LOGINKetika barang yang sudah kami beli tadi tiba di apartemen, aku dan Reza mulai sibuk menyusunnya, ada sofa minimalis kami letakkan di ruang tamu, tidak ada sofa disana karena aku lebih suka rebahan sambil selonjoran kaki jadi ku pilih karpet berbulu untuk ruang keluarga, nampaknya Reza tidak protes dengan pilihanku dan oh iya satu set tempat tidur untuk diletakkan di kamar tamu.
Keringatku bercucuran, begitu letih dan melelahkan, kubaringkan tubuhku di karpet bulu yang bau tokonya masih tercium itu. Tersenyum getir melihat ini semua, rasanya seperti sedang bermain rumah- rumahan, pernikahan macam apa sebenarnya yang sedang kujalani ini, kututup mataku dengan lengan yang terlipat. Aku sudah hampir tertidur. "Mau makan apa Don? sore ini gak usah masak, kita pesan aja." Suara Reza lagi-lagi mengagetkanku membuatku langsung terduduk sehingga membuat kepalaku sedikit pusing. "Hahh...?" Dongakku pada tubuh pria yang tegak menjulang dihadapanku itu. "Mau makan apa, biar kakak pesan." "Ohh, makan apa saja kak, ehh ayam geprek, ayam geprek sambalnya sambal matah, minumnya es cincau. Reza tersenyum sambil mengetikkan pesanannya lewat aplikasi online, sambil berjalan kearah sofa depan dan mendaratkan bokongnya disana. Sementara aku melanjutkan lagi tidurku yang tidak jadi tadi. *** Satu bulan telah berlalu, permainan rumah- rumahan kami masih berlanjut, setiap pagi aku memasakkan sarapan untuk suamiku, siangnya kami jarang bertemu, bahkan hampir tidak pernah, karena kami makan siang di tempat kerja masing- masing. Malamnya barulah kami bertemu lagi, tentu dalam kondisi tubuh yang sama- sama lelah, jika sedang mood untuk masak, maka aku akan memasak, jika tidak maka kami akan pesan online. Dan malam ini, entah mengapa mood memasakku sedang timbul, aku ingin mencoba memasak menu seperti di film korea The Rooftop Prince, sejenis nasi goreng dibalut telur dadar gulung dan di taburi saos pedas diatasnya, aku lupa nama makanannya apa. Setengah jam berkutat didapur sendirian, akhirnya selesai juga, ku hias meja makan secantik mungkin dan memanggil sang suami untuk ikut mencicipinya. "Bang, ayo makan." Teriakku dari dapur. Tidak ada sahutan, aku melangkah ke arah ruang keluarga, kulihat televisi masih menyala menyiarkan adegan lawak tak mendidik, sedangkan yang menonton sudah tertidur pulas terlentang di atas karpet. "Bang, bangun makan dulu." Goyangkan ku tubuh Reza yang mulai mendengkur halus. Wajah itu, dilihat dari dekat sungguh sangat mempesona, meski matanya terpejam tapi aku bisa tau kalau tajamnya mata itu bisa menembus ku sampai ketulang, bagaimana bisa Tuhan menciptakan makhluk seindah ini, hampir tak ada cacat, hidungnya mancung sangat presisi dengan bentuk wajahnya yang tegas, alisnya hitam pekat , bibirnya berwarna dan sedikit bervolume, padahal dia tidak memakai lipstik.Aku tertegun sejenak memandang yang sejatinya sudah jadi milikku tapi bukan untukku, menyakitkan bukan.
