Share

BAB 2

Author: Gusmandora
last update publish date: 2026-07-02 18:27:13

Aku terdiam, rasanya waktu telah berhenti berputar, semua hening seketika, bahkan air mancur penghias ruangan pun tampak tak bergerak mengalir. Tatapanku kosong, berusaha mencerna sekali lagi apa yang dia katakan barusan, barangkali aku salah dengar. Namun sepertinya benar, wajahnya masih datar memandangku, meneliti setiap ekspresi yang keluar dari wajahku ini.

Byuurrrr...

Tiba-tiba saja air dalam gelas yang ku pegang beralih tempat ke wajah pria yang baru 24 jam menjadi suamiku ini, wajah tampan bak pangeran Yunani itu basah kuyup lengkap dengan kemeja navy nya.

"Brengseekkk, kalau Abang sudah punya kekasih dan mencintainya mengapa setuju untuk menikah denganku! Kamu anggap apa aku hah!"

Wajahku merah padam, menatap nyalang padanya, ku hamburkan isi meja yang memisahkan kami berdua. Suara gelas pecah berhamburan dilantai, sendok, garpu yang sudah disusun cantik oleh waitress melanting keberbagai arah. Puding yang kupesankan khusus untuk suami tercintaku ini sudah tak berdaya di lantai keramik. Kemudian...

"Don, Donna?"

"Hah..." Aku tersentak oleh panggilan suamiku, memandang gelas yang sedari tadi ku pegang, isinya masih penuh dan utuh. Ku tatap suamiku, wajahnya masih tampan tidak ada bekas siraman air minum, meja ini juga masih rapi. Pudingnya masih cantik, terakhir kutatap lantai yang masih bersih. Aku tersenyum sendiri, andai imajinasi liarku bisa terlaksana, tapi agaknya kewarasan masih mengelilingiku.

"Kamu tidak apa- apa?" Dia tampak memindai wajahku yang tampak pucat.

"Enggak, tidak apa- apa."

"Maafkan aku." Ujarnya lagi.

Aku berdehem dan mengangguk pelan. Apa- apan aku ini, dia baru saja mengungkapkan bahwa dia mencintai orang lain dan bukan aku istri sahnya sejak kemarin, mengapa reaksiku jadi sedatar ini.

"Jadi apa rencana Abang selanjutnya?" Tanyaku santai, seolah hanya membicarakan prakiraan cuaca esok hari.

Mungkin dia kaget melihat reaksiku, terbukti berkali- kali kulihat jakunnya bergerak, tanda bahwa ia dengan susah payah menelan salivanya sendiri, bagus teruslah merasa bersalah, kamu memang sudah salah.

Dia mengedikkan bahu pelan. "Entahlah, semuanya serba mendadak, jujur aku belum siapa."

Perkataannya yang to the point seperti itu, ingin rasanya ku tarik lidahnya keluar. Apa katanya barusan , belum siap, belum siap bagaimana maksudnya. Tapi realitanya aku hanya menganguk pelan seperti patung kucing di toko china.

"Jadi, belum siap bagaimana? Belum siap menikah, atau belum siap untuk mencintai istri sah mu ini?" Nada suaraku masih dalam mode datar namun sebenarnya sangat berharap pria yang ada dihadapanku ini suatu hari akan menyukaiku.

"Aku sangat mencintai kekasihku Don, maafkan aku. Aku belum siap menyukai orang lain." Ucapnya pelan hampir berbisik. Wajahnya memelas, brengsek sekali anda ya.

Sama sekali tidak ada tempat untukku, aku tersenyum getir memandang gelasku yang hampir kosong. Dia barusan mendeklarasikan diri untuk setia kepada kekasihnya itu.

"Aku tau ini tidak adil untukmu Don, maafkan aku, kamu tau sendiri kan kita dijodohkan, aku tidak bisa berbuat banyak tapi aku akan tetap bertanggung jawab, aku akan menjadi suami yang baik untukmu, aku janji." Ucapnya kemudian, meraih tanganku lembut dan meremasnya.

