LOGIN“Kak, ayo nurut saja, buka kakinya. Tubuhmu akan jadi milik kami malam ini.” Malam tahun baru, suamiku kalah main kartu dengan tiga teman masa kecilnya dan dia malah menjadikan diriku sebagai taruhan untuk membayar utang. Ketiga pria kasar dari desa ini belum pernah melihat wanita kota cantik sepertiku dan mereka langsung diliputi nafsu. Aku memberontak sekuat tenaga, tapi mereka mencengkeram dan membuka paksa kedua kakiku ke kiri dan ke kanan. Di bawah tekanan dan rangsangan yang begitu hebat, tubuhku tak bisa menahan aliran hangat yang keluar begitu saja. “Patuhlah, jalang sepertimu memang pantas untuk memuaskan kami.” Lalu, mereka merobek pakaian dalamku yang sudah basah kuyup. ….
View MoreSederet pelayan berjejer di pekarangan mansion milik keluarga Morgan. Keluarga Fenomenal yang mendapatkan hak khusus dari pemerintah, Alexander mendapatkan penghargaan dari dua negara sekaligus, dalam aksi penghentian Nuklir Rusia yang di serang Cyberterrorist.
Mereka tersenyum tipis, memerhatikan tiga buah mobil jenis SUV masuk ke dalam pekarangan, dan menyambut ramah atas kedatangan tamu yang di undang hari ini, Sabtu 12 Januari 2019.
"Sir, kita sudah sampai!"ucap seorang wanita cantik dengan pakaian abu-abu gelap. Menatap tegas, tanpa berpaling dari arah pelayan yang berjalan mendekat, sekadar memberi penghormatan.
Dua puluh detik kemudian, seorang pria tegap dengan rambut hitam lebat keluar dari mobil setelah seseorang membukakan pintu untuknya. Jesus! Dia terlihat seperti pangeran tampan, kekar dengan balutan kemeja putih dan celana kain coklat. Rahang tegasnya ditumbuhi bulu halus, menutupi bibir merah yang sensual.
"Morning sir,"sambut kepala pelayan, mempersilakan pria tersebut masuk.
"Wait here!"ucap pria tersebut pada seluruh bodyguard dan asisten cantiknya. Taylor Britania.
"Welcome home, Markus!"sambut pemilik Mansion dengan senyuman lebar.
"Alexander. No! Ini bukan rumah, tapi istana!"ucap Markus ramah.
"Kau berlebihan untuk mengatai mansion kecilku ini,"balas Alexander menarik pinggul seorang wanita yang sejak tadi terdiam, hanya melempar senyuman kecil yang ikut menyambut.
"Kenalkan dia istriku, Lorna Morgan!"
"Sepertinya kau bukan hanya mengganti nama marga istrimu, tapi menyingkatnya!"kekeh Markus melihat Lorna sedikit menunduk dengan senyuman yang menawan.
"Aku hanya tidak ingin semua orang tahu nama lengkap istriku,"balas Alexander seraya mempersilakan pria itu duduk di sofa mahalnya, dan melihat pelayan menyuguhkan air serta camilan yang cukup banyak.
"Yah! Aku pahami kekhawatiran mu, Alexander. Hanya kau, pengusaha yang memiliki kekayaan di atas 300 miliar dollar, aku yakin, ada banyak tangan yang ingin mengambil pundi-pundi uang tersebut,"balas Markus seraya melempar senyuman khas.
"Belum seberapa, aku harus lebih naik,"balas Alexander angkuh. Hingga ia merasakan Lorna mencubit lengannya sedikit.
"Ah ya, dimana putrimu, Caroline?"tanya Markus, mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan besar yang memiliki plat emas di tiap sudut dinding nya. Khas keluarga Morgan yang selalu lekat dengan emas.
"Sebentar lagi dia akan turun,"ucap Alexander, melirik ke arah Lorna dan melihat wanita itu mengerutkan keningnya rapat.
"Aku akan menjodohkan nya dengan Caroline,"jelas Alexander tegas.
"What?"
"Kau tidak memberitahu istrimu sebelumnya, Alexander?"tanya Markus, menangkap kegusaran Lorna.
"Kejutan, dia akan suka jika putrinya hidup—"
"Dad..."tegur Caroline saat ia baru saja keluar dari elevator kaca yang ada di kanan ruang tamu.
"Hey Queen, kemari lah,"ucap Alexander menepuk sudut kursi yang ada di sebelahnya. Namun, Caroline lebih memilih untuk duduk di tempat lain, sedikit lebih jauh.
Lorna tampak gusar, ia melepaskan pautannya dari Alexander dan menatap wajah Caroline dan Markus bergantian. "Apa yang ingin kau bicarakan denganku, dad?"tanya Caroline memecah keheningan, membuat Markus melempar senyuman bersahabat nya kembali.
"Caroline, kau tahu siapa Markus kan? Dia—"
"Pengusaha coklat yang bisa terkenal—"
"Pengusaha terkaya yang ada di Italia, dan Markus memiliki—"
"Jadi, apa tujuan nya dad?"potong Caroline menampilkan sikap dingin dari nya. Ia cukup tahu, keinginan daddy nya.
