Short
Aku Bukanlah Wadah Pengganti Kakak

Aku Bukanlah Wadah Pengganti Kakak

By:  CianCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapters
6views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Pada hari ulang tahunku yang ke dua puluh dua, tiba-tiba muncul sebuah halaman pemungutan suara di rumah. [Apakah Anda bersedia menukar Nadia Prameswari dengan Alina Prameswari dari dunia paralel?] Ayah dan Ibu memilih bersedia. Mereka berkata, seandainya kakakku tidak meninggal secara tak terduga saat itu, aku pun tidak akan lahir. Jadi, aku berhutang nyawa padanya. Terakhir, halaman itu muncul di ponsel Jevan Pradipta. Jevan adalah pacarku selama lima tahun ini, dia juga pernah diselamatkan oleh kakakku. Aku menatapnya lekat-lekat. Asal dia memberikan jawaban tidak bersedia, aku masih bisa bertahan. Namun, dia terdiam cukup lama, lalu hanya berkata pelan. "Nadia, ini cuma tes." "Dia pernah menyelamatkanku, jadi aku harus membalas kebaikannya." Detik berikutnya, dia pun memilih tombol bersedia. [Semua orang berhasil menentukan pilihan.] [Nadia akan menjalani proses penggantian dalam lima hari.] Ibuku akhirnya menghela napas lega dan mengusap lembut kepalaku. "Nadia, Sayang. Saat kakakmu kembali nanti, Ibu akan mengingat kebaikanmu." Aku menatap mereka dan tiba-tiba tersenyum. "Baiklah." "Semoga yang kembali adalah kakak yang benar-benar kalian inginkan."

View More

Chapter 1

Bab 1

Namun, Ibu bersandar di tepi meja, lalu menghembuskan napas panjang.

"Syukurlah."

Matanya berkaca-kaca, tetapi sudut bibirnya terangkat.

"Alina akhirnya bisa pulang."

Ayah memeluk bahu Ibu sambil berkata, "Hari ini sudah terlalu lama kita nantikan."

Lilin di atas kue belum juga ditiup.

Aku berdiri di tempat, telingaku berdengung.

"Terlalu lama dinantikan, sejak kapan?"

Ibu mendongak menatapku, sorot matanya tampak berubah sesaat, lalu menjawab.

"Mungkin sejak usiamu enam tahun."

"Waktu itu, kau sudah semakin tidak mirip dengannya."

Aku tanpa sadar menelan ludah, namun justru tersedak ke tenggorokan.

Aku terbatuk-batuk hingga membungkuk, sampai air mataku pun keluar.

Namun, tak ada seorang pun yang melirikku.

Sejak usia enam tahun, Ibu selalu bilang aku tidak mirip kakakku.

Dia mengeluarkan gaun putih milik kakak dan menyuruhku memakainya.

Gaun itu terlalu kecil, kerahnya begitu ketat hingga mencekikku sampai susah bernapas, sementara ujung lengannya juga mencengkeram erat lenganku.

Ibu mengernyitkan dahi dan menatapku dengan penuh kecewa dan rasa tidak suka.

"Waktu Alina memakainya tidak seperti ini."

Dia berulang kali memutar rekaman video kakakku saat masih hidup untukku.

Saat baru menonton setengahnya, dia akan menekan tombol jeda.

"Alina tidak memperlihatkan giginya saat tersenyum."

"Cara Alina memegang pulpen seperti ini."

"Suara Alina saat berbicara sangat lembut."

Karena itu, setiap hari aku menirunya.

Aku bahkan bisa menata rambut seperti gaya rambut kakakku di foto dengan mata terpejam.

Gerakan dan cara bicara kakakku dalam video bahkan sudah kuhafal lebih baik daripada materi pelajaran.

Aku berusaha keras mengubah diriku menjadi seperti kakak.

Kupikir, selama aku bisa semakin mirip walaupun sedikit demi sedikit, Ayah dan Ibu akan menjadi lebih bahagia.

