Share

Bab 3

Penulis: Richy
Aku panik setengah mati. Ini bukan teman masa kecil, tapi segerombolan penjudi.

Jangankan delapan juta, uang tunai delapan ratus pun diriku tak punya. Biasanya aku tak pernah membawa uang tunai.

Aku benar-benar tak punya pilihan sekarang.

Suamiku yang berdiri di samping mulai mendesak dengan nada kesal.

“Sudahlah, Lisa, jangan banyak bicara lagi. Diam saja di sana dan biarkan temanku merabamu sebentar, nggak akan merugikan kamu kok.”

Usai dia berbicara, tangan si rambut cepak langsung masuk ke dalam kerah bajuku.

Asetku yang montok itu ditekan dan diubah-ubah bentuknya dalam genggamannya, terasa sangat kenyal.

Ini pertama kalinya bagian pribadiku disentuh oleh orang asing. Rasanya tulang-tulangku seperti melunak, bagian sensitifku pun tak tahan dan mulai menegang.

“Kamu menikmatinya? Dasar jalang, rasanya enak, ’kan?”

Tangan si rambut cepak semakin bertenaga, meremas kedua dadaku dengan semena-mena.

Antara malu dan gairah, seluruh pori-poriku seakan terbuka lebar, rakus menikmati belaian itu.

Tanpa sadar, aliran hangat kembali keluar dari tubuhku.

“Uhh... pelan sedikit.”

Tenggorokanku tak sanggup menahan erangan lembut yang menggoda.

Ketiga teman suamiku yang mendengarnya langsung tertawa terbahak-bahak.

“Nggak disangka, ternyata kakak ipar sensitif sekali. Baru diraba sebentar saja sudah hampir nggak tahan.”

Mendengar mereka membicarakan tubuhku yang sensitif, aku merasa bergairah.

Secara reflek, aku melepas jaketku, memperlihatkan lekuk tubuh yang sempurna.

Kerah bajuku yang berantakan menampakkan buah dadaku yang putih, terlihat montok dan sexy.

Ketiga pria itu menatapku dengan mata terbelalak. Mereka tampak ingin segera menerkamku.

Namun, suamiku memanggil mereka kembali ke meja untuk lanjut bermain.

“Ayo, ayo! Malam ini kita harus main sampai pagi!”

Sementara itu, aku berbaring di ranjang. Sensasi sentuhan si rambut cepak masih terasa di kulitku dan otakku mulai berfantasi tentang adegan saat diriku dipaksa oleh mereka.

Tubuhku yang memang sudah haus, ditambah lagi baru saja diraba-raba, terasa semakin membara.

Jika tidak segera dilepaskan, rasanya seluruh organ dalamku akan hangus terbakar.

Di bawah selimut, tanganku perlahan menyelinap masuk.

Huh, akhirnya tubuhku terasa lebih nyaman, tapi ini masih jauh dari cukup. Aku benar-benar ingin merasakan pria yang perkasa.

Tak lama kemudian, tiba-tiba suamiku berdiri dengan nada suara yang sangat marah.

“Sialan! Kok putaran ini kalah lagi! Dua puluh juta habis semua!”

Aku terkejut. Mereka bermain terlalu gila sampai taruhannya mencapai angka puluhan juta.

Ketiga temannya pun ikut berdiri.

“Kak Robert, kamu sudah janji pada kami. Malam ini, biarkan istrimu memuaskan kami dan utang dua puluh juta ini akan dianggap lunas.”

Suamiku menunduk dan mengibaskan tangan, tanda bahwa dia menyetujuinya.

Ketiganya pun langsung berjalan menghampiriku.

Aku tersentak kaget. Tadi demi memuaskan diri sendiri, aku bahkan melepas celanaku. Jika ini sampai terlihat, aku pasti akan sangat memalukan.

Untungnya celana dalamku masih ada di lutut, jadi aku segera memakainya kembali.

Mereka bertiga sudah sampai di depan ranjangku.

“Kak, barusan Kak Robert kalah dua puluh juta. Malam ini, kamu adalah alat untuk membayar utangnya.”

Aku menatap mereka dengan ketakutan, tapi di dalam hatiku merasa sangat bergairah. Detik berikutnya, si rambut cepak menyingkap selimutku.

Dua kaki jenjang yang putih dan mulus terpampang nyata di depan mata mereka. Di celana dalamku terlihat bercak basah yang jelas.

“Ja… jangan! Hal seperti ini nggak boleh dilakukan sembarangan!” Aku berusaha merapatkan kedua kakiku sekuat tenaga, mencoba menyembunyikan jejak di celana dalamku.