Pertahananku goyah kalau sudah terjadi kontak fisik seperti ini, berarti dia tetap akan mempertahankan pernikahan ini bukan, dia bilang barusan akan jadi suami yang baik dan bertanggung jawab penuh atas pernikahannya, ya Tuhan konsepnya seperti apa ini. Menjadi suami yang baik untukku dan jadi kekasih yang setia untuk wanita lain.

Aku diam, tidak ingin banyak bicara lagi, sebenarnya masih begitu banyak pertanyaan yang bercokol diotak ini, salah satunya adalah mengapa dia harus menerima perjodohan ini jika dia sudah memiliki sosok yang menunggunya, tidak akan jadi masalah jika dia menolak perjodohan dan menikah saja dengan kekasihnya yang entah siapa itu.

Aku tidak menolak ataupun menyanggupi permintaan konyol Reza, namun akhirnya sarapan penuh drama itu diakhiri, kami pulang kerumah orang tua Reza hari itu, disambut bahagia oleh keluarga besarnya, terlebih ibu mertuaku, dia wanita yang sangat baik dan aku tentu saja memerankan peranku dengan sangat sempurna, menjadi istri Reza.

"Untuk sementara kita akan tinggal disini, nanti setelah apartemenku selesai direnovasi, kita akan pindah kesana." Reza mengajakku masuk ke dalam kamarnya, kamar yang cukup rapi menurutku, beberapa medali tampak menghiasi dinding bercat mocca itu.

Disudut ruangan ada meja belajar kayu, terpampang foto Reza memakai seragam putih abu- abu, gagah sekali sambil memegang piala hampir setinggi tubuhnya. Aku ingat momen ini, dulu aku hanya bisa memandangnya dari jauh, saat ia tertawa bahagia setelah memenangkan kejuaraan basket tingkat kabupaten. Sekarang pun masih sama walau kami menghirup udara pada ruangan yang sama, dia masih tak tergapai.

Aku merapikan pakaianku, memindahkannya dari koper ke dalam lemari yang sudah disiapkan, menunggu apartemen selesai renovasi memakan waktu yang tidak sebentar bukan, setidaknya pakaianku harus masuk dalam lemari dulu.

***

Satu minggu telah berlalu, Reza menepati janjinya, dia benar- benar menjadi suami yang baik untukku, sikapnya lembut, selalu memperhatikan keperluanku karena dia tau aku masih canggung tinggal bersama mertua, aku dipersilahkan Reza untuk tidur di ranjangnya sementara dia tidur disofa, sejauh ini kami cukup kooperatif kendati kata cinta tak pernah keluar dari bibirnya, dan wajar sejak awal juga dia sudah mengaku kalau dia tidak mencintaiku.

Kami lebih seperti kakak adik, aku tidak begitu mempersalahkan sih sebenarnya, kisah masa lalu serta dari mana aku tumbuh dan dididik agaknya membentuk karakterku untuk tidak pernah mengemis pada orang lain, termasuk mengemis cinta.

Untuk pertama kali aku masuk bekerja lagi sebagai salah satu Costumer Service pada sebuah bank dikota kami setelah cuti selama 10 hari. Aku berangkat kerja diantar oleh kak Reza, menciumi tangannya sebelum aku melangkah pergi membuat kami seperti sepasang suami istri yang sempurna dimata orang-orang.

"Ehmmm penganten baru ni yeeee." Suara candaan teman-teman ruangan langsung rame mencandaiku.

"Gimana rasanya?" Itu Loli, sahabat sekaligus partner kerjaku dibalik meja CS.

"Apa?" Polos sekali aku menjawab.

Loli memutar kursi nya menghadapku, tangannya dilipat didada, matanya memutar sengaja."Ya Tuhan, malam pertama lo, gimana rasanya?"

