Share

Bab 5

Author: Crispy Coco
Aku kembali ke apartemenku. Hal pertama yang kulakukan adalah berjalan menuju meja rias.

Sebuah cincin berlian biru dua belas karat tergeletak di sana.

Itu cincin pertunangan dari Vicky sepuluh tahun yang lalu.

Aku mengambilnya dan ... tanpa ragu, melemparkannya ke perapian.

Api menjilati lingkaran platinumnya, tetapi berlian itu tetap terdiam di sana, berkilauan.

Sebuah simbol sempurna untuk cintaku. Dingin, keras, dan mati rasa.

"Nona, Anda sudah kembali."

Pelayanku yang bernama Aris masuk. Dia melihat wajahku dan langsung mengerti.

"Adakan pertemuan semua tetua keluarga," kataku sambil menoleh kepadanya. "Malam ini, jam delapan. Darurat."

"Baik, Nona. Oh iya, Nona ...." Dia sempat ragu-ragu. "Pihak dari Kota Sirkola menelepon lagi. Tentang lamaran pernikahan itu. Ini sudah ketiga kalinya tahun ini."

Keluarga misterius di Kota Sirkola.

Selama dua tahun, mereka terus meminta aliansi. Aku selalu menolak karena sudah dibutakan oleh Vicky.

"Katakan pada mereka, aku menerimanya."

Mata Aris melebar karena terkejut, tetapi dia dengan cepat menenangkan diri.

"Apa saya perlu mengatur pertemuan?"

"Bukan pertemuan, tapi pernikahan. Atur untuk tiga hari dari sekarang."

"Tiga hari?" Aris hampir kehilangan ketenangannya. "Nona, itu terlalu cepat .…"

"Tiga hari." Aku menenggak wiski, merasakan sensasi terbakar di tenggorokan. "Dan hubungi Rumah Lelang Kota. Aku ingin seluruh hasil lelang tadi malam dicairkan. Aku ingin dalam bentuk tunai. Semuanya."

Malam itu, kelima tetua keluarga berkumpul di ruang rapatku.

Mereka adalah para penjaga keluarga, orang-orang yang telah menyaksikan aku tumbuh dewasa. Mereka benar-benar peduli padaku.

"Irene, apa yang terjadi?"

Lukas adalah yang tertua, dia berbicara lebih dulu. Dia adalah penasihat paling terpercaya ayah angkatku dan pendukung terbesar pernikahanku dengan Vicky.

"Aku sudah membatalkan pertunangan," kataku langsung ke intinya. "Kontrak dengan Vicky Aristanto secara resmi batal."

Ruangan itu hening.

"Nak, ada masalah apa?" Tetua lain yang bernama Sandiaga bertanya dengan lembut, "Kalau hanya pertengkaran kecil, kami bisa menengahi .…"

"Ini bukan pertengkaran," kataku sambil menatap wajah ramah mereka. "Ini pengkhianatan."

Aku menceritakan semuanya kepada mereka. Seluruh kebenaran selama sepuluh tahun ini.

Sabotase Vicky, identitas asli Andrea, aset yang dicuri, dan konfrontasi hari ini. Aku tidak menyembunyikan apa pun.

Ketika aku selesai, ruangan itu sunyi senyap.

"Bajingan." Lukas menghantamkan tangannya ke meja dan berkata, "Keluarga Sinatrya selalu menghormati aliansi dengan Keluarga Aristanto, tapi dia malah memperlakukanmu seperti ini!"

"Sudah terlambat untuk itu sekarang," kataku. Aku lalu berdiri. "Yang penting sekarang adalah masa depan. Aku sudah memutuskan untuk menikahi pria dari Kota Sirkola itu."

Para tetua saling memandang.

"Irene," kata Sandiaga hati-hati. "Kita nggak tahu banyak tentang keluarga itu. Pernikahan mendadak bisa menjadi resiko besar."

"Resiko yang lebih besar daripada Vicky?" tanyaku balik.

Tidak ada yang bisa menjawab.

"Beri aku tiga hari untuk mempersiapkan pernikahan," kataku, nada suaraku tak memberi ruang untuk bantahan. "Ini keputusanku."

Selama dua hari berikutnya, aku tak berhenti.

Aku mendesain gaun pengantinku sendiri. Sutra putih dengan berlian. Berlian senilai hampir lima triliun. Harga kebebasanku, berkilauan di atas gaun itu.

Jika Vicky menginginkan uang itu, maka dia bisa mencoba merobeknya dari gaunku.

Pada pagi hari ketiga, sebuah paket tiba di depan pintuku.

