تسجيل الدخولReza sangat bersyukur saat melihat wajah kantuk Allena, segera ia menggendong gadis kecilnya itu ke dalam kamar. Ya , sejak Allena dan Alluna lahir, Reza bahkan sudah menyediakan satu kamar khusus untuk mereka diapartemen laki-laki itu, meski kalau dihitung, sebenarnya jarang sekali Allena dan Alluna menginap. Reza menceritakan dongeng absurd tentang kancil yang menipu buaya di sungai, dengan tangannya dijadikan boneka memperagakan adegan kancil dan buaya. Suaranya kaku dan patah-patah, Reza menyadari itu, tapi menakjubkannya Allena tidak pernah protes terhadap ceritanya yang payah. Menjadi ayah yang hebat yang bisa melakukan semuanya memang sulit, namun dia akan mengusahakan yang terbaik untuk anak-anak nya. Biasanya kalau anak-anak menginap di apartemen Reza, selalu membawa mbak Oli juga, agar Reza tidak gelagapan mengasuh mereka, namun kali ini Reza membawa anak-anaknya tanpa mbak Oli, mbak Oli agak kurang enak badan tadi, makanya Reza suruh istirahat aja dulu. Donna masuk kam
Aku kembali ke ruangan dengan tampang kesal. Wajah Silvi sudah kutandai, awas saja kalau dia nanti berani mengkonfrontasiku seperti tadi. " Gue peringatkan sekali lagi, awas kalau Lo coba-coba mendekati pak Reza." Suara wanita itu terngiang-ngiang, Lah memangnya dia siapa, berani mengancamku, istri Reza juga bukan, dia cuma asisten. "Kenapa muka Lo Don, kayak orang baru saja lihat Dementor?" Mbak Dita menyambut cangkir kopi yang ku sodorkan padanya. "Memang iya, barusan ketemu Dementor." Jawabku. "Baru tau gue, di kantor ada Dementor, siapa mbak?" Tari menggeser kursinya mendekatiku. Aku mengedikkan bahu, malas menyebut nama Silvi, tapi gatal juga lidah kalau enggak menggosipkan tingkahnya tadi. "Siapa orang nya yang udah bikin mbak gue bad mood, ayo kita labrak." Tari menggebrak meja pelan. Aku terkekeh,"Silvi." Ucapku singkat. "Silvi?" "Ngapain dia?" Kali ini Rendra yang menoleh. Aku sudah ingin cerita, namun tiba-tiba teringat sesuatu yang tidak seharusnya aku cer
Hari ini jadwal keberangkatan nenek ke Tanah Suci, sejak pagi aku mulai sibuk menyiapkan semua keperluan nenek. Oke, koper sudah, tas jinjing sudah, id card nenek sudah, tinggal menunggu taxi yang akan mengantar kami ke bandara, kelak disana sudah ada guide dari travel umroh yang akan membersamai nenek. mbak Oli juga sudah memandikan Allena dan Alluna, keduanya sudah siap meski dari tadi aku berteriak karena Allena menumpahkan keranjang mainannya sehingga lantai penuh dengan mainan yang kebanyakan sudah rusak itu. Ini kalau di film Toy Story anakku Allena sudah pasti berperan sebagai monster perusak, yang mematahkan leher mainan, mengganti kepala berbie dengan kepala dinosaurus dan mengeluarkan isi perut boneka. Dan aku meringis saat tidak sengaja terinjak Lego milik Alle yang terserak di lantai. Taxi pesanan kami telah sampai, aku menarik koper nenek dan bersama supir memasukkan kopernya ke bagasi mobil. Kemudian menangkap Allena yang ingin berlari ke jalanan. Hari yang luar bia
Mataku mengerjap, aku tiba-tiba terbangun, namun bukan dirumah, melainkan masih di dalam mobil Reza. Aku melihat kesamping, Reza juga tertidur di kursi kemudi, sangat pulas sekali. "Bang..." Suaraku serak, mengagetkannya, dia terbangun dan menggeliat kecil." Udah bangun?" "Kenapa tadi enggak bangunin aku?" Reza menguap dan menutup mulutnya dengan tinju tangan. "Kamu nyenyak banget tadi tidurnya, jadi abang ketiduran juga." "Sekarang udah jam berapa? ya ampun, nenek pasti cemas." Aku langsung mengecek ponsel, ada tiga panggilan tak terjawab dari nenek. Aku turun lebih dulu, diikuti Reza yang kemudian berjalan dibelakangku, kami masuk bersama ke rumah dan segera disambut dengan suara tangisan, teriakan dan lemparan kepala Barbie yang sudah terlepas dari badannya, luar biasa sekali. Kepala Barbie menabrak dada Reza dan terjatuh di lantai, itu Barbie yang baru dibelikan Reza kemarin padahal. "Oke, jadi apa yang terjadi seharian ini?" Tanyaku sambil meletakkan tas diatas kursi
Aku didudukkan di kursi ruangan dengan Mbak Dita, Rendra dan Tari mengelilingiku, seperti ingin disidang. Mbak Dita bahkan sudah bersedekap dada, si Rendra memicingkan mata dan Tari, dia mengetuk-ngetuk penanya ke telapak tangan. "Dari awal gue udah curiga, pas kita di resto, Lo manggil pak Reza, bang." Kata mbak Dita. Tari mengangguk,"Iya, sejak kapan lo jalan sama pak Reza mbak, sampai manggil dia bang." "Enggak..." Aku menggeleng. "Kalau memang lo jalan sama pak Reza, jujur aja mbak, enggak papa kok, cuma gue jadi enggak enakan ke pak Reza, mana kemarin gue banyak ngomongin mantan suami Lo lagi di depan dia, pasti pak Reza cemburu." Aku menghela nafas panjang, "Oke, waktu di resto gue reflek jadi salah sebut, dan yang tadi itu pas di pantry murni ketidaksengajaan." Aku melirik Tari." Lo kan lihat gue ke pantry sendiri,terus mana gue tau kalau pak Reza datang, dan gue kaget akhirnya air panas itu terciprat ke tangan gue sendiri, jadi dia inisiatif bantu gue." Rendra meng
Reza baru saja ingin keluar dari sekat pembatas area smoking room saat didengarnya suara beberapa orang mengobrol dari samping, dan dia terhenti saat salah satu dari mereka menyebut nama Donna. "Yah, beda level lah kalau sama Silvi. Dia mah mainannya sudah sekelas kepala cabang." Suara seorang pria terdengar dari luar area smoking room. Pria kedua tertawa menyambut ucapan itu,"Emangnya Donna level nya sebelah mana?" Reza mengangkat wajah, tubuhnya yang tadi merunduk, langsung berdiri dengan sendirinya. "Donna? yang dibagian call center?" Pria lain bertanya. Reza bisa mendengar obrolan itu tanpa terlihat dari posisinya sekarang. "Iya, Donna mana lagi, cuma dia Donna yang single, walaupun sudah punya anak dua." "Enggak kalah sih sama cewek single lain, body nya masih mulus." Mereka tertawa-tawa. "Tes tes dikit, kali aja mau diajak keluar." "Kasih aja seharga dua box susu anaknya, kali aja mau." Stigma negatif memang menjadi resiko yang harus diterima Donna untuk statu