Alisku menekuk, antara bingung dan polos. Berusaha menyiapkan kebohongan yang rasanya terlalu menyedihkan ini. Namun batinku justru tertawa, haruskah aku katakan bahwa sampai detik ini suamiku belum pernah menyentuhku sama sekali, yang kami lakukan hanya cium tangan setiap pagi ketika Reza berangkat kerja seperti guru ke murid dan aku sama sekali tidak tau rasanya seperti apa, tapi yang benar saja, mana mungkin aku bicara seperti itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 12

    Loli menggeleng kepala sambil tersenyum miris melihat tekadku. "Gue bukannya skeptis sama usaha Lo sih Don, tapi kalau gue jadi Lo, gue bakalan jambak habis-habisan tuh si Reza. Gila ya, masa menggantung anak orang sebegitunya, kalau dia sudah punya pacar enggak seharusnya dia nikahin Lo, itu zholim namanya. Menikahi lo cuma sebagai status." Yang dikatakan Loli lagi-lagi sangat masuk akal, Reza tidak seharusnya menikahiku kalau hanya menjadikanku sebagai pion catur dalam hidupnya. "Dia udah nidurin gue." Ucapku pelan. Loli yang baru saja meminum sisa air mineralnya langsung memuncratkan lagi air yang terlanjur masuk ke dalam mulut, dan percikannya kemana-mana, termasuk ke wajahku. "APAAAA.....?!" Aku mengangguk pelan sambil mengambil tidur, menghapus jejak air diwajahku,"Satu kali, habis itu gak pernah lagi." "Gila, katanya gak mencintai lo tapi nidurin Lo, kurang brengsek apa coba si Reza, gedeg banget gue, sumpah." "Gak perlu pake cinta kalau soal begituan, cuma perlu n

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 11

    "Jangan tunggu abang." Sudah sangat jelas perkataannya padaku itu, tapi dengan bodohnya aku sekarang masih duduk di ruang tamu, sesekali melirik pintu berharap sosok itu muncul, menanti menit demi menit hingga terkumpul menjadi 5 jam, luar biasa Donna. 5 jam menunggu sosok yang akhirnya berdiri di depanku ini. Wajahnya nampak lelah, namun masih bisa memberikan senyum untukku, beruntung sekali mbak Fanny yang memiliki hati laki-laki ini, bukan hanya senyumnya. "Loh, kok belum tidur?" Aku menggeleng lemah, " Enggak bisa tidur." "Tau gitu tadi abang beli nasi goreng cumi kesukaan mu, abang pikir kamu pasti udah tidur jam segini." Aku melirik jam dinding, sudah pukul setengah dua belas malam. Aku kemudian berjalan menuju dapur, melewati tubuh jangkung Reza yang masih berdiri diruang tamu. "Gimana mbak Fanny?" Tanyaku membuka kulkas dan mengambil air dingin dari dalamnya. "Tadi hampir pingsan, hipotensi, dibawa ke rumah sakit dia nya gak mau, katanya mau istirahat dirumah aj

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 10

    Aku menggeleng kepala pelan, tersenyum sendiri, Donna betapa geer nya dirimu, huh. Kami berkeliling setelah menyelesaikan makan, melihat- lihat beberapa toko yang memajang produk-produk merey, mataku terhenti pada sebuah toko pakaian bayi, tiba-tiba saja ada yang mengalir di dada, rasanya menyenangkan sekaligus menghangat saat melihat topi bayi yang menurutku sangat lucu terpajang di etalase. Seperti terhipnotis, kakiku melangkah masuk ke dalam toko, "Kita kesana sebentar." Ucapku dan Reza mengekoriku yang berjalan menduluinya menuju toko tersebut. "Untuk apa?" Tanyanya saat aku membeli dua topi bayi pilihanku, berwarna biru dan merah muda. "Pengen aja, bisa dijadiin kado juga nanti kalau ada teman yanh lahiran." Aku mengedikkan bahu, aku juga heran dengan tingkahku, tapi aku benar- benar suka topi itu, lucu. "Mungkin suatu hari nanti bisa kugunakan untuk bayiku." Gumamku sendu, meski suatu hari itu entah ada atau tidak. Suatu hari yang bagiku seperti bayangan yang menghila

