Share

Bab 3

Author: Ora
Keesokan paginya, begitu tiba di kantor rumah sakit, aku langsung melihat Randy.

Dia duduk di sofa, menatapku dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Davina, kamu tau Richie itu sebenarnya nggak suka sama kamu."

Tubuhku sempat terhenti sejenak, namun nada bicaraku tetap tenang. "Itu bukan urusanmu."

Di kehidupan sebelumnya, aku sudah mengorbankan segalanya demi Randy. Bahkan seluruh tabunganku kuberikan padanya, hanya agar dia bisa bertahan di keluarga itu. Namun pada akhirnya, dia justru bersekongkol dengan Elise dan mengkhianatiku.

"Kamu nyesal mutusin pertunangan denganku?" tanya Randy lagi, matanya memancarkan sedikit harapan.

Aku mencibir dingin. "Nyesal? Yang aku sesali cuma satu, kenapa nggak dari dulu menyadari sifat asli kalian."

Setelah itu, tanpa menggubris Randy lagi, aku langsung berbalik meninggalkan kantor.

Hari ini adalah hari bakti sosial pengobatan gratis yang diadakan rumah sakit, dan aku serta Elise sama-sama masuk dalam daftar.

Di dalam mobil van rumah sakit, aku bersandar di dekat jendela, menatap pemandangan kota yang melesat cepat di luar.

Tinggal sebulan lebih sedikit lagi, aku akan meninggalkan kota yang penuh luka ini.

Tiba-tiba, mobil itu mengerem mendadak, lalu kehilangan kendali dan menghantam pembatas jalan dengan keras.

Suara gesekan logam yang memekakkan telinga terdengar, dan bau bensin langsung menyebar. Mobil itu pun terguling.

Aku terjepit di bawah kursi, darah merembes dari dahiku.

Tepat saat kesadaranku mulai memudar, aku melihat sebuah mobil sedan Lincront hitam berhenti di tepi jalan.

Richie membuka pintu mobil dan berlari menghampiri dengan wajah penuh kepanikan.

"Richie .…" Aku memanggil dengan sisa tenaga terakhir.

Richie sempat menatap padaku, tetapi hanya sekejap, lalu beralih ke sisi lain.

Elise terjepit di bawah kursi penumpang depan, mengerang kesakitan.

Aku hanya bisa menyaksikan saat Richie, tanpa memedulikan bahaya berlari ke sana, mengangkat Elise dengan hati-hati, lalu bergegas menuju ambulans di pinggir jalan tanpa menoleh lagi.

Pada saat itu, hatiku seperti membeku sepenuhnya, dan pandanganku pun jatuh ke dalam kegelapan.

Saat aku terbangun kembali, tiga hari sudah berlalu.

Richie tertidur di samping ranjang, matanya merah, dagunya ditumbuhi janggut tipis, terlihat sangat kelelahan.

Begitu melihatku sadar, dia langsung menggenggam tanganku. "Davina, akhirnya kamu bangun. Apa masih ada yang nggak nyaman?"

Aku menarik kembali tanganku, lalu berkata dengan suara dingin, "Elise nggak apa-apa?"

Sorot mata Richie sempat menghindar sesaat, kemudian dia berkata, "Nggak apa-apa, kandungannya juga selamat."

"Dia sepupumu dan sedang hamil, aku harus selamatin dia lebih dulu," ujarnya mencoba menjelaskan. "Aku kepala keluarga, aku harus lindungin yang lemah."

Aku pun tersenyum. Senyum yang terasa lebih pahit daripada tangisan.

Di tengah situasi hidup dan mati, dia lebih memilih perempuan lain, tetapi masih berusaha menutupinya dengan alasan yang terdengar mulia.

Aku tidak ingin menunggu dua bulan lagi, aku ingin segera meninggalkan pria munafik ini.

Melihat aku terdiam, Richie berdiri dan berkata, "Kamu lapar, ya? Aku beliin makanan, ya."

Setelah dia pergi, aku menunggu dari pagi hingga malam, tetapi dia tidak juga kembali.

Pasien lainnya di ruang rawat ditemani keluarga, hanya aku yang sendirian.

Saat aku ingin pergi ke kamar kecil, barulah kusadari kakiku juga terluka, sehingga aku hanya bisa berjalan perlahan sambil berpegangan pada dinding.

Setelah sampai di depan pintu kamar kecil dengan susah payah, aku baru sadar satu tanganku terpasang infus, sehingga aku tidak bisa melepas celana.

Tidak ada pilihan lain, aku hanya bisa memanggil pelan, "Ada orang di sini? Bisa tolong bantu aku?"

Seorang petugas kebersihan yang sedang membersihkan mendengar suaraku dan segera datang membantu.

Melihat keadaanku yang menyedihkan, petugas itu tak tahan untuk bertanya, "Nona, di mana keluargamu?"

Aku tidak bisa menjawab.

Di saat itu juga, aku akhirnya paham, kalau soal hidup dan mati, cinta dan pernikahan ternyata tidak berarti apa-apa.

