak sadar.Ia berjalan menuju kantor administrasi, berniat menemui salah satu ustaz lama. Hatinya sebenarnya tidak sepenuhnya tenang. Ada sesuatu yang membuatnya ingin datang hari itu—bukan sekadar silaturahmi.Saat melewati koridor dekat ruang kelas baru, ia mendengar suara yang membuat langkahnya berhenti.Suara itu tidak berubah. Tenang. Tegas. Dengan intonasi khas yang dulu sering memotong ucapannya.“Kala

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Pulang

    Mesin meraung pelan, lampu kabin meredup, dan bayangan wajah-wajah yang ia tinggalkan masih berkelebat di kepalanya.Ia mencoba tidur.Tapi yang muncul justru kabar itu.Ainun sudah dilamar oleh lelaki yang dulu datang ke tahlilan kakeknya. Lelaki yang berdiri di samping Ainun dengan sikap tenang, dewasa, dan entah kenapa terasa pantas. Lelaki yang saat itu membuat Faqih merasa seperti bocah yang belum selesai memahami apa itu cinta.Faqih masih ingat bagaimana ia menerima kabar itu.Tidak ada ledakan amaran, tidak ada ratapan atau kegalauan berkepanjangan. Yang ada hanya kekosongan, juga rasa kecewa yang bahkan sulit ia mengerti artinya.Ia pernah berpikir waktu akan menghapusnya. Tapi ternyata tidak. Waktu hanya membuatnya lebih rapi, agar dia bisa memulai kembali.***Tujuh tahun kemudian ....Bandara Changi siang itu ramai, seperti biasa. Penerbangan internasional, wisatawan, mahasiswa, pekerja migran—semuanya bercampur dalam satu arus besar.Di antara keramaian itu, seorang lelak

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Bandara

    Bandara pagi itu lebih ramai dari biasanya. Troli berlalu-lalang, pengumuman keberangkatan bersahut-sahutan, dan aroma kopi bercampur parfum mahal memenuhi udara. Di salah satu sudut ruang tunggu, empat anak muda berdiri berjejer. Masing-masing dengan koper, ransel, dan wajah yang berusaha terlihat santai. Faqih menatap papan jadwal keberangkatan. Singapura. Di sampingnya, Akmal dan Aisha sibuk memastikan dokumen, sementara Furqon berdiri sedikit menjauh, menelpon seseorang dengan nada suara mantap, ciri khas orang yang sudah berdamai dengan pilihannya sendiri. Salsa berdiri paling belakang. Ia tersenyum, tapi jemarinya mencengkeram tali tas terlalu erat. Fariz datang dengan gaya paling ribut. “Ini bandara apa pasar?” omelnya sambil mendorong troli. “Orang jalan nggak lihat-lihat.” Suci menepuk lengannya. “Mas, kamu yang nyeruduk.” Fariz mendecak. “Iya, iya. Salah gue lagi.” Tapi begitu ia melihat Faqih berdiri dengan koper besar ... langkah Fariz melambat. Tak t

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Wisuda

    Hari wisuda akhirnya tiba.Pesantren Al-Huda dipenuhi wajah-wajah tegang bercampur bahagia. Spanduk besar terbentang di gerbang, suara pengeras mengalun dengan nada formal, dan para santri akhir berdiri rapi menunggu giliran dipanggil.Faqih berdiri di barisan tengah. Kokonya bersih, pecinya lurus, tapi matanya kerap melayang entah ke mana. Ia berusaha fokus, tapi pikirannya terlalu penuh untuk hari yang seharusnya sederhana. Wisuda bukan sekadar akhir masa belajar—ia adalah tanda bahwa sebentar lagi, jarak akan benar-benar mengambil alih.Di bangku tamu, Fariz duduk tak bisa diam.“Ini lama amat, ya?” gumamnya. “Dulu gue lulus cepet.”Suci menoleh sambil tersenyum tipis. “Mas, dulu kamu lulus atau dikeluarin?”Fariz terdiam sesaat. “Ck, pake dibahas.”Saat nama Faqih dipanggil, Fariz refleks berdiri dan bertepuk tangan paling keras.“Itu anak gue!” serunya lantang.Suci menepuk lengannya. “Mas, duduk. Semua orang juga punya anak di sini.”“Tapi yang paling ganteng cuma atu,” balas Fa

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Menetap

    Lumajang tidak lagi terasa seperti tempat singgah. Sejak Pak Ahmad jatuh sakit, rumah tua itu pelan-pelan kembali hidup. Fariz dan Suci memang pindah sementara—itu yang mereka katakan pada banyak orang. Tapi semakin hari, kata sementara mulai kehilangan maknanya. Ada kebiasaan yang tumbuh. Ada rutinitas yang mengakar. Dan ada satu hal yang tak bisa dipungkiri Suci, ia lebih tenang berada di dekat ibunya. Pagi itu, Suci membantu ibunya menjemur pakaian di halaman. Langit Lumajang cerah, angin berembus pelan. Ibu Suci bergerak pelan, tangannya gemetar saat meraih ujung kain. Suci refleks menahan jemuran itu. “Pelan-pelan, Bu,” katanya. Ibunya tersenyum, senyum yang sudah jauh berkurang sejak Pak Ahmad pergi. “Iya. Sekarang apa-apa harus pelan.” Kalimat itu sederhana, tapi Suci tahu maksudnya lebih dari sekadar gerak tubuh. Mereka duduk di bangku kayu. Sunyi sebentar. “Kalau kalian balik ke Jakarta,” ucap ibunya akhirnya, “ibu nggak apa-apa. Lagian ibu rasa ini udah terlalu lama b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status