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 9

    Akhirnya sampai juga aku di apartemen ini, setelah lama tergugu di depan gedung pengadilan agama, apartemen yang menjadi saksi sebegitu kerasnya perjuangannku dalam meraih cinta sang suami. Tujuanku satu, mengemasi barang- barang dan pergi secepatnya dari sini. Kendati kepemilikan apartemen ini sudah dialihkan atas namaku, tapi aku tidak berniat untuk tinggal disini lagi, aku sudah berusaha menolak ketika dia memberikan apartemen ini padaku, aku tau ini adalah hasil kerja kerasnya, tapi Reza memaksa, baiklah aku terima, hitung- hitung sebagai kompensasi diriku yang telah menjadi janda di usia muda. Aku menyewakannya pada teman kantorku, dan aku sendiri lebih memilih tinggal bersama nenek. Ku kemasi barang ku satu per satu, tidak banyak, hanya 1 koper besar berisi pakaian dan 3 dus berisi peralatan. Kulihat ponselku tergeletak di atas nakas, tersenyum getir kuraih ponsel itu, ponsel penuh kenangan, ya ponsel ini dibelikan Reza, ingin menangis kala ingat momen saat itu. Waktu itu,

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 8

    Aku merasa bersalah sekali ke Reza, karena telah menghilangkan ponselnya. Laki-laki itu memang memiliki ponsel lebih dari satu, ponsel yang dia bawa kemarin itu ponsel pribadi khusus menyimpan nomor-nomor keluarga, untuk urusan pekerjaan dan bisnis, dia punya ponsel tersendiri. Pagi ini sebelum berangkat ke kantor, aku sudah menyiapkan nasi goreng diatas meja, aku berkutat di dapur sejak selepas subuh hanya untuk menyiapkan nasi goreng spesial toping berbagai macam seafood. Hitung-hitung sebagai ucapan permintaan maafku ke Reza, aku belum bisa mengganti ponselnya paling tidak nasi goreng dulu untuk pagi ini. "Iya, iya sayang, hp aku hilang kemarin, besok aku jemput ya." Aku langsung membatu di depan kamar Reza, mendengar suara laki-laki itu menelpon kekasihnya membuat hati ini berdenyut, kenapa sakit sekali. Ku urungkan niat yang tadinya ingin memanggilnya untuk sarapan bersama. Keinginan itu sekarang menguap begitu saja, menyisakan rasa dongkol yang luar biasa. Mungkin kekasihn

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 7

    Mendadak aku cemas setengah mati, mondar- mandir berjalan di depan kursi, wajahku memanas. Jantungku jangan ditanya, dia seperti ingin melompat keluar dari tulang iga yang mengungkunginya.Matilah aku kali ini, Reza akan membaca pesan itu, apa katanya nanti.Tuhan toloonggg...Reza sudah datang lagi dengan sepedanya membawa kantong plastik berisi ice cream. Dari jauh dia sudah tampak tersenyum padaku. Aku mencoba kembali peruntungan dengan membuka ponsel, pesan itu sudah tidak ada lagi di ponselku karena sudah terklik hapus untuk saya, namun sudah terkirim ke ponsel Reza, aihh sial sekali sih."Ini." Sodor Reza ice cream coklat pesananku membuatku kaget sebab aku tidak sadar kapan dia sudah tiba dan berdiri dihadapanku."Makasih." Gagapku meraih ice cream yang Reza sodorkan itu.Kami duduk di bangku bersebelahan sambil mulai memakan ice cream, aku memindai tubuh Reza, tidak ada tanda bahwa ia sedang mengantongi ponsel.Dimana ponselnya..."Ada apa?" Curiga Reza melihat gelagatku yan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status