Namun, dua orang temannya, satu di kiri dan satu di kanan, membuka paksa kakiku dengan kasar.

Si rambut cepak berlutut di antara kedua kakiku, matanya menatap lekat-lekat ke arah sana.

“Kak, kamu bahkan sudah begitu basah, pasti sangat menginginkannya, ‘kan?”

Aku meronta dengan hebat, tapi tubuhku dikunci rapat oleh mereka hingga tak bisa bergerak sedikit pun.

Si rambut cepak mencengkeram celana dalamku dengan kuat dan melepaskannya!

Seketika, aku merasa bagian bawahku terasa dingin, terpapar sepenuhnya di depan mata mereka.

Si rambut cepak melepas celananya sendiri, mengeluarkan benda miliknya yang sebesar milik keledai tepat di hadapanku.

Ukurannya benar-benar luar biasa besar. Tubuhku sudah tak bisa menahan diri lagi, cairan hangat terus mengalir keluar.

“Lihat, kamu bahkan sudah begitu basah, jangan memaksakan diri lagi.”

Kemudian, kedua tangannya menyangga bokongku, mengangkat pinggangku hingga mengantung, tepat mengarah pada benda miliknya itu.

Detik berikutnya, dia membungkukkan punggungnya dan menghujamkan miliknya dengan kuat ke dalam….
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aku Dijadikan Jaminan Oleh Suamiku   Bab 7

    Dia melangkah maju mendekati si rambut cepak langkah demi langkah, “Jari telunjuk kananmu ada luka lama. Setiap kali kamu memegang kartu tertentu, sendimu akan menekuk secara nggak sadar. Tadi saat di dalam kamar, aku melihatnya dengan sangat jelas.”Seketika, wajah si rambut cepak menjadi pucat. Secara reflek, dia menyembunyikan tangan kanannya, tapi sudah terlambat.“Dan satu lagi….”Suamiku melanjutkan, “Kalian sengaja memancingku agar aku minum banyak alkohol, sampai otakku nggak bisa berpikir jernih. Sejak awal sampai akhir, permainan ini adalah jebakan yang kalian rencanakan!”Ketiga teman masa kecilnya itu saling pandang, jelas tidak menyangka suamiku bisa menganalisis situasi dengan begitu tenang.“Kalian mau istriku menemani kalian, ‘kan?” Tiba-tiba, suara suamiku meninggi, “Emangnya kalian pantas? Orang-orang sampah seperti kalian bahkan nggak pantas untuk dia!”Akhirnya, si rambut cepak panik. Dia langsung berlutut di lantai dan memohon, “Robert, ini salahku! Aku hanya khila

  • Aku Dijadikan Jaminan Oleh Suamiku   Bab 6

    Aku menepuk bahunya dan menghibur, “Sayang, kamu nggak perlu bayar uang itu.”Dia menatapku dan bertanya, “Kamu tahu apa, sih? Meski ini uang judi, tapi utang tetap harus dibayar.”Barulah aku mengeluarkan ponselku, membuka video yang kurekam tadi malam dan memperlihatkan taktik si rambut cepak saat memberikan kode untuk menipu uang pada suamiku.Melihat itu, suamiku langsung tersadar.Matanya terbelalak, tubuhnya gemetar karena marah, “Dasar bajingan! Ternyata mereka sudah merencanakan jebakan ini sejak awal!”Aku menggenggam erat tangannya dan berbisik, “Jangan takut. Sekarang kita punya bukti, mereka nggak akan berani macam-macam lagi.”Siang harinya, si rambut cepak dan teman-temannya datang untuk menagih utang.Begitu masuk rumah, mereka langsung berteriak minta uang.“Robert, mana uang yang kalah tadi malam? Kamu jangan coba-coba lari dari tanggung jawab, ya!”Mendengar keributan itu, kami pun segera keluar.Ketiga teman masa kecilnya itu sudah berdiri di depan pintu.Ibu mertua