"Menjodohkan mu dengannya,"jelas Alexander, Caroline langsung berdiri, menatap ke arah Markus tajam.
"Are you crazy? Kau ingin aku menikahi lelaki tua yang umurnya mungkin setengah abad, dad?"tanya Caroline asal, membuat Alexander merasa tidak enak.
"Caroline! Aku tidak pernah mengajarimu—"
"Alexander kau tidak perlu memaksanya!"ucap Markus.
"Yes! Kau benar, siapa namamu tadi? Kukus, bungkus, atau siapapun itu terserahlah."
"Markus!"
"Maksudku begitu, saran ku cari wanita yang seumuran mu, kau punya segalanya dan kau bisa mendapatkan apa yang kau—"
"Caroline!"sentak Alexander lantang hingga gadis itu melirik tegas ke arahnya.
"Alexander sudahlah, kembali ke kamarmu Caroline,"ucap Lorna memberi pengertian agar tidak terjadi pertengkaran yang lebih besar untuk kesekian kalinya.
"Aku harap ini terakhir kalinya, dad!"ucap Caroline melirik ke arah Markus sejenak. "I'm sorry!"ucapnya pelan, lantas, memutar tubuhnya untuk segera menjauhi semua orang dengan tangan terkepal.
"Maaf atas tingkah putriku,"ucap Lorna tanpa menunggu Alexander yang mengatakannya.
"Tidak masalah, aku yang menawarkan diri untuk mengenal putrimu, Caroline benar, aku harusnya menikahi wanita seusiaku,"ucap Markus membuat Lorna mengangguk pelan.
Tap!!
Elevator kembali terbuka, membuat semua orang menoleh ke arah benda tersebut termasuk Markus. Pria itu terdiam, saat melihat sosok gadis dengan rambut hitam pekat, ia tersenyum kecil lantas menyorot ruangan dengan mata hijaunya yang indah. Megan Axtar Hodgue.
"Gadis itu, apa dia anakmu, Alexander?"tanya Markus tanpa mengalihkan perhatiannya sedetikpun.
"Bukan. Dia anak sahabatku, kami tinggal bersama sejak dia kecil,"ucap Lorna mengambil alih pembicaraan. Melirik Markus yang menatap sosok gadis itu hingga hilang dari pandangannya. Sial! Jantung nya berdebar cepat, hanya karena senyuman yang baru saja ia lihat. Tidak seperti biasanya.
"Mr. Grint,"tegur Lorna membuat Markus kembali menoleh dengan keadaan salah tingkah.
"Ah ya! Sepertinya mansion ini cukup ramai,"balas Markus pelan, sambil menelan ludahnya dan menahan napas.
"Lain kali kita bisa bicara lagi,"ucap Alexander mulai muak dengan interaksi antara Markus dan Lorna. Ia masih bersikap posessif, bahkan sangat-sangat ketat pada wanita tersebut.
"Sure, yang jelas tidak untuk perjodohan putrimu,"kekeh Markus, membuat Alexander melebarkan senyuman hangat.
"Mau ku antar kau keluar?"tanya Alexander datar, Markus mengangguk dan segera berdiri dari tempatnya.
"Thanks Mrs. Morgan atas jamuan nya,"ucap Markus.
"Kau tidak menyentuhnya sedikitpun,"balas Lorna melebarkan senyumannya. Hingga mendapatkan lirikan tajam dari Alexander. Markus mengulum senyuman dan mulai melangkah untuk meninggalkan mansion.
"Senang kau bisa berkunjung ke mansion ku, Markus,"ucap Alexander saat ia berada di pintu besar yang terbuka lebar.
"Yah! Aku juga senang karena kau mengundangku ke istana ini,"Markus mengeluh pelan, melihat Alexander mengangguk datar. Hingga ia memutar tubuh dan mulai berjalan menjauh bersama bodyguard nya.
Deg!!
Markus berhenti melangkah, saat kembali melihat gadis yang ia lihat di dalam tadi berdiri di sudut tangga, sibuk dengan ponselnya. "Okay, aku akan ke sana sebentar lagi,"ucap Megan di panggilan telpon, ia mematikan panggilan dan melirik ke arah Markus.
"Hay si—"ucapan Markus terputus, saat Megan memutar bola matanya malas. Lalu menuruni anak tangga. Megan memasuki sebuah sportcar Pagani Huayra Roadster tanpa atap berwarna blue metalic, memutar kemudi mobil nya dengan cepat dan lebih dulu meninggalkan mansion.

"Cari informasi gadis ini lebih banyak!"pinta Markus tegas, seraya mengusap foto pajangan tersebut.
"Baik, sir. Aku akan melaporkannya dalam dua jam,"ucap Taylor pelan, meraih iPad nya kembali dari tangan Markus, dan mereka mulai bergerak menuju mobil lalu beranjak pergi.