Dalam perjalanan kembali ke ruang rawat, aku mendengar suara Richie.

Mengikuti arah suara itu, kulihat dia sedang dengan hati-hati menopang Elise, bersiap mengantarnya untuk pemeriksaan.

Saat mata kami bertemu, ada kilatan kepanikan di mata Richie. "Davina .…"

Elise tersenyum sambil menjelaskan, "Davina, jangan salah paham. Randy sedang ada urusan keluarga, jadi aku terpaksa harus ngerepotin Richie untuk antar aku."

Melihat pemandangan di hadapanku, untuk pertama kalinya mataku memerah.

Bukan karena sedih, melainkan karena aku baru sadar bahwa selama dua kehidupan pun, aku tidak pernah benar-benar memahami hati manusia.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Aku Bukan Wanita Pengganti   Bab 18

    Sepuluh tahun kemudian.Di halaman klinik, pohon akasia itu sudah tumbuh sangat tinggi.Jeff sudah lulus dari fakultas kedokteran dan kembali ke desa, menjadi dokter tetap di klinik.Dia mengenakan jas putih dan sedang memeriksa pasien dengan serius. Tetapi begitu melihatku, dia kembali menunjukkan senyum cerah seperti saat kecil dulu."Mama Davina!" Dia berlari menghampiri, membawa sepucuk surat di tangannya. "Ini dari Nuyora."Aku menerima surat itu dan melihat tulisan tangan Tony yang begitu kukenal di amplopnya.Selama sepuluh tahun, surat darinya tidak pernah terputus, meskipun aku tidak pernah membalasnya.Aku membuka surat itu dan membacanya baris demi baris.[Nona Davina,][Dengan perasaan berat, saya memberitahukan bahwa Bos Richie telah meninggal dunia tiga hari yang lalu.][Bos pergi dengan tenang, dalam tidurnya. Dokter bilang, tubuhnya sebenarnya sudah sangat lemah sejak lama. Bos bisa bertahan selama ini pun sudah merupakan keajaiban.][Menjelang ajalnya, dia meminta saya

  • Aku Bukan Wanita Pengganti   Bab 17

    Setahun kemudian.Pernikahanku dengan James dilangsungkan di Domani, tepat di kafe kecil di tepi Sungai Tabera itu.Pemilik kafe menghias seluruh tempat dengan bunga-bunga, bahkan mengundang band terbaiknya.Moza dan Jeff dari Desa Masahi juga datang khusus dari Afreya.Jeff sudah tumbuh jauh lebih tinggi, mengenakan setelan jas dengan agak canggung, namun tersenyum sangat bahagia.Aku mengenakan gaun putih sederhana, tanpa tudung pengantin yang rumit, hanya menyelipkan setangkai bunga aster kecil di samping rambut.James berdiri di hadapanku, mengenakan jas biru tua. Rambut pirangnya tersisir rapi, meski tetap ada satu helai yang menjuntai bandel."Kamu sangat cantik," katanya pelan.Aku menjawab sambil tersenyum, "Kamu juga nggak kalah."Pendeta membacakan janji pernikahan, aku mendengarnya, namun pikiranku sedikit melayang.Aku teringat pada kehidupan sebelumnya, Davina yang mati di Sungai Harpen.Dia pasti tidak pernah membayangkan, di kehidupan ini, dia akan berdiri di bawah matah

  • Aku Bukan Wanita Pengganti   Bab 16

    Enam bulan kemudian.Proyek bantuan medis telah berakhir, dan aku bersama James kembali ke Domani.Saat pesawat mendarat, aku memandang kota abadi ini dari jendela, dan entah kenapa rasanya seperti pulang ke rumah."Mau ke mana dulu?" tanya James sambil menarik koper, tersenyum padaku.Aku menatap jalanan yang sudah terasa akrab, lalu berpikir sejenak. "Ke kafe di tepi Sungai Tabera."Kafe itu masih ada, dan pemiliknya tetap sang pria tua berambut memutih yang sama.Begitu melihatku, dia melambaikan tangan dengan gembira. "Davina! Kamu sudah kembali! Gimana Afreya?""Bagus sekali." Aku duduk dan memesan segelas Americano dingin.James duduk di seberangku, cahaya matahari jatuh di wajahnya, membuat mata birunya berkilau seperti permata."Davina …." Tiba-tiba dia membuka suara."Ya?""Ada sesuatu yang mau aku bilang."Melihat ekspresinya yang serius, entah kenapa aku merasa agak gugup.James menarik napas dalam-dalam. "Selama enam bulan ini, aku terus menunggu waktu yang tepat. Tapi kemu