Di dalamnya ada seekor merpati mati dengan sayap patah.

Dan sebuah catatan.

[Irene, aku mengirimkan bunga ke makam ibumu. Aku telah mengambil keputusan. Kau tetap Nyonya Besar buatku, tapi di rumah ini, kau dan Andrea setara. Dan kau nggak boleh menentangnya sama sekali. Ini tawaran terakhirku. Bawakan akta galeri itu, atau akan ada konsekuensinya. Ingat, kau akan selalu menjadi milikku. V.A.]

Aku melihat catatan itu dan tertawa.

Vicky Aristanto, betapa dirimu penuh mimpi?

Kau pikir dunia hanya berputar di sekitarmu?

Kau pikir aku tidak bisa hidup tanpamu?

Aku merobek catatan itu hingga hancur dan membuangnya ke tempat sampah.

...

Tiga jam kemudian, aku sudah berdiri di depan Katedral Bunda Kudus.

Gaun berlian itu adalah sebuah deklarasi perang, berkilauan di bawah sinar matahari.

Lukas datang ke sisiku dan menawarkan lengannya.

"Apa kau siap, Nak?"

Aku meraih lengannya, merasakan kehangatan dan kekuatannya.

"Aku siap."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Adalah Nyonya Bos Mafia Sejati   Bab 9

    Helikopter itu terbang di atas laut berwarna biru kehijauan yang jernih.Di bawah kami, tampak sebuah pulau pribadi yang belum pernah kulihat sebelumnya."Kita di mana?" tanyaku pada Jeremy.Dia duduk di sampingku, tangannya yang besar menggenggam tanganku, suaranya terdengar lembut."Rumah kita."Aku menatap sosoknya, ada seribu pertanyaan berputar-putar di benakku."Jeremy, kenapa sekarang?" Aku menoleh padanya. "Kenapa kau baru muncul sekarang?"Dia terdiam cukup lama, lalu mulai berbicara."Irene, aku harus menceritakan sebuah kisah padamu." Sorot matanya menyimpan kesedihan yang mendalam. "Sebuah kisah tentang menunggu."Helikopter mendarat di halaman rumput yang luas. Kelopak mawar melayang-layang di udara."Apa kau masih ingat malam ketika kau diculik?" katanya sambil kami berjalan. "Terperangkap di gudang terbengkalai itu."Pikiranku kembali ke malam yang mengerikan itu.Ibuku baru saja meninggal. Ayahku sibuk dengan selingkuhannya, dan sama sekali tidak memperhatikanku.Sebuah

  • Aku Adalah Nyonya Bos Mafia Sejati   Bab 8

    Jeremy memberi isyarat.Sebuah proyektor besar digulirkan dan diarahkan ke dinding luar katedral.Sebuah gambar berkedip-kedip di batu putih itu.Itu adalah rekaman kamera pengawas dari kolam renang, tiga belas tahun yang lalu.Di layar, Vicky yang berusia lima belas tahun sedang berjuang di kolam dalam.Andrea yang berusia dua belas tahun berdiri di tepian dengan mengenakan gaun merah, memegang pelampung.Tapi, dia tidak melemparkannya.Sebaliknya, saat Vicky mengulurkan tangan putus asa ke arahnya, dia justru mundur dengan panik. Karena takut mendapat masalah, dia bahkan menendang pelampung itu lebih jauh dari tepi.Vicky tenggelam, perjuangannya semakin lemah.Tepat saat itu, ada sosok kecil bergegas masuk dari sisi kanan layar.Itu adalah aku yang berusia dua belas tahun.Aku terjun ke kolam tanpa ragu sedetik pun, menggunakan seluruh kekuatanku untuk menarik tubuh Vicky yang jauh lebih berat dariku.Namun, aku terlalu kecil. Saat berhasil mendorongnya sampai ke tepi, aku kehabisan

  • Aku Adalah Nyonya Bos Mafia Sejati   Bab 7

    Dunia seolah menjadi sunyi, gema tembakan itu masih menggantung di udara.Vicky mencengkeram tangannya yang mati rasa, menatap tak percaya pada serpihan senjatanya di tanah."Siapa itu?!" teriaknya sambil melihat sekeliling dengan panik. "Siapa yang menembak?!"Satu-satunya jawaban adalah suara langkah kaki serempak.Ratusan pria berjas hitam keluar dari mobil-mobil lapis baja.Mereka bersenjata lengkap, membawa senjata dengan standar militer, wajah mereka tersembunyi di balik topeng, hanya memperlihatkan mata yang dingin dan keras.Di tengah kekuatan yang mengerikan seperti itu, sebuah mobil mewah Royal Sein meluncur pelan dan berhenti.Pintu pun terbuka.Seorang pria melangkah keluar.Dia tinggi dan kurus, mengenakan jas hitam edisi khusus. Dia bergerak dengan keanggunan mematikan yang memancarkan otoritas mutlak. Kacamata hitam menutupi bagian atas wajahnya, tetapi bibir tipis dan garis rahangnya yang kuat memancarkan kekuatan yang mencekik.Saat Vicky melihatnya, wajahnya langsung