Perlahan tanganku menyentuh pipi mulus itu, ujung telunjukku menyusuri pipinya, naik ke pelipis, membuat sang empunya tersentak kaget karena sentuhan kulit dinginku, yah aku baru saja menyentuh air di wastafel sih. Cepat- cepat kutarik lagi tangan nakal ini, aku juga kaget sebenarnya, buat malu saja. Kak Reza terduduk sambil mengeryitkan dahi menatap curiga padaku. "Kenapa?" Tanyaku ketus, jengah juga ditatap seperti itu, seolah aku baru saja ketahuan mencuri sesuatu darinya. "Kamu? kamu barusan...?" Hahh, pertanyaan macam apa ini. Apa dia pikir aku barusan mau memperkosanya begitu, dasar. "Barusan apa...?" Jengitku tak mau kalah, alis mataku bahkan sekarang sudah menukik tajam sekarang. "Oh iya, aku barusan sudah mencium kakak, disini." Sambil menunjuk bibirku jahil. "Apa Abang enggak terasa?" Tanyaku geli, mataku naik turun, senang sekali mengerjai pria ini yang tiba- tiba berubah warna diarea wajahnya. Telinganya bahkan sudah merah sejak tadi. "Ohh, pasti Abang tidak berasa soalnya abang tidur, mau kuulangi?" Tawarku sambil menahan tawa. Aku mencondongkan tubuhku. Wajah putihnya sudah berubah merah semua, dia benar- benar percaya perkataanku, apa aktingku sebagus itu, aku sudah tidak tahan lagi. "Hahahaaaaaahaaaaaa." Terguling- guling aku tertawa sambil memegang perut. "Ehmm, aku cuma bercanda, tenang aja bibir Abang masih virgin dari sentuhanku." Menepuk- nepuk karpet kemudian memegangi perut lagi, lucu sekali melihat ekspresi Reza yang sepertinya sangat tidak rela mendapatkan ciuman dariku itu. "Tidak lucu!" Dia berdiri kemudian masuk ke kamar. Busyeeet, eh dia marah. Aku berlari mengejarnya, tepat sekali pintu tertutup saat hidung yang tak begitu mancung berhargaku ini menempel sempurna disana, benturan antara kayu dan tulang rawan pun tak terelakkan lagi. "Awwwww." Pekikku sambil memegang hidung, reflek aku memegangi hidung ku yang sakitnya luar biasa. Reza yang panik langsung membuka pintu. "Ada apa?" Tangannya berusaha membuka tangan yang menutup hidungku. "Whoaaa, hidung berhargaku!!!" "Kenapa hidungmu?masih lengkap." Tanyanya panik. "Lihat? memar." Cicitku sambil menunjuk ujung hidung yang memerah. "Oh, cuma memar, ku kira patah tadi." Dengusnya sambil berjalan ke arah dapur. Hah, apa yang dia bilang? cuma memar? ini aset berhargaku dasar sakit jiwa. Aku mengikuti Reza berjalan ke dapur sambil mengelus hidungku yang berdenyut, bekerja di bagian front liner mengharuskanku selalu berpenampilan cantik dan menarik, apa jadinya besok ketika menjelaskan pada nasabah dengan hidung seperti ini. "Sini." Reza mengambil salep memar dari dalam kotak p3k dan dengan santainya mengoleskan cream itu ke hidungku. Ya Tuhan, adegan apalagi ini, jaraknya yang begitu dekat denganku dan lagi barusan tangannya menyentuh hidungku, aku tidak sanggup. "Siap, Sudah." ucapnya. "Hah..?" Cepat sekali, aku bahkan belum benar- benar menikmatinya. Kami makan setelah itu, tak ada pembicaraan, Reza tampak sangat menikmati masakanku. "Enak, kamu pintar masak rupanya." Haaaahaa, baru tau dia. Aku sedikit menegakkan punggungku percaya diri. "Apa mbak Fany pernah memasak untuk kakak?" "Enggak, gak pernah, dia tidak suka masak." Baguslah, aku bisa masuk ke hatimu lewat masakanku kalau begitu, aku tersenyum devil berusaha