Share

Bab 5

Penulis: Ora
Keesokan paginya, Richie pergi ke wilayah lain untuk menangani sebuah perselisihan, sementara aku pergi ke rumah sakit untuk mengurus pengunduran diri.

Seorang perawat melihatku dan tampak terkejut. "Dokter Davina, kamu benar-benar akan pergi?"

"Iya, aku akan melanjutkan studi ke Domani," jawabku sambil mengangguk.

"Kalau gitu, kamu harus balik lagi, ya. Kami semua akan sangat rindu." Perawat itu terlihat sangat enggan berpisah.

"Pasti, dong." Aku tersenyum, meski di dalam hati tidak benar-benar yakin.

Masalah aku akan kembali atau tidak, tergantung apakah masih ada sesuatu di sini yang layak untuk dirindukan.

Begitu keluar dari kantor, aku langsung berpapasan dengan Elise.

"Davina, ngapain kamu di sini?" Dia menghalangi jalanku, nadanya mengandung sindiran.

"Apa kamu masih nggak rela melepas Randy dan mau rujuk lagi?"

Aku malas meladeninya dan mencoba melewatinya.

Namun Elise tidak mau berhenti, dia mendorongku. "Kamu pikir, karena menikah sama Richie kamu jadi lebih hebat? Asal tau aja ya, baik dia maupun Randy, dua-duanya lebih cinta sama aku."

Aku kehilangan keseimbangan dan mundur dua langkah. Namun Elise tiba-tiba berteriak dan menjatuhkan dirinya sendiri ke lantai.

"Ah! Perutku! Davina, kenapa kamu dorong aku?" Dia memegangi perutnya dengan wajah sangat kesakitan.

Aku tertegun dan sebelum sempat bereaksi, tiba-tiba seseorang menarikku dengan keras ke samping hingga aku jatuh ke lantai.

Saat kuangkat wajahku, ternyata itu Richie.

Dengan wajah panik, dia mengangkat Elise dan menatapku dengan marah. "Davina, kenapa kamu dorong Elise? Dia sedang hamil!"

"Aku nggak dorong, dia jatuh sendiri." Aku bangkit sambil mengibaskan debu dari tubuhku.

Tak lama kemudian, Randy juga datang. Melihat apa yang sedang terjadi, tatapannya menjadi dingin.

"Davina, kalau sampai terjadi sesuatu sama Elise, aku nggak akan biarin kamu!"

Dua pria itu, demi perempuan yang sama, sekali lagi mengabaikanku begitu saja.

Aku melihat mereka dengan panik membawa Elise ke ruang gawat darurat, dan merasa semua ini begitu konyol sekaligus menyedihkan.

Di kehidupan sebelumnya, Randy juga pernah melindungi Elise seperti ini. Di kehidupan ini, Richie mengulang kesalahan yang sama.

Aku pun berbalik meninggalkan rumah sakit dan kembali ke rumah keluarga Richie.

Begitu masuk, aku melihat Sonya duduk di ruang tamu dengan wajah muram. "Kamu pembawa sial, baru kembali udah buat masalah. Cepat angkat kaki dari rumah ini!"

"Aku memang akan pergi," kataku tenang. "Satu minggu lagi, aku akan meninggalkan Kota Nuyora."

Sonya tertegun, jelas tidak menyangka aku akan setenang itu.

Aku tidak menghiraukannya lagi dan langsung kembali ke kamar.

Lima hari lagi, aku akan benar-benar terbebas dari tempat ini.

Malamnya, Richie pulang. Dia menatapku, suaranya terdengar lelah. "Davina, minta maaf sama Elise."

"Aku nggak salah, kenapa harus minta maaf?" Aku menatapnya.

"Aku lihat dengan mata kepala sendiri kamu dorong dia." Mata Richie dipenuhi kekecewaan. "Dia sedang hamil, kok kamu bisa sekejam itu?"

Melihat dengan mata kepala sendiri? Hatiku terasa perih. Di matanya, aku ternyata orang seperti itu?

"Terus aku harus minta maaf gimana? Berlutut?" tanyaku dengan nada mengejek diri sendiri.

Richie terdiam, seolah membenarkan perkataanku.

Pada saat itu, hatiku benar-benar mati rasa.

"Aku nggak akan minta maaf buat sesuatu yang nggak aku lakuin." Aku pun berbalik masuk ke kamar dan menutup pintu.

Dari luar, terdengar langkah kaki Richie yang berat.

Dia pergi.

Aku bersandar di balik pintu, air mata akhirnya tak bisa kutahan lagi.

Perasaan selama dua kehidupan, semuanya disia-siakan oleh dua pria demi perempuan yang sama.

Sungguh konyol.

