LOGINAku terdiam, rasanya waktu telah berhenti berputar, semua hening seketika, bahkan air mancur penghias ruangan pun tampak tak bergerak mengalir. Tatapanku kosong, berusaha mencerna sekali lagi apa yang dia katakan barusan, barangkali aku salah dengar. Namun sepertinya benar, wajahnya masih datar memandangku, meneliti setiap ekspresi yang keluar dari wajahku ini.
Byuurrrr... Tiba-tiba saja air dalam gelas yang ku pegang beralih tempat ke wajah pria yang baru 24 jam menjadi suamiku ini, wajah tampan bak pangeran Yunani itu basah kuyup lengkap dengan kemeja navy nya. "Brengseekkk, kalau Abang sudah punya kekasih dan mencintainya mengapa setuju untuk menikah denganku! Kamu anggap apa aku hah!" Wajahku merah padam, menatap nyalang padanya, ku hamburkan isi meja yang memisahkan kami berdua. Suara gelas pecah berhamburan dilantai, sendok, garpu yang sudah disusun cantik oleh waitress melanting keberbagai arah. Puding yang kupesankan khusus untuk suami tercintaku ini sudah tak berdaya di lantai keramik. Kemudian... "Don, Donna?" "Hah..." Aku tersentak oleh panggilan suamiku, memandang gelas yang sedari tadi ku pegang, isinya masih penuh dan utuh. Ku tatap suamiku, wajahnya masih tampan tidak ada bekas siraman air minum, meja ini juga masih rapi. Pudingnya masih cantik, terakhir kutatap lantai yang masih bersih. Aku tersenyum sendiri, andai imajinasi liarku bisa terlaksana, tapi agaknya kewarasan masih mengelilingiku. "Kamu tidak apa- apa?" Dia tampak memindai wajahku yang tampak pucat. "Enggak, tidak apa- apa." "Maafkan aku." Ujarnya lagi. Aku berdehem dan mengangguk pelan. Apa- apan aku ini, dia baru saja mengungkapkan bahwa dia mencintai orang lain dan bukan aku istri sahnya sejak kemarin, mengapa reaksiku jadi sedatar ini. "Jadi apa rencana Abang selanjutnya?" Tanyaku santai, seolah hanya membicarakan prakiraan cuaca esok hari. Mungkin dia kaget melihat reaksiku, terbukti berkali- kali kulihat jakunnya bergerak, tanda bahwa ia dengan susah payah menelan salivanya sendiri, bagus teruslah merasa bersalah, kamu memang sudah salah. Dia mengedikkan bahu pelan. "Entahlah, semuanya serba mendadak, jujur aku belum siapa." Perkataannya yang to the point seperti itu, ingin rasanya ku tarik lidahnya keluar. Apa katanya barusan , belum siap, belum siap bagaimana maksudnya. Tapi realitanya aku hanya menganguk pelan seperti patung kucing di toko china. "Jadi, belum siap bagaimana? Belum siap menikah, atau belum siap untuk mencintai istri sah mu ini?" Nada suaraku masih dalam mode datar namun sebenarnya sangat berharap pria yang ada dihadapanku ini suatu hari akan menyukaiku. "Aku sangat mencintai kekasihku Don, maafkan aku. Aku belum siap menyukai orang lain." Ucapnya pelan hampir berbisik. Wajahnya memelas, brengsek sekali anda ya. Sama sekali tidak ada tempat untukku, aku tersenyum getir memandang gelasku yang hampir kosong. Dia barusan mendeklarasikan diri untuk setia kepada kekasihnya itu. "Aku tau ini tidak adil untukmu Don, maafkan aku, kamu tau sendiri kan kita dijodohkan, aku tidak bisa berbuat banyak tapi aku akan tetap bertanggung jawab, aku akan menjadi suami yang baik untukmu, aku janji." Ucapnya kemudian, meraih tanganku lembut dan meremasnya. Pertahananku goyah kalau sudah terjadi kontak fisik seperti ini, berarti dia tetap akan mempertahankan pernikahan ini bukan, dia bilang barusan akan jadi suami yang baik dan bertanggung jawab penuh atas pernikahannya, ya Tuhan konsepnya seperti apa ini. Menjadi suami yang baik untukku dan jadi kekasih yang setia untuk wanita lain. Aku diam, tidak ingin banyak bicara lagi, sebenarnya masih begitu banyak pertanyaan yang bercokol diotak ini, salah satunya adalah mengapa dia harus menerima perjodohan ini jika dia sudah memiliki sosok yang menunggunya, tidak akan jadi masalah jika dia menolak perjodohan dan menikah saja dengan kekasihnya yang entah siapa itu. Aku tidak menolak ataupun menyanggupi permintaan konyol Reza, namun akhirnya sarapan penuh drama itu diakhiri, kami pulang kerumah orang tua Reza hari itu, disambut bahagia oleh keluarga besarnya, terlebih ibu mertuaku, dia wanita yang sangat baik dan aku tentu saja memerankan peranku dengan sangat sempurna, menjadi istri Reza. "Untuk sementara kita akan tinggal disini, nanti