menyusun siasat. Mengapa aku jadi seperti seorang pelakor yang sedang menyusun rencana untuk merebut suami orang. "Jadi dia suka apa?" Reza diam, aku pun demikian, merasa aneh sendiri, mengapa pula aku menanyakan kesukaan kekasihnya. "Emmm, maksudku..." "Dia suka membaca dan membuat penelitian." Jawab Reza datar. Ya Tuhan, kesukaan jenis apa itu. Kaku sekali, penasaran mau lihat muka mbak Fany kalau begitu, pasti jidadnya sudah berlipat sembilan karena kebanyakan mikir kan. "Ada apa?" Reza bingung melihatku tersenyum sendiri. "Hah? tidak, tidak ada." Gagapku sambil menghabiskan minum.Reza berjalan menuju kamar tanpa menyalakan lampu. Sesampainya di kamar mandi, dia melepaskan kemejanya, lalu membiarkan pakaian yang lain jatuh begitu saja ke lantai. Dia masuk ke bawah shower dan memutar keran sampai air mengguyur seluruh tubuhnya. Namun air tidak mampu menghapus apa pun. Reza menundukkan kepala, tangannya mengepal. "Aku yang menghancurkan semuanya..." Suaranya bergetar. "Aku sendiri." Dia teringat bagaimana dulu Donna menunggunya di malam pernikahan mereka dan dia pergi, demi Fanny. Demi seseorang yang akhirnya justru menjadi alasan dia kehilangan perempuan yang benar-benar mencintainya. Napas Reza semakin berat. "Kenapa aku baru sadar sekarang?" Tinju Reza menghantam dinding. Sekali. Lalu sekali lagi. Sampai akhirnya matanya tertuju pada kaca besar di hadapannya. Dalam pantulan kaca itu, dia melihat dirinya sendiri. Laki-laki yang kehilangan istrinya karena kebodohannya sendiri. "Kenapa dulu aku nggak lihat kamu, Don?" Air mata bercampur dengan air
POV REZA Pintu apartemen tertutup keras di belakang Reza. Untuk beberapa detik, dia hanya berdiri di sana. Diam. Tatapannya kosong, tetapi dadanya terasa sesak seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam. Percakapan dengan Mama terus terngiang di kepalanya. "Kalau ada seseorang yang patut disalahkan, salahkan dirimu sendiri." Dia memejamkan mata, rasanya seperti ditusuk-tusuk pecahan kaca tanpa ampun, begitu sakit."Ada laki-laki bodoh yang meninggalkan istrinya demi wanita lain." Reza bahkan tidak berani membuka matanya sekarang. Donna, nama itu kembali muncul di kepalanya. Wajah Donna ketika terluka, tangis gadis itu, tatapannya ketika memutuskan untuk pergi. Semua kembali seperti potongan-potongan film yang tidak bisa dia hentikan. Reza seolah terlempar ke masa itu, masa dimana mama memanggilnya dan mengatakan kalau ingin menjodohkannya dengan cucu dari kerabat mama. "Mama sudah bilang berapa kali sama kamu, putuskan pacarmu itu, mama enggak suka." "Ma...Fanny anak ba
"Itu dokter Galih mirip siapa sih, yang kita tonton itu, di Pursuit Of Jade." Mama menoleh ke Rima. "Marquis Wuan." "Iya , Marquis Wuan. Udah cakep perhatian pula sama Donna." Tambah mama tanpa menghiraukan Reza. Aku melirik Reza yang sekarang sedang meneguk minumnya, ekspresi laki-laki itu tidak terbaca. “Dari cara dia melihat Donna, mama sih tau kalau Galih itu orang baik, setidaknya Donna sekarang punya orang yang benar-benar memperhatikan kondisinya.” Ruangan mendadak hening. Aku bisa melihat rahang Reza mengeras. “Maksud Mama apa?” Mama pura-pura tidak melihat perubahan wajah putranya. “Tidak ada maksud apa-apa.” Kemudian Mama menatapku. “Dulu Mama sering khawatir Donna sendirian, sekarang sepertinya mama enggak perlu khawatir lagi.” Reza menarik napas pelan.“Ma…” “Apa?” Mama balik bertanya santai. “Mama cuma bilang apa yang Mama lihat kok.” Mbak Rima akhirnya mencoba mencairkan suasana. “Ma, jangan mulai.” Mama terkekeh kecil. “Memangnya Mama salah?” Kal