•••••••
Jangan lupa berikan Rate dan Komen yang membangun yah. Terimakasih.
Follow Instagram shineamanda9
••
Dia melangkah maju mendekati si rambut cepak langkah demi langkah, “Jari telunjuk kananmu ada luka lama. Setiap kali kamu memegang kartu tertentu, sendimu akan menekuk secara nggak sadar. Tadi saat di dalam kamar, aku melihatnya dengan sangat jelas.”Seketika, wajah si rambut cepak menjadi pucat. Secara reflek, dia menyembunyikan tangan kanannya, tapi sudah terlambat.“Dan satu lagi….”Suamiku melanjutkan, “Kalian sengaja memancingku agar aku minum banyak alkohol, sampai otakku nggak bisa berpikir jernih. Sejak awal sampai akhir, permainan ini adalah jebakan yang kalian rencanakan!”Ketiga teman masa kecilnya itu saling pandang, jelas tidak menyangka suamiku bisa menganalisis situasi dengan begitu tenang.“Kalian mau istriku menemani kalian, ‘kan?” Tiba-tiba, suara suamiku meninggi, “Emangnya kalian pantas? Orang-orang sampah seperti kalian bahkan nggak pantas untuk dia!”Akhirnya, si rambut cepak panik. Dia langsung berlutut di lantai dan memohon, “Robert, ini salahku! Aku hanya khila
Aku menepuk bahunya dan menghibur, “Sayang, kamu nggak perlu bayar uang itu.”Dia menatapku dan bertanya, “Kamu tahu apa, sih? Meski ini uang judi, tapi utang tetap harus dibayar.”Barulah aku mengeluarkan ponselku, membuka video yang kurekam tadi malam dan memperlihatkan taktik si rambut cepak saat memberikan kode untuk menipu uang pada suamiku.Melihat itu, suamiku langsung tersadar.Matanya terbelalak, tubuhnya gemetar karena marah, “Dasar bajingan! Ternyata mereka sudah merencanakan jebakan ini sejak awal!”Aku menggenggam erat tangannya dan berbisik, “Jangan takut. Sekarang kita punya bukti, mereka nggak akan berani macam-macam lagi.”Siang harinya, si rambut cepak dan teman-temannya datang untuk menagih utang.Begitu masuk rumah, mereka langsung berteriak minta uang.“Robert, mana uang yang kalah tadi malam? Kamu jangan coba-coba lari dari tanggung jawab, ya!”Mendengar keributan itu, kami pun segera keluar.Ketiga teman masa kecilnya itu sudah berdiri di depan pintu.Ibu mertua
Aku diam-diam mengeluarkan ponsel, lalu merekam seluruh proses gerakan kode rahasia mereka saat mengeluarkan kartu.Aku mengarahkan kamera tepat ke arah jari si rambut cepak, merekam seluruh proses mereka bermain kartu.Telapak tanganku sudah penuh keringat dingin, tapi aku memaksa diriku untuk tetap tenang.Setelah rekaman selesai, aku segera mencadangkan video tersebut dan memasang kata sandi.Dalam hati aku berencana, besok pagi video ini akan kutunjukkan pada ibu mertua.Ternyata mereka yang katanya teman masa kecil ini, dengan kedok main kartu bersama, sebenarnya berniat menguras habis harta keluarga kami.Aku menatap mata suamiku yang memerah, tapi tetap tak mau berhenti bermain. Tenggorokanku terasa tercekat, tapi aku tidak lagi membujuknya. Dia tahu dirinya salah, tapi dia sudah terjebak terlalu dalam. Sekarang, dibujuk seperti apapun tidak akan berguna.Dia bahkan sampai tega membiarkan tubuhku dijual untuk melunasi utangnya.Aku menatap tumpukan lembaran merah di atas meja d
Suamiku ada di samping, tapi dia memalingkan wajah ke arah lain, tak sanggup melihat apa yang terjadi.Di sisi lain, dalam hatiku justru merasa sangat bergairah. Aku memejamkan mata rapat-rapat.Menantikan badai yang akan menerjangku.Tiba-tiba….Terdengar suara ibu mertuaku di luar pintu.“Robert, kalian jangan main terlalu malam, cepatlah istirahat.”Sontak, ketiga temannya itu langsung menutupiku dengan selimut dan si rambut cepak dengan secepat kilat menaikkan celananya.Tepat saat itu, ibu mertua mendorong pintu dan masuk. Melihat mereka bertiga berdiri di samping ranjangku, dia pun bertanya, “Apa yang kalian lakukan? Kok semuanya berdiri di depan ranjang Lisa?”Suamiku tampak panik dan langsung mencari-cari alasan.“Oh, nggak… nggak ada apa-apa. Kami hanya lelah main kartu, jadi mau istirahat sebentar.”Ibu mertua bukan orang bodoh, dia jelas merasa ada yang tak beres.Dia pun berjalan mendekat ke arahku.Ketiga temannya itu sudah ketakutan setengah mati. Jika sampai ketahuan, m
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.