Share

BAB 3

Penulis: Gusmandora
last update Tanggal publikasi: 2026-07-02 18:27:17

Langit agaknya sudah terlalu lelah menangis, hanya meninggalkan rintik gerimis yang menari- nari diudara, begitupun aku, sidang perceraian ini telah banyak menguras tenaga dan fikiranku, butuh waktu berbulan-bulan untuk sampai ditahap ini, tapi lega juga akhirnya aku terbebas dari cinta semu yang menggores jiwa.

Teringat kisah itu, aku tersenyum getir. Akhirnya setelah hampir setengah bulan aku tinggal dirumah mertua, kami pindah ke apartemen Reza. Tidak terlalu besar, hanya memiliki satu ruang tamu, satu ruang keluarga, dapur dan dua kamar.

Selayaknya pasangan yang baru menikah, kami mulai mendaftar barang- barang yang perlu dan tidak perlu kami beli, disana baru ada satu tempat tidur di kamar utama, belum ada perabotan dapur, aku membuat list dalam secarik kertas kemudian menampakkannya pada kak Reza.

"Kapan kita membeli ini?" Katanya sambil membaca daftar yang kubuat. Wajahnya menunduk membaca kertas list yang kuberi, terlihat serius.

"Kapan ada waktu?"

"Besok aku libur, Gimana kalau besok?"

"Oke, baiklah." Aku berdiri menjauh darinya, berjalan pelan mengitari ruangan yang masih kosong itu, perasaanku campur aduk, seharusnya ini adalah momen terindah dalam hidupku.

Momen dimana pasangan pengantin baru mulai pindah ke rumah mereka, melihat dengan antusias setiap centi dari rumah yang akan mereka tempati bersama, bahkan sebenarnya inilah yang aku impikan sejak dulu, aku akan menempatkan vas bunga disudut ruangan, tidak lupa dinding yang kosong disana akan aku tata dengan rak buku. Aku bahkan sudah memimpikan hadirnya seorang bayi lucu dirumah ini.

Tapi apartemen ini lebih mirip sebuah labirin gelap bagiku, labirin yang terlalu rumit, setiap ruangan seolah jalan buntu, dan aku terjebak didalamnya tak bisa keluar, aku terus mencari dimana ujungnya tapi tak jumpa. Tidak ada harapan di dalam sini, hanya menunggu aku kehabisan oksigen karena terlalu pengap dan akhirnya hancur berkeping-keping , sama sekali tak ada impian yang bisa dibentuk bahkan kak Reza sudah memutus rajutan impian itu sebelum impian itu sendiri terbentuk. Aku menghela nafas pelan, semua terasa lelah, tanpa kusadari kak Reza sudah berdiri dibelakangku, entah sejak kapan.

"Apa kamu suka?"

"Hah..?" Aku tersentak kaget, jaraknya begitu dekat denganku, hingga bahu kami bersentuhan.

"Kamu suka apartemennya?" Ia mengulangi pertanyaannya.

Aku mengangguk pelan, jantung ku mulai tidak bisa dikondisikan, berada pada jarak sedekat ini dengannya membuatku mati lemas, aku takut dia mendengar bunyi detak jantungku, cepat- cepat aku menjauh, memilih untuk maju beberapa langkah, berpura-pura mengitari ruangan.

***

Keesokan harinya, aku sudah bersiap untuk berbelanja bersama Reza, aku wanita yang simple, tidak mau terlalu banyak gaya jika bepergian, hanya mengoles bedak tabur serta lipglose sudah membuatku fresh. Teman- teman sering menyebutku Donna Sastro, kata mereka wajahku manis seperti Dian Sastro wardoyo.

Aku hanya tertawa ketika mereka menyebutku mirip artis itu, walau hati juga terkadang tidak memungkiri, aku sedikit mirip dengannya, terutama dibagian hidung dan mata.

Reza sudah menunggu di ruang tamu, penampilan casual dengan rambut setengah basah membuatnya tampak begitu luar biasa dimataku. Padahal dia hanya mengenakan kaos dan celana pendek. Kami berjalan beriringan, melihat beberapa perabotan dapur, masuk keluar toko berusaha mencari beberapa barang yang ada di list.

"Kamu suka masak?" Tiba- tiba saja dia sudah ada dibelakangku membuatku terperanjat ketika tengah memilih spatula, dia hobi sekali berdiri dibelakangku seperti itu.

"Oh ya, iya." Jawabku gugup.

Dia hanya mengangguk ketika melihat lebih banyak perabotan dapur yang kubeli ketimbang accesoris rumah, yah aku memang suka memasak, aku juga sering membuat konten memasak di media sosialku. Akhirnya setelah puas berbelanja kami istirahat disebuah resto masih di area pusat perbelanjaan.

"Kak em bang, aku boleh bertanya?" Aku melirik sebentar dia yang ku ajak bicara.

"Hmmm?" kak Reza menatapku. "Panggil Abang aja."

Aku mengangguk pelan, "Kenapa Abang menerima perjodohan ini?"

Reza diam membisu beberapa saat, menghembuskan nafas pelan.