  • Aku Dijadikan Jaminan Oleh Suamiku   Bab 5

    Aku diam-diam mengeluarkan ponsel, lalu merekam seluruh proses gerakan kode rahasia mereka saat mengeluarkan kartu.Aku mengarahkan kamera tepat ke arah jari si rambut cepak, merekam seluruh proses mereka bermain kartu.Telapak tanganku sudah penuh keringat dingin, tapi aku memaksa diriku untuk tetap tenang.Setelah rekaman selesai, aku segera mencadangkan video tersebut dan memasang kata sandi.Dalam hati aku berencana, besok pagi video ini akan kutunjukkan pada ibu mertua.Ternyata mereka yang katanya teman masa kecil ini, dengan kedok main kartu bersama, sebenarnya berniat menguras habis harta keluarga kami.Aku menatap mata suamiku yang memerah, tapi tetap tak mau berhenti bermain. Tenggorokanku terasa tercekat, tapi aku tidak lagi membujuknya. Dia tahu dirinya salah, tapi dia sudah terjebak terlalu dalam. Sekarang, dibujuk seperti apapun tidak akan berguna.Dia bahkan sampai tega membiarkan tubuhku dijual untuk melunasi utangnya.Aku menatap tumpukan lembaran merah di atas meja d

  • Aku Dijadikan Jaminan Oleh Suamiku   Bab 4

    Suamiku ada di samping, tapi dia memalingkan wajah ke arah lain, tak sanggup melihat apa yang terjadi.Di sisi lain, dalam hatiku justru merasa sangat bergairah. Aku memejamkan mata rapat-rapat.Menantikan badai yang akan menerjangku.Tiba-tiba….Terdengar suara ibu mertuaku di luar pintu.“Robert, kalian jangan main terlalu malam, cepatlah istirahat.”Sontak, ketiga temannya itu langsung menutupiku dengan selimut dan si rambut cepak dengan secepat kilat menaikkan celananya.Tepat saat itu, ibu mertua mendorong pintu dan masuk. Melihat mereka bertiga berdiri di samping ranjangku, dia pun bertanya, “Apa yang kalian lakukan? Kok semuanya berdiri di depan ranjang Lisa?”Suamiku tampak panik dan langsung mencari-cari alasan.“Oh, nggak… nggak ada apa-apa. Kami hanya lelah main kartu, jadi mau istirahat sebentar.”Ibu mertua bukan orang bodoh, dia jelas merasa ada yang tak beres.Dia pun berjalan mendekat ke arahku.Ketiga temannya itu sudah ketakutan setengah mati. Jika sampai ketahuan, m

  • Aku Dijadikan Jaminan Oleh Suamiku   Bab 3

    Aku panik setengah mati. Ini bukan teman masa kecil, tapi segerombolan penjudi.Jangankan delapan juta, uang tunai delapan ratus pun diriku tak punya. Biasanya aku tak pernah membawa uang tunai.Aku benar-benar tak punya pilihan sekarang.Suamiku yang berdiri di samping mulai mendesak dengan nada kesal.“Sudahlah, Lisa, jangan banyak bicara lagi. Diam saja di sana dan biarkan temanku merabamu sebentar, nggak akan merugikan kamu kok.”Usai dia berbicara, tangan si rambut cepak langsung masuk ke dalam kerah bajuku. Asetku yang montok itu ditekan dan diubah-ubah bentuknya dalam genggamannya, terasa sangat kenyal.Ini pertama kalinya bagian pribadiku disentuh oleh orang asing. Rasanya tulang-tulangku seperti melunak, bagian sensitifku pun tak tahan dan mulai menegang.“Kamu menikmatinya? Dasar jalang, rasanya enak, ’kan?”Tangan si rambut cepak semakin bertenaga, meremas kedua dadaku dengan semena-mena.Antara malu dan gairah, seluruh pori-poriku seakan terbuka lebar, rakus menikmati bela

  • Aku Dijadikan Jaminan Oleh Suamiku   Bab 2

    Aku membungkuk dan menunggingkan bokong, tatapan mereka begitu panas, serempak menatap tajam ke arah kerah bajuku yang melorot.Aku memakai sweter rajut berleher bulat yang agak longgar, jadi saat membungkuk asetku yang montok itu terpampang jelas.Seketika, suasana menjadi hening. Mereka bertiga tanpa malu-malu mengintipku tepat di depan suamiku sendiri, membuat sekujur tubuhku terasa bergejolak.Saat menunduk, aku baru sadar kalau celana teman-teman suamiku itu sudah menegang.Ukurannya luar biasa hebat, tonjolan mereka bertiga sangat tinggi, jauh lebih hebat daripada milik suamiku.Seketika, aku merasa malu, tak menyangka kalau daya tarikku begitu besar sampai bisa membuat tiga orang sekaligus bereaksi. Saat menungging untuk menuangkan air ke gelas teman yang terakhir, aku merasakan sebuah tangan tangan besar meraba pangkal pahaku! Dan tangan itu perlahan bergerak naik!Meskipun aku memakai legging, tapi jenis ini cukup tipis, sehingga rasanya hampir seperti menyentuh kulitku lang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status