Nenek datang tak lama kemudian, bergantian dengan Reza dia menungguiku. Sedang Reza keluar, ke kantin mencari kopi. "Gimana?" masih sakit?" Nenek mengelus perutku pelan. Aku menggeleng,"Enggak."’ Pintu kamar rawat terbuka pelan. Aku yang sedang setengah berbaring langsung menoleh. “Mama…” Mama masuk lebih dulu, disusul Mbak Rima yang membawa beberapa kantong makanan dan pakaian. Wajah Mama terlihat cemas, tetapi begitu melihatku masih dalam keadaan baik, ekspresinya sedikit melunak. “Bagaimana sekarang?” Mama langsung mendekat ke tempat tidur. “Sudah mendingan,Ma. Tadi malam masih sering mulas, tapi sekarang sudah berkurang.” Mama mengusap rambutku pelan. “Kamu bikin Mama hampir nggak bisa tidur. Reza nelpon mama katanya kamu kontraksi." Aku tersenyum kecil. “Maaf.” Mbak Rima meletakkan barang-barangnya di kursi. “Ya ampun, Don. Kamu ini kalau bikin keluarga panik jangan setengah-setengah.” Aku terkekeh pelan."Cucu mama nih mbak." Aku mengelus perutku. “Permisi.”
Mataku mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk menembus kaca jendela, rupanya hari telah pagi. Punggung tangan kananku sudah dipasang infus, kulirik botol infus yang tergantung ditiang infus, isinya tinggal setengah. Aku ingin menggerakkan tangan kiriku tapi terasa berat, aku menoleh. Kepala Reza bersandar ditepi tempat tidur, sambil menggenggam tangan kiriku. Dia masih tidur. Aku bergerak, gerakanku membuat laki-laki itu terbangun. "Masih sakit?" Itu ucapan pertama nya saat bangun, apa dia menungguiku semalaman? Aku menggeleng,"Nenek mana?" aku tidak melihat nenek diruangan ini. "Nenek pulang subuh tadi mau ambil barang-barang, nanti kesini lagi." "Abang disini semalaman?" Tanyaku pelan. Reza mengangguk, dia kemudian berdiri, melihat kearah perutku sebentar,"Enggak sakit lagi?" Sudah dua kali dia menanyakan apakah aku masih sakit atau tidak, dan ku jawab dengan gelengan kepala. Reza mengangguk sekilas kemudian mengambil minum diatas meja dan memberikannya padaku,"minum
Aku masih berdiri di samping tempat tidur ketika suara mobil berhenti di depan rumah. Nenek sibuk mengusap punggungku pelan berusaha mengurangi rasa sakitnya. Tidak lama kemudian terdengar ketukan di pintu. "Donna!" Suara Galih. Nenek langsung keluar kamar dan membukakan pintu, sementara aku masih dikamar karena kontraksi kembali datang. Aku memegang perut sambil meringis."Ahh..." Pintu kamarku terbuka, Galih langsung masuk dan wajahnya berubah ketika melihatku membungkuk menahan sakit. "Donna!" Dia menghampiriku dengan cepat. "Kontraksinya masih datang?" Aku mengangguk. "Iya..." "Berapa menit sekali?""Aku nggak tahu." Galih melihat jam tangannya."Mulai sekarang kita hitung." Aku menatap wajahnya yang terlihat jauh lebih tegang daripada biasanya. "Galih..." "Hm?" "Jangan panik, okay." Dia justru menatapku seolah tidak percaya."Aku yang seharusnya bilang begitu ke kamu." Aku hampir tersenyum, tetapi rasa sakit kembali datang, Galih langsung menopang bahuku. "Ta







