LOGINPada hari ulang tahunku yang ke dua puluh dua, tiba-tiba muncul sebuah halaman pemungutan suara di rumah. [Apakah Anda bersedia menukar Nadia Prameswari dengan Alina Prameswari dari dunia paralel?] Ayah dan Ibu memilih bersedia. Mereka berkata, seandainya kakakku tidak meninggal secara tak terduga saat itu, aku pun tidak akan lahir. Jadi, aku berhutang nyawa padanya. Terakhir, halaman itu muncul di ponsel Jevan Pradipta. Jevan adalah pacarku selama lima tahun ini, dia juga pernah diselamatkan oleh kakakku. Aku menatapnya lekat-lekat. Asal dia memberikan jawaban tidak bersedia, aku masih bisa bertahan. Namun, dia terdiam cukup lama, lalu hanya berkata pelan. "Nadia, ini cuma tes." "Dia pernah menyelamatkanku, jadi aku harus membalas kebaikannya." Detik berikutnya, dia pun memilih tombol bersedia. [Semua orang berhasil menentukan pilihan.] [Nadia akan menjalani proses penggantian dalam lima hari.] Ibuku akhirnya menghela napas lega dan mengusap lembut kepalaku. "Nadia, Sayang. Saat kakakmu kembali nanti, Ibu akan mengingat kebaikanmu." Aku menatap mereka dan tiba-tiba tersenyum. "Baiklah." "Semoga yang kembali adalah kakak yang benar-benar kalian inginkan."
View MorePada hari kelima di dunia paralel, aku menerima permintaan panggilan dari keluarga asal.Aplikasi itu melayang di udara.[Ibu, Ayah, dan Jevan mengajukan permintaan untuk menghubungi Anda kembali.][Apakah Anda ingin menerima panggilan?]Aku duduk di tepi jendela, memeluk kucing jingga yang baru datang.Sinar matahari menyinari punggung tanganku.Di sana tidak ada tampilan transparan, juga tidak ada hitungan mundur.Alya sedang mengupas apel untukku.Dia melihat pemberitahuan itu, lalu berhenti sejenak."Nadia, kau yang putuskan."Surya masuk sambil membawa susu hangat."Kalau mau bertemu, kami akan menemanimu.""Kalau tidak mau, tidak ada yang bisa memaksamu."Aku menunduk melihat layar.Di bagian paling bawah daftar permintaan, ada nama Alina.Aku mengetuk namanya.Dia tidak memohon padaku untuk kembali.Hanya ada beberapa baris kalimat.[Nadia, maafkan aku.][Aku akan bilang pada mereka, kita berdua bukanlah alat.][Dokter bilang aku bukan anak nakal.][Kau juga bukan pengganti.]Ma
Saat Ayah menemukan pintu masuk Pusat Riset Dunia Paralel, hari sudah larut malam.Ibu duduk di depan komputer, matanya memerah dan tampak mengerikan.Dia mengetikkan namaku.[Nadia Prameswari.]Halaman itu memproses cukup lama.Akhirnya muncul tulisan berwarna merah.[Hubungan kekerabatan di dunia asal telah diputus.][Pihak yang digantikan telah secara sukarela melepaskan hak untuk membatalkan keputusan.][Tidak dapat dipanggil kembali.]Ibu terus-menerus memuat ulang halaman itu.Jari-jarinya menekan papan ketik dengan keras sambil berkata."Tidak mungkin." "Dia anak kandungku.""Bagaimana mungkin dia tidak bisa dipanggil kembali?"Aplikasi itu menjawab dengan dingin.[Ikatan keluarga terputus.][Keluarga asal tidak berhak mengajukan permohonan.]Ayah tiba-tiba menoleh ke arah Jevan."Jevan, kau coba." "Dia paling peduli padamu."Tangan Jevan gemetar, nyaris tidak bisa memegang ponselnya.Dia masuk ke akunnya sendiri.Layar menyala.[Anda pernah mengonfirmasi penggantian.][Tidak
Keluarga Prameswari akhirnya menyadari bahwa Alina yang mereka bawa kembali bukanlah sosok yang mereka bayangkan.Dia tidak mau berfoto dengan gaun putih.Tidak mau duduk di depan kue sambil tersenyum.Tidak mau memanggil Jevan dengan sebutan "Kakak", juga tidak mau patuh dan memakan makanan yang mereka siapkan.Dia takut dengan pelukan yang tiba-tiba.Benci aroma parfum.Tirai tidak boleh dibuka sepenuhnya, dan volume televisi tidak boleh lebih dari dua puluh.Awalnya, Ibu masih bersabar membujuknya."Alina, Ibu tahu kau sudah menderita di sana.""Tapi kau juga harus perlahan beradaptasi."Alina menutup telinganya, wajahnya terbenam di bantal sambil menjawab."Aku memang selalu seperti ini.""Justru kalian yang belum pernah beradaptasi denganku."Wajah Ibu langsung membeku.Dia ingin membantah, tetapi teringat kalimat "Spektrum autisme" di surat itu.Dulu dia menyembunyikan surat diagnosis tersebut dan membuang lembar latihan intervensi yang diberikan dokter.Dia saat itu hanya bilang
Pada hari ketiga sejak Alina kembali, Keluarga Prameswari sudah tak sanggup lagi menahannya.Dia tidak mau tidur di tempat tidurku.Katanya aromanya terlalu menyengat, seprai terlalu merah muda, dan lampunya terlalu terang.Ibu mematikan lampu, tetapi dia malah memegangi kepalanya sambil gemetar.Karena kesal, Ayah menyalakan lampu ruang tamu, dan bertanya dengan frustasi."Kalau begitu, kau maunya apa?"Alina meringkuk di sudut dengan napasnya yang semakin terengah-engah."Jangan berteriak." "Telingaku sakit."Ibu menangis karena cemas."Alina, Ibu menjemputmu pulang bukan untuk menyiksa dirimu sendiri."Alina mengangkat kepalanya, dan menjawab."Aku tidak menyiksa diri." "Aku sakit."Saat kalimat itu jatuh, tangisan Ibu terhenti.Seolah-olah dia baru pertama kali mendengar dua kata itu.Saat makan malam, Ibu memasak hidangan laut dan daging sapi dengan daun ketumbar."Dulu waktu kecil kau suka makan ini."Begitu mencium baunya, Alina langsung merasa mual dan wajahnya berubah pucat






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.