"Jika tentang ibuku, aku tidak bisa menolak." Suara Reza melirih.

"Tapi apa abang tidak mencoba mengenalkan kekasih Abang ke ibu, mungkin dia ada pertimbangan lain saat itu?" Tanyaku penasaran.

"Sudah, tapi beliau gak setuju dengan Fany."

Satu info baru, nama wanita itu Fany, tunggu Fany, apa dia kakak kelasku juga, yah aku ingat mbak Fany adalah anak MIPA matematika, wanita yang terkenal pintar seantero sekolah, pernah menjuarai olimpiade matematika tingkat provinsi, masuk 5 besar nasional, luar biasa.

"Seperti pernah dengar namanya? apa dia mbak Fany si juara olimpiade matematika itu?"

Reza menoleh dan mengangguk pelan.

"Wow, dia wanita sempurna untuk dijadikan calon menantu kenapa bisa ibuk tidak suka?" Aku mencondongkan tubuhku, lupa kalau yang aku bicarakan ini adalah rivalku dalam mendapatkan cinta Reza.

"Kata ibuk dia agak angkuh."

"Ya ya ya, rata- rata orang pintar memang sedikit angkuh sih." Aku mengangguk- anggukkan kepala menyetujui, kemudian terdiam kala melihat ekspresi Reza.

"Enggak, hehe mungkin bukan angkuh tapi lebih ke pendiam." Ralatku salah tingkah sambil menggigit bibir bawahku pias sambil berusaha tersenyum. Apaan sih jamu Donna.

"Kamu? Mengapa menerima perjodohan ini?" Reza balik bertanya.

Hahahaaa, pertanyaan bodoh macam apa ini, jelas- jelas karena aku menyukaimu sejak dulu, kamu tau, aku menantikan momen ini hampir dari setengah perjalanan hidupku. Aku jatuh cinta ke kamu itu dari umur lima belas, gila kan. Dari baru masuk SMA. Hitung aja sendiri berapa lama aku memendam ini.

Aku diam, kemudian tersenyum, lagi-lagi yang keluar bukan senyum tapi lebih mirip seringai.

"Mungkin sama, karena ingin berbakti pada nenek, kamu kan tau hanya nenek yang kupunyai didunia ini, mana sanggup aku menolak permintaannya." Aku sebentar lagi bisa dinobatkan jadi pemeran figuran terbaik abad ini, aktingku sungguh luar biasa. Terbukti, Reza tampak prihatin padaku.

"Apa kamu juga punya kekasih?" pertanyaan Reza membuatku tersedak oleh salivaku sendiri.

"Aku? emmm, kurasa belum, tidak ada. Banyak sih yang mau, tapi belum sempat ku jawab, aku sudah keburu menikah." Jawabku gagap sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga.

Reza menahan tawanya mendengar ucapanku, dia menatapku, entah tatapan apa itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 84

    Reza berjalan menuju kamar tanpa menyalakan lampu. Sesampainya di kamar mandi, dia melepaskan kemejanya, lalu membiarkan pakaian yang lain jatuh begitu saja ke lantai. Dia masuk ke bawah shower dan memutar keran sampai air mengguyur seluruh tubuhnya. Namun air tidak mampu menghapus apa pun. Reza menundukkan kepala, tangannya mengepal. "Aku yang menghancurkan semuanya..." Suaranya bergetar. "Aku sendiri." Dia teringat bagaimana dulu Donna menunggunya di malam pernikahan mereka dan dia pergi, demi Fanny. Demi seseorang yang akhirnya justru menjadi alasan dia kehilangan perempuan yang benar-benar mencintainya. Napas Reza semakin berat. "Kenapa aku baru sadar sekarang?" Tinju Reza menghantam dinding. Sekali. Lalu sekali lagi. Sampai akhirnya matanya tertuju pada kaca besar di hadapannya. Dalam pantulan kaca itu, dia melihat dirinya sendiri. Laki-laki yang kehilangan istrinya karena kebodohannya sendiri. "Kenapa dulu aku nggak lihat kamu, Don?" Air mata bercampur dengan air

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 83

    POV REZA Pintu apartemen tertutup keras di belakang Reza. Untuk beberapa detik, dia hanya berdiri di sana. Diam. Tatapannya kosong, tetapi dadanya terasa sesak seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam. Percakapan dengan Mama terus terngiang di kepalanya. "Kalau ada seseorang yang patut disalahkan, salahkan dirimu sendiri." Dia memejamkan mata, rasanya seperti ditusuk-tusuk pecahan kaca tanpa ampun, begitu sakit."Ada laki-laki bodoh yang meninggalkan istrinya demi wanita lain." Reza bahkan tidak berani membuka matanya sekarang. Donna, nama itu kembali muncul di kepalanya. Wajah Donna ketika terluka, tangis gadis itu, tatapannya ketika memutuskan untuk pergi. Semua kembali seperti potongan-potongan film yang tidak bisa dia hentikan. Reza seolah terlempar ke masa itu, masa dimana mama memanggilnya dan mengatakan kalau ingin menjodohkannya dengan cucu dari kerabat mama. "Mama sudah bilang berapa kali sama kamu, putuskan pacarmu itu, mama enggak suka." "Ma...Fanny anak ba