Namun aku tidak akan menangis terlalu lama, karena masa depanku tidak pantas dihabiskan untuk orang yang tidak layak.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aku Bukan Wanita Pengganti   Bab 18

    Sepuluh tahun kemudian.Di halaman klinik, pohon akasia itu sudah tumbuh sangat tinggi.Jeff sudah lulus dari fakultas kedokteran dan kembali ke desa, menjadi dokter tetap di klinik.Dia mengenakan jas putih dan sedang memeriksa pasien dengan serius. Tetapi begitu melihatku, dia kembali menunjukkan senyum cerah seperti saat kecil dulu."Mama Davina!" Dia berlari menghampiri, membawa sepucuk surat di tangannya. "Ini dari Nuyora."Aku menerima surat itu dan melihat tulisan tangan Tony yang begitu kukenal di amplopnya.Selama sepuluh tahun, surat darinya tidak pernah terputus, meskipun aku tidak pernah membalasnya.Aku membuka surat itu dan membacanya baris demi baris.[Nona Davina,][Dengan perasaan berat, saya memberitahukan bahwa Bos Richie telah meninggal dunia tiga hari yang lalu.][Bos pergi dengan tenang, dalam tidurnya. Dokter bilang, tubuhnya sebenarnya sudah sangat lemah sejak lama. Bos bisa bertahan selama ini pun sudah merupakan keajaiban.][Menjelang ajalnya, dia meminta saya

  • Aku Bukan Wanita Pengganti   Bab 17

    Setahun kemudian.Pernikahanku dengan James dilangsungkan di Domani, tepat di kafe kecil di tepi Sungai Tabera itu.Pemilik kafe menghias seluruh tempat dengan bunga-bunga, bahkan mengundang band terbaiknya.Moza dan Jeff dari Desa Masahi juga datang khusus dari Afreya.Jeff sudah tumbuh jauh lebih tinggi, mengenakan setelan jas dengan agak canggung, namun tersenyum sangat bahagia.Aku mengenakan gaun putih sederhana, tanpa tudung pengantin yang rumit, hanya menyelipkan setangkai bunga aster kecil di samping rambut.James berdiri di hadapanku, mengenakan jas biru tua. Rambut pirangnya tersisir rapi, meski tetap ada satu helai yang menjuntai bandel."Kamu sangat cantik," katanya pelan.Aku menjawab sambil tersenyum, "Kamu juga nggak kalah."Pendeta membacakan janji pernikahan, aku mendengarnya, namun pikiranku sedikit melayang.Aku teringat pada kehidupan sebelumnya, Davina yang mati di Sungai Harpen.Dia pasti tidak pernah membayangkan, di kehidupan ini, dia akan berdiri di bawah matah

  • Aku Bukan Wanita Pengganti   Bab 16

    Enam bulan kemudian.Proyek bantuan medis telah berakhir, dan aku bersama James kembali ke Domani.Saat pesawat mendarat, aku memandang kota abadi ini dari jendela, dan entah kenapa rasanya seperti pulang ke rumah."Mau ke mana dulu?" tanya James sambil menarik koper, tersenyum padaku.Aku menatap jalanan yang sudah terasa akrab, lalu berpikir sejenak. "Ke kafe di tepi Sungai Tabera."Kafe itu masih ada, dan pemiliknya tetap sang pria tua berambut memutih yang sama.Begitu melihatku, dia melambaikan tangan dengan gembira. "Davina! Kamu sudah kembali! Gimana Afreya?""Bagus sekali." Aku duduk dan memesan segelas Americano dingin.James duduk di seberangku, cahaya matahari jatuh di wajahnya, membuat mata birunya berkilau seperti permata."Davina …." Tiba-tiba dia membuka suara."Ya?""Ada sesuatu yang mau aku bilang."Melihat ekspresinya yang serius, entah kenapa aku merasa agak gugup.James menarik napas dalam-dalam. "Selama enam bulan ini, aku terus menunggu waktu yang tepat. Tapi kemu

  • Aku Bukan Wanita Pengganti   Bab 15

    Hari-hari di Afreya memang terasa sederhana namun penuh makna.Setiap pagi, aku dan James bangun diiringi suara ayam berkokok, lalu setelah membersihkan diri secukupnya, kami mulai menerima pasien.Malaria, tifus, kekurangan gizi … berbagai penyakit yang jarang ditemui di dalam negeri, di sini justru menjadi hal yang biasa.Sebulan kemudian, aku sudah bisa berkomunikasi dengan warga menggunakan bahasa lokal sederhana."Dokter, terima kasih." Seorang anak laki-laki menarik tanganku dan berkata dengan Bahasa Lingua yang terbata-bata.Namanya Jeff. Dia adalah pasien pertama yang kutangani sejak datang ke Afreya. Dia terkena malaria parah yang hampir merenggut nyawanya.Aku berjongkok dan mengusap kepalanya. "Kamu harus minum obat yang teratur, ya."Jeff mengangguk kuat, lalu mengeluarkan gelang anyaman dari sakunya. "Ini buat kamu."Aku menerima gelang sederhana itu. Meski sederhana, pemberian itu sarat dengan ketulusan, dan mataku terasa hangat.Malamnya, aku mengenakan gelang itu di tan

