ログインLangit agaknya sudah terlalu lelah menangis, hanya meninggalkan rintik gerimis yang menari- nari diudara, begitupun aku, sidang perceraian ini telah banyak menguras tenaga dan fikiranku, butuh waktu berbulan-bulan untuk sampai ditahap ini, tapi lega juga akhirnya aku terbebas dari cinta semu yang menggores jiwa.
Teringat kisah itu, aku tersenyum getir. Akhirnya setelah hampir setengah bulan aku tinggal dirumah mertua, kami pindah ke apartemen Reza. Tidak terlalu besar, hanya memiliki satu ruang tamu, satu ruang keluarga, dapur dan dua kamar.
Selayaknya pasangan yang baru menikah, kami mulai mendaftar barang- barang yang perlu dan tidak perlu kami beli, disana baru ada satu tempat tidur di kamar utama, belum ada perabotan dapur, aku membuat list dalam secarik kertas kemudian menampakkannya pada kak Reza.
"Kapan kita membeli ini?" Katanya sambil membaca daftar yang kubuat. Wajahnya menunduk membaca kertas list yang kuberi, terlihat serius. "Kapan ada waktu?" "Besok aku libur, Gimana kalau besok?" "Oke, baiklah." Aku berdiri menjauh darinya, berjalan pelan mengitari ruangan yang masih kosong itu, perasaanku campur aduk, seharusnya ini adalah momen terindah dalam hidupku.Momen dimana pasangan pengantin baru mulai pindah ke rumah mereka, melihat dengan antusias setiap centi dari rumah yang akan mereka tempati bersama, bahkan sebenarnya inilah yang aku impikan sejak dulu, aku akan menempatkan vas bunga disudut ruangan, tidak lupa dinding yang kosong disana akan aku tata dengan rak buku. Aku bahkan sudah memimpikan hadirnya seorang bayi lucu dirumah ini.
Tapi apartemen ini lebih mirip sebuah labirin gelap bagiku, labirin yang terlalu rumit, setiap ruangan seolah jalan buntu, dan aku terjebak didalamnya tak bisa keluar, aku terus mencari dimana ujungnya tapi tak jumpa. Tidak ada harapan di dalam sini, hanya menunggu aku kehabisan oksigen karena terlalu pengap dan akhirnya hancur berkeping-keping , sama sekali tak ada impian yang bisa dibentuk bahkan kak Reza sudah memutus rajutan impian itu sebelum impian itu sendiri terbentuk. Aku menghela nafas pelan, semua terasa lelah, tanpa kusadari kak Reza sudah berdiri dibelakangku, entah sejak kapan. "Apa kamu suka?" "Hah..?" Aku tersentak kaget, jaraknya begitu dekat denganku, hingga bahu kami bersentuhan. "Kamu suka apartemennya?" Ia mengulangi pertanyaannya. Aku mengangguk pelan, jantung ku mulai tidak bisa dikondisikan, berada pada jarak sedekat ini dengannya membuatku mati lemas, aku takut dia mendengar bunyi detak jantungku, cepat- cepat aku menjauh, memilih untuk maju beberapa langkah, berpura-pura mengitari ruangan. *** Keesokan harinya, aku sudah bersiap untuk berbelanja bersama Reza, aku wanita yang simple, tidak mau terlalu banyak gaya jika bepergian, hanya mengoles bedak tabur serta lipglose sudah membuatku fresh. Teman- teman sering menyebutku Donna Sastro, kata mereka wajahku manis seperti Dian Sastro wardoyo.Aku hanya tertawa ketika mereka menyebutku mirip artis itu, walau hati juga terkadang tidak memungkiri, aku sedikit mirip dengannya, terutama dibagian hidung dan mata.