  • Aku Bukan Wanita Pengganti   Bab 15

    Hari-hari di Afreya memang terasa sederhana namun penuh makna.Setiap pagi, aku dan James bangun diiringi suara ayam berkokok, lalu setelah membersihkan diri secukupnya, kami mulai menerima pasien.Malaria, tifus, kekurangan gizi … berbagai penyakit yang jarang ditemui di dalam negeri, di sini justru menjadi hal yang biasa.Sebulan kemudian, aku sudah bisa berkomunikasi dengan warga menggunakan bahasa lokal sederhana."Dokter, terima kasih." Seorang anak laki-laki menarik tanganku dan berkata dengan Bahasa Lingua yang terbata-bata.Namanya Jeff. Dia adalah pasien pertama yang kutangani sejak datang ke Afreya. Dia terkena malaria parah yang hampir merenggut nyawanya.Aku berjongkok dan mengusap kepalanya. "Kamu harus minum obat yang teratur, ya."Jeff mengangguk kuat, lalu mengeluarkan gelang anyaman dari sakunya. "Ini buat kamu."Aku menerima gelang sederhana itu. Meski sederhana, pemberian itu sarat dengan ketulusan, dan mataku terasa hangat.Malamnya, aku mengenakan gelang itu di tan

  • Aku Bukan Wanita Pengganti   Bab 14

    Sebulan kemudian, aku berdiri di aula bandara, menggenggam tiket pesawat menuju Kota Neroba di tanganku.James berjalan mendekat sambil menarik koper, lalu menatapku. "Udah kamu pikirin matang-matang?"Aku mengangguk dan menunjukkan tiket itu kepadanya.Dia pun tersenyum, senyum yang lebih cerah dari biasanya.Pengumuman boarding terdengar, kami pun berjalan berdampingan menuju gerbang keberangkatan.Tepat saat itu, terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari belakang."Nona Davina!"Aku menoleh dan melihat Tony berlari ke arahku dengan napas terengah-engah, wajahnya penuh kecemasan."Nona nggak boleh pergi! Bos … dia .…""Ada apa dengannya?"Mata Tony memerah. "Bos ... mencoba bunuh diri. Tadi malam di ruang rawat, dia menyayat pergelangan tangannya pakai pisau kecil yang disembunyiin. Untung perawat segera melihat. Nyawanya berhasil diselamatkan, tapi dia kehilangan banyak darah dan sekarang masih belum sadar."Aku mendengarkannya dengan tenang, tanpa gejolak di hati."Nona Davina, tolo

  • Aku Bukan Wanita Pengganti   Bab 13

    Sebulan kemudian.Musim semi di Domani telah tiba, pohon-pohon di tepi Sungai Tabera mulai menumbuhkan tunas berwarna hijau muda.Aku berdiri di podium fakultas kedokteran, menyelesaikan analisis kasus terakhir.Tepuk tangan meriah terdengar dari bawah, dekan berdiri dengan wajah penuh bangga. "Dokter Davina, performa Anda sangat luar biasa. Saya secara resmi mengundang Anda untuk bergabung dengan tim pengajar dan penelitian di fakultas kami."Aku tersenyum. "Terima kasih, Pak. Ini adalah kehormatan bagi saya."Saat keluar dari ruang rapat, James bersandar di jendela koridor menungguku, di tangannya ada seikat bunga aster kecil."Selamat, ya." Dia menyerahkan bunga itu.Aku menerima bunga itu, menghirup aroma segarnya. "Bagaimana kamu tahu aku sidang hari ini?""Karena aku ingin tahu semua hal tentang dirimu," katanya sambil tersenyum, mata birunya melengkung indah.Kami berjalan berdampingan di dalam kampus, sinar matahari sore menembus dedaunan, menciptakan bayangan cahaya yang berpe

  • Aku Bukan Wanita Pengganti   Bab 12

    Jari-jariku sedikit mengencang."Ada apa?"Suara Tony terdengar cemas. "Bos datang ke Domani untuk mencari Nona, tapi diserang di bandara. Sekarang sedang dalam penanganan darurat di rumah sakit. Sebelum pingsan, Bos terus memanggil nama Nona Davina … aku mohon, datanglah menemui dia."Aku terdiam.

  • Aku Bukan Wanita Pengganti   Bab 6

    Richie tidak bicara denganku selama beberapa hari berikutnya, tetapi juga tidak lagi memintaku untuk minta maaf.Dia pulang tepat waktu setiap hari, membawakan makanan kesukaanku, namun selalu bermalam di ruang tidur tamu.Aku tahu, dia sedang bimbang, tetapi itu sudah tidak ada hubungannya denganku

  • Aku Bukan Wanita Pengganti   Bab 5

    Keesokan paginya, Richie pergi ke wilayah lain untuk menangani sebuah perselisihan, sementara aku pergi ke rumah sakit untuk mengurus pengunduran diri.Seorang perawat melihatku dan tampak terkejut. "Dokter Davina, kamu benar-benar akan pergi?""Iya, aku akan melanjutkan studi ke Domani," jawabku sa

  • Aku Bukan Wanita Pengganti   Bab 4

    "Suamiku bawa kamu untuk diperiksa, terus aku gimana?" tanyaku perlahan namun tegas.Pasien dan perawat di sekitar menoleh. Wajah Elise sempat terlihat canggung, tetapi dia tetap berpura-pura sedih. "Davina, kenapa kamu pelit banget? Aku cuma minta tolong Richie sebentar."Richie mengernyit. "Davina

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status