  • Aku Bukan Wanita Pengganti   Bab 14

    Sebulan kemudian, aku berdiri di aula bandara, menggenggam tiket pesawat menuju Kota Neroba di tanganku.James berjalan mendekat sambil menarik koper, lalu menatapku. "Udah kamu pikirin matang-matang?"Aku mengangguk dan menunjukkan tiket itu kepadanya.Dia pun tersenyum, senyum yang lebih cerah dari biasanya.Pengumuman boarding terdengar, kami pun berjalan berdampingan menuju gerbang keberangkatan.Tepat saat itu, terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari belakang."Nona Davina!"Aku menoleh dan melihat Tony berlari ke arahku dengan napas terengah-engah, wajahnya penuh kecemasan."Nona nggak boleh pergi! Bos … dia .…""Ada apa dengannya?"Mata Tony memerah. "Bos ... mencoba bunuh diri. Tadi malam di ruang rawat, dia menyayat pergelangan tangannya pakai pisau kecil yang disembunyiin. Untung perawat segera melihat. Nyawanya berhasil diselamatkan, tapi dia kehilangan banyak darah dan sekarang masih belum sadar."Aku mendengarkannya dengan tenang, tanpa gejolak di hati."Nona Davina, tolo

  • Aku Bukan Wanita Pengganti   Bab 13

    Sebulan kemudian.Musim semi di Domani telah tiba, pohon-pohon di tepi Sungai Tabera mulai menumbuhkan tunas berwarna hijau muda.Aku berdiri di podium fakultas kedokteran, menyelesaikan analisis kasus terakhir.Tepuk tangan meriah terdengar dari bawah, dekan berdiri dengan wajah penuh bangga. "Dokter Davina, performa Anda sangat luar biasa. Saya secara resmi mengundang Anda untuk bergabung dengan tim pengajar dan penelitian di fakultas kami."Aku tersenyum. "Terima kasih, Pak. Ini adalah kehormatan bagi saya."Saat keluar dari ruang rapat, James bersandar di jendela koridor menungguku, di tangannya ada seikat bunga aster kecil."Selamat, ya." Dia menyerahkan bunga itu.Aku menerima bunga itu, menghirup aroma segarnya. "Bagaimana kamu tahu aku sidang hari ini?""Karena aku ingin tahu semua hal tentang dirimu," katanya sambil tersenyum, mata birunya melengkung indah.Kami berjalan berdampingan di dalam kampus, sinar matahari sore menembus dedaunan, menciptakan bayangan cahaya yang berpe

  • Aku Bukan Wanita Pengganti   Bab 12

    Jari-jariku sedikit mengencang."Ada apa?"Suara Tony terdengar cemas. "Bos datang ke Domani untuk mencari Nona, tapi diserang di bandara. Sekarang sedang dalam penanganan darurat di rumah sakit. Sebelum pingsan, Bos terus memanggil nama Nona Davina … aku mohon, datanglah menemui dia."Aku terdiam.

  • Aku Bukan Wanita Pengganti   Bab 6

    Richie tidak bicara denganku selama beberapa hari berikutnya, tetapi juga tidak lagi memintaku untuk minta maaf.Dia pulang tepat waktu setiap hari, membawakan makanan kesukaanku, namun selalu bermalam di ruang tidur tamu.Aku tahu, dia sedang bimbang, tetapi itu sudah tidak ada hubungannya denganku

  • Aku Bukan Wanita Pengganti   Bab 2

    Keesokan paginya, saat aku bangun, Richie sudah pergi mengurus keperluan keluarga.Baru saja keluar dari kamar, aku berpapasan dengan ibu Richie, Bu Sonya.Dia duduk di sofa kulit di ruang tamu, memainkan kalung mutiara hitam di tangannya, lalu menatapku dengan penuh penghinaan."Bangunnya siang ban

  • Aku Bukan Wanita Pengganti   Bab 1

    Di kehidupan sebelumnya, tunanganku, Randy Marco, ketua mafia dari Keluarga Marco, bersumpah di hadapanku akan melindungiku seumur hidup. Namun tak lama kemudian, dia menikah diam-diam dengan sepupuku, Elise.Aku pun menjadi bahan ejekan di seantero dunia mafia Kota Nuyora.Dalam baku tembak sengit

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status