Short
Simpan Mahkotamu, Aku Memilih ITA

Simpan Mahkotamu, Aku Memilih ITA

Por:  TJCompletado
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Capítulos
5vistas
Leer
Agregar a biblioteca

Compartir:  

Reportar
Resumen
Catálogo
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP

Saudari kembarku, Keisha, mencoba mengakhiri hidupnya karena aku selalu lebih unggul darinya di sekolah. Setidaknya, itulah yang diyakini oleh keluargaku. Kesuksesanku dianggap sebagai pemicu kondisi Keisha. Karena itu, orang tuaku mengirimku pergi dari kediaman Keluarga Mahendra. "Cuma sampai hasil pengumuman universitas keluar," janji Ibu. "Setelah itu, kamu bisa pulang." Di belakangnya, kakakku, Arvin, membantu Keisha memilih mobil mewah yang ingin dibelinya, lengkap dengan lapisan baja antipeluru. Sedangkan pacarku, Elvano, berdiri di samping mereka sambil membawa buket mawar putih kesukaan Keisha. "Kalau terjadi apa-apa, hubungi kami, Nadira." Dan aku melakukannya. Sebulan kemudian, seorang pria mabuk muncul di depan pintu apartemenku dan terus menggedor tanpa henti. Aku mengunci diri di kamar mandi dan menelepon keluargaku berkali-kali. Tak satu pun panggilanku yang dijawab. Menjelang pagi, Ibu mengirimiku pesan. [Maaf, Sayang. Kami sedang merayakan ulang tahun Keisha. Melihat namamu mungkin akan membuatnya tertekan.] Sejak saat itu, aku berhenti meminta bantuan. Pengumuman penerimaan universitas akhirnya keluar, tetapi mereka tetap tidak mengizinkanku pulang. Lalu di pesta ulang tahun kami yang ke delapan belas, Keluarga Mahendra memperkenalkan Keisha kepada seluruh kalangan elite Kota Ravena sebagai putri kesayangan mereka. Ibu kembali mengirimiku pesan. [Adikmu masih butuh waktu. Tunggu sebentar lagi.] Kali ini, aku sudah tidak mau menunggu lagi. Mereka tidak tahu bahwa aku sudah menerima tawaran universitas dari Institut Teknologi Astera. Aku akan meninggalkan Keluarga Mahendra.

Ver más

Capítulo 1

Bab 1

Aku menundukkan pandangan pada empat figur LEGO custom yang terpajang di atas meja belajarku.

Aku memesannya pada minggu pertama tinggal di sini, figur Ibu, Ayah, Arvin, dan Elvano. Bahkan saat itu, aku tahu tindakan tersebut terdengar menyedihkan. Namun, menata keempatnya di antara buku-buku pelajaran, membuat apartemen ini terasa tidak terlalu kosong.

Aku baru hendak menyimpannya ketika layar ponselku menyala.

Ibu: [Pulanglah sore ini. Kita perlu membicarakan tempat kuliahmu.]

Mataku berhenti pada satu kata.

Pulang.

Sesuatu di dalam diriku bergejolak sebelum sempat kutahan.

Mungkin mereka akhirnya ingat pada janji mereka.

Aku segera memesan taksi.

Beberapa bulan lalu, aku pernah menggunakan salah satu mobil keluarga untuk menjenguk Keisha di rumah sakit. Begitu melihatku, dia langsung mengalami serangan panik.

Ayah menyalahkanku dan mencabut aksesku ke semua kendaraan milik keluarga. Dia memastikan aku tidak akan bisa datang menemuinya lagi tanpa diundang.

Ketika taksi berhenti di depan gerbang kediaman Mahendra, para pengawal langsung mengelilingi mobil dan mempertanyakan supirnya, sebelum akhirnya membiarkan kami masuk.

Saat aku tiba di ruang utama, Keisha sudah duduk di tengah ruangan. Ada empat hadiah yang dibungkus dengan indah, tersusun di hadapannya.

Ibu, Ayah, Arvin, dan Elvano mengelilinginya.

"Universitas Adikara dan Universitas Nawasena," kata Ibu sambil merapikan rambut Keisha. "Anak Ibu mendapat dua tawaran bagus dari luar kota."

Ibu tidak menyebut sumbangan yang telah diberikan oleh Ayah, para petinggi kampus yang sudah dihubungi, maupun berbagai bantuan yang dia berikan demi memastikan Keisha mendapatkan tawaran tersebut.

Keisha tersenyum lembut. "Aku masih belum tahu harus pilih yang mana."

"Adikara," kata Arvin. "Itu salah satu universitas terbaik."

Elvano menggeleng. "Nawasena lebih cocok untuknya. Kampusnya lebih kecil, lebih privat, dan Keluarga Mahendra juga sudah punya banyak koneksi di sana."

Ibu mengusap bahu Keisha dengan penuh kasih sayang.

"Yang mana pun nggak masalah. Lingkungan di sana pasti bagus. Dokter juga selalu bilang sinar matahari dan udara yang lebih hangat bisa bantu pemulihannya."

Mereka sedang membicarakan penerimaan kuliah Keisha seolah-olah gadis itu baru saja menaklukkan seluruh Serandia.

Padahal aku tahu, penyakit Keisha tidak pernah benar-benar menjadi masalahnya. Aku pernah melihat sendiri betapa cepatnya kerapuhan Keisha menghilang saat tidak ada yang memperhatikannya.

Suatu kali, setelah salah satu serangan paniknya, aku menemukan Keisha sedang sendirian sambil tertawa melihat sesuatu di ponselnya. Begitu Ibu masuk, Keisha langsung menjatuhkan ponselnya dan kedua tangannya mulai gemetar.