Namun, seserius apa pun aku belajar menirunya, setiap kali mereka menatapku, mereka tetap menggelengkan kepala dengan perasaan kecewa.

"Masih tidak mirip."

"Jauh sekali."

Suatu kali, setelah mengenakan gaun putih itu, aku menunduk memanggil Ibu dengan meniru gaya kakakku.

Dia menatapku cukup lama, lalu air matanya tiba-tiba jatuh.

"Nadia, jangan meniru lagi."

"Sekalipun kau menirunya dengan sama, kau tetap bukan dia."

Malam itu, aku bersembunyi di balik selimut dan menangis sepanjang malam.

Keesokan harinya, seperti biasa, aku menghafal seluruh video kakakku dari awal sampai akhir.

Kemudian, Jevan-lah yang menarikku keluar dari kehidupan seperti itu.

Saat SMA, dia melihatku sedang menghafal buku harian lama kakakku di koridor, lalu merebutnya dan membuangnya ke tempat sampah.

Dia berkata, "Nadia, kau bukan bayangan siapa pun."

Kalimat itu menopang hidupku selama bertahun-tahun.

Jadi, saat halaman itu muncul di ponselnya barusan, aku masih menyimpan secuil harapan konyol di hati.

Tetapi, dia tetap saja menekan bersedia.

Aku menatapnya.

"Jevan, apa kau juga merasa aku harus ditukar untuk menggantikannya?"

Jakunnya bergerak naik-turun, dan matanya menghindar dari tatapanku.

"Nadia, ini cuma tes."

"Belum tentu berhasil."

Ujung lidahku mendadak terasa kebas.

"Kalau begitu, saat kau memilih setuju, apa kau pernah memikirkanku?"

Dia mengerutkan kening.

"Apa kau bisa berhenti berbicara dengan nada seperti itu?"

"Tante sudah cukup menderita."

"Dia cuma terlalu merindukan kakakmu."

Ayah mengambil kartu identitasku dari dalam tas.

Aku mengulurkan tangan untuk mencegahnya.

Dia mendorongku menjauh.

"Nanti akan dipakai setelah Alina pulang."

Aku menatap matanya dan bertanya, "Lalu, bagaimana denganku?"

Ayah mengunci laci itu dan menjawab dengan nada tidak sabar.

"Kalian itu saudara kandung."

"Jangan terlalu perhitungan pada hal-hal seperti ini."

Aku kembali ke kamar dan mengeluarkan ijazah universitas.

Begitu ujung jari menyentuh namaku, tulisan hitam itu tiba-tiba seolah larut terkena air.

Nama Nadia perlahan memudar.

Dan, nama Alina perlahan muncul.

Wajah dalam foto itu tampak seperti diselimuti kabut, hanya tersisa garis besarnya saja.

Aku menatap beberapa kata itu, sampai lupa berkedip.

Baru setelah mataku terasa kering dan perih, aku perlahan menutup mata.

Detik berikutnya, air mata mengalir di pipiku.

Pintu didorong terbuka.

Ibu melihat ijazah itu, sorot matanya tiba-tiba berbinar.

"Alina tidak punya kesempatan tumbuh dewasa."

"Sekarang bisa dibilang sudah terbalas."

Wajahku basah oleh air mata, aku mendongak menatapnya.

"Bu, bagaimana kalau aku benar-benar akan mati?"

Jari-jarinya mencengkeram kusen pintu, kukunya mengeluarkan bunyi gesekan yang pelan.

Setelah beberapa saat, dia berkata, "Jangan bicara hal-hal yang tidak baik."

Setelah pintu tertutup, aku perlahan merosot duduk di lantai, memeluk lutut erat-erat dan membenamkan wajahku di sana.

Di grup obrolan keluarga, Ibu baru saja mengubah nama kontakku.

Dari "Nadia" menjadi "Wadah Alina".

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status