Reza sudah menunggu di ruang tamu, penampilan casual dengan rambut setengah basah membuatnya tampak begitu luar biasa dimataku. Padahal dia hanya mengenakan kaos dan celana pendek. Kami berjalan beriringan, melihat beberapa perabotan dapur, masuk keluar toko berusaha mencari beberapa barang yang ada di list. "Kamu suka masak?" Tiba- tiba saja dia sudah ada dibelakangku membuatku terperanjat ketika tengah memilih spatula, dia hobi sekali berdiri dibelakangku seperti itu. "Oh ya, iya." Jawabku gugup. Dia hanya mengangguk ketika melihat lebih banyak perabotan dapur yang kubeli ketimbang accesoris rumah, yah aku memang suka memasak, aku juga sering membuat konten memasak di media sosialku. Akhirnya setelah puas berbelanja kami istirahat disebuah resto masih di area pusat perbelanjaan. "Kak em bang, aku boleh bertanya?" Aku melirik sebentar dia yang ku ajak bicara. "Hmmm?" kak Reza menatapku. "Panggil Abang aja." Aku mengangguk pelan, "Kenapa Abang menerima perjodohan ini?" Reza diam membisu beberapa saat, menghembuskan nafas pelan. "Jika tentang ibuku, aku tidak bisa menolak." Suara Reza melirih. "Tapi apa abang tidak mencoba mengenalkan kekasih Abang ke ibu, mungkin dia ada pertimbangan lain saat itu?" Tanyaku penasaran. "Sudah, tapi beliau gak setuju dengan Fany." Satu info baru, nama wanita itu Fany, tunggu Fany, apa dia kakak kelasku juga, yah aku ingat mbak Fany adalah anak MIPA matematika, wanita yang terkenal pintar seantero sekolah, pernah menjuarai olimpiade matematika tingkat provinsi, masuk 5 besar nasional, luar biasa. "Seperti pernah dengar namanya? apa dia mbak Fany si juara olimpiade matematika itu?" Reza menoleh dan mengangguk pelan. "Wow, dia wanita sempurna untuk dijadikan calon menantu kenapa bisa ibuk tidak suka?" Aku mencondongkan tubuhku, lupa kalau yang aku bicarakan ini adalah rivalku dalam mendapatkan cinta Reza. "Kata ibuk dia agak angkuh." "Ya ya ya, rata- rata orang pintar memang sedikit angkuh sih." Aku mengangguk- anggukkan kepala menyetujui, kemudian terdiam kala melihat ekspresi Reza. "Enggak, hehe mungkin bukan angkuh tapi lebih ke pendiam." Ralatku salah tingkah sambil menggigit bibir bawahku pias sambil berusaha tersenyum. Apaan sih jamu Donna. "Kamu? Mengapa menerima perjodohan ini?" Reza balik bertanya. Hahahaaa, pertanyaan bodoh macam apa ini, jelas- jelas karena aku menyukaimu sejak dulu, kamu tau, aku menantikan momen ini hampir dari setengah perjalanan hidupku. Aku jatuh cinta ke kamu itu dari umur lima belas, gila kan. Dari baru masuk SMA. Hitung aja sendiri berapa lama aku memendam ini. Aku diam, kemudian tersenyum, lagi-lagi yang keluar bukan senyum tapi lebih mirip seringai. "Mungkin sama, karena ingin berbakti pada nenek, kamu kan tau hanya nenek yang kupunyai didunia ini, mana sanggup aku menolak permintaannya." Aku sebentar lagi bisa dinobatkan jadi pemeran figuran terbaik abad ini, aktingku sungguh luar biasa. Terbukti, Reza tampak prihatin padaku. "Apa kamu juga punya kekasih?" pertanyaan Reza membuatku tersedak oleh salivaku sendiri. "Aku? emmm, kurasa belum, tidak ada. Banyak sih yang mau, tapi belum sempat ku jawab, aku sudah keburu menikah." Jawabku gagap sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga. Reza menahan tawanya mendengar ucapanku, dia menatapku, entah tatapan apa itu.Sama-sama bekerja di dunia perbankan, aku dan Reza agak kewalahan mengajukan cuti untuk ke Zurich kali ini. Apalagi jabatan Reza yang seorang manager, ditambah pengajuan cuti untuk akhir bulan. Pengajuanku hampir tidak di ACC kepala cabang, namun syukur nya baik aku maupun Reza bisa mendapatkan cuti , tidak banyak hanya 5 hari kerja, satu minggu totalnya jika dihitung hari Sabtu dan Minggu. Aku mengemasi barangku diatas meja kerja dan Loli melipat tangan didada sambil memperhatikan kegiatanku dari tadi. " Lo mau cuti seminggu kayak orang mau resign aja." Protesnya. Aku tertawa kecil, " Mau dibawain oleh-oleh apa?" "Zurich itu terkenal apanya sih?" "Emm, apa ya? gue belum pernah kesana." Aku balik bertanya. "Coklat Swiss aja." Aku mengangguk,"Tungguin gue balik ya sayang." "Iya sayang gueeh, eh btw gimana prospek mendapatkan cinta suami, udah berapa persen progres nya?" "Entahlah." Aku mengedikkan bahu." Cowok kalau naksir ke cewek bisa dilihat secara kasat mata gak s