setelah apartemenku selesai direnovasi, kita akan pindah kesana." Reza mengajakku masuk ke dalam kamarnya, kamar yang cukup rapi menurutku, beberapa medali tampak menghiasi dinding bercat mocca itu. Disudut ruangan ada meja belajar kayu, terpampang foto Reza memakai seragam putih abu- abu, gagah sekali sambil memegang piala hampir setinggi tubuhnya. Aku ingat momen ini, dulu aku hanya bisa memandangnya dari jauh, saat ia tertawa bahagia setelah memenangkan kejuaraan basket tingkat kabupaten. Sekarang pun masih sama walau kami menghirup udara pada ruangan yang sama, dia masih tak tergapai. Aku merapikan pakaianku, memindahkannya dari koper ke dalam lemari yang sudah disiapkan, menunggu apartemen selesai renovasi memakan waktu yang tidak sebentar bukan, setidaknya pakaianku harus masuk dalam lemari dulu. *** Satu minggu telah berlalu, Reza menepati janjinya, dia benar- benar menjadi suami yang baik untukku, sikapnya lembut, selalu memperhatikan keperluanku karena dia tau aku masih canggung tinggal bersama mertua, aku dipersilahkan Reza untuk tidur di ranjangnya sementara dia tidur disofa, sejauh ini kami cukup kooperatif kendati kata cinta tak pernah keluar dari bibirnya, dan wajar sejak awal juga dia sudah mengaku kalau dia tidak mencintaiku. Kami lebih seperti kakak adik, aku tidak begitu mempersalahkan sih sebenarnya, kisah masa lalu serta dari mana aku tumbuh dan dididik agaknya membentuk karakterku untuk tidak pernah mengemis pada orang lain, termasuk mengemis cinta. Untuk pertama kali aku masuk bekerja lagi sebagai salah satu Costumer Service pada sebuah bank dikota kami setelah cuti selama 10 hari. Aku berangkat kerja diantar oleh kak Reza, menciumi tangannya sebelum aku melangkah pergi membuat kami seperti sepasang suami istri yang sempurna dimata orang-orang. "Ehmmm penganten baru ni yeeee." Suara candaan teman-teman ruangan langsung rame mencandaiku. "Gimana rasanya?" Itu Loli, sahabat sekaligus partner kerjaku dibalik meja CS. "Apa?" Polos sekali aku menjawab. Loli memutar kursi nya menghadapku, tangannya dilipat didada, matanya memutar sengaja."Ya Tuhan, malam pertama lo, gimana rasanya?" Alisku menekuk, antara bingung dan polos. Berusaha menyiapkan kebohongan yang rasanya terlalu menyedihkan ini. Namun batinku justru tertawa, haruskah aku katakan bahwa sampai detik ini suamiku belum pernah menyentuhku sama sekali, yang kami lakukan hanya cium tangan setiap pagi ketika Reza berangkat kerja seperti guru ke murid dan aku sama sekali tidak tau rasanya seperti apa, tapi yang benar saja, mana mungkin aku bicara seperti itu.Reza berjalan menuju kamar tanpa menyalakan lampu. Sesampainya di kamar mandi, dia melepaskan kemejanya, lalu membiarkan pakaian yang lain jatuh begitu saja ke lantai. Dia masuk ke bawah shower dan memutar keran sampai air mengguyur seluruh tubuhnya. Namun air tidak mampu menghapus apa pun. Reza menundukkan kepala, tangannya mengepal. "Aku yang menghancurkan semuanya..." Suaranya bergetar. "Aku sendiri." Dia teringat bagaimana dulu Donna menunggunya di malam pernikahan mereka dan dia pergi, demi Fanny. Demi seseorang yang akhirnya justru menjadi alasan dia kehilangan perempuan yang benar-benar mencintainya. Napas Reza semakin berat. "Kenapa aku baru sadar sekarang?" Tinju Reza menghantam dinding. Sekali. Lalu sekali lagi. Sampai akhirnya matanya tertuju pada kaca besar di hadapannya. Dalam pantulan kaca itu, dia melihat dirinya sendiri. Laki-laki yang kehilangan istrinya karena kebodohannya sendiri. "Kenapa dulu aku nggak lihat kamu, Don?" Air mata bercampur dengan air
POV REZA Pintu apartemen tertutup keras di belakang Reza. Untuk beberapa detik, dia hanya berdiri di sana. Diam. Tatapannya kosong, tetapi dadanya terasa sesak seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam. Percakapan dengan Mama terus terngiang di kepalanya. "Kalau ada seseorang yang patut disalahkan, salahkan dirimu sendiri." Dia memejamkan mata, rasanya seperti ditusuk-tusuk pecahan kaca tanpa ampun, begitu sakit."Ada laki-laki bodoh yang meninggalkan istrinya demi wanita lain." Reza bahkan tidak berani membuka matanya sekarang. Donna, nama itu kembali muncul di kepalanya. Wajah Donna ketika terluka, tangis gadis itu, tatapannya ketika memutuskan untuk pergi. Semua kembali seperti potongan-potongan film yang tidak bisa dia hentikan. Reza seolah terlempar ke masa itu, masa dimana mama memanggilnya dan mengatakan kalau ingin menjodohkannya dengan cucu dari kerabat mama. "Mama sudah bilang berapa kali sama kamu, putuskan pacarmu itu, mama enggak suka." "Ma...Fanny anak ba