Aku menceritakan apa yang kulihat kepada keluargaku. Tetapi Ibu malah menuduhku iri dan Arvin mengatakan aku memang sengaja ingin mengganggu proses pemulihan Keisha.

Sejak saat itu, aku berhenti berusaha membuktikan apa pun.

Ayah duduk di kursinya sambil memperhatikan Keisha. Wajahnya yang biasanya tegas tampak melunak karena rasa bangga.

Tidak seorang pun menyadari aku sedang berdiri di ambang pintu.

Untuk sesaat, aku merasa seperti orang asing di rumah sendiri, tempat aku dilahirkan.

Kemudian Ibu menoleh.

"Nadira. Kamu sudah datang?"

Kehangatan dalam suaranya menghilang. Tidak sepenuhnya, tetapi cukup untuk membuatku menyadari perbedaannya.

Keisha mengikuti arah pandangan Ibu. Senyumnya langsung memudar.

Arvin menunjuk sofa. "Jangan berdiri saja."

Aku duduk di kursi yang paling jauh dari Keisha.

Ayah menatapku dari seberang ruangan. "Pengumuman hasil penerimaan universitasmu sudah keluar?"

"Sudah. Aku diterima di …."

"Nanti saja," potong Ibu.

Dia duduk di samping Keisha dan menggenggam tangannya sebelum kembali menatapku.

"Kami memintamu datang karena kamu harus menolak semua tawaran dari universitas yang berada di Serandia, kota yang dipilih Keisha." Ibu berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Keisha membutuhkan awal yang baru. Akan lebih baik kalau kamu nggak kuliah di tempat yang terlalu dekat dengannya."

Sesaat, aku mengira aku yang salah dengar.

Ibu tahu aku sudah menghabiskan tiga tahun terakhir untuk mengejar Universitas Cakrawala. Itu impianku sejak tahun pertama di SMA.

Setiap kelas yang kuambil, setiap kompetisi yang kuikuti, dan setiap malam tanpa tidur hanya kuhabiskan untuk belajar demi mendapatkan kesempatan berkuliah di sana.

Dan sekarang Ibu memintaku untuk menyerah begitu saja, seolah-olah tiga tahun itu tidak berarti apa-apa.

Aku menatapnya. "Kenapa aku harus melakukan itu?"

Ibu menjawab dengan hati-hati, "Keisha sudah bekerja sangat keras tahun ini. Dia berhak memulai kuliah tanpa merasa harus bersaing denganmu lagi."

Bekerja keras?

Aku tahu persis bagaimana Keisha mendapatkan tawaran-tawaran itu semua. Ayah memberikan sumbangan, menghubungi para petinggi universitas, dan menggunakan berbagai koneksi sampai pintu-pintu itu terbuka untuknya.

Aku sendiri bekerja keras selama tiga tahun untuk mendapatkan penerimaan dari Universitas Cakrawala. Tanpa sumbangan. Tanpa koneksi keluarga. Bahkan tanpa sepatah kata pun dukungan dari orang-orang yang sekarang memintaku untuk membuang itu semua.

"Aku nggak pernah bersaing dengannya," kataku.

"Kamu nggak perlu bersaing," bisik Keisha. "Kamu selalu mendapatkan semuanya tanpa perlu berusaha."

Arvin langsung meletakkan tangan di bahu Keisha, seolah-olah sedang melindunginya dariku.

Aku menatap Ayah. "Ayah benar-benar memintaku membuang tiga tahun kerja kerasku hanya supaya Keisha merasa nyaman dan aman?"

Tatapannya tetap dingin dan tegas.

"Keputusan sudah dibuat. Kamu harus menjauh dari wilayah itu. Keisha berhak memiliki satu tempat di mana dia nggak perlu terus hidup dalam bayang-bayangmu."

Ibu mengangguk. "Keluarga ini akhirnya menjalani satu tahun dengan tenang," katanya. "Kami nggak bisa mengambil risiko apa pun yang bisa mengganggu pemulihan adikmu. Ibu tahu kamu pasti mengerti."

"Universitas Cakrawala punya salah satu program ilmu komputer terbaik di negeri ini," desakku.

"Universitas Wijaya juga universitas yang bagus," jawab Ayah. "Cukup jauh dari kota buat memberi Keisha ruang, tapi masih cukup dekat bagi keluarga buat menjengukmu."

Dia sudah memilih masa depanku.

Sama seperti dia memilihkan apartemenku. Kesendirianku. Bahkan menentukan seberapa besar perlindungan yang pantas kudapatkan.

Semuanya tanpa pernah bertanya pendapatku.

Aku menoleh kepada Arvin.

Dia mengerutkan kening seolah-olah akulah yang sedang bersikap tidak masuk akal.

"Kamu pasti akan baik-baik saja di mana pun kamu berada. Kamu selalu begitu."

Akhirnya, aku menatap Elvano.

Dulu, dia pernah duduk di sampingku saat berada di perpustakaan milik keluargaku ketika aku mengisi formulir pendaftaran Universitas Cakrawala. Dia bahkan mencium pelipisku dan mengatakan bahwa dia tidak sabar menungguku untuk kuliah di sana.

Sekarang, dia bahkan tidak mau menatap mataku.

"Elvano?"

Rahangnya mengeras.

Betapa bodohnya aku karena masih berharap dia akan membelaku.

Dengan suara pelan, dia berkata, "Kamu itu pintar, Nad. Universitas mana pun nggak akan mengubah fakta itu."

Kemudian dia menatap Keisha.

"Tapi dia nggak sepertimu. Dia membutuhkan seseorang untuk menjaganya."

Expandir
Siguiente capítulo
Descargar

Último capítulo

Más capítulos

A los lectores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sin comentarios
9 Capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status