Mama masuk ke dapur saat aku dan mbak Rima masih mengupas buah. Tanpa tedeng aling-aling dia langsung memeluk pinggangku, mengelus perutku persis seperti yang mbak Rima lakukan tadi. "Udah ada tanda-tanda keberadaan cucu oma belum nih?" Guraunya. Lagi-lagi wajahku memerah,"Belum ma." Jawabku tersipu. "Ah, si Reza kurang topcer, mama dulu kosongnya cuma sebulan, habis itu langsung hamil Rima." "Baru juga empat bulan ma, Rima dulu kosongnya satu tahun malah." Mbak Rima menyahut sambil mencuci buah. "Iya, kamu waktu itu sama Vino kan LDR, kamu di Jakarta, si Vino di Samarinda. Itu buktinya pas Vino pindah ke Jakarta, kamu langsung hamil." Reza masuk ke dapur saat aku baru saja ingin bicara, membuat kata-kata yang ingin kekeluarkan kutelan lagi. "Pada ngomongin apa sih?" Tanyanya santai sambil membuka kulkas. "Ngomongin kamu yang kurang topcer, masa udah empat bulan si Donna belum tekdung juga." Mama membalas. Reza tertawa renyah, dia mengambil air minum kemasan dari kulk
Ini adalah hari ke 124 aku menikah dengan Reza. Yap, aku menghitungnya, kutandai setiap hari yang dilalui bersamanya sejak dia mengikrarkan janji sucinya dulu di depan penghulu. "Don... Donna, kamu di dalam?" Suara Reza terdengar dari luar pintu kamarku. Aku melangkah membukakan pintu. "Ya, kenapa bang?" " Mama barusan nelpon, nanyain kita kapan kesana." Mama yang dimaksud Reza adalah mama mertuaku, wanita berusia 65 an, masih sangat energik, pensiunan PNS Kemenkeu. Sejak pensiun dia hanya menghabiskan waktu di rumah, menanam berbagai jenis bunga, dia juga memiliki kios bunga segar, kadang beliau menghabiskan waktunya di kios juga. "Ada acara?" Reza mengangguk,"Bagas pulang." Bagas itu adiknya Reza yang bungsu, yang lagi ngambil S2 di Zurich, Swiss. Dia waktu itu enggak bisa pulang pas kami menikah. "Udah nyampe rumah?" Tanyaku. "Belum, jam 7 baru landing, nanti kita jemput ke bandara abis itu langsung kerumah mama, kamu siap-siap ya, lima belas menit lagi kita pergi
Loli menggeleng kepala sambil tersenyum miris melihat tekadku. "Gue bukannya skeptis sama usaha Lo sih Don, tapi kalau gue jadi Lo, gue bakalan jambak habis-habisan tuh si Reza. Gila ya, masa menggantung anak orang sebegitunya, kalau dia sudah punya pacar enggak seharusnya dia nikahin Lo, itu zholim namanya. Menikahi lo cuma sebagai status." Yang dikatakan Loli lagi-lagi sangat masuk akal, Reza tidak seharusnya menikahiku kalau hanya menjadikanku sebagai pion catur dalam hidupnya. "Dia udah nidurin gue." Ucapku pelan. Loli yang baru saja meminum sisa air mineralnya langsung memuncratkan lagi air yang terlanjur masuk ke dalam mulut, dan percikannya kemana-mana, termasuk ke wajahku. "APAAAA.....?!" Aku mengangguk pelan sambil mengambil tisue, menghapus jejak air diwajahku,"Satu kali, habis itu gak pernah lagi." "Gila, katanya gak mencintai lo tapi nidurin Lo, kurang brengsek apa coba si Reza, gedeg banget gue, sumpah." "Gak perlu pake cinta kalau soal begituan, cuma perlu n
"Jangan tunggu abang." Sudah sangat jelas perkataannya padaku itu, tapi dengan bodohnya aku sekarang masih duduk di ruang tamu, sesekali melirik pintu berharap sosok itu muncul, menanti menit demi menit hingga terkumpul menjadi 5 jam, luar biasa Donna. 5 jam menunggu sosok yang akhirnya berdiri di depanku ini. Wajahnya nampak lelah, namun masih bisa memberikan senyum untukku, beruntung sekali mbak Fanny yang memiliki hati laki-laki ini, bukan hanya senyumnya. "Loh, kok belum tidur?" Aku menggeleng lemah, " Enggak bisa tidur." "Tau gitu tadi abang beli nasi goreng cumi kesukaan mu, abang pikir kamu pasti udah tidur jam segini." Aku melirik jam dinding, sudah pukul setengah dua belas malam. Aku kemudian berjalan menuju dapur, melewati tubuh jangkung Reza yang masih berdiri diruang tamu. "Gimana mbak Fanny?" Tanyaku membuka kulkas dan mengambil air dingin dari dalamnya. "Tadi hampir pingsan, hipotensi, dibawa ke rumah sakit dia nya gak mau, katanya mau istirahat dirumah aja
Aku menggeleng kepala pelan, tersenyum sendiri, Donna betapa geer nya dirimu, huh. Kami berkeliling setelah menyelesaikan makan, melihat- lihat beberapa toko yang memajang produk-produk merey, mataku terhenti pada sebuah toko pakaian bayi, tiba-tiba saja ada yang mengalir di dada, rasanya menyenangkan sekaligus menghangat saat melihat topi bayi yang menurutku sangat lucu terpajang di etalase. Seperti terhipnotis, kakiku melangkah masuk ke dalam toko, "Kita kesana sebentar." Ucapku dan Reza mengekoriku yang berjalan menduluinya menuju toko tersebut. "Untuk apa?" Tanyanya saat aku membeli dua topi bayi pilihanku, berwarna biru dan merah muda. "Pengen aja, bisa dijadiin kado juga nanti kalau ada teman yanh lahiran." Aku mengedikkan bahu, aku juga heran dengan tingkahku, tapi aku benar- benar suka topi itu, lucu. "Mungkin suatu hari nanti bisa kugunakan untuk bayiku." Gumamku sendu, meski suatu hari itu entah ada atau tidak. Suatu hari yang bagiku seperti bayangan yang menghila







