MasukDia melangkah maju mendekati si rambut cepak langkah demi langkah, “Jari telunjuk kananmu ada luka lama. Setiap kali kamu memegang kartu tertentu, sendimu akan menekuk secara nggak sadar. Tadi saat di dalam kamar, aku melihatnya dengan sangat jelas.”Seketika, wajah si rambut cepak menjadi pucat. Secara reflek, dia menyembunyikan tangan kanannya, tapi sudah terlambat.“Dan satu lagi….”Suamiku melanjutkan, “Kalian sengaja memancingku agar aku minum banyak alkohol, sampai otakku nggak bisa berpikir jernih. Sejak awal sampai akhir, permainan ini adalah jebakan yang kalian rencanakan!”Ketiga teman masa kecilnya itu saling pandang, jelas tidak menyangka suamiku bisa menganalisis situasi dengan begitu tenang.“Kalian mau istriku menemani kalian, ‘kan?” Tiba-tiba, suara suamiku meninggi, “Emangnya kalian pantas? Orang-orang sampah seperti kalian bahkan nggak pantas untuk dia!”Akhirnya, si rambut cepak panik. Dia langsung berlutut di lantai dan memohon, “Robert, ini salahku! Aku hanya khila
Aku menepuk bahunya dan menghibur, “Sayang, kamu nggak perlu bayar uang itu.”Dia menatapku dan bertanya, “Kamu tahu apa, sih? Meski ini uang judi, tapi utang tetap harus dibayar.”Barulah aku mengeluarkan ponselku, membuka video yang kurekam tadi malam dan memperlihatkan taktik si rambut cepak saat memberikan kode untuk menipu uang pada suamiku.Melihat itu, suamiku langsung tersadar.Matanya terbelalak, tubuhnya gemetar karena marah, “Dasar bajingan! Ternyata mereka sudah merencanakan jebakan ini sejak awal!”Aku menggenggam erat tangannya dan berbisik, “Jangan takut. Sekarang kita punya bukti, mereka nggak akan berani macam-macam lagi.”Siang harinya, si rambut cepak dan teman-temannya datang untuk menagih utang.Begitu masuk rumah, mereka langsung berteriak minta uang.“Robert, mana uang yang kalah tadi malam? Kamu jangan coba-coba lari dari tanggung jawab, ya!”Mendengar keributan itu, kami pun segera keluar.Ketiga teman masa kecilnya itu sudah berdiri di depan pintu.Ibu mertua
Aku diam-diam mengeluarkan ponsel, lalu merekam seluruh proses gerakan kode rahasia mereka saat mengeluarkan kartu.Aku mengarahkan kamera tepat ke arah jari si rambut cepak, merekam seluruh proses mereka bermain kartu.Telapak tanganku sudah penuh keringat dingin, tapi aku memaksa diriku untuk tetap tenang.Setelah rekaman selesai, aku segera mencadangkan video tersebut dan memasang kata sandi.Dalam hati aku berencana, besok pagi video ini akan kutunjukkan pada ibu mertua.Ternyata mereka yang katanya teman masa kecil ini, dengan kedok main kartu bersama, sebenarnya berniat menguras habis harta keluarga kami.Aku menatap mata suamiku yang memerah, tapi tetap tak mau berhenti bermain. Tenggorokanku terasa tercekat, tapi aku tidak lagi membujuknya. Dia tahu dirinya salah, tapi dia sudah terjebak terlalu dalam. Sekarang, dibujuk seperti apapun tidak akan berguna.Dia bahkan sampai tega membiarkan tubuhku dijual untuk melunasi utangnya.Aku menatap tumpukan lembaran merah di atas meja d
Suamiku ada di samping, tapi dia memalingkan wajah ke arah lain, tak sanggup melihat apa yang terjadi.Di sisi lain, dalam hatiku justru merasa sangat bergairah. Aku memejamkan mata rapat-rapat.Menantikan badai yang akan menerjangku.Tiba-tiba….Terdengar suara ibu mertuaku di luar pintu.“Robert, kalian jangan main terlalu malam, cepatlah istirahat.”Sontak, ketiga temannya itu langsung menutupiku dengan selimut dan si rambut cepak dengan secepat kilat menaikkan celananya.Tepat saat itu, ibu mertua mendorong pintu dan masuk. Melihat mereka bertiga berdiri di samping ranjangku, dia pun bertanya, “Apa yang kalian lakukan? Kok semuanya berdiri di depan ranjang Lisa?”Suamiku tampak panik dan langsung mencari-cari alasan.“Oh, nggak… nggak ada apa-apa. Kami hanya lelah main kartu, jadi mau istirahat sebentar.”Ibu mertua bukan orang bodoh, dia jelas merasa ada yang tak beres.Dia pun berjalan mendekat ke arahku.Ketiga temannya itu sudah ketakutan setengah mati. Jika sampai ketahuan, m
Aku panik setengah mati. Ini bukan teman masa kecil, tapi segerombolan penjudi.Jangankan delapan juta, uang tunai delapan ratus pun diriku tak punya. Biasanya aku tak pernah membawa uang tunai.Aku benar-benar tak punya pilihan sekarang.Suamiku yang berdiri di samping mulai mendesak dengan nada kesal.“Sudahlah, Lisa, jangan banyak bicara lagi. Diam saja di sana dan biarkan temanku merabamu sebentar, nggak akan merugikan kamu kok.”Usai dia berbicara, tangan si rambut cepak langsung masuk ke dalam kerah bajuku. Asetku yang montok itu ditekan dan diubah-ubah bentuknya dalam genggamannya, terasa sangat kenyal.Ini pertama kalinya bagian pribadiku disentuh oleh orang asing. Rasanya tulang-tulangku seperti melunak, bagian sensitifku pun tak tahan dan mulai menegang.“Kamu menikmatinya? Dasar jalang, rasanya enak, ’kan?”Tangan si rambut cepak semakin bertenaga, meremas kedua dadaku dengan semena-mena.Antara malu dan gairah, seluruh pori-poriku seakan terbuka lebar, rakus menikmati bela
Aku membungkuk dan menunggingkan bokong, tatapan mereka begitu panas, serempak menatap tajam ke arah kerah bajuku yang melorot.Aku memakai sweter rajut berleher bulat yang agak longgar, jadi saat membungkuk asetku yang montok itu terpampang jelas.Seketika, suasana menjadi hening. Mereka bertiga tanpa malu-malu mengintipku tepat di depan suamiku sendiri, membuat sekujur tubuhku terasa bergejolak.Saat menunduk, aku baru sadar kalau celana teman-teman suamiku itu sudah menegang.Ukurannya luar biasa hebat, tonjolan mereka bertiga sangat tinggi, jauh lebih hebat daripada milik suamiku.Seketika, aku merasa malu, tak menyangka kalau daya tarikku begitu besar sampai bisa membuat tiga orang sekaligus bereaksi. Saat menungging untuk menuangkan air ke gelas teman yang terakhir, aku merasakan sebuah tangan tangan besar meraba pangkal pahaku! Dan tangan itu perlahan bergerak naik!Meskipun aku memakai legging, tapi jenis ini cukup tipis, sehingga rasanya hampir seperti menyentuh kulitku lang