"Itu dokter Galih mirip siapa sih, yang kita tonton itu, di Pursuit Of Jade." Mama menoleh ke Rima. "Marquis Wuan." "Iya , Marquis Wuan. Udah cakep perhatian pula sama Donna." Tambah mama tanpa menghiraukan Reza. Aku melirik Reza yang sekarang sedang meneguk minumnya, ekspresi laki-laki itu tidak terbaca. “Dari cara dia melihat Donna, mama sih tau kalau Galih itu orang baik, setidaknya Donna sekarang punya orang yang benar-benar memperhatikan kondisinya.” Ruangan mendadak hening. Aku bisa melihat rahang Reza mengeras. “Maksud Mama apa?” Mama pura-pura tidak melihat perubahan wajah putranya. “Tidak ada maksud apa-apa.” Kemudian Mama menatapku. “Dulu Mama sering khawatir Donna sendirian, sekarang sepertinya mama enggak perlu khawatir lagi.” Reza menarik napas pelan.“Ma…” “Apa?” Mama balik bertanya santai. “Mama cuma bilang apa yang Mama lihat kok.” Mbak Rima akhirnya mencoba mencairkan suasana. “Ma, jangan mulai.” Mama terkekeh kecil. “Memangnya Mama salah?” Kal
Nenek datang tak lama kemudian, bergantian dengan Reza dia menungguiku. Sedang Reza keluar, ke kantin mencari kopi. "Gimana?" masih sakit?" Nenek mengelus perutku pelan. Aku menggeleng,"Enggak."’ Pintu kamar rawat terbuka pelan. Aku yang sedang setengah berbaring langsung menoleh. “Mama…” Mama masuk lebih dulu, disusul Mbak Rima yang membawa beberapa kantong makanan dan pakaian. Wajah Mama terlihat cemas, tetapi begitu melihatku masih dalam keadaan baik, ekspresinya sedikit melunak. “Bagaimana sekarang?” Mama langsung mendekat ke tempat tidur. “Sudah mendingan,Ma. Tadi malam masih sering mulas, tapi sekarang sudah berkurang.” Mama mengusap rambutku pelan. “Kamu bikin Mama hampir nggak bisa tidur. Reza nelpon mama katanya kamu kontraksi." Aku tersenyum kecil. “Maaf.” Mbak Rima meletakkan barang-barangnya di kursi. “Ya ampun, Don. Kamu ini kalau bikin keluarga panik jangan setengah-setengah.” Aku terkekeh pelan."Cucu mama nih mbak." Aku mengelus perutku. “Permisi.”
Mataku mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk menembus kaca jendela, rupanya hari telah pagi. Punggung tangan kananku sudah dipasang infus, kulirik botol infus yang tergantung ditiang infus, isinya tinggal setengah. Aku ingin menggerakkan tangan kiriku tapi terasa berat, aku menoleh. Kepala Reza bersandar ditepi tempat tidur, sambil menggenggam tangan kiriku. Dia masih tidur. Aku bergerak, gerakanku membuat laki-laki itu terbangun. "Masih sakit?" Itu ucapan pertama nya saat bangun, apa dia menungguiku semalaman? Aku menggeleng,"Nenek mana?" aku tidak melihat nenek diruangan ini. "Nenek pulang subuh tadi mau ambil barang-barang, nanti kesini lagi." "Abang disini semalaman?" Tanyaku pelan. Reza mengangguk, dia kemudian berdiri, melihat kearah perutku sebentar,"Enggak sakit lagi?" Sudah dua kali dia menanyakan apakah aku masih sakit atau tidak, dan ku jawab dengan gelengan kepala. Reza mengangguk sekilas kemudian mengambil minum diatas meja dan memberikannya padaku,"minum
Aku masih berdiri di samping tempat tidur ketika suara mobil berhenti di depan rumah. Nenek sibuk mengusap punggungku pelan berusaha mengurangi rasa sakitnya. Tidak lama kemudian terdengar ketukan di pintu. "Donna!" Suara Galih. Nenek langsung keluar kamar dan membukakan pintu, sementara aku masih dikamar karena kontraksi kembali datang. Aku memegang perut sambil meringis."Ahh..." Pintu kamarku terbuka, Galih langsung masuk dan wajahnya berubah ketika melihatku membungkuk menahan sakit. "Donna!" Dia menghampiriku dengan cepat. "Kontraksinya masih datang?" Aku mengangguk. "Iya..." "Berapa menit sekali?""Aku nggak tahu." Galih melihat jam tangannya."Mulai sekarang kita hitung." Aku menatap wajahnya yang terlihat jauh lebih tegang daripada biasanya. "Galih..." "Hm?" "Jangan panik, okay." Dia justru menatapku seolah tidak percaya."Aku yang seharusnya bilang begitu ke kamu." Aku hampir tersenyum, tetapi rasa sakit kembali datang, Galih langsung menopang bahuku. "Ta