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 82

    "Itu dokter Galih mirip siapa sih, yang kita tonton itu, di Pursuit Of Jade." Mama menoleh ke Rima. "Marquis Wuan." "Iya , Marquis Wuan. Udah cakep perhatian pula sama Donna." Tambah mama tanpa menghiraukan Reza. Aku melirik Reza yang sekarang sedang meneguk minumnya, ekspresi laki-laki itu tidak terbaca. “Dari cara dia melihat Donna, mama sih tau kalau Galih itu orang baik, setidaknya Donna sekarang punya orang yang benar-benar memperhatikan kondisinya.” Ruangan mendadak hening. Aku bisa melihat rahang Reza mengeras. “Maksud Mama apa?” Mama pura-pura tidak melihat perubahan wajah putranya. “Tidak ada maksud apa-apa.” Kemudian Mama menatapku. “Dulu Mama sering khawatir Donna sendirian, sekarang sepertinya mama enggak perlu khawatir lagi.” Reza menarik napas pelan.“Ma…” “Apa?” Mama balik bertanya santai. “Mama cuma bilang apa yang Mama lihat kok.” Mbak Rima akhirnya mencoba mencairkan suasana. “Ma, jangan mulai.” Mama terkekeh kecil. “Memangnya Mama salah?” Kal

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 81

    Nenek datang tak lama kemudian, bergantian dengan Reza dia menungguiku. Sedang Reza keluar, ke kantin mencari kopi. "Gimana?" masih sakit?" Nenek mengelus perutku pelan. Aku menggeleng,"Enggak."’ Pintu kamar rawat terbuka pelan. Aku yang sedang setengah berbaring langsung menoleh. “Mama…” Mama masuk lebih dulu, disusul Mbak Rima yang membawa beberapa kantong makanan dan pakaian. Wajah Mama terlihat cemas, tetapi begitu melihatku masih dalam keadaan baik, ekspresinya sedikit melunak. “Bagaimana sekarang?” Mama langsung mendekat ke tempat tidur. “Sudah mendingan,Ma. Tadi malam masih sering mulas, tapi sekarang sudah berkurang.” Mama mengusap rambutku pelan. “Kamu bikin Mama hampir nggak bisa tidur. Reza nelpon mama katanya kamu kontraksi." Aku tersenyum kecil. “Maaf.” Mbak Rima meletakkan barang-barangnya di kursi. “Ya ampun, Don. Kamu ini kalau bikin keluarga panik jangan setengah-setengah.” Aku terkekeh pelan."Cucu mama nih mbak." Aku mengelus perutku. “Permisi.”

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 80

    Mataku mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk menembus kaca jendela, rupanya hari telah pagi. Punggung tangan kananku sudah dipasang infus, kulirik botol infus yang tergantung ditiang infus, isinya tinggal setengah. Aku ingin menggerakkan tangan kiriku tapi terasa berat, aku menoleh. Kepala Reza bersandar ditepi tempat tidur, sambil menggenggam tangan kiriku. Dia masih tidur. Aku bergerak, gerakanku membuat laki-laki itu terbangun. "Masih sakit?" Itu ucapan pertama nya saat bangun, apa dia menungguiku semalaman? Aku menggeleng,"Nenek mana?" aku tidak melihat nenek diruangan ini. "Nenek pulang subuh tadi mau ambil barang-barang, nanti kesini lagi." "Abang disini semalaman?" Tanyaku pelan. Reza mengangguk, dia kemudian berdiri, melihat kearah perutku sebentar,"Enggak sakit lagi?" Sudah dua kali dia menanyakan apakah aku masih sakit atau tidak, dan ku jawab dengan gelengan kepala. Reza mengangguk sekilas kemudian mengambil minum diatas meja dan memberikannya padaku,"minum

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 79

    Aku masih berdiri di samping tempat tidur ketika suara mobil berhenti di depan rumah. Nenek sibuk mengusap punggungku pelan berusaha mengurangi rasa sakitnya. Tidak lama kemudian terdengar ketukan di pintu. "Donna!" Suara Galih. Nenek langsung keluar kamar dan membukakan pintu, sementara aku masih dikamar karena kontraksi kembali datang. Aku memegang perut sambil meringis."Ahh..." Pintu kamarku terbuka, Galih langsung masuk dan wajahnya berubah ketika melihatku membungkuk menahan sakit. "Donna!" Dia menghampiriku dengan cepat. "Kontraksinya masih datang?" Aku mengangguk. "Iya..." "Berapa menit sekali?""Aku nggak tahu." Galih melihat jam tangannya."Mulai sekarang kita hitung." Aku menatap wajahnya yang terlihat jauh lebih tegang daripada biasanya. "Galih..." "Hm?" "Jangan panik, okay." Dia justru menatapku seolah tidak percaya."Aku yang seharusnya bilang begitu ke kamu." Aku hampir tersenyum, tetapi rasa sakit kembali datang, Galih langsung menopang bahuku. "Ta

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status