  • Aku Adalah Nyonya Bos Mafia Sejati   Bab 6

    Pintu katedral yang berat itu tak mau bergerak.Lalu, sebuah suara memecah keheningan di belakangku."Irene."Aku menoleh. Matahari pagi menyinari berlian di gaunku, membuatnya tampak seperti ribuan matahari kecil yang berkilauan.Saat Vicky melihatku, dia membeku, rahangnya ternganga.Matanya menatapku lekat-lekat, menelusuri garis gaunku hingga ke berlian yang menyilaukan itu."Ya Tuhan," gumamnya. "Irene ... kau terlihat ....""Kami mencarimu ke mana-mana, Irene." Suara Andrea yang manis namun mengandung kepalsuan, menusuk telinga. "Kami sudah mengirimkan ultimatum. Kau bukannya membalas, justru tiba-tiba muncul di sini dengan gaun pengantin? Apa kau mencoba memaksa Vicky untuk menikahimu?"Aku menatapnya dengan wajah sedingin es. "Kau terlalu banyak berpikir, Andrea. Aku memang akan menikah. Hanya saja bukan dengannya."Vicky akhirnya tersadar. Dia menarik napas dalam-dalam, tatapan arogan itu kembali ke wajahnya."Karena kita semua sudah di sini, ini menghemat waktu. Pulanglah, Ir

  • Aku Adalah Nyonya Bos Mafia Sejati   Bab 5

    Aku kembali ke apartemenku. Hal pertama yang kulakukan adalah berjalan menuju meja rias.Sebuah cincin berlian biru dua belas karat tergeletak di sana.Itu cincin pertunangan dari Vicky sepuluh tahun yang lalu.Aku mengambilnya dan ... tanpa ragu, melemparkannya ke perapian.Api menjilati lingkaran platinumnya, tetapi berlian itu tetap terdiam di sana, berkilauan.Sebuah simbol sempurna untuk cintaku. Dingin, keras, dan mati rasa."Nona, Anda sudah kembali."Pelayanku yang bernama Aris masuk. Dia melihat wajahku dan langsung mengerti."Adakan pertemuan semua tetua keluarga," kataku sambil menoleh kepadanya. "Malam ini, jam delapan. Darurat.""Baik, Nona. Oh iya, Nona ...." Dia sempat ragu-ragu. "Pihak dari Kota Sirkola menelepon lagi. Tentang lamaran pernikahan itu. Ini sudah ketiga kalinya tahun ini."Keluarga misterius di Kota Sirkola.Selama dua tahun, mereka terus meminta aliansi. Aku selalu menolak karena sudah dibutakan oleh Vicky."Katakan pada mereka, aku menerimanya."Mata Ari

  • Aku Adalah Nyonya Bos Mafia Sejati   Bab 4

    Rasa muak di sorot mata Vicky terasa lebih menyakitkan daripada senjata apa pun.Tepat saat itu, Andrea yang sedari tadi "gemetar" dalam pelukan Vicky, menatapku dengan matanya yang basah oleh air mata."Irene, kakakku, kumohon berhenti .…" katanya dengan suara lemah dan mulai terisak. "Aku tahu kau membenciku, tapi kau nggak bisa menyangkal kebenaran …. Aku yang menyelamatkan nyawa Vicky. Sepanjang hidup kita, aku sudah membiarkanmu memiliki segalanya, pakaian, pujian, perhiasan. Tapi, bukan dia. Aku nggak akan menyerahkan Vicky."Saat berbicara, dia melepaskan diri dari Vicky dan berjalan ke arahku, meraih tanganku seolah hendak memohon."Kalau kau pikir ini salahku, pukul saja aku! Silakan!"Saat dia mendekat, sorot matanya berubah, menjadi dingin dan kejam.Di tempat yang tidak bisa dilihat Vicky, jari-jarinya mencengkeram lenganku dengan kuat.Rasa sakit menusukku. Aku mencoba menarik diri, tetapi dia tiba-tiba melemparkan tubuhnya ke belakang, membenturkan tubuhnya dengan keras k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status